Kitab Sunan An Nasai Karya Imam An Nasai

kitab sunan an nasai

Pecihitam.org – Ketika Imam an-Nasa’i telah menyelesaikan koleksi hadits dalam format besar memuat hadits shahih dan hadits-hadits ber’illat diperlihatkan kepada Amir (kepala daerah) Ramlah (Palestina) dan diberi nama “Sunan an Nasai al-Kubra”. Amir Ramlah menyarankan agar ditempuh koleksi hadits yang selektif, dalam pengertian menyisihkan hadits-hadits klasifikasi shahih saja dan tidak membaurkannya dengan yang ber’illat (ma’lul). Dorongan itulah yang melahirkan revisi Sunan al-Kubra dan formatnya diperkecil yang di sebut “Sunan al-Sughra” yang sekarang lebih familiar dengan sebutan nama “kitab Sunan an Nasai”.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Jumlah hadits yang ditampung dalam Sunan al-Nasa’i mencapai 5.761 hadis, di dalamnya banyak diketemukan penyajian suatu hadits berulang di banyak tempat. Materi matan hadis mirip kitab-kitab sunan yang lain yakni memprioritaskan hadits yang menyangkut kehidupan beragama. Sedikit berbeda dengan kitab sunan pada umumnya Imam al-Nasai cenderung menampung hadits amaliah diniyah yang lebih mendetail, itu terlihat pada koleksi hadits tertuang di dalamnya, seperti tuntunan doa yang perlu di baca sepanjang hai’at sembahyang, pedoman-pedoman hukum serta masalah mu’amalah.

Metode Penyusunan dan Sistematika

  • Dilihat dari namanya, Kitab Sunan an-Nasai maka kita akan segera tahu bahwa kitab hadits ini disusun berdasarkan metode sunan. Yaitu metode penyusunan kitab hadis berdasarkan klasifikasi hukum Islam
  • Kitab ini hanya mencantumkan hadits-hadits yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw saja. Bila terdapat hadits-hadits yang bersumber dari sahabat (mauquf) atau tabi’in (maqtu’), maka relatif jumlahnya hanya sedikit.
  • Sistematika penyajian hadits pada kitab sunan al-Nasai menyerupai tertib sistem kitab fiqh serta masing-masing kelompok hadits yang satu materi dilengkapi dengan judul sub bab yang mewakili persepsi hasil analisis Imam al-Nasai terhadap inti kandungan matan hadits yang bersangkutan. Mengawali penyajian setiap hadits, di terangkan sanad lengkap setiap matan, perhatian khusus mengenai proses tahdis (sighat tahdis), dan matan hadits selengkapnya. Di belakang matan tidak terdapat embel-embel kecuali keterangan singkat mengenai mukharrij yang menjadi referensi hadits dan informasi sederhana tentang unsur ‘illat hadis (bila diketahui hadis bersangkutan berillat).
  • Pengeditan matan hadits ditekankan pada upaya mempertahankan keaslian redaksi (riwayat bil-lafdzi). Imam an-Nasai sedikit peka terhadap dugaan lahn (rancu) dalam bahasa matan hadits, karenanya beliau dengan cermat mencari idiom serupa pada suku-suku pemakai bahasa klasik, sebab bisa diasumsikan bahwa Rasulullah SAW senantiasa berkomunikasi dengan bahasa mereka.
Baca Juga:  Tafsir Mahasin At-Ta’wil Karya Imam al-Qasimi

Bagi yang mencermati kitab sunan Nasa’i akan mengetahui bahwa beliau lebih mengumpulkan hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum dalam kitabnya. Karenanya kitab sunan tidak mencantumkan hadits-hadits yang berkaitan dengan tafsir, akhbar (berita sebelum nubuwwah), manaqib (derajat para sahabat), maupun mawa’idz (wejangan-wejangan). Rahasianya adalah karena beliau memilih hadits-hadits tadi terkhusus masalah hukum. Yaitu dari kitabnya “As Sunan Kubro”.

Derajat Kedudukan Kitab

Jajaran ulama muhadditsin mengakui Sunan al-Nasa’i sebagai “usul al-Khamsah” atau “Kutub al-Khamsah”, artinya satu di antara lima kitab koleksi hadits standar bersanad dengan al-Jami’ al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dan al-Jami’ at-Tirmidzi. Agak mengejutkan bila hadits-hadits koleksi Sunan al-Nasa’i dipandang shahih seluruhnya. Pandangan itu pernah dikemukakan oleh Abu al-Hasan al-Daruqutniy, Ibnu Mandah, Ibnu al-Sakan, Abu Ali al-Naisaburi, Ibnu al-Subhi, Abu Ahmad al-Adiy dan al-Khatib al-Baghdadi. Husnudzan mereka mungkin hanya melihat sisi sikap Imam al-Nasai demikian cerdas, terbuka dan ekstrim dalam seleksi jalur riwayat yang di dukung oleh kenyataan sebagai berikut :

  • Dalam menilai integritas rijalul-hadits seperti di kemukakan oleh Abu Ali al-Naisaburi cenderung lebih hati-hati dan lebih ketat dari pada cara yang ditempuh oleh Imam Muslim.
  • Amat minim jumlah satuan perawi dalam kitab Sunan an-Nasai yang dicurigai lemah, terbukti banyak perawi yang dikoleksi hadits-haditsnya oleh Imam Abu Dawud dan Imam at-Tirmidzi justru dikesampingkan dan ditolak oleh Imam al-Nasai. Demikian juga bila dilihat kritik Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi terhadap hadis-hadis koleksi Imam al-Nasai lebih minim yang diduga dha’if (maudhu’). Ibnu al-Jauzi hanya mempermasalahkan 10 hadis. Seperti diketahui umum bahwa Ibnu al-Jauzi cenderung oper kritik, namun terhadap Sunan al-Nasa’i hasil evaluasi beliau demikian minim yang dha’if;
  • Dalam teori jarah wa al-ta’dil yang dikembangkan oleh Imam al-Nasa’i diperlakukan sebagai referansi baku bagi kalangan muhaddisin generasi sesudahnya. Wallahu’alam Bisshawab
Baca Juga:  Nadzam Imrithi, Kitab Nadzam dari Matan al-Ajurumiyah

Silahkan download kitab Sunan an Nasai pada link di bawah ini:

Kitab Sunan an Nasai karya Imam an Nasai

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.