Cerita Gus Baha Tentang Humor Gus Dur

gus baha

Pecihitam.org – Dalam satu kesempatan Gus Baha pernah bercerita bahwa ia masih ingat dengan salah satu humor Gus Dur. Gus Baha menceritakan bahwa suatu ketika Gus Dur ditanyai oleh seseorang yang mengkultuskan kiai. “Gus, kok banyak kiai yang melakukan kekeliruan?” kata si penanya. Konteks saat itu bahwa si penanya merasa kesal karena banyak kiai yang berperilaku kurang arif.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kemudian Gus Dur malah menimpali dengan contoh yang lebih banyak “Ya kiai ada juga yang pacaran, yang berbuat salah juga banyak, dan kiai yang cinta dengan harta.. ya juga banyak. Kan kiai ya bermacam-macam” ujar Gus Dur.

Si penanya kemudian lantas bertanya “Lho Gus, padahal kiai kan orang baik yang suci, kenapa kok berbuat dosa seperti itu?”. Mendengar pertanyaan dari si penanya tersebut, Gus Dur hanya senyum-senyum saja dengan santai.

Kemudian Gus Dur dengan penuh kelakar menjawabnya “Mereka (kiai) itu boleh berbuat dosa, karena mereka tahu caranya tentang bertaubat. Kalau kamu enggak boleh melakukan dosa, karena kamu tidak tahu bagaimana caranya bertaubat”. Ketika mendengar jawaban Gus Dur tersebut, si penanya malah tersipu malu dan bingung.

Baca Juga:  Ketika Gus Dur Menolak Eksklusivisme Hukum Islam

Kemudian si penanya itu bertanya lagi “Kok bisa begitu Gus?”. “Ya yang bisa melanggar hukum itu ya ahli hukum. Jadi kamu jangan meniru dosanya kiai, dia sudah siap dengan penangkalnya” jawab Gus Dur dengan tertawa lepas.

Cerita Gus Baha tentang humor Gus Dur tersbut memperlihatkan gambaran bagaimana antropologi dan sosiologi pesantren yang cukup cair. Seorang kiai seperti Gus Dur tersebut berkomunikasi dengan jama’ahnya dengan informal dan penuh canda tawa.

Tentu saja konten dalam guyonan Gus Dur tersebut tidaklah serius. Dialog dalam humor Gus Dur tersebut tentu saja dibuat Gus Dur untuk semata-mata menghibur pendengarnya saat ceramah. Karena sudah menjadi kebiasaan dalam tradisi kiai-kiai pesantren bahwa ceramah itu harus lucu.

Baca Juga:  Inilah Enam Golongan yang Masuk Surga tanpa Hisab

Biasanya bahan untuk humornya diambil dari budaya-budaya sehari-hari dalam kehidupan kaum pesantren. Seperti yang terlihat dalam dialog humor Gus Dur yang diceritakan Gus Baha tersebut. Yakni tentang tradisi berfiqh atau hukum Islam dalam kalangan pesantren.

Di dalam sebuah ceramah besar (pengajian umum) humor memiliki peran yang penting supaya jama’ah pengajiannya tidak bosan dengan materi yang dibawakan oleh sang penceramah. Bayangkan saja, pengajian akbar dalam tradisi pesantren itu jama’ahnya mencapai ribuan bahkan puluhan ribu orang. Jika materinya tidak ada humornya, pasti jama’ah akan merasa bosan dan tidak menarik.

Terkait pentingnya humor dalam ceramah ini, Gus Dur punya cerita menarik. “Suatu ketika ada seorang mantan komandan militer mengisi sebuah khutbah Jum’at” kata Gus Dur. Sang mantan komandan militer tersebut memberikan nasihat takwa di dalam khutbahnya.“Wahai orang-orang yang beriman senantiasalah bertaqwa kepada Allah Swt, awas kalau tidak!!!”.

Baca Juga:  Untuk Para Suami, Sebelum Melakukan Poligami, Perhatikan Dahulu Hal Ini!

Gus Dur menceritakan khutbah sang mantan komandan militer tersebut dengan penuh tawa. Menurut Gus Dur kok bisa-bisanya mengingatkan takwa jama’ah kok pakai ancaman dengan kata “awas kalau tidak!!!”.

Menurut Gus Dur bahwa ceramah itu harus membikin ketawa dan penuh kegembiraan. Contoh khutbah mantan komandan militer yang diceritakan Gus Dur tersebut bertujuan untuk mengkritik dan menyindir sebagian kalangan penceramah yang belakangan ini ketika membawakan materinya dengan penuh emosi dan menakut-nakuti.

Demikianlah cerita Gus Baha tentang humor Gus Dur. Sebagaimana kita ketahui bahwa Gus Baha dan Gus Dur ini merupakan sosok kiai pesantren yang membawakan ceramahnya dengan dipenuhi kisah-kisah humor yang mengasyikan. Sehingga kita tidak bosan-bosan mendengarkan ceramahnya. Wallahua’lam.