Surah Asy-Syura Ayat 36-39; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Asy-Syura Ayat 36-39

Pecihitam.org – Kandungan Surah Asy-Syura Ayat 36-39 ini, menerangkan bahwa yang akan memperoleh kesenangan yang abadi di akhirat nanti ialah orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar seperti membunuh, berzina dan mencuri, serta menghindarkan hal-hal yang tidak dibenarkan syarak, akal sehat, dan akhlak mulia baik berupa ucapan maupun berupa perbuatan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syura Ayat 36-39

Surah Asy-Syura Ayat 36
فَمَآ أُوتِيتُم مِّن شَىۡءٍ فَمَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَا عِندَ ٱللَّهِ خَيۡرٌ وَأَبۡقَىٰ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ

Terjemahan: “Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal.

Tafsir Jalalain: فَمَآ أُوتِيتُم (Maka apa yang diberikan kepada kalian) khithab ayat ini ditujukan kepada orang-orang mukmin dan lain-lainnya مِّن شَىۡءٍ (berupa sesuatu) dari perhiasan duniawi فَمَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا (itu adalah kenikmatan hidup di dunia) untuk dinikmati kemudian lenyap sesudah itu وَمَا عِندَ ٱللَّهِ (dan yang ada pada sisi Allah) berupa pahala خَيۡرٌ وَأَبۡقَىٰ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ (lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal) kemudian di’athafkan kepadanya ayat berikut ini, yaitu:.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman, merendahkan kehidupan dunia dan perhiasannya serta keindahannya dan kenikmatan fana yang terdapat di dalamnya dengan firman-Nya: فَمَآ أُوتِيتُم مِّن شَىۡءٍ فَمَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا (“maka sesuatu apa pun yang diberkan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia.”) yakni apa saja yang kalian raih dan kalian kumpulkan, maka janganlah kalian tertipu, karena semua itu hanyalah nikmat kehidupan dunia. Dunia adalah tempat tinggal yang rendah, fana dan pasti akan binasa.

وَمَا عِندَ ٱللَّهِ خَيۡرٌ وَأَبۡقَىٰ (“dan yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.”) yakni pahala di sisi Allah lebih baik daripada dunia, karena dia adalah kekal selama-lamanya. Maka janganlah mendahulukan sesuatu yang fana atas sesuatu yang kekal.

Untuk itu Allah berfirman: لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ (“Bagi orang-orang yang beriman.”) yaitu bagi orang-orang yang sabar dalam meninggalkan kelezatan dunia. وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ (“Dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal”) yakni guna menolong mereka bersikap sabar dalam menunaikan berbagai kewajiban dan meninggalkan berbagai larangan.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa kesenangan hidup manusia baik berupa kekayaan, rezeki harta yang bertumpuk, maupun keturunan dan lain-lain adalah kesenangan yang tidak berarti dan kurang bernilai karena bagaimana pun menumpuknya harta, waktu untuk memilikinya terbatas.

Pada waktunya nanti akan berpisah karena kalau bukan manusia yang meninggalkannya, maka benda-benda itu sendiri yang akan meninggalkan manusia, sedangkan pahala dan nikmat yang ada pada sisi Allah jauh lebih baik dibandingkan dengan kesenangan dan kemegahan dunia itu, karena apa yang ada di sisi Allah kekal dan abadi, sedangkan kesenangan dunia semuanya fana dan akan lenyap.

Ayat ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa kesenangan yang kekal dan abadi itu hanya untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, orang-orang yang bertawakal dan berserah diri kepada Tuhan yang telah memelihara dan berbuat baik kepada mereka.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya menukil riwayat dari ‘Ali yang mengatakan bahwa ketika Abu Bakar mengumpulkan harta dari Bani Murrah beliau mendermakan seluruh uang tersebut untuk kebaikan karena mengharapkan keridaan Allah. Perbuatannya tersebut dicela oleh orang-orang musyrikin sedangkan orang-orang kafir menyalahkan tindakannya, maka turunlah ayat 36 dan 37 surah ini.

Baca Juga:  Surah Asy-Syura Ayat 32-35; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Wahai manusia, janganlah kalian terpikat oleh kesenangan hidup duniawi. Ketahuilah bahwa segala yang kalian miliki berupa harta, anak dan sebagainya adalah kesenangan yang hanya bisa kalian nikmati di dunia. Sementara kesenangan surga yang telah dipersiapkan Allah adalah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan hanya bersandar kepada Sang Pencipta dan Pemelihara mereka.

Surah Asy-Syura Ayat 37
وَٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٰحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُواْ هُمۡ يَغۡفِرُونَ

Terjemahan: “Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.

Tafsir Jalalain: وَٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٰحِشَ (Dan bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji) yang mengharuskan pelakunya menjalani hukuman Hadd; lafal ayat ini merupakan ‘Athful Ba’dh ‘Alal Kull وَإِذَا مَا غَضِبُواْ هُمۡ يَغۡفِرُونَ (dan apabila mereka marah mereka memberi maaf) maksudnya, mereka selalu bersikap maaf.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah berfirman: وَٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٰحِشَ (“Dan [bagi] orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji.”) pembicaraan tentang dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji telah dijelaskan dalam surah al-A’raaf.

وَإِذَا مَا غَضِبُواْ هُمۡ يَغۡفِرُونَ (“Dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf.”) yakni tabiat mereka menyebabkan mereka berlapang dada dan memaafkan manusia, bukan mendendam manusia.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa yang akan memperoleh kesenangan yang abadi di akhirat nanti ialah orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar seperti membunuh, berzina dan mencuri, serta menghindarkan hal-hal yang tidak dibenarkan syarak, akal sehat, dan akhlak mulia baik berupa ucapan maupun berupa perbuatan.

Begitu juga orang-orang yang apabila amarahnya timbul, mereka diam menahan amarahnya, memaafkan orang yang menyebabkan kemarahannya dan tidak ada dalam batinnya sedikit pun rasa dendam.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw tidak pernah membela kepentingan dirinya kecuali apabila hukum-hukum Allah dilanggar dan dihinakan. Sifat pemaaf adalah sifat yang dekat kepada takwa dan memang diperintah Allah, sebagaimana firman-Nya:

Pembebasan itu lebih dekat kepada takwa. (al-Baqarah/2: 237) Dan firman-Nya: Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (al-A’raf/7: 199).

Tafsir Quraish Shihab: Juga bagi orang-orang yang menjauhkan diri dari dosa-dosa besar dan segala perbuatan buruk yang dilarang oleh Allah. Hanya mereka yang, apabila mendapatkan perlakuan buruk di dunia, cepat-cepat memaafkan sehingga perlakuannya itu menjadi penyelesaian yang baik.

Surah Asy-Syura Ayat 38
وَٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِرَبِّهِمۡ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَمۡرُهُمۡ شُورَىٰ بَيۡنَهُمۡ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ

Terjemahan: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

Tafsir Jalalain: وَٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِرَبِّهِمۡ (Dan bagi orang-orang yang menerima seruan Rabbnya) yang mematuhi apa yang diserukan Rabbnya yaitu, mentauhidkan-Nya dan menyembah-Nya وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ (dan mendirikan salat) memeliharanya وَأَمۡرُهُمۡ (sedangkan urusan mereka) yang berkenaan dengan diri mereka شُورَىٰ بَيۡنَهُمۡ (mereka putuskan di antara mereka dengan musyawarah) memutuskannya secara musyawarah dan tidak tergesa-gesa dalam memutuskannya.

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 143-144; Seri Tadabbur Al Qur'an

وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ (dan sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada mereka) atau sebagian dari apa yang Kami berikan kepada mereka يُنفِقُونَ (mereka menafkahkannya) untuk jalan ketaatan kepada Allah. Dan orang-orang yang telah disebutkan tadi merupakan suatu golongan kemudian golongan yang lainnya ialah;.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِرَبِّهِمۡ (“dan [bagi] orang-orang yang menerima [mematuhi] seruah Rabbnya.”) yakni mengikuti Rasul-Nya, mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ (“dan mendirikan shalat.”) dan shalat merupakan ibadah terbesar kepada Allah.
وَأَمۡرُهُمۡ شُورَىٰ بَيۡنَهُمۡ (“sedang urusan mereka [diputuskan] dengan musyawarah antara mereka.”) yaitu, mereka tidak menunaikan satu urusan hingga mereka bermusyawarah agar mereka saling mendukung dengan pendapat mereka, seperti dalam peperangan dan urusan sejenisnya, sebagaimana firman Allah: (“dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan ini.”)(Ali Imraan: 159)

Untuk itu Rasulullah saw. bermusyawarah dengan para shahabat dalam menentukan peperangan dan urusan sejenisnya, agar hati mereka menjadi baik. Demikian pula ketika Umar bin al-Khaththab menjelang wafat setelah ditusuk oleh seseorang, dijadikan masalah sesudahnya berdasarkan musyawarah enam orang shahabat, yaitu Utsman, ‘Ali, Thalhah, az-Zubair, Sa’ad dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf, maka para shahabat bermufakat untuk mengangkat Utsman.

وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ (“dan mereka menafkahkan sebagian dari rizky yang Kami berikan kepada mereka.”) hal itu dilakukan dengan berbuat baik kepada para makhluk Allah, dari mulai kerabat dan orang-orang terdekat setelahnya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang menyambut baik panggilan Allah kepada agama-Nya seperti mengesakan dan menyucikan Zat-Nya dari penyembahan selain Dia, mendirikan salat fardu pada waktunya dengan sempurna untuk membersihkan hati dari iktikad batil dan menjauhkan diri dari perbuatan mungkar, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, selalu bermusyawarah untuk menentukan sikap di dalam menghadapi hal-hal yang pelik dan penting, kesemuanya akan mendapatkan kesenangan yang kekal di akhirat .

Dalam ayat yang serupa, Allah berfirman: Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. (Ali ‘Imran/3: 159) Demikian pula menginfakkan rezeki di jalan Allah, membelanjakannya di jalan yang berguna dan bermanfaat bagi pribadi, masyarakat, nusa, dan bangsa.

Mereka juga akan mendapatkan kesenangan yang kekal di akhirat. Dalam ayat lain Allah berfirman: Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu. (al-Baqarah/2: 254) Dan firman-Nya: Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik. (al-Baqarah/2: 267).

Tafsir Quraish Shihab: Juga bagi orang-orang yang memenuhi seruan Sang Pencipta dan Pemelihara mereka, selalu mengerjakan salat, selalu menyelesaikan urusan mereka dengan jalan musyawarah demi tegaknya keadilan di tengah masyarakat dan menghindari otoritas pribadi atau kelompok, dan membelanjakan sebagian harta yang dikaruniakan oleh Allah di jalan kebaikan.

Surah Asy-Syura Ayat 39
وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡبَغۡىُ هُمۡ يَنتَصِرُونَ

Terjemahan: “Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.

Tafsir Jalalain: وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡبَغۡىُ (Dan bagi orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan lalim) dizalimi هُمۡ يَنتَصِرُونَ (mereka membela diri) maksudnya membalas perlakuan zalim itu sesuai dengan kelaliman yang diterimanya, sebagaimana yang diungkapkan oleh firman-Nya:.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 71; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡبَغۡىُ هُمۡ يَنتَصِرُونَ (“Dan [bagi] orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan dhalim, mereka membela diri.”) yakni sebenarnya mereka memiliki kemampuan membela diri dari orang yang mendhalimi dan sewenang-wenang terhadap mereka, mereka bukanlah orang-orang yang lemah dan hina, bahkan mereka mampu melakukan pembalasan terhadap orang yang mendhalimi mereka. Akan tetapi mereka memberi maaf.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya: “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadapmu, mudah-mudahan Allah mengampunimu.” (Yusuf: 92). Padahal, dia memiliki kemampuan untuk membalas sikap mereka kepadanya.

Demikian pula Rasulullah saw. memberikan maaf kepada 80 orang yang bermaksud menghalanginya pada tahun Hudaibiyah dan mereka turun dari bukit Tan’im. Ketika beliau mampu membalas mereka, beliau pun memberi maaf kepada mereka.

Beliau juga memberi maaf kepada Ghaurats bin al-Harits yang hendak membunuhnya, ketika dia menghunus pedangnya terhadap beliau ketika beliau dalam keadaan tidur, lalu Rasulullah bangun hingga membuat gemetar al-Harits dan pedangnya jatuh.

Rasulullah mengambil pedangnya dan memanggil para shahabat, memberitahukan kepada mereka tentang peristiwa itu dan beliau pun memaafkannya. Beliau juga memaafkan Labid bin al-A’Sham yang menyihir beliau, dimana beliau tidak menghukum dan mencelanya.

Beliau juga memaafkan wanita Yahudi [yaitu Zainab, saudari Marhab, Yahudi Khaibar yang dibunuh oleh Mahmud bin Salamah] yang menghadiahkan kambing beracun kepada beliau pada perang Khaibar. Paha kambing itupun memberitahukan tentang keadaannya, lalu Nabi saw. memanggilnya dan wanita itupun mengakuinya. Rasulullah saw. bertanya:

“Apa yang membuatmu melakukan hal ini?” wanita itu menjawab: “Aku ingin menguji. Jika engkau seorang Nabi, tentu hal itu tidak akan mencelakaimu. Dan jika engkau bukan seorang Nabi, kami merasa bebas dengan kematianmu.”

Maka Rasulullah saw. membebaskannya. Akan tetapi setelah salah seorang shahabat, Bishir bin al-Barra’ wafat disebabkan racun tersebut, wanita itupun dibunuh karenanya. Dan masih banyak lagi hadits yang menerangkan sifat maaf Rasulullah saw. wallaaHu a’lam.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa di antara sifat orang-orang yang akan memperoleh kebahagiaan yang kekal abadi di akhirat ialah orang-orang yang apabila diperlakukan semena-mena oleh orang lain, ia akan membela diri dan membalas kepada orang yang menzaliminya tersebut, dengan syarat pembelaan diri tersebut tidak melampaui kezaliman yang menimpanya.

Dalam pembelaan diri ini mereka akan mendapat pertolongan dari Allah, sebagaimana firman-Nya: Demikianlah, dan barang siapa membalas seimbang dengan (kezaliman) penganiayaan yang pernah dia derita kemudian dia dizalimi (lagi), pasti Allah akan menolongnya. (al-hajj/22: 60).

Tafsir Quraish Shihab: Serta bagi orang-orang yang, apabila mendapat perlakuan tidak baik dari orang zalim, membela diri dengan melakukan perlawanan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Asy-Syura Ayat 36-39 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S