Gus Baha: Mengapa Para Kyai Menghindari Pembahasan Bab Jihad?

bab jihad

Pecihitam.org – Dalam pengajiannya KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha’) menerangkan tentang mengapa para kyai menghindari pembahasan mengenai bab jihad:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tidak menutup mata kita bahwa sebagian dari belahan dunia Timur Tengah habis akibat dilanda konflik secara bergantian. Bahkan, di antara tokoh Timur Tengah, ada yang menyerukan jihad melalui jalur perang. Di Indonesia hanya ada sekelompok kecil saja dari orang yang suka membahas tema-tema perang, jihad dan lain sebagainya. Kebanyakan, yang suka mengotak-atik dan berfatwa tentang jihad melalui jalur keras itu, bersumber dari mereka yang dasar ilmu agamanya minim. Selebihnya, para kyai yang ilmunya mendalam secara akademik berusaha menghindari fatwa-fatwa konflik.

Di dalam kitab-kitab salaf (klasik) yang dikaji di berbagai pesantren Indonesia, dalam urusan membahas hukum, kajian fiqih yang paling dikedepankan paling utama adalah tata cara beribadah dengan baik (ubudiyyah). Setelah ilmu ibadah mapan, baru kemudian melanjutkan ke jenjang kajian muamalah (undang-undang transaksi), lalu bab nikah. Setelah itu, baru dibahas jihad, dan lain sebagainya. Jihad dalam arti perang dikaji oleh santri-santri yang ilmunya sudah cukup purna. Bukan malah mendahulukan bab jihad dari pada bab shalat.

Mengapa guru-guru kita (para kyai) di Indonesia menghindari membahas tema-tema ekstrim atau tema-tema keras?

Baca Juga:  Bolehkah Menggabungkan Aqiqah dan Haul Secara Bersamaan?

يعذب اللسان بعذاب لا يعذب به شىء من الجوارح فيقول يا رب عذبتنى بعذاب لم تعذب به شيئا من الجوارح فيقال له خرجت منك كلمة بلغت مشارق الأرض ومغاربها فسفك بها الدم الحرام وأخذ بها المال الحرام وانتهك بها الفرج الحرام فوعزتى لأعذبنك بعذاب لا أعذب به شيئا من الجوارح

“Mulut akan disiksa dengan siksaan yang tidak akan dibebankan pada satu anggota tubuh pun. Lalu mulut bertanya kepada Tuhan, ‘Ya Tuhan, mengapa Engkau menyiksaku dengan siksaan yang tidak pernah ditimpakan kepada anggota mana pun selain aku?’ Tuhan menjawab, ‘Ada kata-kata yang menembus jajahan timur dan barat. Dengan kalimat itu, darah yang terhormat malah menjadi mengalir, harta haram menjadi terampas, kelamin yang dilindungi malah menjadi terkoyak. Maka, demi keagungan-Ku, Aku akan menyiksamu dengan siksaan yang tidak pernah dipikul oleh anggota tubuh mana pun’.”

Sehingga, fatwa-fatwa keras yang nantinya akan berakibat orang berubah menjadi ekstrimis, sengaja dihindari para kyai karena berisiko memicu timbulnya perpecahan, chaos, bahkan bisa menjadi safkud dima’ (pertumpahan darah).

“Anda jangan pernah berfatwa dengan meluncurkan satu kalimat, yang dengan kalimat itu, bisa saja darah-darah orang yang seharusnya dihormati, malah justru mengalir terbunuh”

Sudah menjadi tradisi, ulama-ulama dari dahulu itu secara turun-temurun selalu menghindari pembahasan jihad ini. Bukan karena mereka tidak bisa, tapi karena takut jika salah fatwa bisa menimbulkan pertumpahan darah. Dan ini lah yang dihindari oleh Sayyidina Hasan bin Ali (cucu Nabi) saat ‘konflik’ dengan Muawiyah.

Baca Juga:  Gus Baha: Kisah Santri Nakal Naksir Sama Putri Kyai

Waktu itu, Sayyidina Hasan bin Ali lebih memilih mengalah. Alasannya menurut sayyidina Hasan, bisa jadi kepemimpinan yang berhak memang semestinya adalah Muawiyah, maka dengan ikhlas sayyidina Hasan bin Ali menyerahkannya. Atau jika terjadi kemungkinan lain, misalnya sayyidina Hasan yang justru mempunyai hak menduduki jabatan itu, karena dalam rangka beliau ingin tetap menjaga supaya tidak terjadi pertumpahan darah, tetap saja Sayyidina Hasan bin Ali berniat memberikan haknya kepada Muawiyah agar darah semua umat Islam terlindungi.

Sayyid Hasan menutup perkataannya dengan sebuah ayat:

وَإِنْ أَدْرِي لَعَلَّهُ فِتْنَةٌ لَكُمْ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ

“Dan aku tidak tahu, boleh jadi hal itu cobaan bagi kamu dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan.” (QS Al-Anbiya’: 111)

Dapat kita pahami bahwa konflik di atas menimbulkan dugaan dari pribadi Hasan bin Ali, jangan-jangan konflik yang terjadi antara orang-orang yang mendukung beliau dengan kelompok Muawiyah hanya sebuah fitnah atau ujian dari Allah SWT saja. Sehingga beliau lebih memilih jalur menyelamatkan pertumpahan darah dari pada mengutamakan kekuasaan, meskipun beliau berhak berkuasa. Terlebih lagi, jika Sayyidina Hasan tidak berhak, maka tidak ada satu pun alasan untuk mempertahankan kekuasaan itu sendiri dengan cara menumpahkan darah. Pemikiran tersebut juga sangat kental di telinga kita sebagaimana yang pernah diucapkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Baca Juga:  Bagaimana Etika Tawasul Yang Benar Agar Doa Kita Segera di Kabulkan Allah SWT?

Ketika Gus Dur dilengserkan dari jabatannya sebagai Presiden RI, banyak sekali orang yang punya I’tikad menyerbu kota Jakarta, mau membela Gus Dur. Gus Dur menahan mereka. Menurut Gus Dur, darah manusia lebih berharga ketimbang jabatan apa pun, termasuk presiden sekalipun. “Tidak ada jabatan di dunia ini yang harus dipertahankan mati-matian,” kata Gus Dur.

Disarikan dari Pengajian KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha’)

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *