Misteri Bulan Suro dalam Pandangan Islam, Benarkah Angker?

Misteri Bulan Suro

Pecihitam.org – Dalam mitos Jawa, bulan Muharram atau bulan Suro dalam kalender Jama konon adalah bulan yang keramat dan angker. Sehingga masyarakat Jawa yang masih kental dengan tradisi Jawa kuno-nya banyak memanfaatkan bulan ini untuk mencuci benda-benda bertuah seperti keris dan lainya.

Bahkan karena dianggap angker, malah sampai ada yang tidak berani melakukan hajat apapun dibulan ini seperti pernikahan, sunatan maupun hajatan lainnya. Mengapa demikian? Karena orang jawa menganggap bulan Suro mempunyai daya magis yang tinggi dibanding dengan bulan lain.

Padahal sebenarnya bulan Muharram tidaklah seangker yang dibayangkan. Lalu bagaimanakah Islam memandang bulan Muharram yang dikenal sebagai bulan Suro tersebut?

Dalam tinjauan Islam, bulan Muharram atu bulan Suro mempunyai nilai yang sangat penting baik dari sisi sejarah peradaban Islam maupun keutamaan-keutamaan yang terdapat di dalamnya. Diantaranya adalah:

1. Awal Penghitungan Tahun Hijriah

Bulan Muharram dijadikan titik awal perhitungan Tahun Hiriyah berdasar kesepakatan para sahabat Nabi dalam sebuah musyawarah. Hal ini mulanya atas inisiatif Khalifah Umar bin Khattab sebagai tindak lanjut dari usulan seorang gubernur Kuffah yaitu Abu Musa al-Asy’ari karena mengkritisi surat beliau yang tidak disertakan tanggal dan tahun. Yaitu di tahun kelima dari pemerintahan Umar bin Khattab atau tepatnya 7 tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Musyawarah tersebut diikuti oleh banyak sahabat di antaranya Usman bin Affan RA, Ali bin Abi Thalib RA, Abdurrahman bin Auf RA, Zubair bin Awwam RA, Saad bin Abi Waqqas RA, Thalhah bin Ubaidillah, dan beberapa sahabat lain. Pada rapat tersebut diputuskan dua hal yaitu:

  1. Hitungan tahun hijriyyah dimulai dari hijrah Nabi Muhammad SAW yang bertepatan pada 16 Juli 622 Masehi. Hal ini berdasar usulan Ali bin Abi Thalib, itu sebabnya tahun Islam dinamakan dengan tahun Hijriyah.
  2. Awal tahun dimulai dengan bulan Muharram hal ini didasarkan pada usainya pelaksanaan rukun Islam yang kelima yaitu di bulan Dzulhijjah. (Al Kamil Fi at Tarikh juz 1 hal 3-4, kitab Tarikh ar- Rusul wa Al Muluk juz 1 hal 426-427)
Baca Juga:  Piagam Madinah; Sejarah, Isi dan Upaya Nabi Untuk Menyetarakan Hak-Kewajiban Masyakat

2. Termasuk Bulan Mulia

Kemuliaan bulan Muharram termaktub dalam surat at-Taubah 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ [التوبة : 36]

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Dalam riwayat Al-Bukhari Muslim dan lain-lain, dari Abu Bakrah bahwa 4 bulan haram dalam ayat di atas adalah Dzul qa’dah, Dzul Hijjah, Muharam dan Rajab.

إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السموات والأرض السنة اثنا عشر شهرا منها أربعة حرم ثلاثة متواليات ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب مضر بين جمادى وشعبان…..الحديث (أحمد ، والبخارى ، ومسلم ، وأبو داود عن ابن أبى بكرة عن أبيه)

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana di hari Allah menciptakan langit dan bumi, setahun itu adalah dua belas bulan dan di antaranya ada empat bulan haram yaitu tiga bulan berurutan Dzul Qa’ah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab Mudhar antara bulan Jumadi dan Sya’ban …al-Hadits” (Ahmad, Bukhari, Muslim, abu Dawud, dari Abu Bakrah dari ayahnya).

Ibnu Katsir meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan dari Qatadah sebagaimana dalam tafsirnya juz 4, hal: 146. Bahwa berbuat dzalim (maksiat) dalam empat bulan tersebut sanksinya lebih berat dibanding dengan bulan–bulan lain sebagaimana amal shalih juga dilipatgandakan nilainya di dalamnya.

Baca Juga:  SERU!! Dialog Santri Sunni vs Wahabi Tentang Dalil Qiyas Dalam Ibadah

3. Bulan Penuh Sejarah para Nabi

Sejumlah peristiwa sejak jaman Nabi Adam As telah dikelaskan. Hal ini seperti riwayat dari Abu Syeh (As-Suyuthiy dalam Jamiul Ahadits juz 9 hal 365, Kanzul Ummal juz 8/576) juga al-Bukhari dari Ibnu Abbas:

Bahwa Nabi Nuh berlabuh dari perahu di Gunung Juudiy, Nabi Adam diterima taubatnya oleh Allah demikian pula taubatnya umat Nabi Yunus As. Allah membelah lautan untuk Nabi Musa bersama kaumnya juga kelahiran Nabi Ibrahim As. Kesemuanya itu terjadi di hari Asyura’.

4. Disunnahkan Puasa

Dalam sebuah riwayat disebutkan sebagai berikut:

عن ابن عمر : أن أهل الجاهلية كانوا يصومون يوم عاشوراء وأن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – صامه والمسلمون قبل أن يفترض رمضان فلما افترض رمضان قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إن عاشوراء يوم من أيام الله فمن شاء صامه ومن شاء تركه ] أحمد (2/143 ، رقم 6292) ، ومسلم (2/792 ، رقم 1126) ، وابن أبى شيبة (2/311 ، رقم 9356) ، وابن شاهين فى ناسخ الحديث (1/320 ، رقم 370) ، والبيهقى (4/289 ، رقم 8195)

Dari Ibnu Umar berkata: Sesungguhnya orang-orang jahiliyah selalu berpuasa di hari Asyura dan sesungguhnya Rasulullah SAW bersama dengan kaum muslimin juga berpuasa sebelum diwajibkanya puasa Ramadhan. Tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, maka Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Asyura itu adalah salah satu dari hari–hari Allah, maka barangsiapa yang berkenan ia boleh berpuasa dan boleh meninggalkanya. (Ahmad no :6292, Muslim no :1126, Ibnu Abi Syaibah: 9356, Ibnu Syahin: 370, dan al-Baihaqi: 8195).

صُوْمُوْا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَخَاِلُفْوا فِيْهِ اْليَهُوْدَ وَصُوْمُوْا قَبْلَهُ يَوْمًا وَبَعْدَهُ يَوْمًا (أحمد ، وابن جرير ، والبيهقى فى شعب الإيمان ، والبيهقى ، وتمام ، وابن عساكر عن داود بن على عن أبيه عن جده)

“Berpuasalah pada pada hari Asyura dan berbedalah kalian dengan orang Yahudi dan berpuasalah satu hari sebelumnya dan satu hari sesudahnya.” (Hadits riwayat Abur Razaq, at-Thahawiy dari Ibnu Abbas secara mauquf).

Dalam riwayat lain disebutkan:

Baca Juga:  Mengenal Golongan As-Sawad Al-A’dzam dalam Hadis Nabi Muhammad

لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُوْمَنَّ التَّاسِعَ (مسلم ، وابن ماجه عن ابن عباس(

Seandainya aku masih hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada tanggal sembilan (Muharram). (HR Muslim hadits no: 1134 dan Ibnu Majah no: 1736)

5. Penghapus Dosa Setahun

Dari Abu Qatadah, Rasulullah SAW bersabda:

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبِلَةً وَصَوْمُ عَاشُوْرَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً (أحمد ، وعبد بن حميد ، ومسلم ، وأبو داود ، وابن جرير ، وابن خزيمة ، وابن حبان عن أبى قتادة)

“Puasa Arafah itu melebur (dosa dua tahun); satu tahun yang lalu dan satu yang akan datang. Sedangkan puasa hari Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat.” (HR Ahmad, Abd bin Humaid, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Jarir, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Dengan melihat semua fakta di atas, maka mitos masyarakat Jawa pada umumnya yang menganggap bahwa bulan Suro atau Muharram adalah angker sehingga menjauhi hajatan di bulan tersebut adalah tidak benar.

Justru bulan Muharram adalah bulan kemenangan dan pertolongan Allah kepada para nabi. Oleh karenanya, umat Islam dianjurkan memuliakan hari tersebut sebagaimana para nabi dan umat terdahulu juga memuliakannya. Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG