Surah Al-Furqan Ayat 21-24; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Furqan Ayat 21-24

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Furqan Ayat 21-24 ini, menjelaskan tentang alasan lainnya yang dibuat-buat kaum musyrik Mekah karena keengganan mereka beriman kepada Nabi Muhammad. Dan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami di akhirat karena keingkaran mereka terhadap adanya hari akhir, atau karena ketidaktakutan mereka terhadapnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

dijelaskan keadaan orang-orang kafir dan musyrik ketika berjumpa dengan malaikat di akhirat. Malaikat yang mereka inginkan sebagai rasul di dunia, atau sebagai saksi dari kebenaran kenabian Muhammad, akan mereka temui di akhirat.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Furqan Ayat 21-24

Surah Al-Furqan Ayat 21-24
وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلَا أُنزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ أَوْ نَرَى رَبَّنَا لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنفُسِهِمْ وَعَتَوْا عُتُوًّا كَبِيرًا

Terjemahan: Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman”.

Tafsir Jalalain: وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا (Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuannya dengan Kami,) yakni orang-orang yang tidak takut kepada adanya hari berbangkit dan hari pembalasan لَوْلَا (“Mengapakah tidak) أُنزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ (diturunkan kepada kita malaikat) yang menjadi Rasul-rasul kepada kita أَوْ نَرَى رَبَّنَا (atau mengapa kita tidak melihat Rabb kita?”) kemudian kita diberi tahu, bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya. Lalu Allah berfirman,

لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا (“Sesungguhnya mereka memandang besar) merasa besar فِي أَنفُسِهِمْ وَعَتَوْا (tentang diri mereka dan mereka telah melampaui batas) berlaku sangat kurang ajar عُتُوًّا كَبِيرًا (dengan kelewat batas yang sangat besar) disebabkan mereka berani meminta melihat Allah swt. di dunia. Lafal ‘Atauw dengan memakai huruf Wau sesuai dengan kata asalnya, berbeda dengan lafal ‘Ataa yang huruf akhirnya telah diganti menjadi Ya, seperti dalam surah Maryam.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang kerusakan kaum kafir dengan kekafiran dan pembangkangan mereka karena perkataan mereka: لَوْلَا أُنزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ (“Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat?”) yaitu dengan risalah, sebagaimana yang diturunkan kepada para Nabi, seperti yang Allah kabarkan tentang mereka dalam ayat yang lain yang artinya:

“Mereka berkata: ‘Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah.’” (al-An’am: 124)

Mungkin maksud mereka di sini; لَوْلَا أُنزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ (“Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat?”) kami melihat mereka secara nyata, lalu mereka mengabarkan kepada kami bahwa Muhammad adalah Rasul Allah,

Untuk itu mereka berkata: أَوْ نَرَى رَبَّنَا (“Atau mengapa kita tidak melihat Rabb kita?”) untuk itu Allah berfirman: laqadis takfuuruu fii anfusiHim wa ‘atau ‘عُتُوًّا كَبِيرًا (“Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar sangat melampaui batas [dalam melakukan] kedhaliman.”)

Tafsir Kemenag: Orang-orang yang tidak percaya hari kebangkitan atau mengingkari hari Kiamat, di mana mereka akan dihadapkan ke hadirat Allah untuk diadili segala perbuatannya di dunia, dengan penuh kesombongan bertanya kenapa tidak diturunkan kepada mereka malaikat yang menjadi saksi atas kebenaran Muhammad sebagai nabi, untuk menghilangkan keraguan mereka tentang kebenaran wahyu yang diturunkan kepadanya.

Jika hal itu sulit untuk dilaksanakan, mengapa mereka tidak langsung saja melihat Tuhan yang akan menerangkan kepada mereka bahwa Muhammad itu benar-benar diutus oleh-Nya untuk menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan. Jika yang demikian itu terlaksana, mereka mengatakan akan beriman kepada Muhammad. Ucapan demikian itu tidak lain hanyalah karena kesombongan mereka sendiri, dan karena kezaliman mereka dengan mendustakan seorang utusan Allah.

Baca Juga:  Surah At-Tahrim Ayat 1-5; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Mereka sama sekali tidak menghiraukan mukjizat nyata yang telah diperlihatkan oleh Rasulullah kepada mereka. Setiap orang yang berakal sehat pasti akan tercengang mendengar ucapan-ucapan mereka itu dan menganggapnya sebagai ucapan orang yang tidak berakal. Seandainya Allah mengabulkan keinginan itu, mereka tetap tidak akan beriman kepada Allah dan rasul-Nya, sebagaimana tercantum dalam firman Allah:

Dan sekalipun Kami benar-benar menurunkan malaikat kepada mereka, dan orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) di hadapan mereka segala sesuatu (yang mereka inginkan), mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (arti kebenaran). (al-An’am/6: 111)

21.Ayat ini menjelaskan tentang alasan lainnya yang dibuat-buat kaum musyrik Mekah karena keengganan mereka beriman kepada Nabi Muhammad. Dan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami di akhirat karena keingkaran mereka terhadap adanya hari akhir, atau karena ketidaktakutan mereka terhadapnya, mereka berkata, ?Mengapa bukan para malaikat yang diturunkan kepada kita dalam wujudnya yang nyata, yang memberivtahukan tentang kebenaran Nabi Muhammad, atau mengapa kita tidak melihat Tuhan kita? dengan mata kepala kita yang juga memberitahukan tentang kebenaran Nabi Muhammad.”

Permintaan-permintaan tersebut jelas mengada-ada, sama dengan apa yang dilakukan Bani Israil dahulu. Hal itu jelas muncul dari hati mereka yang penuh kedengkian. Sungguh, mereka telah me-nyombongkan diri mereka karena terbujuk oleh hawa nafsu. Mereka meng-anggap bahwa merekalah yang lebih mulia, baik karena kekayaan atau kedudukan mereka di masyarakat.

Dan mereka benar-benar telah melampaui batas dalam melakukan kezaliman. Demikianlah jika hati telah tertutup oleh kekafiran, semua kebenaran yang ada di hadapan, walau sudah terang benderang, tidak diacuhkan sama sekali.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang mengingkari kebangkitan dan tidak memperkirakan balasan perbuatan mereka itu mengatakan, “Mengapa tidak turun malaikat kepada kami untuk mendukungmu atau Tuhan menampakkan dirinya di depan kami untuk memberitahukan bahwa Dia telah mengutusmu?” Sesungguhnya diri mereka telah sombong.
Mereka telah melampaui batas dalam kezaliman dan kesombongan mereka.

Surah Al-Furqan Ayat 22
يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلَائِكَةَ لَا بُشْرَى يَوْمَئِذٍ لِّلْمُجْرِمِينَ وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَّحْجُورًا

Terjemahan: Pada hari mereka melihat malaikat dihari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata: “Hijraan mahjuuraa.

Tafsir Jalalain: يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلَائِكَةَ (Pada hari mereka melihat Malaikat) di antara makhluk-makhluk Allah yang lainnya, yaitu pada hari kiamat. Lafal Yauma dinashabkan oleh lafal Udzkur, yang keberadaannya diperkirakan sebelumnya; maksudnya, ingatlah pada hari mereka melihat Malaikat لَا بُشْرَى يَوْمَئِذٍ لِّلْمُجْرِمِينَ (di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa) yakni orang-orang kafir, berbeda keadaannya dengan orang-orang Mukmin, bagi mereka kabar gembira yaitu mendapatkan surga,

وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَّحْجُورًا (dan mereka berkata: ‘Hijran mahjuuran'”) sebagaimana kebiasaan mereka di dunia apabila mereka tertimpa kesengsaraan, artinya: lindungilah kami di tempat perlindungan. Mereka pada hari itu meminta perlindungan kepada Malaikat. Kemudian Allah berfirman,.

Tafsir Ibnu Katsir: يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلَائِكَةَ لَا بُشْرَى يَوْمَئِذٍ لِّلْمُجْرِمِينَ وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَّحْجُورًا (“Pada hari mereka melihat malaikat, di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata: ‘hijram mahjuuran.’”) yaitu mereka tidak melihat malaikat pada hari yang baik bagi mereka, bahkan pada hari mereka melihat malaikat pada waktu itu, tidak ada kabar baik untuk mereka. hal itu membenarkan tentang waktu kematian, ketika malaikat mengancam mereka dengan api neraka dan kemurkaan dari Allah al-Jabbaar.

Baca Juga:  Surah Al-Ankabut Ayat 36-37; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Malaikat berkata kepada orang kafir di saat ruhnya keluar: “Keluarlah wahai jiwa yang busuk pada jasad yang busuk, keluarlah menuju air-air racun, angin yang amat panas, air panas yang mendidih dan dalam naungan asap yang hitam.”

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini dijelaskan keadaan orang-orang kafir dan musyrik ketika berjumpa dengan malaikat di akhirat. Malaikat yang mereka inginkan sebagai rasul di dunia, atau sebagai saksi dari kebenaran kenabian Muhammad, akan mereka temui di akhirat. Namun demikian, pertemuan itu tidak seperti yang mereka harapkan karena mereka tidak akan mendengar kabar gembira dari para malaikat itu, baik berupa ampunan dari dosa, atau perintah masuk surga.

Mereka hanya mendengar perkataan yang sangat menyakitkan hati, yaitu hijran mahjuran, yang berarti “(surga) haram dan diharamkan bagi mereka”. Ucapan malaikat itu dianggap sangat menyakitkan, karena biasa diucapkan orang Arab ketika mendapatkan kesulitan.

Adapun orang-orang mukmin disambut baik oleh para malaikat yang datang menyongsong mereka dan memberi kabar gembira untuk masuk surga. Hal ini digambarkan dalam firman Allah:

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (Fussilat/41: 30).

Tafsir Quraish Shihab: Pada hari kiamat, mereka akan melihat malaikat seperti yang mereka inginkan. Peristiwa itu justru membuat mereka lari dan bukan menjadi berita gembira. Mereka memohon perlindungan Allah dari para malaikat seperti halnya mereka memohon perlindungan dari segala yang mengejutkan mereka di dunia.

Surah Al-Furqan Ayat 23
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا

Terjemahan:Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.

Tafsir Jalalain: وَقَدِمْنَا (“Dan Kami hadapi) kami hadapkan إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ (segala amal yang mereka kerjakan) amal kebaikan seperti sedekah, menghubungkan silaturahmi, menjamu tamu dan menolong orang yang memerlukan pertolongan sewaktu di dunia فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا (lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.”) amal perbuatan mereka tidak bermanfaat sama sekali pada hari itu, tidak ada pahalanya sebab syaratnya tak terpenuhi, yaitu iman, akan tetapi mereka telah mendapatkan balasannya selagi mereka di dunia.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ (“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan.”) dan ayat seterusnya. Ini terjadi pada hari kiamat, dimana Allah menghisab hamba-hamba-Nya atas dasar apa yang mereka kerjakan berupa kebaikan dan keburukan. Lalu Dia mengabarkan bahwa tidak ada hasil yang akan diraih oleh mereka kaum musyrikin, dari amal-amal yang mereka sangka dapat menyelamatkan.

Hal itu disebabkan hilangnya syarat syar’i, baik keikhlasan dalam beramal atau mengikuti syariat Allah. Mujahid dan ats-Tsauri berkata: وَقَدِمْنَا ; yaitu kami pertegas, demikian perkataan as-Suddi. Sedangkan yang lain berkata: “Kami datangkan kepadanya.”

Firman Allah: فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا (“Lalu Kami jadikan amal itu debu yang beterbangan”) Sufyan ats-Tsauri berkata dari ‘Ali ra. tentang firman Allah: هَبَاءً مَّنثُورًا; ia berkata: “Sinar matahari apabila memasuki lobang angin.”
‘Abdullah bin Wahb, dari ‘Ubaid binYa’la berkata: “Sesungguhnya al-Habaa’ adalah debu-debu jika tertiup angin,

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah menjelaskan sebab-sebab kemalangan dan kerugian orang kafir. Allah akan memperlihatkan segala perbuatan yang mereka anggap baik yang pernah dikerjakan selama hidup di dunia, seperti silaturrahim, menolong orang yang menderita, memberikan derma untuk meringankan bencana alam, memberi bantuan kepada rumah sakit dan yatim piatu, membebaskan atau menebus tawanan, dan sebagainya.

Baca Juga:  Surah Al-Furqan Ayat 15-16; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Sebanyak apa pun kebaikan mereka, tidak akan memperoleh imbalan apa pun di sisi Allah. Mereka hanya dapat memandang kebaikan itu tanpa dapat mengambil manfaatnya sedikit pun. Kebaikan-kebaikan mereka itu lalu dijadikan Allah bagaikan debu yang beterbangan di angkasa karena tidak dilandasi iman yang benar kepada Allah. Mereka hanya bisa duduk termenung penuh dengan penyesalan. Itulah yang mereka rasakan sebagai akibat kekafiran dan kesombongan mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Pada hari kiamat akan Kami beberkan perbuatan mereka yang berbentuk kebaikan dan kebaktian di dunia. Kemudian Kami hapuskan semua itu dan mereka tidak Kami beri pahala. Sebabnya adalah karena mereka tidak beriman. Padahal keimanan itulah yang membuat suatu amal perbuatan dapat diterima.

Surah Al-Furqan Ayat 24
أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُّسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيلًا

Terjemahan: Penghuni-penghuni surga pada hari itu palig baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya.

Tafsir Jalalain: أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ (Penghuni-penghuni surga pada hari itu) di hari kiamat خَيْرٌ مُّسْتَقَرًّا (paling baik tempat tinggalnya) lebih baik daripada tempat tinggal orang-orang kafir sewaktu di dunia وَأَحْسَنُ مَقِيلًا (dan paling indah tempat istirahatnya) lebih indah daripada tempat istirahat mereka sewaktu di dunia. Lafal Maqiila artinya tempat untuk beristirahat di tengah hari yang panas.

Kemudian dari pengertian ini dapat diambil kesimpulan makna tentang selesainya masa perhitungan amal perbuatan, yaitu di waktu tengah hari, hanya memakan waktu setengah hari, seperti yang telah disebutkan di dalam hadis.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُّسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيلًا (“Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya.”) yaitu di hari kiamat.

Tafsir Kemenag: Berbeda dengan nasib orang-orang yang disebut di atas, orang-orang yang beriman menjadi penghuni surga di akhirat. Mereka mendapatkan tempat tinggal yang jauh lebih baik dibandingkan dengan tempat kediaman kaum musyrikin di dunia yang selalu mereka jadikan lambang kemegahan dan kemewahan.

Tempat kediaman ahli surga merupakan tempat istirahat yang paling nyaman. Kenikmatan di dunia hanya sementara karena hanya dapat dirasakan selama hidup di dunia dan kesenangannya pun bisa memperdaya, seperti tersebut dalam firman Allah.

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (ali ‘Imran/3: 185).

Tafsir Quraish Shihab: Para penghuni surga, di hari kiamat, mendapatkan tempat tinggal dan tempat beristirahat yang terbaik.
Sebab tempat itu adalah surga yang disediakan untuk orang-orang Mukmin, bukan neraka yang disiapkan untuk orang-orang kafir.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Furqan Ayat 21-24 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S