Surah Al-Muddatstsir Ayat 1-10; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Muddatstsir Ayat 1-10

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Muddatstsir Ayat 1-10 ini, sebelum membahas kandungan ayat terlebih dahulu kita mengetahui isi kandungan surah. Surah mulia ini mengajak Rasulullah saw. untuk memperingatkan kaumnya, mengagungkan Allah dan meninggalkan segala hal yang tidak pantas dilakukan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam Surah ini dibicarakan juga perihal tiupan sangkakala dan azab yang pedih bagi orang-orang kafir. Surah ini mengandung perintah bagi Rasulullah saw. untuk tidak menghiraukan mereka yang menentang segala nikmat Allah. Dijelaskan pula bagaimana cara berfikir orang yang mengingkari al-Qur’ân. Kemudian dituturkan secara terperinci hal ihwal neraka Saqar yang dahsyat dan menakutkan.

Surah ini kemudian ditutup dengan pembicaraan tentang al-Qur’ân yang dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi siapa saja yang menerimanya. Sesungguhnya mereka yang menjadikan al-Qur’ân sebagai pelajaran adalah golongan orang-orang yang bertakwa dan mendapatkan ampunan.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Muddatstsir Ayat 1-10

Surah Al-Muddatstsir Ayat 1
يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ

Terjemahan: Hai orang yang berkemul (berselimut),

Tafsir Jalalain: يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ (Hai orang yang berselimut!) yakni Nabi saw. Bentuk asal lafal al-muddatstsir ialah al-mutadatstsir, kemudian huruf ta diidgamkan kepada huruf dal sehingga jadilah al-Muddatstsir, artinya orang yang menyelimuti dirinya dengan pakaiannya sewaktu wahyu turun kepadanya.

Tafsir Ibnu Katsir: Imam al-Bukhari meriwayatkan, telah mengabarkan kepada kami Yahya, Waki’ memberitahu kami, dari ‘Ali bin al-Mubarak dari Yahnya bin Abi Katsir, dia berkata: Aku pernah bertanya kepada Abu Salamah bin ‘Abdirrahman mengenai ayat al-Qur’an yang pertama kali turun, maka dia menjawab: “Yaa ayyuHal muddatsir.” Aku katakan, “Mereka berkata:

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ’” Kemudian Abu Salamah mengatakan: “Aku pernah bertanya kepada Jabir bin ‘Abdillah mengenai hal tersebut, dan engkau mengatakan kepadanya seperti yang engkau katakan kepadaku.” Maka Jabir berkata: “Aku tidak memberitahumu kecuali apa yang diberitahukan Rasulullah saw. kepada kami, dimana beliau bersabda:

“Aku pernah menyendiri di gua Hira. Setelah selesai menyendiri akupun turun, tiba-tiba ada suara yang berseru kepadaku, maka aku menoleh ke kanan tetapi aku tidak melihat sesuatu, lalu aku menengok ke kiri dan aku tidak mendapati sesuatu pun. Selanjutnya aku melihat ke belakang, tetapi aku tidak menemukan siapa-siapa. Kemudian aku mengangkat kepalaku, ternyata aku melihat sesuatu. Kemudian aku mendatangi Khadijah dan kukatakan:

“Selimutilah aku dan siramkanlah air dingin ke tubuhku.” –ia berkata- maka dia pun menyelimutiku dan menyiramkan air dingin ke tubuhku.” –dia berkata- maka turunlah ayat: ‘Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan Rabb-mu agungkanlah.’”

Demikianlah hadits tersebut disitir dari sisi ini. Dan telah diriwayatkan pula oleh Muslim melalui jalan ‘Uqail dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah dia berkata: Jabir bin ‘Abdillah memberitahuku bahwasannya dia mendengar Rasulullah saw. pernah memberitahu tentang masa penurunan wahyu, di dalam haditsnya itu, beliau bersabda:

“Ketika aku berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, lalu aku mengarahkan pandangan ke langit, ternyata ada malaikat yang mendatangiku di gua Hira dengan duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Maka aku menjadi takut/panik karenanya sehingga aku tersungkur ke tanah. Kemudian aku mendatangi keluargaku dan kukatakan: ‘Selimuti aku, selimuti aku, selimuti aku.’ Lalu turunlah ayat: ‘يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ,

Abu Salamah mengatakan: “Ar-Ruzja berarti berhala. Setelah itu, wahyu datang silih berganti.” Itulah lafadz al-Bukhari. Dan siyaq [redaksi] itulah yang terpelihara. Hadits ini menunjukkan bahwasanya wahyu pernah turun sebelum ini, sebagaimana disabdakan:

“Ternyata malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira.” Yaitu Jibril ketika mendatangi beliau dengan mengucapkan: (“Bacalah [dengan] menyebut Nama Rabbmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah, dan Rabb-mulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajarkan [manusia] dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”)( Al-‘Alaq: 1-5).

Kemudian Surah ini turun beberapa waktu berlalu, lalu malaikat Jibril turun. Dan sisi penyatuan pendapat bahwa yang pertama kali turun setelah masa wahyu adalah Surah ini, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Jabir bin ‘Abdillah memberitahu bahwa dia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

“Kemudian wahyu sempat terhenti turun kepadaku beberapa waktu. Dan ketika aku tengah berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, lalu aku mengangkat pandanganku ke arah langit, ternyata malaikat yang dulu pernah mendatangiku tengah duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Maka aku pun dibuat sangat takut/ panik karenanya sehingga aku jatuh tersungkur ke tanah. Selanjutnya aku mendatangi keluargaku dan kukatakan kepada mereka:

‘Selimuti aku, selimuti aku, selimuti aku.’ Lalu Allah menurunkan ayat: ‘Hai orang yang berkemul [berselimut], bangung lalu berikanlah peringatan. Dan Rabb-mu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa [menyembah berhala] tingggalokanlah.’ Kemudian wahyu terpelihara dan turun berturut-turut.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits az-Zuhri.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat 1-2 disebutkan bahwa Nabi Muhammad sedang berselubung dengan selimut karena diliputi perasaan takut melihat rupa Malaikat Jibril, lalu turunlah wahyu yang memerintahkan agar segera bangun dan memperingatkan umat yang masih sesat itu supaya mereka mengenal jalan yang benar.

Perkataan “qum” (bangunlah) menunjukkan bahwa seorang rasul harus rajin, ulet, dan tidak mengenal putus asa karena ejekan orang yang tidak senang menerima seruannya. Rasul tidak boleh malas dan berpangku tangan. Semenjak ayat ini turun, Nabi Muhammad tidak pernah berhenti melaksanakan tugas dakwah. Sepanjang hidupnya diisi dengan berbagai macam kegiatan yang berguna bagi kepentingan umat dan penyiaran agama Islam.

Peringatan-peringatan yang beliau sampaikan kepada penduduk Mekah yang masih musyrik pada waktu itu, berupa kedahsyatan siksaan Allah di hari Kiamat kelak. Untuk menyelamatkan diri dari azab tersebut, manusia hendaknya mengenal Allah dan patuh mengikuti perintah Rasul saw.

Tafsir Quraish Shihab: Surah mulia ini mengajak Rasulullah saw. untuk memperingatkan kaumnya, mengagungkan Allah dan meninggalkan segala hal yang tidak pantas dilakukan. Dalam Surah ini dibicarakan juga perihal tiupan sangkakala dan azab yang pedih bagi orang-orang kafir.

Surah ini mengandung perintah bagi Rasulullah saw. untuk tidak menghiraukan mereka yang menentang segala nikmat Allah. Sebab, orang seperti itu bukan saja menentang, bahkan malah meminta ditambahkan karunia tanpa penghargaan dan rasa syukur sedikit pun. Dijelaskan pula bagaimana cara berfikir orang yang mengingkari al-Qur’ân.

Kemudian dituturkan secara terperinci hal ihwal neraka Saqar yang dahsyat dan menakutkan. Disebutkan juga balasan bagi orang-orang yang melakukan kebaikan maupun kejahatan. Lalu diberitakan tentang hal ihwal golongan kanan yang membungkam mulut para pelaku dosa ketika mereka bertanya kepada para pelaku dosa mengapa mereka berada di neraka Saqar.

Surah ini kemudian ditutup dengan pembicaraan tentang al-Qur’ân yang dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi siapa saja yang menerimanya. Sesungguhnya mereka yang menjadikan al-Qur’ân sebagai pelajaran adalah golongan orang-orang yang bertakwa dan mendapatkan ampunan.]]

Wahai orang yang melipat diri dengan selimut, bangunlah dari tidurmu. Peringatkanlah umat manusia tentang azab Allah yang akan ditimpakan bagi mereka yang tidak beriman. Agungkanlah Tuhanmu dan sucikanlah pakaianmu dari kotoran dengan menggunakan air.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 2
قُمۡ فَأَنذِرۡ

Terjemahan: bangunlah, lalu berilah peringatan!

Tafsir Jalalain: قُمۡ فَأَنذِرۡ (Bangunlah, lalu berilah peringatan) maksudnya pertakutilah penduduk Mekah dengan neraka jika mereka tidak mau beriman.

Baca Juga:  Surah At-Taubah Ayat 123; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: قُمۡ فَأَنذِرۡ (“Bangun lalu berilah peringatan.”) maksudnya bersiaplah untuk menyatukan tekad dan berikanlah peringatan kepada umat manusia sehingga dengan semua itu akan tercapai misi kerasulan sebagaimana dengan ayat pertama yang telah tercapai misi kenabian.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat 1-2 disebutkan bahwa Nabi Muhammad sedang berselubung dengan selimut karena diliputi perasaan takut melihat rupa Malaikat Jibril, lalu turunlah wahyu yang memerintahkan agar segera bangun dan memperingatkan umat yang masih sesat itu supaya mereka mengenal jalan yang benar.

Perkataan “qum” (bangunlah) menunjukkan bahwa seorang rasul harus rajin, ulet, dan tidak mengenal putus asa karena ejekan orang yang tidak senang menerima seruannya. Rasul tidak boleh malas dan berpangku tangan. Semenjak ayat ini turun, Nabi Muhammad tidak pernah berhenti melaksanakan tugas dakwah. Sepanjang hidupnya diisi dengan berbagai macam kegiatan yang berguna bagi kepentingan umat dan penyiaran agama Islam.

Peringatan-peringatan yang beliau sampaikan kepada penduduk Mekah yang masih musyrik pada waktu itu, berupa kedahsyatan siksaan Allah di hari Kiamat kelak. Untuk menyelamatkan diri dari azab tersebut, manusia hendaknya mengenal Allah dan patuh mengikuti perintah Rasul saw.

Tafsir Quraish Shihab: Surah mulia ini mengajak Rasulullah saw. untuk memperingatkan kaumnya, mengagungkan Allah dan meninggalkan segala hal yang tidak pantas dilakukan. Dalam Surah ini dibicarakan juga perihal tiupan sangkakala dan azab yang pedih bagi orang-orang kafir.

Surah ini mengandung perintah bagi Rasulullah saw. untuk tidak menghiraukan mereka yang menentang segala nikmat Allah. Sebab, orang seperti itu bukan saja menentang, bahkan malah meminta ditambahkan karunia tanpa penghargaan dan rasa syukur sedikit pun. Dijelaskan pula bagaimana cara berfikir orang yang mengingkari al-Qur’ân.

Kemudian dituturkan secara terperinci hal ihwal neraka Saqar yang dahsyat dan menakutkan. Disebutkan juga balasan bagi orang-orang yang melakukan kebaikan maupun kejahatan. Lalu diberitakan tentang hal ihwal golongan kanan yang membungkam mulut para pelaku dosa ketika mereka bertanya kepada para pelaku dosa mengapa mereka berada di neraka Saqar.

Surah ini kemudian ditutup dengan pembicaraan tentang al-Qur’ân yang dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi siapa saja yang menerimanya. Sesungguhnya mereka yang menjadikan al-Qur’ân sebagai pelajaran adalah golongan orang-orang yang bertakwa dan mendapatkan ampunan.]]

Wahai orang yang melipat diri dengan selimut, bangunlah dari tidurmu. Peringatkanlah umat manusia tentang azab Allah yang akan ditimpakan bagi mereka yang tidak beriman. Agungkanlah Tuhanmu dan sucikanlah pakaianmu dari kotoran dengan menggunakan air.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 3
وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ

Terjemahan: dan Tuhanmu agungkanlah!

Tafsir Jalalain: وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ (Dan Rabbmu agungkanlah) agungkanlah Dia dari persekutuan yang diada-adakan oleh orang-orang musyrik.

Tafsir Ibnu Katsir: وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ (“Dan Rabb-mu besarkanlah.”) yakni agungkanlah.

Tafsir Kemenag: Ayat ini memerintahkan agar Nabi Muhammad mengagungkan Allah dengan bertakbir dan menyerahkan segala urusan kepada kehendak-Nya. Beliau dilarang mencari pertolongan selain kepada-Nya.

Mengagungkan Allah dengan segenap jiwa dan raga tentu menumbuhkan kepribadian yang tangguh dan tidak mudah goyah. Sebab, manusia yang beriman memandang bahwa tidak ada yang ditakuti selain Allah. Sikap ini perlu dihayati oleh seorang dai (juru dakwah) yang tugasnya sehari-hari mengajak manusia ke jalan Allah.

Ayat ini juga mengandung arti bahwa Nabi Muhammad diperintahkan supaya bertakbir yaitu membesarkan nama Tuhan-Nya, melebihi dari segala sesuatu yang ada. Sebab setelah manusia mengenal pencipta alam dan dirinya sendiri serta yakin bahwa pencipta itu memang ada, maka hendaklah dia membersihkan zat-Nya dari segala tandingan-Nya. Bila tidak demikian, orang musyrik pun mengagungkan nama tuhan mereka, akan tetapi keagungan yang berserikat dengan zat-zat lain.

Membesarkan Allah berarti mengagungkan-Nya dalam ucapan dan perbuatan, menyerahkan segala urusan hanya kepada-Nya, beribadah dan membersihkan zat-Nya dari segala yang dipersekutukan dengan-Nya, dan menggantungkan harapan kepada-Nya saja. Kalau unsur-unsur yang demikian dipenuhi dalam membesarkan Allah, barulah sempurna penghayatan iman bagi seorang mukmin.

Tafsir Quraish Shihab: Surah mulia ini mengajak Rasulullah saw. untuk memperingatkan kaumnya, mengagungkan Allah dan meninggalkan segala hal yang tidak pantas dilakukan. Dalam Surah ini dibicarakan juga perihal tiupan sangkakala dan azab yang pedih bagi orang-orang kafir.

Surah ini mengandung perintah bagi Rasulullah saw. untuk tidak menghiraukan mereka yang menentang segala nikmat Allah. Sebab, orang seperti itu bukan saja menentang, bahkan malah meminta ditambahkan karunia tanpa penghargaan dan rasa syukur sedikit pun. Dijelaskan pula bagaimana cara berfikir orang yang mengingkari al-Qur’ân.

Kemudian dituturkan secara terperinci hal ihwal neraka Saqar yang dahsyat dan menakutkan. Disebutkan juga balasan bagi orang-orang yang melakukan kebaikan maupun kejahatan. Lalu diberitakan tentang hal ihwal golongan kanan yang membungkam mulut para pelaku dosa ketika mereka bertanya kepada para pelaku dosa mengapa mereka berada di neraka Saqar.

Surah ini kemudian ditutup dengan pembicaraan tentang al-Qur’ân yang dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi siapa saja yang menerimanya. Sesungguhnya mereka yang menjadikan al-Qur’ân sebagai pelajaran adalah golongan orang-orang yang bertakwa dan mendapatkan ampunan.]]

Wahai orang yang melipat diri dengan selimut, bangunlah dari tidurmu. Peringatkanlah umat manusia tentang azab Allah yang akan ditimpakan bagi mereka yang tidak beriman. Agungkanlah Tuhanmu dan sucikanlah pakaianmu dari kotoran dengan menggunakan air.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 4
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ

Terjemahan: dan pakaianmu bersihkanlah,

Tafsir Jalalain: وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ (Dan pakaianmu bersihkanlah) dari najis, atau pendekkanlah pakaianmu sehingga berbeda dengan kebiasaan orang-orang Arab yang selalu menguntaikan pakaian mereka hingga menyentuh tanah di kala mereka menyombongkan diri, karena dikhawatirkan akan terkena barang yang najis.

Tafsir Ibnu Katsir: وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ (“Dan pakaianmu bersihkanlah.”) al-Ajlah al-Kindi mengatakan dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, bahwasannya dia pernah didatangi seseorang dan menanyakan tentang ayat ini: وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ (“Dan pakaianmu bersihkanlah”) dia menjawab: “Janganlah engkau mengenakannya untuk berbuat maksiat dan juga melakukan penipuan.” Ibnu Zaid mengatakan:

“Orang-orang musyrik tidak biasa membersihkan diri sehingga Allah menyuruh beliau membersihkan diri dan pakaian beliau.” Pendapat ini menjadi pilihan Ibnu Jarir. Ayat ini juga mencakup pembersihan hati, sebab masyarakat Arab menyebut hati dengan istilah tsiyah [pakaian].

Sebagaimana yang diungkapkan Umru-ul Qais: wahai Fatimah tinggalkanlah sikap menentangmu ini, jika engkau ingin aku pergi, bersikap baiklah. Dan jika engkau mendapat perlakuan kurang berkenan dariku, Maka bertanyalah kepada hatiku dari hatimu, niscaya engkau terhibur.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya membersihkan pakaian. Makna membersihkan pakaian menurut sebagian ahli tafsir adalah:

1)Membersihkan pakaian dari segala najis dan kotoran, karena bersuci dengan maksud beribadah hukumnya wajib, dan selain beribadah hukumnya sunah. Membersihkan di sini juga termasuk cara memperolehnya, yaitu pakaian yang digunakan harus diperoleh dengan cara yang halal. Ketika Ibnu ‘Abbas ditanya orang tentang maksud ayat ini, beliau menjawab bahwa firman Allah tersebut berarti larangan memakai pakaian untuk perbuatan dosa dan penipuan. Jadi menyucikan pakaian adalah membersihkannya dari najis dan kotoran.

Pengertian yang lebih luas lagi, yakni membersihkan tempat tinggal dan lingkungan hidup dari segala bentuk kotoran, sampah, dan lain-lain, sebab dalam pakaian, tubuh, dan lingkungan yang kotor banyak terdapat dosa. Sebaliknya dengan membersihkan badan, tempat tinggal, dan lain-lain berarti berusaha menjauhkan diri dari dosa. Demikianlah para ulama Syafi’iyah mewajibkan membersihkan pakaian dari najis bagi orang yang hendak salat. Begitulah Islam mengharuskan para pengikutnya untuk selalu hidup bersih, karena kebersihan jasmani mengangkat manusia kepada akhlak yang mulia.

Baca Juga:  Alasan Mengapa pada Zaman Nabi Mushaf Al-Quran Tidak Ditulis di Kertas

2)Membersihkan pakaian berarti membersihkan rohani dari segala watak dan sifat-sifat tercela. Khusus buat Nabi Muhammad, ayat ini memerintahkan beliau menyucikan nilai-nilai nubuwwah (kenabian) yang dipikulnya dari segala yang mengotorinya (dengki, dendam, pemarah, dan lain-lain).

Pengertian kedua ini bersifat kiasan (majazi), dan memang dalam bahasa Arab kadang-kadang menyindir orang yang tidak menepati janji dengan memakai perkataan, “Dia suka mengotori baju (pakaian)-nya,” Sedangkan kalau orang yang suka menepati janji selalu dipuji dengan ucapan, “Dia suka membersihkan baju (pakaian)-nya.”

Secara singkat, ayat ini memerintahkan agar membersihkan diri, pakaian, dan lingkungan dari segala najis, kotoran, sampah, dan lain-lain. Di samping itu juga berarti perintah memelihara kesucian dan kehormatan pribadi dari segala perangai yang tercela.

Tafsir Quraish Shihab: Surah mulia ini mengajak Rasulullah saw. untuk memperingatkan kaumnya, mengagungkan Allah dan meninggalkan segala hal yang tidak pantas dilakukan. Dalam Surah ini dibicarakan juga perihal tiupan sangkakala dan azab yang pedih bagi orang-orang kafir.

Surah ini mengandung perintah bagi Rasulullah saw. untuk tidak menghiraukan mereka yang menentang segala nikmat Allah. Sebab, orang seperti itu bukan saja menentang, bahkan malah meminta ditambahkan karunia tanpa penghargaan dan rasa syukur sedikit pun. Dijelaskan pula bagaimana cara berfikir orang yang mengingkari al-Qur’ân.

Kemudian dituturkan secara terperinci hal ihwal neraka Saqar yang dahsyat dan menakutkan. Disebutkan juga balasan bagi orang-orang yang melakukan kebaikan maupun kejahatan. Lalu diberitakan tentang hal ihwal golongan kanan yang membungkam mulut para pelaku dosa ketika mereka bertanya kepada para pelaku dosa mengapa mereka berada di neraka Saqar.

Surah ini kemudian ditutup dengan pembicaraan tentang al-Qur’ân yang dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi siapa saja yang menerimanya. Sesungguhnya mereka yang menjadikan al-Qur’ân sebagai pelajaran adalah golongan orang-orang yang bertakwa dan mendapatkan ampunan.]]

Wahai orang yang melipat diri dengan selimut, bangunlah dari tidurmu. Peringatkanlah umat manusia tentang azab Allah yang akan ditimpakan bagi mereka yang tidak beriman. Agungkanlah Tuhanmu dan sucikanlah pakaianmu dari kotoran dengan menggunakan air.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 5
وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ

Terjemahan: dan perbuatan dosa tinggalkanlah,

Tafsir Jalalain: وَٱلرُّجۡزَ (Dan perbuatan dosa) lafal Ar-Rujza ditafsirkan oleh Nabi saw. berhala-berhala فَٱهۡجُرۡ (tinggalkanlah) hal itu untuk selama-lamanya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Ta’ala: وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ (“Dan perbuatan dosa, tinggalkanlah.”) ‘Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas: “Az-zajr berarti patung-patung, tingggalkanlah.” Ibrahim dan Adh-Dhahhak mengatakan: “وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ yaitu tinggalkanlah kemaksiatan. Bagaimanapun maknanya, tidak berarti Nabi telah melakukan kemaksiatan sebelumnya. Yang demikian itu seperti firman Allah:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ ٱتَّقِ ٱللَّهَ وَلَا تُطِعِ ٱلۡكَٰفِرِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقِينَ (“Wahai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah mentaati orang-orang kafir dan orang-orang munafik.”)(al-Ahzab: 1)

Tafsir Kemenag: Selanjutnya Nabi Muhammad diperintahkan supaya meninggalkan perbuatan dosa seperti menyembah berhala atau patung. Kata ar-rujz yang terdapat dalam ayat ini berarti siksaan, dan dalam hal ini yang dimaksudkan ialah perintah menjauhkan segala sebab yang mendatangkan siksaan, yakni perbuatan maksiat. Termasuk yang dilarang oleh ayat ini ialah mengerjakan segala macam perbuatan yang menyebabkan perbuatan maksiat.

Membersihkan diri dari dosa apalagi bagi seorang dai adalah suatu kewajiban. Sebab, kalau pada diri sang dai sendiri diketahui ada cela dan aib oleh masyarakat, tentu perkataan dan nasihatnya sulit diterima orang. Bahkan mubalig yang pandai memelihara diri sekali pun pasti menghadapi dua bentuk tantangan, yakni:

  1. Boleh jadi orang yang diajak dan diseru ke jalan Allah akan menepuk dada, memperlihatkan kesombongannya, sehingga merasa tidak lagi membutuhkan nasihat. Dengan kekayaan, ilmu pengetahuan, atau kedudukan tinggi yang dimilikinya, ia merasa tidak perlu lagi diajak ke jalan Allah.
  2. Mungkin pula sang dai dimusuhi oleh penguasa dan yang tidak senang kepadanya. Sang dai akan diusir, disiksa, dikurangi hak-haknya, diintimidasi, dilarang, atau dihalang-halangi menyampaikan dakwah dan menegakkan yang hak. Semuanya itu merupakan akibat yang harus dihadapi bagi siapa saja yang berjihad di jalan Allah. Memelihara diri dari segala tindakan dan perkataan yang melunturkan nama baik di mata masyarakat adalah sebagian dari ikhtiar dalam rangka mencapai kesuksesan dalam berdakwah.

Tafsir Quraish Shihab: Hindarilah siksaan itu. Waspadailah selalu hal-hal yang dapat menjerumuskanmu ke dalam siksaan. Janganlah kamu memberi sesuatu kepada orang lain untuk mendapatkan imbalan yang lebih besar dari orang tersebut. Untuk mendapatkan rida Tuhanmu, bersabarlah atas segala perintah dan larangan serta segala sesuatu yang berat dan penuh tantangan.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 6
وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ

Terjemahan: dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.

Tafsir Jalalain: وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ (Dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak) lafal Tastaktsiru dibaca Rafa’ berkedudukan sebagai Haal atau kata keterangan keadaan. Maksudnya, janganlah kamu memberi sesuatu dengan tujuan untuk memperoleh balasan yang lebih banyak dari apa yang telah kamu berikan. Hal ini khusus berlaku hanya bagi Nabi saw. karena sesungguhnya dia diperintahkan untuk mengerjakan akhlak-akhlak yang paling mulia dan pekerti yang paling baik.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ (“Dan janganlah kamu memberi [dengan maksud] memperoleh [balasan] yang lebih banyak.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Janganlah engkau memberi sesuatu untuk mendapatkan yang lebih banyak.” Demikian pula yang dikemukakan oleh ‘Ikrimah, Mujahid, dan lain-lain. Ibnu Zaid mengatakan:

“Janganlah engkau memberi manusia atas nama kenabian dengan tujuan mendapatkan balasan yang lebih banyak dan mengambil pengganti dari hal-hal yang bersifat duniawi.” Dan yang paling jelas adalah pendapat pertama, wallaaHu a’lam.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Nabi Muhammad dilarang memberi dengan maksud memperoleh yang lebih banyak. Artinya dengan usaha dan ikhtiar mengajak manusia ke jalan Allah, serta dengan ilmu dan risalah yang disampaikan, beliau dilarang mengharapkan ganjaran atau upah yang lebih besar dari orang-orang yang diserunya.

Tegasnya jangan menjadikan dakwah sebagai objek bisnis yang mendatangkan keuntungan duniawi. Bagi seorang nabi lebih ditekankan lagi agar tidak mengharapkan upah sama sekali dalam dakwah, guna memelihara keluhuran martabat kenabian yang dipikulnya.

Tafsir Quraish Shihab: Hindarilah siksaan itu. Waspadailah selalu hal-hal yang dapat menjerumuskanmu ke dalam siksaan. Janganlah kamu memberi sesuatu kepada orang lain untuk mendapatkan imbalan yang lebih besar dari orang tersebut. Untuk mendapatkan rida Tuhanmu, bersabarlah atas segala perintah dan larangan serta segala sesuatu yang berat dan penuh tantangan.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 7
وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ

Terjemahan: Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

Tafsir Jalalain: وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ (Dan kepada Rabbmu bersabarlah) di dalam melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ (“Dan untuk [memenuhi perintah] Rabbmu bersabarlah.”) maksudnya jadikanlah kesabaranmu atas tindakan mereka yang menyakitkan untuk mendapatkan keridhaan Rabb-mu. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid.

Tafsir Kemenag: Ayat ini memerintahkan supaya Nabi Muhammad bersikap sabar, karena dalam berbuat taat itu pasti banyak rintangan dan cobaan yang dihadapi. Apalagi dalam berjihad untuk menyampaikan risalah Islam. Sabar dalam ayat ini juga berarti tabah menderita karena disiksa atau disakiti karena apa yang disampaikan itu tidak disenangi orang.

Baca Juga:  Surah Al-Muddatstsir Ayat 31-37; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Bagi seorang dai, ayat ini berarti bahwa ia harus dapat menahan diri dan menekan perasaan ketika misinya tidak diterima orang, dan ketika kebenaran yang diserukannya tidak dipedulikan orang. Janganlah putus asa, sebab tidak ada perjuangan yang berhasil tanpa pengorbanan, sebagaimana perjuangan yang telah dialami para nabi dan rasul.

Ada beberapa bentuk sabar yang ditafsirkan dari ayat di atas, di antaranya: (1) sabar dalam melakukan perbuatan taat, sehingga tidak dihinggapi kebosanan, (2) sabar menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan menghadapi musuh, (3) sabar ketika menghadapi cobaan dan ketetapan (qadar) Allah, dan (4) sabar menghadapi kemewahan hidup di dunia. Dengan sikap sabar dan tabah itulah sesuatu perjuangan dijamin akan berhasil, seperti yang diperlihatkan oleh junjungan kita, Nabi Muhammad saw.

Tafsir Quraish Shihab: Hindarilah siksaan itu. Waspadailah selalu hal-hal yang dapat menjerumuskanmu ke dalam siksaan. Janganlah kamu memberi sesuatu kepada orang lain untuk mendapatkan imbalan yang lebih besar dari orang tersebut. Untuk mendapatkan rida Tuhanmu, bersabarlah atas segala perintah dan larangan serta segala sesuatu yang berat dan penuh tantangan.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 8
فَإِذَا نُقِرَ فِى ٱلنَّاقُورِ

Terjemahan: Apabila ditiup sangkakala,

Tafsir Jalalain: فَإِذَا نُقِرَ فِى ٱلنَّاقُورِ (Apabila ditiup sangkakala) untuk tiupan yang kedua, guna membangkitkan manusia.

Tafsir Ibnu Katsir: فَإِذَا نُقِرَ فِى ٱلنَّاقُورِ (Apabila ditiup sangkakala,) Ibnu ‘Abbas mengatkan, annaaqiir; bersarti sangkakala, Mujahid mengatakan: “Sangkakala itu menyerupai tanduk.”

Tafsir Kemenag: Setelah memberikan pengarahan khusus kepada Nabi Muhammad (yang juga menjadi cermin pengajaran bagi umat beliau) yang dimulai dari ayat 1 sampai dengan ayat 7 di atas, maka pada ayat ini, Allah menjelaskan pula tentang suasana kedatangan hari Kiamat.

Di hari yang dijanjikan itu, orang-orang yang telah menyakiti hati para rasul dan juru dakwah karena menyampaikan ajaran Allah, akan mengalami suatu kesulitan yang luar biasa. Mereka tersentak mendengar seruan Kiamat ditiup Malaikat Israfil. Mereka langsung merasakan betapa hebatnya kesulitan yang harus ditempuh. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya bersabar menghadapi gangguan-gangguan musuh tersebut.

Pada hari Kiamat, semua orang mendapatkan apa yang telah mereka amalkan: kesenangan yang abadi bagi orang yang beriman dan berjihad menegakkan keimanan yang benar, serta kecelakaan dan kesengsaraan bagi siapa yang ingkar dan hidup di atas keingkaran itu.

Tafsir Quraish Shihab: Apabila sangkakala ditiupkan, maka saat itu merupakan hari yang sulit bagi orang-orang kafir untuk melarikan diri dari perhitungan dan kedahsyatan-kedahsyatan lainnya yang mereka dapatkan.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 9
فَذَٰلِكَ يَوۡمَئِذٍ يَوۡمٌ عَسِيرٌ

Terjemahan: maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit,

Tafsir Jalalain: فَذَٰلِكَ (Maka waktu itu) waktu peniupan sangkakala yang kedua يَوۡمَئِذٍ (adalah waktu) lafal Yaumaidzin berkedudukan menjadi Badal dari lafal yang sebelumnya, dan sekaligus menjadi Mubtada. Lafal Yaumaidzin dimabnikan karena mengingat dimudhafkan kepada Isim yang Ghairu Mutamakkin. Kemudian yang menjadi Khabarnya ialah يَوۡمٌ عَسِيرٌ (datangnya hari yang sulit) Amil yang mempengaruhi lafal Idza adalah kalimat yang disimpulkan dari pengertian keseluruhannya. Yakni pada hari itu perkara dirasakan amat berat.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: فَذَٰلِكَ يَوۡمَئِذٍ يَوۡمٌ عَسِيرٌ (“Maka waktu itu adalah waktu [datangnya]hari yang sulit.”) yakni yang keras.

Tafsir Kemenag: Setelah memberikan pengarahan khusus kepada Nabi Muhammad (yang juga menjadi cermin pengajaran bagi umat beliau) yang dimulai dari ayat 1 sampai dengan ayat 7 di atas, maka pada ayat ini, Allah menjelaskan pula tentang suasana kedatangan hari Kiamat.

Di hari yang dijanjikan itu, orang-orang yang telah menyakiti hati para rasul dan juru dakwah karena menyampaikan ajaran Allah, akan mengalami suatu kesulitan yang luar biasa. Mereka tersentak mendengar seruan Kiamat ditiup Malaikat Israfil. Mereka langsung merasakan betapa hebatnya kesulitan yang harus ditempuh. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya bersabar menghadapi gangguan-gangguan musuh tersebut.

Pada hari Kiamat, semua orang mendapatkan apa yang telah mereka amalkan: kesenangan yang abadi bagi orang yang beriman dan berjihad menegakkan keimanan yang benar, serta kecelakaan dan kesengsaraan bagi siapa yang ingkar dan hidup di atas keingkaran itu.

Tafsir Quraish Shihab: Apabila sangkakala ditiupkan, maka saat itu merupakan hari yang sulit bagi orang-orang kafir untuk melarikan diri dari perhitungan dan kedahsyatan-kedahsyatan lainnya yang mereka dapatkan.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 10
عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ غَيۡرُ يَسِيرٍ

Terjemahan: bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah.

Tafsir Jalalain: عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ غَيۡرُ يَسِيرٍ (Bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah) di dalam ungkapan ini terkandung pengertian, bahwa keadaan pada hari itu dirasakan amat ringan oleh orang-orang yang beriman di balik kesulitan yang dirasakan oleh orang-orang kafir.

Tafsir Ibnu Katsir: عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ غَيۡرُ يَسِيرٍ (“Bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah.”) yakni tidak mudah bagi mereka.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini ditegaskan lagi bahwa tidak mudah bagi orang-orang kafir menghadapi suasana hari Kiamat yang dahsyat dan menakutkan itu. Sebab, pada hari itulah mereka menerima segala hasil perbuatan mereka dalam buku amalan dari sebelah kiri sebagai tanda masuk neraka. Tidak ada lagi kebahagiaan bagi orang kafir pada hari tersebut. Semuanya serba susah dan pedih, tidak seperti kesenangan yang pernah mereka nikmati di dunia dahulu.

Kenapa mereka mengalami kesulitan? Selain pernah menerima buku di sebelah kiri, mereka juga harus mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan mereka di hadapan Mahkamah Allah Yang Mahaadil, yang tidak seorang pun dapat mengelak dan tidak seorang pun yang merasa dirugikan. Sebab, di hari itu pula segala anggota tubuh ikut berbicara mengajukan kesaksian dengan sendirinya terhadap yang pernah dikerjakan, padahal mulut yang di dunia pandai bicara, pada hari itu terkunci rapat diam membisu seribu bahasa.

Semua manusia pada hari Kiamat menundukkan kepala di hadapan Allah, mengakui kesalahan dan kekhilafan masa lalu, tetapi pintu penyesalan sudah ditutup. Adapun orang mukmin yang telah menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk berjihad di jalan Allah, menghadapi kiamat dengan perasaan cerah, tanpa diliputi ketakutan sedikit pun. Mereka tidak akan dipersulit perhitungan amalnya, dan berjalan berbaris serta bersaf-saf menuju Mahkamah Ilahi dengan wajah cerah.

Tafsir Quraish Shihab: Apabila sangkakala ditiupkan, maka saat itu merupakan hari yang sulit bagi orang-orang kafir untuk melarikan diri dari perhitungan dan kedahsyatan-kedahsyatan lainnya yang mereka dapatkan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Muddatstsir Ayat 1-10 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S