Surah An-Naml Ayat 87-90; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Naml Ayat 87-90

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Naml Ayat 87-90 ini, Allah menjelaskan bila kemarahan dan kemurkaan-Nya telah dijatuhkan kepada manusia yang durhaka, karena meninggalkan perintah dan mengotori kemurnian agama-Nya, maka pada saat menjelang datangnya hari Kiamat, binatang-binatang melata keluar dari bumi dan berbicara kepada mereka dengan lidah yang fasih, bahwa kebanyakan manusia tidak yakin kepada Ayat-Ayat Allah, dan tidak percaya akan datangnya hari Kiamat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ucapan dari binatang melata itu mengandung cercaan dan peringatan yang sangat keras kepada manusia yang berada di sekelilingnya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml Ayat 87-90

Surah An-Naml Ayat 87
وَيَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ

Terjemahan: Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.

Tafsir Jalalain: وَيَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ (Dan hari ketika ditiup sangkakala) tiupan sangkakala malaikat Israfil yang pertama فَفَزِعَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ (maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi) mereka ketakutan, sehingga ketakutan itu mematikan mereka, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ayat lainnya, yaitu dengan ungkapan Sha’iqa, yakni terkejut yang mematikan. Dan ungkapan dalam Ayat ini dipakai Fi’il Madhi untuk menggambarkan kepastian terjadinya hal ini إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ (kecuali siapa yang dikehendaki Allah) yaitu malaikat Jibril, malaikat Mikail, malaikat Israfil dan malaikat Maut. Tetapi menurut suatu riwAyat yang bersumber dari sahabat Ibnu Abbas disebutkan, bahwa mereka yang tidak terkejut adalah para Syuhada, karena mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan diberi rezeki.

وَكُلٌّ (Dan semua mereka) lafal Kullun ini harakat Tanwinnya merupakan pergantian daripada Mudhaf Ilaih, artinya mereka semua sesudah dihidupkan kembali di hari kiamat أَتَوْهُ (datang menghadap kepada-Nya) dapat dibaca Atauhu dan Atuhu دَاخِرِينَ (dengan merendahkan diri) artinya merasa rendah diri. Dan ungkapan lafal Atauhu dengan memakai Fi’il Madhi untuk menunjukkan, bahwa hal itu pasti terjadi.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala mengabarkan tentang keterkejutan manusia pada hari ditiupkan sangkakala. Hal itu sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits yang mana terompet ditiupkan pada waktu itu. Di dalam hadits sangkakala tersebut dinyatakan bahwa Israfil-lah yang meniupkannya dengan perintah Allah Ta’ala.

Tiupan pertama adalah tiupan yang mengejutkan, hingga cukup lama waktunya dan hal ini terjadi di akhir umur dunia ketika hari kiamat terjadi, menimpa manusia-manusia terburuk. Maka saat itu terkejutlah penghuni langit dan penghuni bumi. إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ (“Kecuali siapa yang dikehendaki Allah”) mereka adalah para syuhada, karena mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapat rizky.

Imam Muslim bin al-Hajjaj meriwAyatkan, ‘Ubaidullah bin Mu’adz al-Anbarry bercerita kepada kami, ayahku bercerita kepada kami bahwasannya Syu’bah bercerita kepada kami dari an-Nu’man bin Salim, aku mendengar Ya’qub bin ‘Ashim bin ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi berkata, aku mendengar Abdullah bin ‘Amr didatangi seseorang dan berkata,

“Hadits apa yang engkau ceritakan bahwa hari kiamat itu akan terjadi demikian dan demikian?” dia menjawab, “SubhaanallaaH?” atau laa ilaaHa illallaaH, atau kalimat semisalnya. Sesungguhnya aku berkeinginan untuk tidak menceritakan sesuatu selama-lamanya. Aku hanya mengatakan, sesungguhnya kalian akan menyaksikan sebentar lagi sebuah perkara besar yang dapat menghancurkan rumah, lalu terjadi ini dan itu, kemudian ia mengatakan,

Rasulullah bersabda: ‘Dajjal akan keluar pada umatku, lalu tinggal selama 40 –aku tidak tahu 40 hari, 40 bulan, atau 40 tahun-, Allah mengutus ‘Isa bin Maryam seakan-akan ia seperti ‘Urwah bin Mas’ud, lalu ia mencari dan membinasakannya. Kemudian manusia tinggal selama 7 tahun, dimana tidak ada lagi permusuhan di antara mereka.

kemudian Allah mengirimkan angin dingin dari arah Syam, sehingga tidak ada satu makhluk pun yang di dalam hatinya terdapat sedikit saja kebaikan atau keimanan di permukaan bumi yang tersisa, kecuali angin itu yang akan mewafatkannya. Sehingga seandainya salah seorang kalian masuk ke dalam bagian terdalam gunung pun, angin itu akan mengejar dan mewafatkannya.’”

Dia berkata, aku mendengarnya dari Rasulullah saw. ia bersabda: “Maka tersisalah manusia-manusia yang terburuk seperti ringannya burung dan buasnya binatang buas. Mereka tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang munkar.

Lalu syaitan dalam bentuk manusia datang kepada mereka dan berkata: ‘Apakah kalian tidak memperkenankan kami?’ Mereka berkata, ‘Lalu apa yang akan engkau perintahkan kepada kami?’ maka syaitan itu memerintahkan mereka untuk menyembah patung-patung, dan dengan demikian mereka memiliki banyak rizky dan kehidupan yang baik. Kemudian ditiupkanlah sangkakala, maka tidak ada satu orangpun yang mendengarkannya kecuali dia mendongak ke atas terheran-heran.

Dan orang pertama yang mendengarnya adalah seseorang yang sedang memperbaiki dan melumuri kolam minum ontanya dengan lumpur, lalu ia pingsan dan matilah seluruh manusia. Kemudian Allah mengirimkan hujan, seolah-olah rintik-rintik atau awan gelap [Nu’man ragu-ragu], lalu tumbuhlah jasad-jasad manusia. Kemudian ditiupkan kembali sangkakala dan tiba-tiba mereka berdiri, bangun dan memandang. Lalu dikatakan:

‘Hai manusia! Datanglah kalian menuju Rabb kalian.’ Dan tahanlah merek [di tempat perhentian], karena merek akan ditanya, kemudian dikatakan: ‘Keluarkanlah utusan api neraka.’ maka ditanyakan, ‘Berapa orang?’ dijawab: ‘Dari setiap 1000 ada 999.’ Itulah hari dijadikannya anak-anak beruban dan betis-betis tersingkap.’”

Kemudian, ditiupkanlah sangkakala, maka tidak ada satu orang pun yang mendengarnya melainkan ia mendengarkan seraya mengangkat kepalanya dalam keadaan bingung. Al-lait adalah bagian tengkuk, yaitu miring tengkuknya untuk mendengarkan dengan seksama sesuatu dari langit, inilah tiupan yang mengagetkan. Kemudian setelah itu tiupan kematian. Kemudian, setelah itu lagi tiupan yang membangunkan manusia di hadapan Rabbul ‘aalamiin, yaitu saat dibangkitkan dari kubur untuk seluruh makhluk.

Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ (“Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.”) dibaca dengan madd [panjang] atau tidak di atas fi’il [kata kerja] semuanya memiliki satu makna (daakhiriin) yaitu, rendah diri dan taat, tidak ada satu makhlukpun yang menyelisihi-Nya sebagaimana firman Allah yang artinya: “Yaitu pada hari Dia memanggilmu, lalu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya, dan kamu mengira bahwa kamu tidak berdiam [di dalam kubur] kecuali sebentar saja.” (al-Israa’: 52)

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 50-51; Seri Tadabbur Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini, Allah menggambarkan peristiwa kiamat secara khusus, yaitu pada hari peniupan sangkakala oleh malaikat Israfil. Segala yang ada di langit dan di bumi terkejut, kecuali malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, dan orang-orang yang beriman. Tiupan sangkakala itu terjadi dua kali, tiupan pertama yang diberi nama “nafkhah as-sa’q” menyebabkan matinya semua makhluk selain mereka yang dikecualikan. Kemudian dengan tiupan kedua, mereka semuanya akan dibangkitkan dari kubur mereka masing-masing, sebagaimana dalam firman-Nya:

Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah). (az-Zumar/39 :68)

Tiupan yang kedua ini diberi nama “nafkhah al-ba’ts” artinya tiupan kebangkitan, seperti dalam firman-Nya: Lalu ditiuplah sangkakala, maka seketika itu mereka keluar dari kuburnya (dalam keadaan hidup), menuju kepada Tuhannya. (Yasin/36: 51)

Peristiwa ini disebutkan pula dalam firman Allah: (yaitu) pada hari ketika mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), pandangan mereka tertunduk ke bawah diliputi kehinaan. Itulah hari yang diancamkan kepada mereka. (al-Ma’arij/70: 43-44)

Tafsir Quraish Shihab: Wahai Muhammad, ingatlah suatu saat ketika malaikat Israfil membunyikan terompet atas izin Allah. Saat itu seluruh penghuni langit dan bumi akan sangat terkejut oleh dahsyatnya bunyi terompet itu, kecuali orang-orang yang diberi ketenangan oleh Allah dan diamankan dari kepanikan. Seluruh makhluk akan menghadap Allah dalam keadaan hina.

Surah An-Naml Ayat 88
وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ

Terjemahan: Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Tafsir Jalalain: وَتَرَى الْجِبَالَ (Dan kamu lihat gunung-gunung itu) yakni kamu saksikan gunung-gunung itu sewaktu terjadinya tiupan malaikat Israfil تَحْسَبُهَا (kamu sangka dia) جَامِدَةً (tetap) diam di tempatnya karena besarnya وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ (padahal ia berjalan sebagai jalannya awan) bagaikan hujan yang tertiup angin, maksudnya gunung-gunung itu tampak seolah-olah tetap, padahal berjalan lambat saking besarnya, kemudian jatuh ke bumi lalu hancur lebur kemudian menjadi abu bagaikan bulu-bulu yang beterbangan.

صُنْعَ اللَّهِ (Begitulah perbuatan Allah) lafal Shun’a merupakan Mashdar yang mengukuhkan jumlah sebelumnya yang kemudian di-mudhaf-kan kepada Fa’il-nya Sesudah ‘Amil-nya dibuang, bentuk asalnya ialah Shana’allahu Dzalika Shun’an. Selanjutnya hanya disebutkan lafal Shun’a yang kemudian dimudhaf-kan kepada Fa’il-nya yaitu lafal Allah, sehingga jadilah Shun’allahi; artinya begitulah perbuatan Allah الَّذِي أَتْقَنَ (yang membuat dengan kokoh) rapih dan kokoh كُلَّ شَيْءٍ (tiap-tiap sesuatu) yang dibuat-Nya,

إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ (sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan) lafal Taf’aluna dapat dibaca Yaf’aluna, yakni perbuatan maksiat yang dilakukan oleh musuh-musuh-Nya dan perbuatan taat yang dilakukan oleh kekasih-kekasih-Nya.

Tafsir Ibnu katsir: Firman Allah Ta’ala: وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ (“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan.”) yaitu engkau lihat dia seakan-akan tetap tidak bergerak seperti apa adanya, padahal ia berjalan seperti gerakan awan, yaitu bergerak dari tempat-tempatnya, sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan [ingatlah] akan hari [yang ketika itu] Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar.” (al-Kahfi: 47).

Dan firman Allah: صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ (“Demikianlah perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu.”) yaitu Dia melakukan itu dengan ketetapan-Nya yang besar. الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ (“Yang membuat kokoh tiap-tiap sesuatu”) yaitu membuat kokoh setiap apa yang diciptakan-Nya dan meletakkan hikmah-hikmah di dalamnya.

إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.”) yaitu Dia mengetahui tentang apa yang dikerjakan hamba-hamba-Nya, baik dan buruk. Lalu mereka akan dibalas dengan balasan yang sempurna. Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan kondisi orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang celaka di saat itu.

Dia berfirman: man jaa-a bil hasanati falaHuu khairum minHaa (“Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh yang lebih baik daripadanya.”) Qatadah berkata: “Keikhlasan.”

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini, Allah menerangkan bahwa gunung-gunung yang sekarang kelihatannya kokoh berdiri di tempatnya, nanti pada hari Kiamat akan dicabut dari bumi kemudian diterbangkan bagaikan bulu di udara dan berjalannya awan. Firman Allah: Dan gunung-gunung bagaikan bulu (yang beterbangan). (al-Ma’arij/70: 9)

Ada dua pendapat ulama tafsir mengenai pernyataan Ayat ini bahwa gunung-gunung akan diterbangkan di udara seperti jalannya awan, atau dalam Ayat lain seperti bulu ditiup oleh angin. Pendapat pertama, yang merupakan pendapat sebagian besar mufasir, mengemukakan bahwa Ayat ini berhubungan dengan peristiwa hari Kiamat, seperti dalam firman Allah:

Pada hari (ketika) langit berguncang sekeras-kerasnya, dan gunung berjalan (berpindah-pindah). (ath-thur/52: 9-10 ). Dan firman-Nya: Dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana. (an-Naba’/78: 20)

Dalam firman-Nya yang lain: (Yaitu) pada hari (ketika) bumi di ganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa. (Ibrahim/14: 48)

Kejadian-kejadian yang amat dahsyat ini terjadi pada hari Kiamat setelah tiupan sangkakala yang kedua kalinya, dimana semua manusia dibangkitkan dari kuburnya dan mereka menyaksikan segala macam peristiwa yang sangat dahsyat itu dengan sikap yang berbeda-beda.

Pendapat yang kedua mengenai tafsir Ayat 88 ini, yakni pendapat ulama ahli falak, menyatakan bahwa Ayat ini bukan berhubungan dengan peristiwa hari Kiamat, tetapi dengan fenomena alam di dunia. Ayat ini mengatakan,

“Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan.” Ia dijadikan dalil bahwa bumi berputar seperti planet-planet lain pada garis edar yang telah ditentukan, hanya saja manusia sebagai penghuni bumi tidak merasakannya.

Alasan ulama falak, bahwa Ayat 88 ini berhubungan dengan peristiwa sekarang dan bukan dengan peristiwa hari Kiamat, adalah:

  1. Ayat ini tidak dapat dimasukkan dalam kategori ancaman atau menakut-nakuti dengan kedahsyatan hari Kiamat karena di belakangnya di sambung dengan kata-kata: (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Oleh karena itu, Ayat ini lebih tepat bila dihubungkan dengan masa sekarang, di mana manusia sebagai penghuni bumi menyangka bahwa bumi ini diam, demikian pula gunung-gunung yang berada di atas permukaannya. Padahal, bumi bersama gunung-gunung itu berjalan atau beredar sebagai jalannya awan.
  2. Gunung-gunung itu diterbangkan untuk dihancurkan pada hari Kiamat, dan terjadi bersamaan dengan kehancuran alam semesta, termasuk kematian seluruh manusia. Hanya beberapa malaikat saja yang tetap hidup. Jika pada hari setelah tiupan sangkakala yang pertama tidak ada lagi manusia yang hidup, bagaimana dapat dikatakan bahwa nanti mereka akan melihat gunung-gunung yang disangka diam, padahal ia berjalan seperti jalannya awan.
  3. Orang-orang di Padang Mahsyar yang menyaksikan gunung-gunung berjalan seperti jalannya awan, tentu sadar dan melihat dengan mata kepala sendiri sehingga tidak pantas dikatakan bahwa mereka menyangka gunung-gunung itu diam saja di tempatnya. Berlainan sekali jika dihubungkan dengan masa sekarang, karena memang manusia tidak dapat merasakan bahwa gunung-gunung itu bergerak dan berjalan di angkasa sebagaimana jalannya awan, karena gunung-gunung itu ikut bergerak bersama bumi, dan udara yang ada di sekitarnya. Dengan pengertian yang demikian, maka barulah cocok dengan kata-kata: (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Kata-kata yang indah ini tidak patut dikemukakan pada konteks hari Kiamat yang penuh dengan ancaman dan ketakutan terhadap kehancuran seluruh alam semesta.
Baca Juga:  Surah An-Naml Ayat 48-53; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Demikianlah kedua pendapat tentang tafsir Ayat 88 ini. Sebagian besar mufasir menerangkan bahwa Ayat itu berhubungan dengan peristiwa hari Kiamat. Sebagian lagi yang terdiri dari ulama falak menerangkan bahwa Ayat itu berhubungan dengan peristiwa sekarang, dan dijadikan dalil bahwa semua yang ada di atas bumi termasuk gunung-gunung bergerak, berjalan di angkasa sebagaimana berjalannya awan.

Perbedaan penafsiran itu tidak mengenai pada tataran arti, namun hanya menyangkut waktu terjadinya. Karena kejadian ini termasuk dalam alam gaib, maka lebih baik perhatian manusia dititikberatkan kepada perbaikan amalnya. Oleh karena itu, pada akhir Ayat itu dinyatakan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang dikerjakan manusia.

Menurut pandangan saintis, bumi merupakan planet terbesar kelima dari sembilan planet yang ada di tata surya. Bentuknya mirip dengan bola bundar, dengan keliling sekitar 12.743 km. Luas permukaan bumi diperkirakan sekitar 510 juta km2. Sekitar 29% permukaan bumi adalah daratan, sedangkan sisanya berupa lautan.

Bumi terdiri dari beberapa lapisan yang secara garis besar dibagi menjadi 3 bagian. Bagian paling atas disebut kerak bumi dan ketebalannya bervariasi dari 0-100 km di mana ke arah kontinen makin menebal. Di bawahnya terdapat mantel dengan kedalaman sampai 2.900 km. Bagian paling dalam disebut inti bumi dengan kedalaman dari 2.900-6.370 km.

Pembagian ini didasarkan pada analisa gelombang gempa dan masing-masing bagian tersebut mempunyai sifat fisis yang berbeda. Inti bumi misalnya mempunyai sifat fisis layaknya benda cair. Pembagian ini pada dasarnya dapat diperinci lebih detail. Manusia berada pada lapisan bumi bagian atas, yakni kerak bumi.

Sampai paruh abad 20, bidang kebumian ditandai oleh perdebatan tentang continental drift (kontinen yang mengapung). Mereka yang tidak setuju, disebut fixists, sedang yang setuju disebut mobilists. Menurut kubu mobilist, continental mengapung dan bergerak di atas mantel. Kalau kita melihat peta dunia, maka dengan amat mudah kita melihat benua Afrika dan benua Amerika [Selatan] bila diimpitkan, maka garis pantai keduanya relatif berimpit. Jadi, pada dasarnya semua benua yang ada semula berupa satu benua yang satu, yang disebut Pangea, kemudian pecah dan bergerak ke tempat yang sekarang kita lihat.

Data ilmiah seperti data kemagnitan purba, kesamaan fosil maupun kesamaan formasi geologi mendukung teori ini. Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan.

Perdebatan ini terus berlangsung dan puncaknya pada tahun enam puluhan. Pada saat itu, terjadilah revolusi pemikiran di bidang ilmu geologi dan pemikiran kaum mobilists mulai diterima secara luas. Penemuan punggungan tengah samudra di Samudra Atlantik dan Samudra Pasifik yang didukung data geologi dan geofisika, khususnya data magnetik, memperlihatkan adanya pemekaran dasar samudra di mana dua lempeng saling bergerak menjauh. Pada lantai samudra ini, magma dengan suhu sangat tinggi yang berasal dari mantel bumi naik ke atas membentuk punggungan tengah samudra

Dari dua konsep di atas, Apungan Benua dan Pemekaran Samudra, lahir konsep Tektonik Lempeng yang berkembang sangat cepat sejak tahun 1967 dan memiliki implikasi terhadap seluruh aspek geologi termasuk gempa bumi, gunung api, sampai pada perkembangan cekungan hidrokarbon maupun endapan-endapan mineral.

Teori ini mengatakan bahwa bumi bagian atas terdiri dari lempengan-lempengan litosfer yang terdiri dari kerak bumi dan mantel bagian atas yang mengapung dan bergerak di atas bagian mantel yang disebut astenosfer.

Lempeng-lempeng litosfer bergerak dan saling berinteraksi satu sama lain. Pada tempat-tempat saling bertemu, pertemuan lempengan ini menimbulkan gempa bumi. Sebagai contoh adalah Indonesia yang merupakan tempat pertemuan tiga lempeng: Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia.

Bila dua lempeng bertemu, maka terjadi tekanan (beban) yang terus menerus, dan bila lempengan tidak tahan lagi menahan tekanan (beban), maka lepaslah beban yang telah terkumpul ratusan tahun itu, dan dikeluarkan dalam bentuk gempa bumi, seperti firman Allah:

Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?” Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya. (al-Zalzalah/99: 1-4)

Pada hari itu, bumi menceritakan beritanya. Beban berat yang dikeluarkan dalam bentuk gempa bumi merupakan satu proses geologi yang berjalan bertahun-tahun. Begitu seterusnya, setiap selesai beban dilepaskan, kembali proses pengumpulan beban terjadi.

Proses geologi atau berita geologi ini dapat direkam, baik secara alami maupun dengan menggunakan peralatan geofisika ataupun geodesi. Sebagai contoh adalah gempa-gempa yang beberapa puluh atau ratus tahun yang lalu, peristiwa pelepasan beban direkam dengan baik oleh terumbu karang yang berada dekat sumber gempa. Pada masa modern, pelepasan energi ini terekam oleh peralatan seismograf (pencatat gempa) maupun peralatan geodesi yang disebut GPS (Global Position System).

Baca Juga:  Surah Adz-Dzariyat Ayat 47-51; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Wahai Muhammad, kamu pasti menyangka bahwa gunung-gunung itu diam tak bergerak. Padahal sebenarnya tidak demikian.
Gunung-gunung itu bergerak cepat bagai awan. Itulah sebagian dari ciptaan Allah, Pencipta segala sesuatu dengan sempurna.

Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui secara terperinci apa yang diperbuat oleh manusia berupa ketaatan dan kemaksiatan. Dan Allah akan memberikan balasan pada amal perbuatan itu[1].

[1] Ayat ini memberikan penjelasan bahwa segala benda yang tunduk pada hukum gravitasi bumi, termasuk lautan, daratan, gunung- gunung, atmosfer dan benda-benda lainnya, berotasi bersama-sama bumi dan berputar pula mengelilingi matahari.

Proses pergerakan itu akan mengakibatkan separo belahan bumi akan mengalami kegelapan selama enam bulan, sedang paroan lain akan mengalami siang yang terang benderang selama masa yang sama.
Tetapi kita, sebagai penduduk bumi, tidak merasakan gerak perputaran itu.
Persis saat kita menyaksikan gerak awan di udara yang tidak menimbulkan bunyi.

Dan Allah Maha Kuasa untuk menjadikan bumi berhenti, tidak berotasi pada porosnya atau menjadikan masa rotasinya sama dengan masa yang dipergunakan bumi mengelilingi matahari (evolusi). Dengan begitu separo permukaan bumi akan mengalami malam yang gelap gulita dan separo yang lain mengalami siang terang benderang sepanjang tahun.

Hal itu tentu dapat berakibat hilangnya keseimbangan temperatur bumi secara keseluruhan. Pada gilirannya, hal terakhir ini akan mengakibatkan musnahnya semua makhluk yang ada di bumi. Allah subhanahu wa ta’ala membuat semua aturan dengan sangat teliti itu, sebagai wujud kasih sayang kepada hamba-Nya.

Meskipun Aristarkhos (310-230 S.M), seorang ahli falak Yunani telah menulis tentang rotasi bumi, tulisannya itu belum sampai kepada kalangan Arab pada masa Muhammad ﷺ.atau sebelumnya.

Orang pertama di kalangan Arab yang menyinggung masalah ini adalah Al-Biruni sekitar tahun 1000 M., mengiring gerakan terjemah yang terjadi pada masa dinasti Abbasiah. Penyampaian fakta ilmiah ini melalui Muhammad ﷺ. sebelum ia sendiri tahu tentang hal itu, adalah bukti bahwa Alquran benar-benar wahyu yang difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala

Surah An-Naml Ayat 89
مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِّنْهَا وَهُم مِّن فَزَعٍ يَوْمَئِذٍ آمِنُونَ

Terjemahan: Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu.

Tafsir Jalalain: مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ (Barang siapa yang membawa kebaikan) yakni membawa pengamalan kalimah “La ilaha illallah” kelak di hari kiamat فَلَهُ خَيْرٌ (maka ia memperoleh kebaikan) pahala مِّنْهَا (daripadanya) disebabkan, lafal Khairun di sini bukan mengandung arti Tafdhil, karena tiada suatu pekerjaan pun yang lebih baik daripadanya. Di dalam Ayat lain disebutkan bahwa pahala itu ialah sepuluh kali lipat daripadanya وَهُم (sedangkan mereka) orang-orang yang datang membawanya مِّن فَزَعٍ يَوْمَئِذٍ (daripada kejutan yang dahsyat pada hari itu) dapat dibaca Faza’i Yaumaidzin dan Faza’in Yaumaidzin آمِنُونَ (merasa aman tenteram).

Tafsir Ibnu Katsir: Sedangkan Zainul ‘Abidin berkata: “Yaitu, Laa ilaaHa illallaaH.” Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjelaskan di tempat yang lain bahwa satu kebaikan memiliki 10 nilai bandingan. وَهُم مِّن فَزَعٍ يَوْمَئِذٍ آمِنُونَ (“Sedangkan mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari kejutan yang dahsyat pada hari itu.”) sebagaimana Dia berfirman dalam Ayat lain yang artinya: “Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar [pada hari kiamat].” (al-Anbiyaa’: 103).

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan melaksanakan amal kebajikan, akan memperoleh balasan yang lebih baik dari amalnya sendiri, dan diberi tempat kediaman yang nyaman dan kekal dalam surga Na’im, mereka aman tenteram dari kejutan yang dahsyat pada hari Kiamat itu.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka disiksa lantaran kezaliman mereka pada diri sendiri dengan perbuatan durhaka. Mereka tidak mampu mengelak dan berdalih.

Surah An-Naml Ayat 90
وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَكُبَّتْ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونََ

Terjemahan: Dan barang siapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.

Tafsir Jalalain: وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ (Dan barang siapa yang membawa kejahatan) yakni kemusyrikan فَكُبَّتْ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ (maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka) disebabkan berpaling daripadanya. Di sini hanya disebutkan muka, karena merupakan anggota tubuh yang paling mulia, pengertiannya; semua anggota tubuhnya lebih disungkurkan lagi. Kemudian dikatakan kepada mereka dengan nada mencemoohkan.

هَلْ تُجْزَوْنَ إِلَّ (Tiadalah kalian dibalasi melainkan) pembalasan yang setimpal مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (dengan apa yang dahulu kamu sekalian kerjakan) berupa kemusyrikan dan kemaksiatan. Katakanlah kepada mereka,.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: هَلْ تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (“Tiadalah kamu dibalasi, kecuali setimpal dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.”)

Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah, Anas bin Malik, ‘Atha’, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, Mujahid, Ibrahim an-Nakha’i, Abu Wa-il, Abu Shalih, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam, az-Zuhri, as-Suddi, adh-Dhahhak, al-Hasan, Qatadah dan Abu Zaid berkata tentang firman-Nya: وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ (“Dan barangsiapa yang membawa kejahatan”) yaitu syirik.

Tafsir Kemenag: Sebaliknya barang siapa yang menyekutukan Allah dan berbuat kejahatan, maka wajah mereka disungkurkan ke dalam neraka seraya dikatakan kepada mereka, “Kamu tidak mendapat balasan, melainkan setimpal dengan kemusyrikan dan kejahatan yang dahulu kamu kerjakan di dunia, sehingga menjadi sebab datangnya kemurkaan Allah.”.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Naml Ayat 87-90 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S