Surah Al-Kahfi Ayat 45-46; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Kahfi Ayat 45-46

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Kahfi Ayat 45-46 ini, Allah swt mengumpamakan suasana kehidupan dalam dunia ini beserta segala keindahan dan kemegahannya, yang kemudian secara ber-angsur-angsur akan lenyap, seperti keadaan air hujan yang diturunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan yang menghijau, berbunga, dan berbuah. Kehijauan itu secara berangsur-angsur berubah menjadi kuning kering, dan akhirnya lenyap dihembus angin.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah juga menjelaskan bahwa yang menjadi kebanggaan manusia di dunia ini adalah harta benda dan anak-anak, karena manusia sangat mem-perhatikan keduanya. Banyak harta dan anak dapat memberikan kehidupan dan martabat yang terhormat kepada orang yang memilikinya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi Ayat 45-246

Surah Al-Kahfi Ayat 45
وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا

Terjemahan: “Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Tafsir Jalalain: وَاضْرِبْ (Dan berilah) jadikanlah لَهُ (buat mereka) buat kaummu مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا (suatu perumpamaan tentang kehidupan dunia ini) menjadi Maf’ul Awwal كَمَاءٍ (adalah sebagai air hujan) menjadi Maf’ul Tsani

أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ (yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya) menjadi tumbuh subur disebabkannya نَبَاتُ الْأَرْضِ (tumbuh-tumbuhan di muka bumi) atau air hujan itu bercampur dengan tumbuh-tumbuhan, hingga tumbuh-tumbuhan itu menjadi segar dan tumbuh dengan suburnya

فَأَصْبَحَ (kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi) هَشِيمًا (kering) layu dan bagian-bagiannya menjadi belah تَذْرُوهُ (yang diterbangkan) ditiup menjadi berantakan الرِّيَاحُ (oleh angin) sehingga tidak ada gunanya lagi.

Makna ayat ini menyerupakan duniawi dengan tumbuh-tumbuhan yang subur, kemudian menjadi kering dan dipecahkan serta dihamburkan beterbangan oleh angin. Menurut suatu qiraat lafal Ar-Riyaah dibaca Ar-Riih وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا (Dan adalah Allah berkuasa atas segala sesuatu) yakni Maha Kuasa.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: وَاضْرِبْ (“Berilah”) hai Muhammad kepada umat manusia. مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا (“perumpamaan kepada mereka kehidupan di dunia”) yakni dalam kehancuran, kefanaan, kehancuran dan ke-berakhiran-nya:

كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ (“Adalah seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi”) yakni semua yang ada di dalamnya, berupa biji-bijian lalu tumbuh indah dan meninggi menjadi bunga. Setelah itu semuanya:

فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ (“menjadi kering yang diterbangkan angin”) yakni diporak-porandakan dan diterbangkan ke kanan dan ke kiri. وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا (“dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”) maksudnya Dia Mahakuasa untuk menjadikan keadaan seperti itu.

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 45-48; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Seringkali Allah memberikan perumpamaan tentang kehidupan dunia ini dengan perumpamaan tersebut. Dalam hadits shahih disebutkan, bahwa Rasulullah bersabda: “Dunia ini adalah hijau lagi manis.”

Tafsir Kemenag: Allah swt mengumpamakan suasana kehidupan dalam dunia ini beserta segala keindahan dan kemegahannya, yang kemudian secara ber-angsur-angsur akan lenyap, seperti keadaan air hujan yang diturunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan yang menghijau, berbunga, dan berbuah.

Kehijauan itu secara berangsur-angsur berubah menjadi kuning kering, dan akhirnya lenyap dihembus angin. Semua yang ada di atas bumi ini tentu menempuh suatu proses perubahan dari lahir, tumbuh, kembang, layu, dan lenyap.

Oleh karena itu, manusia yang menjadi penghuni bumi ini jangan tertipu oleh kemegahan dunia. Mereka yang mempunyai kekayaan yang besar janganlah membangga-banggakan hartanya dan jangan pula merendahkan orang lain yang tak punya harta benda. Sesungguhnya harta benda itu, cepat atau lambat, akan lenyap.

Allah Yang Mahasempurna dan Mahamulia yang menciptakan segala benda dan memeliharanya, menum-buhkan, melenyapkan, lalu mengembalikan lagi ke bumi. Dialah Yang Mahakuasa dan menetapkan hukum-hukum perubahan itu.

Dalam Al-Qur’an, banyak ayat-ayatnya yang mengumpamakan kehidup-an duniawi ini dengan kehidupan tumbuh-tumbuhan, antara lain firman Allah swt:

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.

Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. (al-Hadid/57: 20)

Surah Al-Kahfi Ayat 46
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

Terjemahan: Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

Tafsir Jalalain:الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا (Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia) keduanya dapat dijadikan sebagai perhiasan di dalam kehidupan dunia

وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ (tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh) yaitu mengucapkan kalimat: Subhaanallaah Wal Hamdulillaah Wa Laa Ilaaha Illallaah Wallaahu Akbar; menurut sebagian ulama ditambahkan Walaa Haulaa Walaa Quwwata Illaa Billaahi

خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا (adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan) hal yang diharap-harapkan dan menjadi dambaan manusia di sisi Allah swt.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Ta’ala: الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا (“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.”) Menghadap kepada-Nya dan menyempatkan waktu luang untuk beribadah kepada-Nya adalah lebih baik bagi kalian daripada kesibukan kalian dengan semuanya itu dan sibuk mencari kekayaan untuk mereka serta belas kasihan yang berlebihan terhadap mereka.

Baca Juga:  Surah Al-Qashash Ayat 7-9; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Oleh karena itu, Dia berfirman: وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا (“Tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”) Ibnu `Abbas, Sa’id bin Jubair dan beberapa ulama Salaf mengatakan: “Yang dimaksud dengan al-baaqiyaat ash-shaalihaat adalah shalat lima waktu.”

Sedangkan Atha’ bin Abi Rabah dan Sa’id bin Jubair, dari IbnuAbbas, yang dimaksud dengan al-baaqiyaat ash-shaalihaat adalah kalimat: laa ilaaHa illallaaHu wa subhaana wal hamdulillaaHi wallaaHu akbar (“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] kecuali Allah, Allah Mahabesar.”).

Demikin pula Amirul Mukminin Utsman binAffan ditanya tentang al-baagiyaat ash-shalihaat beliau mengatakan: “Al-Baagiyaat ash-Shaalihaat adalah kalimat:

laa ilaaHa illallaaHu wa subhaana wal hamdulillaaHi wallaaHu akbaru wa laa haula wa laa quwwata illaa billaaHil ‘aliyyil ‘adhiim (“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] kecuali Allah, Allah Mahabesar. Dan tidak ada daya dan upaya melainkan hanya pada Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung”). Demikian yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Imam Malik juga meriwayatkan dari Imarah binAbdullah bin Shayyad, dari Said bin al-Musayyab, ia mengatakan: “Al-Baagiyaat ash-Shaalihaat adalah:

laa ilaaHa illallaaHu wa subhaana wal hamdulillaaHi wallaaHu akbaru wa laa haula wa laa quwwata illaa billaaHi (“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] kecuali Allah, Allah Mahabesar. Dan tidak ada daya dan upaya melainkan hanya pada Allah”).

Ibnu Jarir meniwayatkan dan Abu Hurairah, ia bercerita, Rasulullah bersabda: “Mahasuci Allah dan segala puji bagi Allah. Tiada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah, dan Allah Mahabesar adalah al-Baagiyaat ash-Shaalihaat.”

Ibnu Jarir juga menceritakan, diberitahukan kepadaku dari Abu Said bahwa Rasulullah bersabda: “Perbanyaklah kalian membaca al-Baaqiyaat ash-Shaalihaat.” Ditanyakan: “Lalu apakah al-Baaqiyaat ash-Shaalihaat itu, ya Rasulallah?” Beliau menjawab:

“Yaitu, millah.” Ditanyakan lagi: “Lalu apa yang dimaksud dengan millah itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu takbir, tahlil, tasbih dan alhamdulillaah, serta laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” (Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad).

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari IbnuAbbas, mengenai firman-Nya: wal baaqiyatush shaalihaatu; ia mengatakan: “la adalah dzikir kepada Allah berupa ucapan: Laa Ilaaha illallaah wallaahu Akbar (tiada Ilah (yang haq) selain Allah, Allah Mahabesar), Subhaanallaah (Mahasuci Allah), Alhamdulillaah (segala puji bagi Allah) Tabaarakallaahu (Mahasuci Allah),

Laa haula wa laa quwwata illaa billaah (tiada daya dan upaya melainkan hanya pada Allah), Astaghfirullaah (aku memohon ampunan kepada Allah), Shallallaahu ‘alaa Rasuulillaah (semoga Allah melimpahkan kesejahteraan kepada Rasulullah), puasa, shalat, haji, sedekah, membebaskan budak, jihad, silaturahmi, dan semua amal perbuatan baik. Semuanya itu adalah al-Baagiyaat ash-Shaalihaat yang akan mengekalkan pelakunya di surga selama masih ada langit dan bumi.

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 19-22; Seri Tadabbur Al-Qur'an

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengemukakan, “Ia adalah amal perbuatan shalih secara keseluruhan.”
Dan yang terakhir ini menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Tafsir Kemenag: Allah menjelaskan bahwa yang menjadi kebanggaan manusia di dunia ini adalah harta benda dan anak-anak, karena manusia sangat mem-perhatikan keduanya. Banyak harta dan anak dapat memberikan kehidupan dan martabat yang terhormat kepada orang yang memilikinya.

Seperti halnya ‘Uyainah, pemuka Quraisy yang kaya itu, atau Qurthus, yang mempunyai kedudukan mulia di tengah-tengah kaumnya, karena memiliki kekayaan dan anak buah yang banyak. Karena harta dan anak pula, orang menjadi takabur dan merendahkan orang lain.

Allah menegaskan bahwa keduanya hanyalah perhiasan hidup duniawi, bukan perhiasan dan bekal untuk ukhrawi. Padahal manusia sudah menyadari bahwa keduanya akan segera binasa dan tidak patut dijadikan bahan kesombongan.

Dalam urutan ayat ini, harta didahulukan dari anak, padahal anak lebih dekat ke hati manusia, karena harta sebagai perhiasan lebih sempurna daripada anak. Harta dapat menolong orang tua dan anak setiap waktu dan dengan harta itu pula kelangsungan hidup keturunan dapat terjamin. Kebutuhan manusia terhadap harta lebih besar daripada kebutuhannya terhadap anak, tetapi tidak sebaliknya.

Kemudian Allah swt menjelaskan bahwa yang patut dibanggakan hanyalah amal kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia sepanjang zaman sampai akhirat, seperti amal ibadah salat, puasa, zakat, jihad di jalan Allah, serta amal ibadah sosial seperti membangun sekolah, rumah anak yatim, rumah orang-orang jompo, dan lain sebagainya.

Amal kebajikan ini lebih baik pahalanya di sisi Allah daripada harta dan anak-anak yang jauh dari petunjuk Allah swt, dan tentu menjadi pembela dan pemberi syafaat bagi orang yang memilikinya di hari akhirat ketika harta dan anak tidak lagi bermanfaat.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al- Kahfi Ayat 45-46 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S