Kisah Syekh Nawawi yang Bermunajat Doa Pakai Bahasa Jawa di Mekkah

doa pakai bahasa jawa

Pecihitam.org – Kita semua sepakat bahwa siapa saja pasti menginginkan kebahagiaaan dan keberuntungan dunia maupun akhirat. Untuk mewujudkannya setidaknya sebagai umat muslim maka kita dituntut dua hal.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pertama, secara lahir kita wajib bekerja dan berusaha. Allah SWT berfirman: “Harrik yadaka unzil ‘alaikar rizqa” (gerakkan tanganmu, kamu Ku beri rizki).

Janganlah mengharap rizki dari Allah SWT., jika tidak bernah “menggerakkan tangan” untuk bekerja. Dan janganlah hanya menerima pemberian orang lain mohon maaf itu namanya tidak muruah.

Kita wajib mencontoh para Nabi dan Rasul. Semua para nabi bekerja, contohnya; Nabi Adam a.s. dan istrinya Hawa, bertani. Nabi Nuh a.s. seorang tukang baik tukang kayu, tukang bangunan, bahkan tukang pandai besi juga bisa. Mungkin di zaman sekarang, Nabi Nuh a.s. seperti seperti alumni SMK bisa apa saja.

Selain itu ada juga Nabi Sulaiman a.s. beliau adalah ahli dekorasi. Bahkan Nabi Sulaiman penyayang binatang-binatang. Nabi Sulaiman juga mampu menguasai arah mata angin. Sebagaimana yang di katakan dalam Al-Quran,

Nabi Sulaiman menguasai [mengerti] cuaca: besok hujan, besok reda, besok banjir, besok surut, besok pasang, besong angin ke utara, besok ke selatan. Barangkali kalau zaman sekarang beliau adalah seorang pakar meteorologi dan geofisika. Mungkin jika Nabi Sulaiman hidup dizaman sekarang, BMKG nggak laku.

Baca Juga:  Kisah Sahabat Nabi Yang Ikut Hijrah Bersama Nabi

Kemudian yang kedua untuk mewujudkan kebahagiaan dunia akhirat, secara batin kita wajib beribadah dan berdoa. Apabila bisa, sekian banyak doa semua boleh dihafalkan. Bila terpaksa tidak bisa bahasa Arab, memakai bahasa Jawa atau bahasa Indonesia tidak apa-apa.

Diceritakan KH. Idris Marzuki, Lirboyo, pernah dawuh kepada santrinya:
“Koe ki nek nompo dungo-dungo Jowo seko kiai sing mantep. Kae kiai-kiai ora ngarang dewe. Kiai-kiai kae nompo dungo-dungo Jowo seko wali-wali jaman mbiyen. Wali ora ngarang dewe kok. Wali nompo ijazah dungo Jowo seko Nabi Khidhir. Nabi Khidhir yen ketemu wali Jowo ngijazaji dungo nganggo boso Jowo. Ketemu wali Meduro nganggo boso Meduro.”

(“Kamu itu jika mendapat doa-doa Jawa dari kiai yang mantap, jangan ragu. Kiai-kiai itu tidak mengarang sendiri. Mereka mendapat doa Jawa dari wali-wali jaman dahulu. Wali itu mendapat ijazah doa dari Nabi Khidhir. Nabi Khidhir jika bertemu wali Jawa memberi ijazah doa memakai bahasa Jawa. Jika bertemu wali Madura menggunakan bahasa Madura]”

Syekh Nawawi Banten Berdoa di Mekkah Pakai Bahasa Jawa

Almarhum Syekh Nawawi Banten, ketika di Mekkah pernah diminta untuk berdoa, dan beliau tetap menggunakan bahasa Jawa. Padahal beliau ahli bahasa Arab. Hasil karyanya diatas 40 kitab, semuanya berbahasa Arab.

Baca Juga:  Doa Agar Mampu Menghadapi Kesulitan dengan Ikhlas dan Sabar

Kejadiannya, pernah suatu ketika di Tanah Arab lama sekali tidak turun hujan. Ulama-ulama Mekkah dan Madinah didatangkan untuk berdoa minta hujan di depan ka’bah. Selesai berdoa, malah semakin panas, bahkan sampai beberapa bulan.

Sang raja teringat, ada seorang ulama yang belum diajak berdoa. Setelah dicari, ketemu. Orangnya pendek, kecil dan hitam. Mungkin kalau melamar perawan zaman sekarang langsung ditolak. Sebab bukan tipe idola, walaupun mungkin bisa masuk Instagram.

Kemudian, ulama asal dusun Tanara, Banten tersebut dipanggil oleh sang raja agar supaya berdoa kepada Allah SWT. di depan ka’bah untuk meminta hujan. Anehnya, meski KH. Nawawi Banten mampu berbahasa Arab dengan fasih, di depan ka’bah beliau memanjatkan doa meminta hujan pakai bahasa Jawa. Para ulama Makkah – Madinah berdiri di belakangnya menengadahkan tangan sambil berkata “amin”,

Syekh Nawawi berdoa:
“Ya Allah, sampun dangun mboten jawah, nyuwun jawah.”
(Ya Allah, sudah lama tidak turun hujan, kami minta hujan)

Seketika itu hujan datang. Padahal yang berdoa berbahasa Arab dengan fasihnya tidak mujarab, sedangkan dengan bahasa Jawa malah justru ampuh. Maka, jika anda mendengar orang berdoa dengan fasih menggunakan bahasa Arab, jangan minder sebab belum tentu doanya mujarab.

Baca Juga:  Kisah Nabi Danial yang Jarang Orang Islam Ketahui

Jadi, bermunajat doa memakai bahasa Jawa, boleh-boleh saja, asalkan diluar shalat. Kalau berdoa di dalam shalat tetap wajib berbahasa Arab. Bahkan, “mohon maaf” jika mungkin saja ada orang yang doa pakai bahasa Arab tidak bisa, Jawa juga tidak bisa, maka boleh tidak berdoa, asalkan mau berdzikir yang banyak.

Karena dzikir itu sama dengan berdoa. Allah SWT. berfirman: “man saghalahu dzikri ‘an mas alati, a’thaituhu qabla an yas alani.

“Barangsiapa terlena berzdikir kepadaKu sampai tidak sempat meminta apa-apa, niscaya Kuberi dia apa-apa, sebelum dia meminta apa-apa”.

*Dikisahkan dari KH. Khalwani Nawawi, Purworejo dengan beberapa penyuntingan.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *