Kewajiban Mentaati Pemimpin Menurut Pandangan Islam

kewajiban mentaati pemimpin

Pecihitam.org – Kewajiban mentaati pemimpin adalah suatu perintah dalam syariat islam sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits sangat banyak sekali. Dalil di dalam Al-Qur’an di antaranya adalah firman Allah ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’ [4]: 59)

Pada ayat ini Allah menjadikan ketaatan kepada pemimpin adalah urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Untuk pemimpin di sini tidaklah datang dengan lafazh perintah “taatilah” karena ketaatan kepada pemimpin merupakan ikutan (tabi’) dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, apabila seorang pemimpin memerintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah, maka tidak ada lagi kewajiban mendengar dan taat kepada mereka

Dalil-dalil kewajiban mentaati pemimpin meskipun mereka dzalim juga terdapat di dalam hadits:

“Abu Hunaidah (wail) bin Hudjur RA berkata: Salamah binti Yazid Al Ju’fi bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Ya Rasulullah, bagaimana jika terangkat di atas kami kepala-kepala yang hanya pandai menuntut haknya dan menahan hak kami, maka bagaimanakah anda memerintahkan pada kami ? Pada mulanya beliau mengabaikan pertanyaan itu, hingga beliau ditanya yang kedua kalinya atau ketiga kalinya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menarik Al Asy’ats bin Qois dan bersabda: Dengarlah dan taatlah kamu sekalian (pada mereka), maka sesungguhnya di atas mereka ada tanggung jawab/kewajiban atas mereka sendiri dan bagimu ada tanggung jawab tersendiri.” (HR Muslim)

“Akan datang setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku, tidak menjalani sunnahku, dan akan berada pada mereka orang-orang yang hati mereka adalah hati-hati setan yang berada dalam jasad manusia.” (Hudzaifah berkata), “Wahai Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku menemui mereka?” Beliau menjawab, “Engkau dengar dan engkau taati walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu diambil.” (HR. Muslim)

Padahal kita ketahui, bahwa menyiksa atau memukul punggung seseorang dan mengambil harta tanpa ada sebab yang dibenarkan oleh syari’at adalah termasuk perbuatan maksiat. Akan tetapi seseorang tidak boleh berkata kepada pemimpinnya: “Saya tidak akan taat kepadamu sampai engkau taat pada Tuhan-mu.” Perkataan seperti ini adalah suatu hal yang terlarang. Karena seseorang tetap wajib menaati pemimpin mereka walaupun mereka durhaka kepada Rabb-nya.

Baca Juga:  Mampukah Filsuf Jadi Pemimpin di Tengah Budaya Politik Kita?

Adapun jika mereka memerintahkan kita untuk bermaksiat kepada Allah, barulah kita dilarang untuk mendengar dan menaati mereka. Karena bagaimanapun kita tetap wajib taat pada Allah SWT Tuhan semesta alam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada kewajiban taat dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (bukan maksiat).” (HR. Bukhari)

Menghindari Fitnah dan Pertumpahan Darah

Sebagai rakyat kita wajib memperhatikan, mendengar dan taat kepada penguasa. Karena, bila kita tidak menaati mereka, maka yang ada akan terjadi kekacauan, pertumpahan darah dan terjadi korban pada kaum muslimin. Wajib diingat bahwa darah kaum muslimin itu lebih mulia daripada hancurnya dunia ini. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Baca Juga:  Mengindahkah Hubungan Islam dengan Tradisi Nusantara Melalui Konsep 'Urf

“Hancurnya dunia ini lebih ringan (dosanya) daripada terbunuhnya seorang muslim.” (HR. Tirmidzi)

Lihatlah sekarang kita dapat menyaksikan orang-orang yang memberontak kepada penguasa. Padahal sejatinya mereka hanya mengajak kepada pertumpahan darah dan akhirnya banyak di antara kaum muslimin yang tidak berdosa menjadi korbannya.

Yang wajib dan terbaik adalah mendengar dan menaati mereka. Namun bukan berarti tidak ada amar ma’ruf nahi munkar. Hal itu tetap ada tetapi harus dilakukan menurut kaidah yang telah ditetapkan oleh syari’at yang mulia ini.

Sahabat ‘Amr bin ‘Ash berkata kepada putranya, Abdullah:

عن عمرو بن العاص رضي الله عنه أنه قال لابنه عبد الله: يا بني! سلطان عادل خير من مطر وابل، وأسد حطوم خير من سلطان ظلوم، وسلطان غشوم ظلوم خير من فتنة تدوم

“Wahai anakku, pemimpin yang aqdil itu lebih baik dibandingkan dengan hujan yang deras, macan yang buas lebih baik daripada pemimpin yang zalim sedangkan pemimpin yang sangat dzalim sekalipun itu masih lebih baik dibandingkan dengan fitnah yang permanen (dikarenakan tidak ada pemimpin sama sekali).”

Syekh ‘Ali Jum’ah, mantan mufti Mesir menyitir maqalah Imam Malik:

حاكم ظلوم غشوم ولا فتنة تدوم

“(Tetaplah menaati) pemimpin yang dzalim dan jangan sampai terjadi fitnah yang berkepanjangan tanpa akhir.

Lalu beliau berkomentar:

فوجدنا من يخرج علينا هذه الأيام ويقول أخطأ مالك بل الفتنة أفضل من الحاكم الظالم .
نقول لهذا الشخص أنك من الخوارج .لأنه يريد الفساد فى الأرض .

Baca Juga:  Hukum Perbudakan Menurut Islam, Masihkah Relevan di Zaman Sekarang?

“Pada masa ini kita mendapati seseorang yang menyempal dari kita seraya berkata: “Pemimpin sudah berbuat kesalahan bahkan fitnah (kekacauan denga tidak mengakui adanya pemimpin yang sah untuk ditaati) itu lebih baik dibandingkan dengan pemerintah yang zalim.”

Komentar kami (Syekh Ali Jum’ah) untuk orang ini: “Anda termasuk golongan Khowarij, karena yang dikehendaki adalah kerusakan di muka bumi.”

Allah berfirman dalam sebagian hadits qudsi:
“Aku adalah Maha Raja. Hati para raja ada di genggamanku. Maka barang siapa yang taat padaku, akan aku jadikan mereka (para raja/pemimpin) nikmat baginya, dan barang siapa yang melanggar perintah-Ku akan aku jadikan mereka sebagai musibah atas dirinya. Maka janganlah kalian sibuk mencela dan mencaci maki pemimpin-pemimpin kalian, akan tetapi memintalah padaku, maka akan aku lembutkan hati mereka untuk kalian”.

Itulah mengapa dalam syariat islam terdapat kewajiban mentaati pemimpin, walaupun pemimpin tersebut dzalim sekalipun. Semoga Allah menguasakan kepada kita pemimpin-pemimpin yang takut kepada-Nya, mau mengasihi kita dan menjadikan negeri kita Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Amiin Yarabbal ‘alamin..

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *