Surah Asy-Syu’ara Ayat 176-180; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Asy-Syu'ara Ayat 176-180

Pecihitam.org – Kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 176-180 ini, menerangkan bahwa penduduk Madyan, yang disebut juga kabilah Madyan, telah mendustakan Nabi Syuaib yang menyeru mereka agar bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

diterangkan bahwa tindakan penduduk Madyan itu sama hukumnya dengan mendustakan para rasul, karena mendustakan seorang rasul sama artinya dengan mendustakan semua rasul yang diutus Allah. Menurut Ibnu Kasir, penduduk Madyan dan Aikah adalah satu kabilah. Hanya di dalam Al-Qur’an kadangkala mereka diungkapkan sebagai penduduk Madyan dan kadangkala disebut sebagai penduduk Aikah.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’ara Ayat 176-180

Surah Asy-Syu’ara Ayat 176
كَذَّبَ أَصْحَابُ الْأَيْكَةِ الْمُرْسَلِينَ

Terjemahan: Penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul;

Tafsir Jalalain: كَذَّبَ أَصْحَابُ الْأَيْكَةِ (Penduduk Aikah telah mendustakan) dalam satu qiraat Aikati dibaca Laikata; adalah nama sebuah sumber air yang banyak pepohonan di sekitarnya di dekat kota Madyan الْمُرْسَلِينَ (Rasul-rasul).

Tafsir Ibnu Katsir: كَذَّبَ أَصْحَابُ الْأَيْكَةِ الْمُرْسَلِينَ (penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul) Mereka yaitu Ash-haabul Aikah adalah penduduk Madyan, menurut pendapat yang shahih.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa penduduk Madyan, yang disebut juga kabilah Madyan, telah mendustakan Nabi Syuaib yang menyeru mereka agar bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Dalam ayat ini diterangkan bahwa tindakan penduduk Madyan itu sama hukumnya dengan mendustakan para rasul, karena mendustakan seorang rasul sama artinya dengan mendustakan semua rasul yang diutus Allah. Menurut Ibnu Kasir, penduduk Madyan dan Aikah adalah satu kabilah. Hanya di dalam Al-Qur’an kadangkala mereka diungkapkan sebagai penduduk Madyan dan kadangkala disebut sebagai penduduk Aikah.

Kabilah Madyan adalah satu kabilah yang mendiami daerah di sekitar Teluk Aqabah dan tempat sebelah utaranya. Madyan ialah eponim dari nenek moyang mereka, Madyan. Madyan adalah salah seorang putra Nabi Ibrahim. Kehidupan mereka pada waktu itu sejahtera. Mereka berbahagia, dan berkedudukan sebagai saudagar.

Kota yang terbesar di daerah Madyan ini pun dinamai pula Madyan. Kota ini terletak di tengah-tengah daerah Madyan di pantai timur Laut Merah segaris lintang dengan Tabuk. Yang dimaksud dengan penduduk Aikah pada ayat di atas adalah penduduk Madyan.

Sebagian mufasir berpendapat bahwa Nabi Syuaib diutus setelah Nabi Musa. Sebagian yang lain mengatakan sebaliknya, yaitu sebelum pengutusan Nabi Musa.

Tafsir Quraish Shihab: Inilah kisah Syu’ayb dan penduduk Aykah, penghuni suatu lahan yang dipenuhi dengan pepohonan yang rindang di dekat kota Madyan. Kepada penduduk Aykah ini, Allah telah mengutus Syu’ayb yang juga diutus ke Madyan. Tetapi mereka telah mendustakan seruan rasul mereka. Dengan demikian, mereka–karena kesamaan prinsip dakwah seluruh rasul–berarti telah mengingkari semua risalah.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 177
إِذْ قَالَ لَهُمْ شُعَيْبٌ أَلَا تَتَّقُونَ

Terjemahan: ketika Syu’aib berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?,

Tafsir Jalalain: إِذْ قَالَ لَهُمْ شُعَيْبٌ (Ketika Syuaib berkata kepada mereka,) tidak dikatakan saudara mereka, karena Nabi Syuaib bukan berasal dari kalangan mereka أَلَا تَتَّقُونَ (“Mengapa kalian tidak bertakwa?).

Baca Juga:  Surah Yusuf Ayat 19-20; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: إِذْ قَالَ لَهُمْ شُعَيْبٌ أَلَا تَتَّقُونَ (ketika Syu’aib berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?) Nabiyullah Syu’aib as. sendiri adalah termasuk di antara mereka. akan tetapi di dalam ayat ini tidak dikatakan saudara mereka, karena mereka menisbatkan diri kepada pengabdi Aikah, yaitu sebuah pohon. Pendapat lain mengatakan, yaitu sebuah pohon yang rimbun seperti kebun keramat yang mereka sembah.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa penduduk Madyan, yang disebut juga kabilah Madyan, telah mendustakan Nabi Syuaib yang menyeru mereka agar bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Dalam ayat ini diterangkan bahwa tindakan penduduk Madyan itu sama hukumnya dengan mendustakan para rasul, karena mendustakan seorang rasul sama artinya dengan mendustakan semua rasul yang diutus Allah. Menurut Ibnu Kasir, penduduk Madyan dan Aikah adalah satu kabilah. Hanya di dalam Al-Qur’an kadangkala mereka diungkapkan sebagai penduduk Madyan dan kadangkala disebut sebagai penduduk Aikah.

Kabilah Madyan adalah satu kabilah yang mendiami daerah di sekitar Teluk Aqabah dan tempat sebelah utaranya. Madyan ialah eponim dari nenek moyang mereka, Madyan. Madyan adalah salah seorang putra Nabi Ibrahim. Kehidupan mereka pada waktu itu sejahtera. Mereka berbahagia, dan berkedudukan sebagai saudagar.

Kota yang terbesar di daerah Madyan ini pun dinamai pula Madyan. Kota ini terletak di tengah-tengah daerah Madyan di pantai timur Laut Merah segaris lintang dengan Tabuk. Yang dimaksud dengan penduduk Aikah pada ayat di atas adalah penduduk Madyan.

Sebagian mufasir berpendapat bahwa Nabi Syuaib diutus setelah Nabi Musa. Sebagian yang lain mengatakan sebaliknya, yaitu sebelum pengutusan Nabi Musa.

Tafsir Quraish Shihab: Ingatkanlah kaummu, wahai Muhammad, tatkala Syu’ayb berkata kepada penduduk Aykah, “Apakah kalian tidak takut kepada Allah dan beriman kepada-Nya?” Dengan segera mereka langsung mendustakannya.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 178
إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ

Terjemahan: Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu.

Tafsir Jalalain: إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan yang diutus kepada kalian).

Tafsir Ibnu Katsir: إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu.)

Tafsir Kemenag: Syuaib menyeru penduduk Madyan, seperti yang telah dilakukan oleh para nabi sebelumnya. Ia menerangkan kepada mereka bahwa tugasnya tidaklah untuk mencari harta kekayaan, kekuasaan, atau keuntungan duniawi. Oleh karena itu, ia tidak akan mengambil upah dari mereka untuk seruannya itu. Upahnya akan diberikan Allah yang telah mengutusnya.

Dalam Surah Hud/11 diterangkan pula bahwa Syuaib mengajak kaumnya agar mereka hanya menyembah Allah. Allah berfirman: Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. (Hud/11: 84).

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya aku diutus oleh Tuhan semesta alam kepada kalian untuk menyampaikan petunjuk dan kebenaran. Dan aku terpercaya untuk menyampaikan risalah-Nya ini kepada kalian.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 64-67; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Asy-Syu’ara Ayat 179
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ

Terjemahan: maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku;

Tafsir Jalalain: فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepadaku).

Tafsir Ibnu Katsir: فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (Maka bertakwalah kepada Allah dan ‘taatlah kepadaku;)

Tafsir Kemenag: Syuaib menyeru penduduk Madyan, seperti yang telah dilakukan oleh para nabi sebelumnya. Ia menerangkan kepada mereka bahwa tugasnya tidaklah untuk mencari harta kekayaan, kekuasaan, atau keuntungan duniawi. Oleh karena itu, ia tidak akan mengambil upah dari mereka untuk seruannya itu. Upahnya akan diberikan Allah yang telah mengutusnya.

Dalam Surah Hud/11 diterangkan pula bahwa Syuaib mengajak kaumnya agar mereka hanya menyembah Allah. Allah berfirman: Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. (Hud/11: 84).

Tafsir Quraish Shihab: Maka waspadalah kalian akan siksa Allah. Patuhilah aku dengan melaksanakan segala perintah Allah dan menyucikan diri kalian dari dosa.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 180
وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

Terjemahan: dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam..

Tafsir Jalalain: وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (Dan aku sekali-kali tidak meminta upah kepada kalian atas ajakan itu; tiada lain upahku hanyalah dari Rabb semesta alam).

Tafsir Ibnu Katsir: وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.”)

Tafsir Kemenag: (157-159) Ayat ini menerangkan bahwa kaum Samud ingin membuktikan kebenaran ucapan Nabi Saleh, lalu mereka membunuh unta tersebut. Akan tetapi, setelah mereka menyembelih unta itu, terutama setelah melihat tanda-tanda azab Allah akan tiba, mereka menyesal. Terlebih ketika bumi mereka diguncang gempa serta dibarengi sambaran petir dan halilintar yang mengakibatkan rumah-rumah mereka rata dengan tanah.

Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menerangkan berbagai azab yang membinasakan mereka. Ada ayat-ayat yang menerangkan bahwa mereka dibinasakan dengan sa?iqah (petir) (Fussilat/41: 17 dan ad-dariyat/51: 44). Sementara ayat lain menyebutkan dengan rajfah (guncangan bumi yang amat keras) (al-A?raf/7: 78).

Pada ayat yang lain disebut dengan saihah (suara yang amat keras dari langit) (Hud/11: 67; al-Hijr/15: 83; dan al-Qamar/54: 31). Ada pula yang menyebutkan bahwa mereka dihancurkan dengan Tagiyah (kejadian yang luar biasa) (al-Haqqah/69: 5).

Ayat-ayat ini tidaklah bertentangan karena mereka dibinasakan dengan petir (Sa?iqah). Adapun guncangan bumi yang amat keras (rajfah), suara keras dari langit (saihah), dan kejadian yang luar biasa (tagiyah) adalah gejala dan sifat dari petir. Demikian hebatnya petir itu sampai mengguncang bumi dan menimbulkan suara yang amat keras.

Baca Juga:  Surah An-Naml Ayat 27-31; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Kesemuanya itu membinasa?kan mereka dan ini adalah suatu kejadian yang luar biasa. Dalam sekejap mata, mereka telah menjadi tubuh-tubuh yang tiada bergerak, mati dan tersungkur di dalam rumah mereka. Kemudian mereka lenyap dari permukaan bumi, tidak ada yang kelihatan lagi selain tempat tinggal mereka, seakan-akan mereka tidak pernah hidup dan berada di tempat itu. Karena mereka telah dimusnahkan Allah, maka dalam sejarah mereka termasuk salah satu dari bangsa Arab yang telah musnah (al-?Arab al-Ba?idah).

Nabi Saleh dan orang-orang yang beriman diselamatkan Allah dari azab itu. Mereka mengungsi ke Ramallah, salah satu kota di Palestina. Di kota ini terdapat kuburan Nabi Saleh yang masih dikenal sampai sekarang. Akan tetapi, ada pula yang mengatakan bahwa kuburan Nabi Saleh berada di Yaman, dan ada pula yang berpendapat di Yordan. Menurut Ibnu Khald?n, Nabi Saleh menyeru kaumnya kepada agama Allah selama dua puluh tahun dan ia meninggal pada umur lima puluh delapan tahun.

Negeri-negeri kaum Samud dan bangunan-bangunan yang mereka dirikan sampai sekarang masih ada bekasnya. Sarjana-sarjana barat telah banyak berkunjung ke tempat ini. Mereka telah menulis bekas-bekas peninggalan kaum Samud dan rumah-rumah kediaman yang mereka pahat dari gunung-gunung batu itu. Di antaranya adalah C.M. Daughty yang menulis buku dengan judul Arabia Desserta.

Ketika Rasulullah melewati kampung-kampung kaum Samud dalam perjalanan ekspedisi, yaitu Tabuk, beliau bersabda kepada para sahabat:

Kamu jangan masuk kampung orang-orang yang telah diazab itu, melainkan dengan menangis, jika tidak dengan menangis, maka janganlah kamu masuk kampung mereka, agar kamu tidak ditimpa azab sebagaimana yang telah menimpa mereka. (Riwayat asy-Syaikhan dari Ibnu ?Umar).

Peninggalan dan bekas-bekas mereka itu diabadikan di dalam Al-Qur’an untuk menjadi pelajaran. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menyuruh orang agar mengadakan perjalanan di bumi, untuk memperhatikan peninggalan-peninggalan dan bekas-bekas kaum yang telah dibinasakan oleh Allah, karena pembangkangan mereka terhadap perintah-Nya, seperti kaum Samud tersebut. Sesungguhnya Allah berbuat kebaikan kepada semua manusia, amat keras azab-Nya dan amat besar rahmat-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Aku tidak mengharapkan imbalan apa-apa dari kalian. Imbalanku akan kudapatkan secara utuh–sesuai dengan amal perbuatanku–dari Tuhan semesta alam.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 176-180 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG