Surah Yunus Ayat 12; Terjemahan dan Tafsir Al Qur’an

Surah Yunus Ayat 12

Pecihitam.org – Kandungan Surah Yunus Ayat 12 ini menjelskan bahwa manusia lebih suka berjalan menuruti nafsunya, sehingga kembali manusia lupa kepada Tuhannya. Seakan mereka tidak memiliki masalah apapun, padahal Allah Swt telah memberikan jalan keluar atas problem mereka.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al Qur’an Surah Yunus Ayat 12

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Terjemahan: Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.

Tafsir Jalalain: وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ (Dan apabila manusia ditimpa) yang dimaksud adalah orang kafir الضُّرُّ (bahaya) berupa penyakit dan kefakiran دَعَانَا لِجَنْبِهِ (dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring) membaringkan diri أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا (atau duduk, atau berdiri) artinya dalam semua keadaan

Baca Juga:  Surah Yusuf Ayat 58-62; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ (tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya dia kembali) kepada kekafirannya كَأَنْ (seolah-olah) lafal كَأَنْ berasal dari ka-anna yang ditakhfifkan sedangkan isimnya tidak disebutkan. Lengkapnya ka-annahu, artinya seolah-olah dia

لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ (tidak pernah berdoa kepada Kami untuk menghilangkan bahaya yang telah menimpanya. Begitulah) sifat orang kafir, yaitu berdoa di kala tertimpa bahaya dan berpaling di kala hidup sejahtera

زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ (orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik) yang dimaksud adalah orang-orang musyrik مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (apa yang selalu mereka kerjakan).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah memberi kabar tentang manusia, keluh-kesah dan kegelisahannya bila sedang ditimpa malapetaka, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (QS. Fushshilaf: 51)

Maksud dari kata “’ariidl” yaitu “katsiirun” yaitu (banyak). Kedua kata itu memiliki makna yang sama, hal itu disebabkan jika dia ditimpa kesusahan, dia resah, bersedih hati dan memperbanyak doa, maka dia berdoa kepada Allah untuk menghilangkan dan mengangkatnya dari dirinya, dia berdoa dalam keadaan berbaring, duduk, berdiri dan dalam semua keadaan.

Baca Juga:  Ahkam al-Quran Karya Monumental Ahli Tafsir Dari Sevilla Ibn al-Arabi

Lalu jika Allah telah menghilangkan kesusahan dan malapetakanya, dia berpaling dan menjauh dari-Nya dan dia pergi seolah-olah dia tidak ada hubungan sedikit pun dengan usahanya itu; marra ka al-lam yad’unaa ilaa dlurrim massaHu (Dia [kembali] melalui [jalannya yang sesat] seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk [menghilangkan] bahaya yang telah menimpanya).

Adapun orang yang diberi oleh Allah petunjuk, kelurusan, taufiq, dan kecerdikan, maka ia adalah orang yang dikecualikan dari hal tersebut. Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Kecuali orang-orang yang sabar [terhadap bencana] dan mengerjakan amal shalih.” (Huud: 11) dan juga sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Sungguh mengagumkan (urusan) seorang mukmin itu, tidaklah Allah memberi keputusan kepadanya kecuali hal itu baik baginya. Jika dia ditimpa malapetaka (musibah), lalu ia bersabar maka hal itu baik baginya. Dan jika dia mendapat kesenangan lalu dia bersyukur, maka hal itu baik baginya. Dan keadaan seperti itu tidaklah diperuntukkan bagi seorang pun, kecuali bagi orang mukmin.” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam bab: “Seorang mukmin, semua urusan/ keadaannya adalah kebaikan.” Dan juga Imam Ahmad dari Shuhaib bin Sinan)

Tafsir Quraish Shihab: Apabila manusia mendapat musibah yang menimpa diri, harta, atau apa saja yang berkaitan dengan dirinya, seketika dirinya merasa lemah. Dia lalu berdoa kepada Tuhannya dalam segala keadaan, dengan berbaring, duduk atau berdiri, agar Allah menghilangkan cobaan itu.

Baca Juga:  Surah Al-Hijr Ayat 28-33; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tetapi, ketika Allah mengabulkannya dengan menghilangkan cobaan yang menimpa darinya, ia segera meninggalkan Allah dan meneruskan kedurhakaannya serta lupa akan karunia Allah pada dirinya.

Seakan-akan ia tidak pernah tertimpa musibah dan tidak pernah berdoa meminta kepada Allah untuk menghilangkannya. Dengan cara seperti inilah setan menghias perbuatan jelek dan kebatilan yang orang-orang kafir lakukan.

Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Yunus Ayat 12 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Quraish Shihab dan Tafsir Ibnu Katsir. Semoga khazanah ilmu Al-Qur’an kita semakin bertambah.

M Resky S