Kisah Kejujuran Santri dan Rahasia Takdir Tuhan

kisah kejujuran santri

Pecihitam.org – Kisah ini diceritakan oleh Al-Habib Zein bin Smith (salah satu ulama besar kota Madinah). Pada zaman dahulu, ada kisah seorang santri yang menuntut ilmu di kota suci Makkah. Ia bernama Muhammad Bazaz dan berasal dari Baghdad, Irak.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ia menuntut ilmu dengan keadaan yang apa adanya. Suatu hari, saat ia sedang shalat di Masjidil Haram, perutnya merasakan lapar berat sehingga shalatnya sedikit terganggu. Ia berfikir, tidak biasanya ia merasakan lapar yang begitu menyiksa perutnya seperti ini.

Akhirnya, sehabis shalat ia keluar dari masjid untuk mencari makanan yang bisa ia temukan di pondok maupun di pinggir jalan. Tak disangka, saat ia mencari-cari makanan di pinggir jalan ia melihat sebuah kantong di samping tempat sampah.

Agak lama ia memandangi kantong tersebut, lalu dengan pelan ia mengambil kantong tersebut. Setelah diambil ia lalu membuka kantongnya, dengan kagetnya ia bergumam “Masya Allah”, ternyata isinya adalah tas yang ikatnya dari sutera dan isi tasnya berupa perhiasan emas dan mutiara.

Setelah menemukan kantong itu, antara hati dan pikirannya pun berkecamuk. Pikirannya berkata, “Ambillah sedikit untuk menghilangkan rasa laparmu”. Namun, hatinya tegas menolak, “Jangan… kamu miliki kantong itu karena bukan milikmu”.

Akhirnya, ia pun mengurungkan niatnya untuk memiliki isi kantong itu. Kemudian, kantong itu ia bawa ke dalam kamarnya sambil berpikir siapa pemilik kantong ini. Saat ia sedang berfikir-fikir, tiba-tiba dari luar pondok terdengar pengumuman yang berbunyi “Barangsiapa yang menemukan sebuah kantong yang ciri-cirinya ini, itu. Ia akan mendapat imbalan yang banyak”.

Baca Juga:  Kisah Nabi dengan Sahabat Nu'aiman yang Hobi Mabuk

Dengan bergegas ia pun menghampiri arah pengumuman itu dan bertanya “Siapa yang kehilangan sebuah kantong?”. “Saya, wahai santri” jawab salah seorang di antara kerumunan. Kemudian, ia pun mengajak orang tersebut ke dalam kamarnya setelah ditanyakan ciri-ciri kantong tersebut. Betapa bahagianya orang itu saat melihat kantongnya masih utuh dan isi tasnya pun tidak ada yang kurang sama sekali.

Orang itu lalu memberikan imbalan yang banyak karena memang perhiasan dan mutiara yang ada di dalam tas itu sangat mahal dan berharga. Jadi, sangatlah wajar kalau orang itu memberi imbalan yang setimpal.

Namun, tanpa diduga, si santri menolak dengan halus imbalan itu karena ia sudah merasa senang dan tenang kantong tersebut sudah kembali kepada pemiliknya dan ia ikhlas dengan apa yang ia lakukan. Walaupun orang itu agak memaksa, si santri tetap menolak dengan halus imbalan itu.

Setelah bertahun-tahun menuntut ilmu di kota suci Mekkah, tibalah si santri berencana pulang ke kampung halamannya untuk mengajarkan ilmu yang ia peroleh dari guru-gurunya di kota suci Mekkah.

Ia lalu pulang ke rumahnya dengan menaiki kapal laut dari Mekkah menuju Baghdad, ketika dalam perjalanan tiba-tiba kapal terhempas oleh gelombang hebat sehingga kapal pun tenggelam dan seluruh penumpang kapal meninggal dunia kecuali si santri.

Allah swt. menyelamatkan nyawa si santri dengan mengirimkan sebuah kayu yang tidak lain adalah pecahan dari kapal laut itu. Setelah berhari-hari di tengah laut dengan mengandalkan sebongkah kayu, akhirnya si santri terdampar di pantai sebuah pulau.

Baca Juga:  Kisah Unta Nabi Shaleh yang Keluar dari Batu dan Pengingkaran Kaum Tsamud

Saat tersadar, ia lalu sujud syukur karena lantaran pertolongan Allah-lah ia bisa selamat dari sebuah bencana hebat. Tidak beberapa lama, ia lalu berkeliling mencari masjid untuk melaksanakan ibadah.

Setelah menemukan masjid, ia lalu melaksanakan shalat, berdzikir dan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Tak disangka, ada beberapa warga kampung yang mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacanya. Warga kampung keheranan karena baru sekarang mereka mendengar bacaan Al-Qur’an yang baik dan fasih.

Setelah beberapa hari mukim di masjid itu, atas izin dari warga kampung, akhirnya ia dijadikan muadzin dan imam di masjid itu karena kefasihan dan penguasaan ilmu agamanya yang baik.

Bertahun-tahun ia menetap di pulau itu, tibalah saatnya ia minta izin kepada warga kampung untuk melanjutkan perjalanannya pulang ke kampung halaman. Namun, ketika ia ditanya dimana kampung halamannya, ia menjawab Baghdad, Irak.

Warga kampung pun kaget bukan kepalang, warga kampung menjelaskan bahwa jarak pulau ini dengan Baghdad sangat jauh sekali. Maka, warga kampung pun menyarankan agar ia tetap tinggal di pulau ini dan menikahi seorang gadis yatim. Sebenarnya, ia berusaha menolak halus permintaan warga kampung itu, akan tetapi warga kampung tetap mendesak untuk menyetujui usulannya itu.

Setelah dipikir matang-matang, ia pun menyanggupi usulan sesepuh kampung untuk menikahi gadis yatim yang menjadi kembang desa di pulau itu. Akad nikah pun dilakukan di masjid tempat ia tinggal beberapa tahun di pulau itu.

Sehabis akad nikah, ia diarak warga menuju rumah gadis yatim yang baru dinikahinya itu. Saat ia melihat istrinya dengan balutan baju pengantin dan pernak-perniknya, ia pun kaget bukan kepalang, karena gadis yatim yang baru dinikahinya itu ternyata memakai kalung mutiara yang pernah ia temukan saat ia menuntut ilmu di kota suci Makkah.

Baca Juga:  Imam Ahmad Bin Hanbal Pernah Menolak Doakan Orang Sakit

Di saat sedang terheran-heran, sesepuh kampung bertanya, “Mengapa engkau begitu kaget saat melihat istrimu?”. Ia pun bercerita panjang tentang terdamparnya ia di pulau ini dan kisah kalung mutiara yang dipakai istrinya itu.

Lalu sesepuh kampung membenarkan kisah kalung mutiara itu dan berkata, “Dulu, ayah istrimu itu, setiap hari menceritakan kisah kebaikan yang engkau lakukan saat engkau menemukan kantong yang berisi perhiasan dan mutiara, bahkan ayahnya berjanji akan menunaikan ibadah haji lagi agar bisa bertemu denganmu dan menikahkan putrinya denganmu.”

Ia pun berlinang air mata sambil memuji syukur kepada-Nya, begitu indah dan rapi Allah tunjukkan balasan orang-orang yang berbuat baik tanpa pamrih. Subhanallah …

Wallahu A’lam

Sumber; Saifurroyya dari Mauidhah KH. Yahya Al-Mutamakkin (Murid Al-Habib Zein bin Smith dari Madinah Al-Munawwarah dan Pengasuh Ponpes Madinah Munawwarah Semarang)

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.