Asal Usul Perang Badar Disebut Hari Furqaan, Bertemunya Pasukan Manusia dan Malaikat

Asal Usul Perang Badar Disebut Hari Furqaan, Bertemunya Pasukan Manusia dan Malaikat

PeciHitam.org  – Sejarah Islam di masa lalu mencatat banyak sekali peperangan yang terjadi. Seperti Perang Uhud dan lain sebagainya. Salah satu perang yang amat terkenal dan sering dibahas oleh kaum Muslimin ialah perang Badar (Ghazwah Badr). Perang ini berlangsung pada tanggal 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah.

Penyebutan perang Badar ini tidak terlepas dari nama tempat berlangsungnya peperangan tersebut, namun juga sekaligus bertepatan dengan posisi bulan purnama di antara bintang-bintang (Badr).

Asal usul kenapa Perang Badar ini pecah dan terjadi yaitu untuk meninggikan kalimatu al-Haq dan menghancurkan kekufuran pada masa tersebut. Pedang Badar juga sering disebut sebagai hari Furqaan yang berarti hari bertemunya dua pasukan, seperti yang tertuang dalam surat al-Anfal ayat 41 berikut:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Baca Juga:  Kisah Terbunuhnya Abu Jahal di Perang Badar

Dari sinilah asal usul perang Badar disebut sebagai hari Furqaan, sebab hari tersebut merupakan hari bertemunya dua pasukan, yaitu pasukan Rasulullah dan malaikat yang diturunkan oleh Allah khusus untuk membantu Nabi Muhammad memenangkan perang tersebut.

Jika diamati lebih dalam, pada peristiwa perang Badar ini terdapat beberapa sisi yang istrimewa, seperti yang tercantum dalam surat an-Naml ayat 25 berikut ini:

{أَلَّا يَسْجُدُوا لِلهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ} [النمل: 25]

“Agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi”

Dari ayat di atas tersirat makna bahwa ada sesuatu hal yang terpendam di langit, yaitu kunuz (harta benda) dan khabaya (sesuatu yang tersimpan di langit) seperti halnya di dalam bumi. Kunuz atau harta benda di sini dimaknai berbagai bentuk. Salah satu di antaranya ialah yang disebutkan dalam surat al-Rahman ayat 35 yang berbunyi:

{يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِ} [الرحمن: 35]

“Kepada kalian, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kalian tidak dapat menyelamatkan diri”.

Baca Juga:  Bertemu Jodoh Karena Bersin, Kisah Nyata Bukti Jodoh Tak Kemana

Nyala api dan tembaga yang diturunkan dari langit tersebut termasuk dalam khab’a as-samawat atau khabaya as-samawat. Hal ini dipahami sebagai para malaikat yang turun khusus untuk membantu Rasulullah saat berlangsungnya perang Badr. Disebutkan juga, para malaikat yang turun membantu ini menunggangi kuda.

Hal ini mungkin kurang dalat dipahami oleh orang awam seperti kita. Seperti yang kita ketahui, hewan yang ada di langit ialah buraq. Buraq ialah makhluk yang berada di langit yang tidak memiliki kaitan dengan bumi beserta isinya.

Namun pada peristiwa perang Badar, para malaikat turun ke bumi turut membantu dengan menaiki kuda, memakai pakaian perang berwarna hijau, serta dilengkapi dengan pedang dan perisai layaknya seoeang manusia ketika perang pada masa itu.

Nah, di sinilah bukti adanya khabaya atau gudang penyimpan sesuatu di langit. Perlengkapan perang malaikat ini berasal dari khabaya. Seperti yang tertuang dalam surat an-Nahl ayat 8 berikut:

{وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ} [النحل: 8]

“Dan Allah menciptakan apa yang tidak kalian ketahui.”

Dalam peristiwa perang Badr, para sahabat bertanya kepada Rasulullah: “Bagaimana kita membedakan antara hasil bunuhan kita dengan bunuhan malaikat, wahai Rasulullah?”. Kemudian Rasulullah menjawab, “Apabila diantara kalian menjumpai tubuh mereka terdapat luka bakar, maka yang membunuh orang tersebut adalah malaikat, dan apabila kalian tidak menjumpai luka bakar mereka, maka yang pembunuhnya adalah diantara kalian sendiri”.

Baca Juga:  Kisah Perempuan yang Ingin Membakar Surga dan Memadamkan Neraka

Pernyataan Rasulullah ini semakin menguatkan bahwa peralatan perang yang digunakan malaikat seperti panah dan pedangnya terbuat dari api. Senjata inilah yang termasuk dari khazanat as-samawat. Sebab malaikat sendiri diciptakan oleh Allah dari cahaya, yang berarti elemen api di atas tentu bukan bagian dari malaikat.

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG