Penaklukan Konstantinopel, Terbuktinya Sabda Nabi Setelah 800 Tahun

penaklukan konstantinopel

Pecihitam.org – Pada Selasa, 29 Mei 1453, menjelang waktu Ashar Konstantinopel ibu kota Romawi berhasil ditaklukkan di tangan pasukan Muhammad Al Fatih. Bukan sembarangan ternyata penaklukan Konstantinopel ini menjadi pembuktian basyirah (kabar gembira) Rasulullah saw delapan abad sebelumnya. Dalam suatu riwayat dijelaskan,

عن أبي قبيل قال : كنا عند عبدالله بن عمرو بن العاص وسئل : أي المدينتين تفتح أولا القسطنطينية أو رومية ؟ فدعا عبدالله بصندوق له حلق قال : فأخرج منه كتابا قال : فقال عبدالله : بينما نحن حول رسول الله صلى الله عليه و سلم نكتب إذ سئل رسول الله صلى الله عليه و سلم : أي المدينتين تفتح أولا : أقسطنطينية أو رومية ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : مدينة هرقل تفتح أولا . يعني : قسطنطينية

“Dari Abu Qubail berkata, ‘Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya, kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma? Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata, ‘Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dia ditanya, ‘Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu, Konstantinopel atau Roma?’ Rasul menjawab, ‘Kota Heraklius dibuka lebih dahulu, yaitu Konstantinopel.” (HR. Ahmad, ad Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al Hakim)

Itulah riwayat dimana Rasulullah Saw pernah menyatakan dalam sabdanya tentang penaklukan Konstantinopel. Meski berjarak 800 tahun (8 abad) sejak masa Rasulullah, namun sabda beliau benar-benar terbukti.

Dengan kekuatan tak kurang 200 ribu pasukan, pasukan kekalifahan Utsmani di bawah komando Sultan Mehmed II, panggilan Muhammad Al-Fatih, menaklukkan jantung peradaban Kristen terbesar saat itu.

Mirip Tembok Besar di China, kota Konstantinopel dinaungi benteng yang terbentang sejauh total 20 kilometer guna menghindari serangan musuh. Serangan pasukan Al-Fatih sudah dimulai sejak 6 April atau lebih dari sebulan sebelumnya namun tanpa hasil yang memuaskan.

Memang tak mudah menundukkan Konstantinopel. Sebab upaya penaklukan tersebut bahkan sudah dilakukan sejak tahun tahun 34 H / 654 M pada masa pemerintahan Usman bin Affan r.a.

Beliau mengirimkan Muawiyah bin Abi Sofyan ra. dengan pasukan yang besar untuk mengepung dan menaklukkannya. Namun mereka pulang dengan tangan hampa disebabkan oleh kokohnya pertahanan Konstantinopel.

Ayah Sultan al Fatih, Sultan Murad II dan pendahulu-pendahulunya juga melakukan usaha untuk menaklukkan Konstantinopel, tetapi selalu gagal. Banyak serangan yang dilancarkan para Khalifahan Islam dalam rangka penaklukan konstantinopel dalam rentang waktu 800 tahun lamanya. Namun semuanya mengalami kegagalan hingga penyerangan terakhir yang dilakukan oleh Sultan Muhammad al Fatih.

Di tangan Sultan Muhammad al Fatih yang melanjutkan penaklukkan Konstantinopel baik dari ayahnya maupun pendahulunya, tak disangka malah sukses dalam usia yang relatif muda.

Dalam rangka penaklukan tersebut al Fatih berusaha untuk memperkuat kekuatan militer Utsmaniyah, selain dari segi kuantitas hingga mencapai 250.000 personil, juga segi kuantitas dengan skil bertempur dan strategi jitu dan juga menanamkan semangat Jihad.

Takluknya Konstantinopel menjadi pintu gerbang bagi kekalifahan Utsmani untuk melebarkan sayap kekuasaanya ke Mediterania Timur hingga ke semenanjung Balkan.

Peristiwa ini kelak juga menjadi titik krusial bagi stabilitas politik Utsmani sebagai kekuatan adikuasa saat itu. Dan pada tanggal 29 Mei 1453 ini juga ditandai sebagai era berakhirnya Abad Pertengahan.

Nama Konstantinopel kemudian diubah menjadi Istanbul yang berarti kota Islam dan dijadikan sebagai ibu kota kekalifahan Utsmani hingga kejatuhannya pada 1923.

Secara geografis, wilayah Istanbul dibagi menjadi dua, masing-masing terletak di Asia dan Eropa. Berpenduduk hingga 16 juta jiwa, Istanbul adalah salah satu kota terpadat di Eropa. Kota pelabuhan laut ini sekarang menjadi pusat perdagangan utama Turki modern.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG