Surah Al-Munafiqun Ayat 1-4; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Munafiqun Ayat 1-4

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Munafiqun Ayat 1-4 ini, sebelum membahas kandungan ayat terlebih dahulu kita mengetahui isi kandungan surah. Di dalam surah ini terkandung beberapa sifat orang munafik. Disebutkan bahwa mereka itu selalu menyatakan, secara lisan, bahwa mereka itu beriman, padahal tidak demikian halnya. Selain itu, mereka selalu menjadikan sumpah palsu atas kebohongan mereka sebagai perisai yang melindungi mereka dari tuduhan kafir yang menyebabkan mereka harus dihukum.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Di bagian akhir, surah ini mengarahkan orang-orang Mukmin untuk berinfak di jalan Allah dengan segera sebelum kematian datang menjemput salah seorang dari mereka. Sebab, jika kematian itu telah datang, ia akan menyesal dan berharap agar ajalnya ditunda. Padahal, Allah tidak akan menunda kematian seseorang jika ajalnya telah datang.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Munafiqun Ayat 1-4

Surah Al-Munafiqun Ayat 1
إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ قَالُواْ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ

Terjemahan: Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.

Tafsir Jalalain: إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ قَالُواْ (Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata) dengan mulut mereka mengenai hal-hal yang bertentangan dengan apa yang ada dalam hati mereka نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ (“Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan) yakni mengetahui,

إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ (bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta) yakni isi hati mereka berbeda dengan apa yang mereka katakan.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman seraya mengabarkan orang-orang munafik. Mereka selalu memuliakan agama Islam jika menghadap Nabi saw. Padahal dalam batin mereka tidak demikian, bahkan sebaliknya. Oleh karena itu Allah berfirman:

إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ قَالُواْ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِ (“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: ‘Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.’”) maksudnya orang-orang munafik itu mendatangimu dan menghadapkan wajahnya kepadamu, serta menampakkan diri seperti itu, padahal keadaannya bukanlah seperti yang mereka katakan.

Oleh karena itu disertai kalimat bantahan yang mengabarkan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, dimana Dia berfirman: وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ (“Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya.”) setelah itu Dia berfirman:

وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ (“Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.”) yakni mereka bedusta dalam berita yang mereka sampaikan, meskipun sesuai dengan keadaan luar [lahiriyah] nya. karena mereka tidak meyakini kebenaran ucapan mereka dan tidak juga membenarkannya. Oleh karena itu Allah Ta’ala mendustakan apa yang menjadi keyakinan mereka.

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan bahwa apabila orang-orang munafik hadir pada majelis Nabi saw, di antaranya ‘Abdullah bin Ubay, mereka mengakui dengan pengakuan yang tidak mengandung keraguan sedikit pun bahwa Muhammad saw itu benar-benar rasul dari sisi Allah, telah diberi wahyu, dan diturunkan kepadanya kitab Al-Qur’an sebagai rahmat kepada hamba-hamba Allah.

Allah sebelumnya telah menandaskan bahwa Muhammad itu adalah rasul atau utusan-Nya kepada manusia seluruhnya, memberi kabar gembira dan ancaman untuk menyelamatkan mereka dari kesesatan, dan membawa mereka kepada petunjuk yang benar.

Allah mengetahui kebohongan orang-orang munafik itu di dalam pengakuannya. Mereka itu benar-benar lain di mulut lain di hati. Orang munafik adalah orang yang beriman secara lahiriah, tetapi tidak secara batiniah.

Tafsir Quraish Shihab: Di dalam surah ini terkandung beberapa sifat orang munafik. Disebutkan bahwa mereka itu selalu menyatakan, secara lisan, bahwa mereka itu beriman, padahal tidak demikian halnya. Selain itu, mereka selalu menjadikan sumpah palsu atas kebohongan mereka sebagai perisai yang melindungi mereka dari tuduhan kafir yang menyebabkan mereka harus dihukum.

Dijelaskan juga bahwa mereka memiliki postur tubuh indah yang menakjubkan jika dipandang dan ucapan yang fasih sehingga enak didengar. Meskipun demikian, kalbu mereka kosong dari keimanan. Seolah-olah mereka itu kayu yang tersandar, tidak ada kehidupan di dalamnya.

Surah ini juga memaparkan keadaan mereka ketika diseru agar Rasulullah meminta ampunan untuk mereka, dengan menjelaskan bahwa mereka selalu sombong dan menampakkan keengganan untuk menerima.

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 139; Seri Tadabbur Al Qur'an

Kemudian pembicaraan beralih kepada anggapan orang-orang munafik bahwa merekalah yang unggul, sementara orang-orang Mukmin terhina dan ancaman mereka terhadap orang-orang Mukmin untuk mengeluarkan mereka setelah kembali ke Madinah. Dijelaskan di situ, siapa sebenarnya di antara kedua kelompok itu yang lebih unggul.

Di bagian akhir, surah ini mengarahkan orang-orang Mukmin untuk berinfak di jalan Allah dengan segera sebelum kematian datang menjemput salah seorang dari mereka. Sebab, jika kematian itu telah datang, ia akan menyesal dan berharap agar ajalnya ditunda. Padahal, Allah tidak akan menunda kematian seseorang jika ajalnya telah datang.]]

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, hai Muhammad, mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa kamu benar-benar Rasul Allah.” Allah mengetahui bahwa kamu benar-benar Rasul-Nya. Dan Allah juga mengetahui bahwa orang-orang munafik itu bohong dalam pengakuan bahwa mereka beriman kepadamu. Sebab, ucapan mereka itu tidak sesuai dengan hati mereka.

Surah Al-Munafiqun Ayat 2
ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةً فَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Terjemahan: Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.

Tafsir Jalalain: ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةً (Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai) maksudnya untuk melindungi harta benda mereka dan jiwa mereka فَصَدُّواْ (lalu mereka menghalangi) melalui sumpah itu عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ (jalan Allah) artinya mereka menghalangi manusia untuk berjihad melawan mereka. إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ (Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan).

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah: ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةً فَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ (“Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi [manusia] dari jalan Allah.”) maksudnya mereka menjaga diri dari orang-orang dengan supah palsu agar kaum muslimin percaya terhadap apa yang mereka ucapkan sehingga orang-orang yang tidak tahu tentang hakekat mereka tertipu dan mengira bahwa mereka benar-benar sebagai orang-orang muslim. Bahkan tidak jarang orang-orang yang tertipu itu akan ikut mengerjakan apa yang mereka kerjakan tersebut serta membenarkan semua ucapakan mereka. Yang menjadi sifat mereka adalah secara bathi mereka sama sekali tidak condong dan tidak berpihak kepada Islam. Keadaan itulah yang menimbulkan bahaya yang sangat besar bagi ummat manusia.

Oleh karena itu Allah Ta’la berfirman: فَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ (“Lalu mereka menghalangi [manusia dari jalan Allah. Sesungguhnay sangat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa dalam menguatkan pengakuannya yang palsu itu, orang-orang munafik itu berani bersumpah, tetapi hal itu hanya sebagai perisai untuk menyelamatkan diri dari hukuman bunuh, penahanan, atau pengambilan harta benda mereka sebagai ganimah, sebagaimana hukuman yang dijatuhkan kepada orang-orang kafir.

Qatadah berkata, “Setiap akan dijatuhi hukuman terhadap orang-orang munafik atas perbuatannya, mereka mengemukakan sumpah palsu untuk menyelamatkan jiwa, darah, dan harta benda mereka.” Tindakan mereka tidak terbatas dengan hal itu saja. Mereka juga menghalang-halangi manusia untuk masuk dan menganut agama Islam.

Ayat ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa perbuatan orang-orang munafik itu adalah perbuatan yang paling jahat. Mereka lebih suka memilih kekafiran daripada iman, dan menampakkan apa yang berbeda dalam hatinya.

Di dunia mereka akan kecewa dan di akhirat akan menyesal. Mereka akan dihina di depan khalayak ramai dengan menyatakan kemunafikan mereka kepada orang-orang mukmin di dunia ini. Sedangkan di akhirat, mereka akan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam. Sejalan dengan ayat ini firman Allah:

Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (an-Nisa’/4: 145)

Firman Allah: Allah menjanjikan (mengancam) orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah (neraka) itu bagi mereka. Allah melaknat mereka; dan mereka mendapat azab yang kekal. (at-Taubah/9: 68).

Tafsir Quraish Shihab: Mereka menjadikan sumpah palsu mereka sebagai perisai yang menjaga mereka dari hukuman. Dengan begitu, mereka telah menghalangi diri mereka dari jalan Allah yang lurus. Kemunafikan dan sumpah palsu yang selalu mereka lakukan itu sungguh amat buruk.

Baca Juga:  Surah Al-Munafiqun Ayat 5-8; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Al-Munafiqun Ayat 3
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ ءَامَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ فَهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ

Terjemahan: Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.

Tafsir Jalalain: ذَٰلِكَ (Yang demikian itu) yakni pekerjaan mereka yang buruk itu بِأَنَّهُمۡ ءَامَنُواْ (adalah karena sesungguhnya mereka telah beriman) mulutnya ثُمَّ كَفَرُواْ (kemudian menjadi kafir) hatinya. Artinya, mereka masih tetap dalam kekafirannya, فَطُبِعَ (lalu dikunci matilah) dikuncilah عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ (hati mereka) dengan kekafiran فَهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ (karena itu mereka tidak dapat mengerti) tentang iman yang sesungguhnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah lebih lanjut: ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ ءَامَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ فَهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ (“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir [lagi] lalu hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti.”) maksudnya ditetapkan kemunafikan sebagai sifat mereka, karena mereka berpaling dari keimanan kepada kekufuran, dan tindakan mereka merubah petunjuk menjadi kesesatan. Sehingga Allah mengunci mati hati mereka, sehingga mereka menjadi tidak mengerti sama sekali. Akhirnya tidak ada satu pun petunjuk yang masuk ke dalam hati mereka dan tidak juga ada kebaikan yang dapat diterimanya, sehingga tidak pernah menyadari dan mendapatkan petunjuk.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa perbuatan jahat dan hina orang-orang munafik itu adalah karena mereka itu menampakkan iman pada lahiriahnya, kemudian mereka kafir dan ingkar dalam batinnya. Mereka itu tadinya memang beriman, lalu mereka kafir dan menyembunyikan kekafirannya yang menyebabkan hati mereka dikunci mati sehingga tidak dapat lagi memahami dan mengetahui mana yang baik, mana yang buruk, dan sebagainya. Akhirnya mereka itu tidak ada bedanya dengan orang-orang yang bisu, tuli, dan buta, sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah:

Dan perumpamaan bagi (penyeru) orang yang kafir adalah seperti (penggembala) yang meneriaki (binatang) yang tidak mendengar selain panggilan dan teriakan. (Mereka) tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak mengerti. (al-Baqarah/2: 171)

Tafsir Quraish Shihab: Kemunafikan dan sumpah palsu yang terus mereka lakukan itu disebabkan oleh karena mereka hanya menyatakan keimanan melalui lisan, sedang hati mereka tetap kafir. Maka kekafiran itu mengunci kalbu mereka sehingga tidak mengerti apa yang dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah.

Surah Al-Munafiqun Ayat 4
وَإِذَا رَأَيۡتَهُمۡ تُعۡجِبُكَ أَجۡسَامُهُمۡ وَإِن يَقُولُواْ تَسۡمَعۡ لِقَوۡلِهِمۡ كَأَنَّهُمۡ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ يَحۡسَبُونَ كُلَّ صَيۡحَةٍ عَلَيۡهِمۡ هُمُ ٱلۡعَدُوُّ فَٱحۡذَرۡهُمۡ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ

Terjemahan: Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?

Tafsir Jalalain: وَإِذَا رَأَيۡتَهُمۡ تُعۡجِبُكَ أَجۡسَامُهُمۡ (Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum) karena keindahan dan kebagusannya. وَإِن يَقُولُواْ تَسۡمَعۡ لِقَوۡلِهِمۡ (Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka) karena kefasihan tutur katanya.

كَأَنَّهُمۡ (Mereka adalah seakan-akan) karena tubuhnya yang besar akan tetapi pikirannya kosong tidak dapat memahami خُشُبٌ (kayu) dapat dibaca khusyubun dan khusybun مُّسَنَّدَةٌ (yang tersandar) artinya bagaikan kayu yang tersandar ke tembok. يَحۡسَبُونَ كُلَّ صَيۡحَةٍ (Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan keras) teriakan sebagaimana seruan di dalam kemiliteran, atau bagaikan seruan orang yang mencari barang yang hilang عَلَيۡهِمۡ (ditujukan kepada mereka) demikian itu karena hati mereka sudah memendam rasa kecut dan takut terhadap hal-hal yang akan menimpa mereka yang memperbolehkan darah mereka dialirkan.

هُمُ ٱلۡعَدُوُّ فَٱحۡذَرۡهُمۡ (Mereka itulah musuh yang sebenarnya, maka waspadalah terhadap mereka) karena sesungguhnya mereka pasti membeberkan rahasia kamu kepada orang-orang kafir قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُ (semoga Allah membinasakan mereka) menghancurkan mereka. أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ (Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan?) dari iman, padahal bukti-buktinya sudah cukup jelas.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Ta’ala: وَإِذَا رَأَيۡتَهُمۡ تُعۡجِبُكَ أَجۡسَامُهُمۡ وَإِن يَقُولُواْ تَسۡمَعۡ لِقَوۡلِهِمۡ (“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikanmu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan.”) maksudnya mereka mempunyai penampilan yang bagus dan fasih bicara, sehingga apabila ada orang yang mendengar mereka, dia akan tertarik pada ucapannya itu karena unsur sastranya yang tinggi. Dengan demikian sebenarnya mereka berada di puncak kelemahan, kegelisahan, kekhawatiran, dan menjadi pengecut.

Baca Juga:  Surah Yusuf Ayat 7-10; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Oleh karena itu Allah befirman: يَحۡسَبُونَ كُلَّ صَيۡحَةٍ عَلَيۡهِمۡ (“Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka.”) maksudnya setiap kali terjadi peristiwa, perkara, atau ketakutan, mereka mengira dengan rasa pengecut bahwa perkara itu ditujukan kepada mereka. Mereka ini sebenarnya adalah tubuh-tubuh dan bentuk rupa yang tidak mempunyai makna. Oleh karena itu Allah berfirman:

هُمُ ٱلۡعَدُوُّ فَٱحۡذَرۡهُمۡ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ (“Mereka itulah musuh [yang sebenarnya] maka waspadalah terhadap mereka. Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan [dari kebenaran]?”) bagaimana mungkin mereka berpaling dari petunjuk kepada kesesatan? Padahal Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw. bersabda:

“Sesungguhnya orang-orang munafik mempunyai beberapa tanda yang dapat digunakan untuk mengenali mereka; penghormatan mereka adalah laknat, makanan mereka adalah hasil rampasan, ghanimah [harta rampasan perang] mereka adalah kecurangan, mereka tidak mendekati masjid kecuali berhijrah darinya, tidak mendatangi shalat kecuali telah selesai, sombong dan congkak, tidak mau bersahabat dan tidak mau diajak bersahabat, berkumpul pada malam hari dan gaduh pada siang hari.”
Yazid bin Murrah mengatakan: “Artinya, hiruk pikuk di siang hari.”

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang-orang munafik itu terlihat sangat menakjubkan. Tubuh mereka tegap-tegap, simpatik, dan lancar berbicara serta mengasyikkan. Apabila mereka berkata, orang senang mendengarnya karena tutur bahasanya yang teratur, menarik, dan tidak membosankan.

Mereka tidak ubahnya seperti kayu yang tersandar, benda yang mempunyai bentuk, tetapi tidak bernyawa. Ini biasa dipakai sebagai perumpamaan bagi orang yang kelihatannya bagus, tetapi amal perbuatannya jelek. Lahiriahnya elok, tetapi hatinya busuk, tidak ubahnya dengan kayu yang di dalamnya kosong melompong, kelihatannya indah, tetapi tidak dapat digunakan, tidak dapat diharapkan daripadanya hal yang baik dan bermanfaat.

Setiap ada kata-kata yang sifatnya amar ma’ruf nahi mungkar, mereka menyangka bahwa kata-kata itu ditujukan kepadanya. Mereka takut kalau-kalau kedudukan dan pangkatnya terancam dan rahasianya terbongkar. Cercaan dan cemoohan terhadap mereka akan datang dan mereka akan menjadi bulan-bulanan. Allah berfirman:

Mereka kikir terhadapmu. Apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam. (al-Ahzab/33: 19)

Mereka itu sebenarnya adalah musuh, karena itu berhati-hatilah menghadapinya, jangan terpengaruh dengan keramah-tamahan mereka, dan jangan termakan dengan bujuk rayu mereka. Mereka kelihatan tersenyum, tetapi di dalam hatinya terpendam dendam yang mendalam, iktikad jahat yang membawa maut.

Mereka itu dilaknat Allah dan jauh dari rahmat-Nya, karena perbuatan mereka yang sangat jahat. Penerangan dan penjelasan tentang kebenaran telah cukup diberikan kepada mereka, tetapi mereka itu membuang kebenaran itu, dan melaksanakan kebatilan yang dilarang oleh Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Jika kalian memandang mereka, kalian akan terpesona oleh keindahan tubuh mereka. Jika mereka berbicara, kalian akan mendengarkan karena manisnya. Meski demikian, kalbu mereka kosong dari iman. Mereka bagaikan kayu yang tersandar, tak ada kehidupan dalam diri mereka.

Mereka selalu mengira setiap musibah ditujukan kepada mereka, karena mereka merasakan betul keadaan yang sebenarnya. Mereka adalah musuh yang sebenarnya, maka waspadailah. Mereka telah terusir dari rahmat Allah. Bagaimana mereka sampai dipalingkan dari kebenaran kepada kemunafikan tersebut!

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Munafiqun Ayat 1-4 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S