Surah Asy-Syu’ara Ayat 146-152; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Asy-Syu'ara Ayat 146-152

Pecihitam.org – Kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 146-152 ini, menjelaskan Nabi Saleh mengingatkan mereka akan nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kaumnya. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Nabi Saleh tetap melaksanakan tugasnya sebagai rasul Allah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dia menyeru kaumnya untuk bertakwa kepada Allah, dan mengikuti agama yang disampaikannya. Nabi Saleh juga mengajak mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang diridai Allah dan bermanfaat bagi hidup mereka di dunia dan di akhirat.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’ara Ayat 146-152

Surah Asy-Syu’ara Ayat 146
أَتُتْرَكُونَ فِي مَا هَاهُنَا آمِنِينَ

Terjemahan: Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini (di negeri kamu ini) dengan aman,

Tafsir Jalalain: أَتُتْرَكُونَ فِي مَا هَاهُنَا (Adakah kalian akan dibiarkan tinggal di sini bergelimangan) dengan kebaikan-kebaikan آمِنِينَ (dengan aman).

Tafsir Ibnu Katsir: Nabi Shalih memberi nasehat dan mengancam mereka dengan kemurkaan Allah akan menimpa mereka serta mengingatkan mereka tentang nikmat-nikmat Allah atas mereka.

Tafsir Kemenag: Nabi Saleh mengingatkan mereka akan nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka, yaitu:

  1. Mereka hidup dengan aman di negeri mereka, bebas dari gangguan musuh, dan memperoleh kebahagiaan serta ketenteraman hidup.
  2. Mereka mempunyai tanah pertanian yang subur, binatang ternak yang banyak, dan memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk membuat kanal-kanal irigasi yang teratur. Mereka hidup sebagai petani, penggembala, saudagar, dan penggali logam dari dalam tanah. Oleh karena itu, negeri mereka menjadi indah, dipenuhi tanaman yang menyenangkan mata orang yang memandangnya. Bahkan di antara mereka ada yang mengatakan bahwa negeri merekalah sebenarnya surga yang dijanjikan Allah.
  3. Mereka diberi kemampuan memahat gunung batu untuk dijadikan tempat tinggal.

Itulah berbagai nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kaum Samud. Mereka seharusnya mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah itu, tetapi semakin hari mereka semakin sombong. Mereka merasa bahwa kebahagiaan dan kenikmatan itu hanya karena usaha mereka sendiri, bukan karena nikmat Allah. Oleh karena itu, mereka tidak percaya akan adanya hari Kiamat. Hidup yang sebenarnya menurut mereka adalah hidup di dunia ini dan mereka menginginkan agar kekal di dunia.

Kaum Samud tidak lagi memikirkan bagaimana nasib mereka nanti, seandainya pada suatu waktu, Allah secara tiba-tiba mencabut semua kebahagiaan dan kemakmuran mereka dan menukarnya dengan malapetaka yang dahsyat. Semua itu bisa dilakukan Allah karena keingkaran dan kesombongan mereka sendiri.

Ayat ini mengandung makna bagaimana dengan bekal akal yang kuat maka manusia dapat memahat batu gunung untuk dijadikan tempat tinggal sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Samud. Pada saat ini, teknologi alat-alat pemahat sudah berkembang dan dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan mereka, antara lain untuk memotong dan membelah batu gunung yang keras.

Peralatan-peralatan tersebut sepenuhnya digerakkan oleh tenaga mesin atau robot. Bahkan manusia telah mampu menciptakan teknologi pemahatan super-canggih di mana objek dipotong atau dibelah dengan sinar laser. Hasilnya sangat halus dan tepat. Dengan alat mutakhir ini, batuan granit yang sangat keras pun menjadi mudah dibelah atau dipotong. Itulah hasil pikiran manusia.

Tafsir Quraish Shihab: Lalu Shalih menolak keyakinan bahwa mereka akan kekal dalam kenikmatan yang ada, serta terhindar dari azab, kepunahan dan kematian.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 147
فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ

Terjemahan: di dalam kebun-kebun serta mata air,

Tafsir Jalalain: فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (Di dalam kebun-kebun serta mata air).

Tafsir Ibnu Katsir: Nabi Shalih memberi nasehat dan mengancam mereka dengan kemurkaan Allah akan menimpa mereka serta mengingatkan mereka tentang nikmat-nikmat Allah atas mereka.

Tafsir Kemenag: Nabi Saleh mengingatkan mereka akan nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka, yaitu:

  1. Mereka hidup dengan aman di negeri mereka, bebas dari gangguan musuh, dan memperoleh kebahagiaan serta ketenteraman hidup.
  2. Mereka mempunyai tanah pertanian yang subur, binatang ternak yang banyak, dan memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk membuat kanal-kanal irigasi yang teratur. Mereka hidup sebagai petani, penggembala, saudagar, dan penggali logam dari dalam tanah. Oleh karena itu, negeri mereka menjadi indah, dipenuhi tanaman yang menyenangkan mata orang yang memandangnya. Bahkan di antara mereka ada yang mengatakan bahwa negeri merekalah sebenarnya surga yang dijanjikan Allah.
  3. Mereka diberi kemampuan memahat gunung batu untuk dijadikan tempat tinggal.
Baca Juga:  Surah Yusuf Ayat 1-3; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Itulah berbagai nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kaum Samud. Mereka seharusnya mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah itu, tetapi semakin hari mereka semakin sombong. Mereka merasa bahwa kebahagiaan dan kenikmatan itu hanya karena usaha mereka sendiri, bukan karena nikmat Allah. Oleh karena itu, mereka tidak percaya akan adanya hari Kiamat. Hidup yang sebenarnya menurut mereka adalah hidup di dunia ini dan mereka menginginkan agar kekal di dunia.

Kaum Samud tidak lagi memikirkan bagaimana nasib mereka nanti, seandainya pada suatu waktu, Allah secara tiba-tiba mencabut semua kebahagiaan dan kemakmuran mereka dan menukarnya dengan malapetaka yang dahsyat. Semua itu bisa dilakukan Allah karena keingkaran dan kesombongan mereka sendiri.

Ayat ini mengandung makna bagaimana dengan bekal akal yang kuat maka manusia dapat memahat batu gunung untuk dijadikan tempat tinggal sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Samud. Pada saat ini, teknologi alat-alat pemahat sudah berkembang dan dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan mereka, antara lain untuk memotong dan membelah batu gunung yang keras.

Peralatan-peralatan tersebut sepenuhnya digerakkan oleh tenaga mesin atau robot. Bahkan manusia telah mampu menciptakan teknologi pemahatan super-canggih di mana objek dipotong atau dibelah dengan sinar laser. Hasilnya sangat halus dan tepat. Dengan alat mutakhir ini, batuan granit yang sangat keras pun menjadi mudah dibelah atau dipotong. Itulah hasil pikiran manusia.

Tafsir Quraish Shihab: Kenikmatan-kenikmatan yang ada pada mereka berupa kebun-kebun yang dipenuhi buah dan berbagai mata air yang mengalirkan sungai yang jernih (Eufrat).

Surah Asy-Syu’ara Ayat 148
وَزُرُوعٍ وَنَخْلٍ طَلْعُهَا هَضِيمٌ

Terjemahan: dan tanam-tanaman dan pohon-pohon korma yang mayangnya lembut.

Tafsir Jalalain: وَزُرُوعٍ وَنَخْلٍ طَلْعُهَا هَضِيمٌ (Dan tanaman-tanaman dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut) yakni lemah lembut.

Tafsir Ibnu Katsir: Untuk itu dia berkata: وَنَخْلٍ طَلْعُهَا هَضِيمٌ (“Dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut.”) al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas, yang paling menarik dan indah itu adalah Ha-dliim. Abu Shakhr berkata: “Aku tidak melihat mayangnya ketika terbelah penutupnya, lalu engkau dapat melihat mayang itu saling menempel antara satu bagian dengan bagian lainnya, itulah al-Ha-dliim.”

Tafsir Kemenag: Nabi Saleh mengingatkan mereka akan nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka, yaitu:

  1. Mereka hidup dengan aman di negeri mereka, bebas dari gangguan musuh, dan memperoleh kebahagiaan serta ketenteraman hidup.
  2. Mereka mempunyai tanah pertanian yang subur, binatang ternak yang banyak, dan memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk membuat kanal-kanal irigasi yang teratur. Mereka hidup sebagai petani, penggembala, saudagar, dan penggali logam dari dalam tanah. Oleh karena itu, negeri mereka menjadi indah, dipenuhi tanaman yang menyenangkan mata orang yang memandangnya. Bahkan di antara mereka ada yang mengatakan bahwa negeri merekalah sebenarnya surga yang dijanjikan Allah.
  3. Mereka diberi kemampuan memahat gunung batu untuk dijadikan tempat tinggal.

Itulah berbagai nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kaum Samud. Mereka seharusnya mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah itu, tetapi semakin hari mereka semakin sombong. Mereka merasa bahwa kebahagiaan dan kenikmatan itu hanya karena usaha mereka sendiri, bukan karena nikmat Allah. Oleh karena itu, mereka tidak percaya akan adanya hari Kiamat. Hidup yang sebenarnya menurut mereka adalah hidup di dunia ini dan mereka menginginkan agar kekal di dunia.

Kaum Samud tidak lagi memikirkan bagaimana nasib mereka nanti, seandainya pada suatu waktu, Allah secara tiba-tiba mencabut semua kebahagiaan dan kemakmuran mereka dan menukarnya dengan malapetaka yang dahsyat. Semua itu bisa dilakukan Allah karena keingkaran dan kesombongan mereka sendiri.

Baca Juga:  Surah Asy-Syura Ayat 29-31; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Ayat ini mengandung makna bagaimana dengan bekal akal yang kuat maka manusia dapat memahat batu gunung untuk dijadikan tempat tinggal sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Samud. Pada saat ini, teknologi alat-alat pemahat sudah berkembang dan dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan mereka, antara lain untuk memotong dan membelah batu gunung yang keras.

Peralatan-peralatan tersebut sepenuhnya digerakkan oleh tenaga mesin atau robot. Bahkan manusia telah mampu menciptakan teknologi pemahatan super-canggih di mana objek dipotong atau dibelah dengan sinar laser. Hasilnya sangat halus dan tepat. Dengan alat mutakhir ini, batuan granit yang sangat keras pun menjadi mudah dibelah atau dipotong. Itulah hasil pikiran manusia.

Tafsir Quraish Shihab: Serta tanam-tanaman yang siap dituai dan pepohonan kurma yang buahnya matang dan lembut.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 149
وَتَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا فَارِهِينَ

Terjemahan: Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin;

Tafsir Jalalain: وَتَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا فَارِهِينَ (Dan kalian pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin) dengan penuh semangat; menurut suatu qiraat dibaca Farihina, artinya, dengan penuh keangkuhan.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَتَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا فَارِهِينَ (“Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin.”) Ibnu ‘Abbas dan selainnya berkata: “Yaitu dengan cerdik.”
Di dalam suatu riwayat tentang pendapatnya, yaitu dengan antusias dan rajin. Itulah pilihan Mujahid dan jama’ah serta tidak saling bertentangan antara dua pendapat itu..

Tafsir Kemenag: Nabi Saleh mengingatkan mereka akan nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka, yaitu:

  1. Mereka hidup dengan aman di negeri mereka, bebas dari gangguan musuh, dan memperoleh kebahagiaan serta ketenteraman hidup.
  2. Mereka mempunyai tanah pertanian yang subur, binatang ternak yang banyak, dan memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk membuat kanal-kanal irigasi yang teratur. Mereka hidup sebagai petani, penggembala, saudagar, dan penggali logam dari dalam tanah. Oleh karena itu, negeri mereka menjadi indah, dipenuhi tanaman yang menyenangkan mata orang yang memandangnya. Bahkan di antara mereka ada yang mengatakan bahwa negeri merekalah sebenarnya surga yang dijanjikan Allah.
  3. Mereka diberi kemampuan memahat gunung batu untuk dijadikan tempat tinggal.

Itulah berbagai nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kaum Samud. Mereka seharusnya mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah itu, tetapi semakin hari mereka semakin sombong. Mereka merasa bahwa kebahagiaan dan kenikmatan itu hanya karena usaha mereka sendiri, bukan karena nikmat Allah. Oleh karena itu, mereka tidak percaya akan adanya hari Kiamat. Hidup yang sebenarnya menurut mereka adalah hidup di dunia ini dan mereka menginginkan agar kekal di dunia.

Kaum Samud tidak lagi memikirkan bagaimana nasib mereka nanti, seandainya pada suatu waktu, Allah secara tiba-tiba mencabut semua kebahagiaan dan kemakmuran mereka dan menukarnya dengan malapetaka yang dahsyat. Semua itu bisa dilakukan Allah karena keingkaran dan kesombongan mereka sendiri.

Ayat ini mengandung makna bagaimana dengan bekal akal yang kuat maka manusia dapat memahat batu gunung untuk dijadikan tempat tinggal sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Samud. Pada saat ini, teknologi alat-alat pemahat sudah berkembang dan dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan mereka, antara lain untuk memotong dan membelah batu gunung yang keras.

Peralatan-peralatan tersebut sepenuhnya digerakkan oleh tenaga mesin atau robot. Bahkan manusia telah mampu menciptakan teknologi pemahatan super-canggih di mana objek dipotong atau dibelah dengan sinar laser. Hasilnya sangat halus dan tepat. Dengan alat mutakhir ini, batuan granit yang sangat keras pun menjadi mudah dibelah atau dipotong. Itulah hasil pikiran manusia.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka memahat dengan rajin dan cermat gunung-gunung tinggi untuk dijadikan sebagai tempat kediaman.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 150
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ

Terjemahan: maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku;

Tafsir Jalalain: فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan taatlah kepadaku) dengan mengerjakan apa yang telah kuperintahkan kepada kalian untuk melakukannya.

Baca Juga:  Surah Ibrahim Ayat 6-8; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Untuk itu Allah berfirman: فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (“Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.”) yaitu terimalah apa yang manfaatnya dapat kembali kepada kalian di dunia dan akhirat dengan beribadah kepada Rabb kalian Yang telah menciptakan dan memberikan rizky kepada kalian agar kalian beribadah mengesakan dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Nabi Saleh tetap melaksanakan tugasnya sebagai rasul Allah. Dia menyeru kaumnya untuk bertakwa kepada Allah, dan mengikuti agama yang disampaikannya. Nabi Saleh juga mengajak mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang diridai Allah dan bermanfaat bagi hidup mereka di dunia dan di akhirat, yaitu menyembah Allah yang telah memberikan berbagai nikmat itu kepada mereka. Nabi Saleh mengingatkan agar mereka tidak lagi menaati para pemimpin mereka yang selalu mengerjakan kejahatan, kemaksiatan, dan kerusakan di bumi ini.

Tafsir Quraish Shihab: Maka, lanjut Shalih, “hendaknya kalian takut akan siksa Allah karena kalian tidak mensyukuri berbagai nikmat-Nya itu.
Terimalah nasihatku ini, lalu amalkanlah!

Surah Asy-Syu’ara Ayat 151
وَلَا تُطِيعُوا أَمْرَ الْمُسْرِفِينَ

Terjemahan: dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas,

Tafsir Jalalain: وَلَا تُطِيعُوا أَمْرَ الْمُسْرِفِينَ (Dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang melewati batas).

Tafsir Ibnu Katsir: وَلَا تُطِيعُوا أَمْرَ الْمُسْرِفِينَ (“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melampaui batas,)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Nabi Saleh tetap melaksanakan tugasnya sebagai rasul Allah. Dia menyeru kaumnya untuk bertakwa kepada Allah, dan mengikuti agama yang disampaikannya. Nabi Saleh juga mengajak mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang diridai Allah dan bermanfaat bagi hidup mereka di dunia dan di akhirat, yaitu menyembah Allah yang telah memberikan berbagai nikmat itu kepada mereka. Nabi Saleh mengingatkan agar mereka tidak lagi menaati para pemimpin mereka yang selalu mengerjakan kejahatan, kemaksiatan, dan kerusakan di bumi ini.

Tafsir Quraish Shihab: Dan janganlah kalian mengikuti orang-orang yang melampaui batas dengan melakukan kemusyrikan dan terbuai oleh syahwat dan hawa nafsu yang rendah.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 152
الَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

Terjemahan: yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”.

Tafsir Jalalain: الَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ (Yang membuat kerusakan di muka bumi) dengan melakukan perbuatan-perbuatan durhaka وَلَا يُصْلِحُونَ (dan tidak mengadakan perbaikan.”) yakni menjalankan ketaatan kepada Allah.

Tafsir Ibnu Katsir: الَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ (yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan.”) yaitu para tokoh dan pembesar mereka yang mengajak mereka kepada kesyirikan, kekafiran dan menentang kebenaran.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Nabi Saleh tetap melaksanakan tugasnya sebagai rasul Allah. Dia menyeru kaumnya untuk bertakwa kepada Allah, dan mengikuti agama yang disampaikannya. Nabi Saleh juga mengajak mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang diridai Allah dan bermanfaat bagi hidup mereka di dunia dan di akhirat, yaitu menyembah Allah yang telah memberikan berbagai nikmat itu kepada mereka. Nabi Saleh mengingatkan agar mereka tidak lagi menaati para pemimpin mereka yang selalu mengerjakan kejahatan, kemaksiatan, dan kerusakan di bumi ini.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka yang selalu membuat kerusakan di bumi Allah dan tidak melakukan perbaikan untuk memakmurkan negeri.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 146-152 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S