Surah Al-Anbiya Ayat 87-88; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Anbiya Ayat 87-88

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 87-88 ini, Allah menyuruh Rasul-Nya untuk mengajukan pertanyaan kepada kaum kafir, untuk menyadarkan mereka tentang kekuasaan Allah. Allah menegaskan kembali, bahwa tuhan-tuhan yang disembah mereka itu tidak akan luput dari azab Allah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiya Ayat 87-88

Surah Al-Anbiya Ayat 87
وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Terjemahan: Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”.

Tafsir Jalalain: وَ (Dan) ingatlah kisah ذَا النُّونِ (Dzun Nun) yaitu orang yang mempunyai ikan yang besar, dia adalah Nabi Yunus bin Mataa. Kemudian dijelaskan kalimat Dzun Nun ini oleh Badalnya pada ayat selanjutnya, yaitu إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا (ketika ia pergi dalam keadaan marah) terhadap kaumnya, disebabkan perlakuan kaumnya yang menyakitkan dirinya, sedangkan Nabi Yunus belum mendapat izin dari Allah untuk pergi,

فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ (lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mampu untuk menjangkaunya) menghukumnya sesuai dengan apa yang telah Kami pastikan baginya, yaitu menahannya di dalam perut ikan paus, atau menyulitkan dirinya disebabkan hal tersebut,

فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ (maka ia menyeru dalam tempat yang gelap gulita) gelapnya malam dan gelapnya laut serta gelapnya suasana dalam perut ikan paus أَن (“bahwa) asal kata An adalah Bi-an, artinya, bahwasanya أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”) karena pergi dari kaumku tanpa seizin Allah.

Tafsir Ibnu Katsir: Kisah ini diceritakan dalam ayat ini, dalam surat ash-Shaaffaat dans urat Nuun (al-Qalam). Hal itu dikarenakan bahwa Yunus bin Mata as. diutus oleh Allah kepada penduduk daerah Ninawa, yaitu suatu daerah di negeri Mousul.

Dia menyeru mereka kepada Allah Ta’ala, akan tetapi mereka enggan menerimanya dan tetap berada di dalam kekufuran mereka. Lalu dia keluar dari lingkungan mereka dengan penuh kemurkaan dan mengancam mereka dengan siksaan setelah tiga hari.

Ketika mereka telah terbukti mendapatkannya dan mereka pun mengetahui bahwa Nabi tersebut tidak berdusta, merekapun keluar ke lembah-lembah bersama anak-anak kecil, binatang-binatang ternak dan hewan-hewan mereka serta memisahkan antara ibu-ibu dengan anak-anak mereka, kemudian mereka berdo’a dan meminta pemeliharaan serta meminta pertolongan kepada Allah.

Unta-unta dan anak-anaknya bersuara, sapi-sapi dan anak-anaknya juga bersuara serta kambing dan anak-anaknya mengembik. Maka, Allah pun mengangkat adzab dari mereka.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan mengapa tidak ada suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (QS. Yunus: 98)

Adapun Yunus as. pergi dengan menaiki perahu bersama kaumnya. Perahu itu pun diterpa gelombang (ombak) besar bersama mereka dan mereka merasa takut tenggelam. Lalu, mereka mengundi tentang siapa seorang di antara mereka yang harus dibuang untuk meringankan beban perahu tersebut, maka undian pun jatuh kepada Yunus.

Akan tetapi, mereka enggan untuk membuangnya, lalu mereka pun mengulangnya dan undian pun jatuh lagi kepada Yunus. Akan tetapi, mereka enggan untuk membuangnya, lalu mereka pun mengulangnya dan undian pun jatuh lagi kepada Yunus.

Firman-Nya: وَذَا النُّونِ (“Dan ingatlah kisah Dzunnun,”) yaitu ikan paus itu. Tepatlah mengidhafah-kannya dengan perbandingan ini.

Firman-Nya: إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا (“Ketika ia pergi dalam keadaan marah.”) Adh-Dhahhak berkata: “Murka kepada kaumnya.” Fa dhanna al-lan naqdira ‘alaiHi فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ (“ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya,”) yaitu Kami mempersempitnya di dalam perut ikan itu.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 48-50; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, adh-Dhahhak dan lain-lain serta dipilih oleh Ibnu Jarir, dan ia mendukungnya dengan firman Allah: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.

Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaaq: 7)

‘Athiyyah al-Aufi berkata: فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ yaitu Kami memutuskan atas hal tersebut, seakan-akan dia menjadikan hal itu dengan makna takdir. Karena orang Arab berkata dan adalah satu makna. Seorang penyair berkata:
Masa yang lalu itu tidak akan kembali. Engkau Mahaberkah apa yang Engkau takdirkan terhadap perkara itu.

Di antaranya firman Allah Ta’ala: “Maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan,” (QS.Al-Qamar: 12). Yaitu “qudira” (ditentukan).

Firman-Nya: فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (“Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, bahwa ‘Tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dhalim.’”) Ibnu Mas’ud berkata:

“Kegelapan perut ikan, kegelapan laut dan kegelapan malam.” Demikian yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ‘Amr bin Maimun, Sa’id bin Jubair, Muhammad bin Ka’ab, adh-Dhahhak, al-Hasan dan Qatadah.

Ibnu Mas’ud, Ibnu `Abbas dan lain-lain berkata: “Hal itu adalah ketika ikan paus tersebut pergi di laut hingga mencapai dasar laut, maka Yunus mendengar tasbihnya batu kerikil di dasar laut itu, di sanalah dia berdo’a: laa ilaaHa illaa anta subhaanaka innii kuntu minadh dhaalimiin (“Tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] selain Engkau. Mahasuci Engkau; sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orangyang dhalim.”)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah mengingatkan Rasul-Nya dan kaum Muslimin semuanya, kepada kisah Nabi Yunus, yang pada permulaan ayat ini disebutkan dengan nama “dzun Nun”.

dzu berarti “yang mempunyai”, sedang an-Nun berarti “ikan besar”. Maka dzu an-Nun berarti “Yang empunya ikan besar”. Ia dinamakan demikian, karena pada suatu ketika ia pernah dijatuhkan ke laut dan ditelan oleh seekor ikan besar. Kemudian, karena pertolongan Allah, maka ia dapat keluar dari perut ikan tersebut dengan selamat dan dalam keadaan utuh.

Perlu diingat, bahwa kisah Nabi Yunus di dalam Al-Qur’an terdapat pada dua buah surah, yaitu Surah al-Anbiya` dan Surah shad. Apabila kita bandingkan antara ayat-ayat yang terdapat pada kedua Surah tersebut yang mengandung kisah Nabi Yunus ini, terdapat beberapa persamaan, misalnya dalam ungkapan-ungkapan yang berbunyi:

Betapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. (shad/38: 3)

Ungkapan tersebut terdapat dalam Surah al-Anbiya ini, dan terdapat pula dalam ayat Surah shad. Perhatikan pula al-Anbiya /21:11 dan Yunus/10: 13.

Dalam ayat ini Allah berfirman, mengingatkan manusia pada kisah Nabi Yunus, ketika ia pergi dalam keadaan marah. Yang dimaksud ialah bahwa pada suatu ketika Nabi Yunus sangat marah kepada kaumnya, karena mereka tidak juga beriman kepada Allah.

Ia telah diutus Allah sebagai Rasul-Nya untuk menyampaikan seruan kepada umatnya, untuk mengajak mereka kepada agama Allah. Tetapi hanya sedikit saja di antara mereka yang beriman, sedang sebagian besar mereka tetap saja ingkar dan durhaka. Keadaan yang demikian itu menjadikan ia marah, lalu pergi ke tepi laut, menjauhkan diri dari kaumnya.

Kisah ini memberi kesan bahwa Nabi Yunus tidak dapat berlapang hati dan sabar menghadapi umatnya. Akan tetapi memang demikianlah keadaannya, ia termasuk nabi-nabi yang sempit dada. Memang dari sekian banyak Nabi dan Rasul yang diutus Allah, hanya lima orang saja yang disebut “Ulul Azmi”, yaitu rasul-rasul yang amat sabar dan ulet.

Mereka adalah Nabi Ibrahim, Musa, Isa, Nuh dan Muhammad saw. Sedang yang lain-lainnya, walaupun mereka ma’shum dari dosa besar dan sifat-sifat yang tercela, namun pada saat-saat tertentu sempit juga dada mereka menghadapi kaum yang ingkar dan durhaka kepada Allah.

Baca Juga:  Surah An-Najm Ayat 33-41; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Akan tetapi, walaupun Nabi Yunus pada suatu ketika marah kepada kaumnya, namun kemarahannya itu dapat dipahami, karena ia sangat ikhlas kepada mereka, dan sangat ingin agar mereka memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat dengan menjalankan agama Allah yang disampaikannya kepada mereka. Tetapi ternyata sebagian besar dari mereka itu tetap ingkar dan durhaka. Inilah yang menyakitkan hatinya, dan mengobarkan kemarahannya.

Nabi Muhammad sendiri, walaupun sudah termasuk ulul ‘azmi, namun Allah beberapa kali memberi peringatan kepada beliau agar jangan sampai marah dan bersempit hati menghadapi kaumnya yang ingkar. Allah berfirman dalam ayat yang lain:

Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan. (al- Qalam/68: 48)

Firman-Nya lagi kepada Nabi Muhammad saw: Maka boleh jadi engkau (Muhammad) hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan dadamu sempit karenanya. (Hud/11: 12)

Ringkasnya sifat marah yang terdapat pada Nabi Yunus bukanlah timbul dari sifat yang buruk, melainkan karena kekesalan hatinya melihat keingkaran kaumnya yang semula diharapkannya untuk menerima dan melaksanakan agama Allah yang disampaikannya.

Selanjutnya dalam ayat ini Allah menjelaskan kesalahan Nabi Yunus dimana kemarahannya itu menimbulkan kesan bahwa seolah-olah dia mengira bahwa sebagai Nabi dan Rasul Allah tidak akan pernah dibiarkan menghadapi kesulitan, sehingga jalan yang dilaluinya akan selalu indah tanpa halangan.

Akan tetapi dalam kenyatan tidak demikian. Pada umumnya para rasul dan nabi banyak menemui rintangan, bahkan siksaan dan ejekan terhadap dirinya dari orang-orang yang ingkar. Hanya saja dalam keadaan yang sangat gawat, baik dimohon atau tidak oleh yang bersangkutan, Allah mendatangkan pertolongan-Nya, sehingga Rasul-Nya selamat dan umatnya yang ingkar itu mengalami kebinasaan.

Menurut riwayat yang dinukil dari Ibnu Kashir, bahwa ketika Nabi Yunus dalam keadaan marah, ia lalu menjauhkan diri dari kaumnya pergi ke tepi pantai. Di sana ia menjumpai sebuah perahu, lalu ia ikut serta naik ke perahu itu dengan wajah yang muram. Di kala perahu itu hendak berlayar, datanglah gelombang besar yang menyebabkan perahu itu terancam tenggelam apabila muatannya tidak segera dikurangi.

Maka nahkoda perahu itu berkata, “Tenggelamnya seseorang lebih baik daripada tenggelamnya kita semua.” Lalu diadakan undian untuk menentukan siapakah di antara mereka yang harus dikeluarkan dari perahu itu. Setelah diundi, ternyata bahwa Nabi Yunuslah yang harus dikeluarkan. Akan tetapi, penumpang kapal itu merasa keberatan mengeluarkannya dari pertahu itu.

Maka undian dilakukan sekali lagi, tetapi hasilnya tetap demikian. Bahkan undian yang ketiga kalinya pun demikian pula. Akhirnya Yunus melepaskan pakaiannya, lalu ia terjun ke laut atas kemauannya sendiri. Allah mengirim seekor ikan besar yang berenang dengan cepat lalu menelan Yunus.

Dalam ayat ini selanjutnya Allah menerangkan bahwa setelah Nabi Yunus berada dalam tiga tingkat “kegelapan berbeda”, maka ia berdoa kepada Allah, “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Yang dimaksud dengan tiga kegelapan berbeda di sini ialah bahwa Nabi Yunus sedang berada di dalam perut ikan yang gelap, dalam laut yang dalam dan gelap, dan di malam hari yang gelap gulita pula.

Pengakuan Nabi Yunus bahwa dia “termasuk golongan orang-orang yang zalim”, berarti dia sadar atas kesalahannya yang telah dilakukannya sebagai Nabi dan Rasul, yaitu tidak sabar dan tidak berlapang dada menghadapi kaumnya,

seharusnya ia bersabar sampai menunggu datangnya ketentuan Allah atas kaumnya yang ingkar itu. Karena kesadaran itu maka ia mohon ampun kepada Allah, dan mohon pertolongan-Nya untuk menyelamatkan dirinya dari malapetaka itu.

Tafsir Quraish Shihab: Sebutkan pula kisah tentang Yûnus, tokoh utama peristiwa ikan paus. Suatu ketika ia merasa sesak dada karena kaumnya berpaling dari seruan yang ia sampaikan, hingga menyebabkannya marah dan pergi meninggalkan mereka. Dia menyangka bahwa Allah memperkenankan untuk melakukan hal itu dan tidak akan menghukumnya.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 36-37 ; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Kemudian ia pun ditelan ikan paus dan hidup di dalam perutnya dalam kegelapan laut. Hingga, ketika ia mengakui kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan, ia pun memanjatkan doa kepada Allah seraya berkata, “Wahai Tuhanku, tidak ada sembahan yang sebenarnya kecuali Engkau. Aku menyucikan-Mu dari sesuatu yang tidak pantas bagi diri-Mu. Aku mengaku telah menganiaya diriku dengan melakukan hal-hal yang tidak membuat-Mu berkenan.”

Surah Al-Anbiya Ayat 88
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنجِي الْمُؤْمِنِينَ

Terjemahan: Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.

Tafsir Jalalain: فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ (Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan) disebabkan kalimat-kalimat tersebut. وَكَذَلِكَ (Dan demikianlah) sebagaimana Kami menyelamatkan dia نُنجِي الْمُؤْمِنِينَ (Kami selamatkan orang-orang yang beriman) daripada malapetaka yang menimpa mereka, jika mereka meminta tolong kepada Kami seraya berdoa.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ (“Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan”) yaitu Kami mengeluarkannya dari perut ikan dan kegelapan tersebut. Wa kadzaalika nunjil mu’miniin,

وَكَذَلِكَ نُنجِي الْمُؤْمِنِينَ (“Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman”) yaitu jika mereka berada di dalam kesulitan dan mereka berdo’a kepada kami dengan penuh berserah diri. Apalagi jika mereka menggunakan do’a ini di saat mendapatkan ujian. Anjuran menggunakan do’a tersebut telah datang dari pemimpin para Nabi.

Imam Ahmad berkata, Isma’il bin `Umair bercerita kepada kami, dari Yunus bin Abu Ishaq al-Hamdani, dari Ibrahim bin Muhammad bin Sa’ad, dari Muhammad ayah kami, dari Sa’ad bin Abi Waqqash, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik do’a Dzunnun adalah ketika berada di perut ikan (bahwa) = laa ilaaHa illaa anta subhaanaka innii kuntu minadh dhaalimiin = Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Engkau.

Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim).’ Karena, tidak ada seorang muslim pun yang berdo’a kepada Rabbnya dengan do’a tersebut melainkan pasti akan dikabulkan.” (HR. At-Tirmidzi dan an-Nasa’i dalam Amalul Yaum wal LailaH).

Tafsir kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mengabulkan doa Nabi Yunus, lalu diselamatkannya dari rasa duka yang amat sangat. Duka karena rasa bersalah, duka karena keingkaran umatnya, dan duka karena malapetaka yang menimpa dirinya.

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa demikianlah Dia menyelamatkan mereka dari azab duniawi dan mengaruniakan mereka kebahagiaan ukhrawi. Hal ini diterangkan Allah dalam firman-Nya pada ayat yang lain:

Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu. (Yunus/10: 98)

Sesuai dengan kisah Yunus ini Nabi mengajarkan umatnya yang sedang mengalami kesulitan untuk berdoa seperti doa Nabi Yunus. Mus’ab bin Umair meriwayatkan dari Rasulullah bersabda: Siapa yang berdoa dengan doa Nabi Yunus, maka akan dikabulkan. (Riwayat at-Tirmidzi).

Tafsir Quraish Shihab: Lalu Kami pun mengabulkan permohonannya dan menyelamatkannya dari kesusahan yang sedang ia alami. Dengan cara penyelamatan seperti itu, Kami juga akan menyelamatkan orang-orang Mukmin yang mengakui kesalahan dan ikhlas berdoa kepada Kami.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 87-88 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag, dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S