Pentingnya Meneladani Sifat Rendah Hati Rasulullah SAW

sifat rendah hati rasulullah

Pecihitam.org – Rasulullah SAW adalah manusia paling sempurna dan beliau adalah kekasih Allah. Keistimewaan beliau sebagai seorang utusan maupun karena memang perangai dalam diri Rasulullah sendiri. Keistimewaan beliau tidak hanya dikenal di bumi namun juga sampai ke langit. Salah satu keistimewaan Rasulullah adalah sifat rendah hati beliau.

Beliau SAW juga sebagai kepala negara, namun tidak pernah sombong ataupun tinggi hati. Dengan para sahabatnya pun beliau memegang prinsip berdiri sama tinggi duduk sama rendah, sehingga tidak pernah membeda-bedakan dirinya dengan para sahabatnya.

Bahkan sifat rendah hati Rasulullah SAW tidak diragukan lagi, beliau menaruh hormat kepada semua anak manusia tanpa memandang kelas sosial. Dan beliau tidak bersikap tinggi yang bertangan halus sebagaimana lazimnya orang kaya di zaman lampau.

Syekh Ibrahim Al-Baijuri menyebut sejumlah bentuk sikap rendah hati Rasulullah SAW . Ia mengatakan bahwa sikap rendah hati Rasulullah SAW ini patut diteladani oleh umatnya.

والزم التواضع فقد كان من تواضعه صلى الله عليه وسلم أن يحمل بضاعته من السوق إلى أهله ويصافح الغني والفقير ويبدأ من لقيه بالسلام إلى غير ذلك

Artinya: “Lazimkan sikap tawadu atau rendah hati. Salah satu sikap tawadu Rasulullah SAW adalah kemandirian Nabi Muhammad SAW dalam membawa pulang sendiri barang belanjaannya dari pasar ke rumah, keterbukaannya dalam menjabat tangan orang kaya dan orang miskin, kesediaannya dalam memulai salam terhadap siapa pun yang dijumpai olehnya, dan banyak lainnya,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Tahqiqul Maqam ala Kifayatul Awam, [Surabaya, Maktabah M bin Ahmad Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 78).

Itu sebabnya, walau Rasulullah SAW berasal dari bani Quraisy yaitu klan paling utama di Arab, dijuluki al-Amin karena kredibilitasnya yang tak diragukan, diangkat sebagai Nabi paling mulia, dan bahkan dinobatkan secara kultural sebagai ‘Raja Mekah’ pra-kenabian, Rasulullah selalu rendah hati menganggap dirinya “hanya seorang anak yatim piatu”.

Baca Juga:  Inilah Kitab-Kitab Tafsir Al-Qur'an Karangan Para Ulama Nusantara

Kerendahan hati Rasulullah SAW ini tidak mengurangi kebesaran beliau, justru menambah ketinggian derajat di sisi Allah. Rasululllah SAW sadar bahwa derajatnya tinggi di sisi Allah SWT dan ia adalah pemimpin umat manusia. Tetapi ia tidak enggan untuk membawa sendiri keperluan rumah tangganya dan tidak sungkan untuk menjabat tangan orang lain dari golongan mana saja.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا سيد ولد آدم ولا فخر

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku penghulu anak Adam, dan tidak sombong,’” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah).

Kerendahan hati Rasulullah juga pernah para sahabat saksikan ketika sedang dalam perjalanan, dimana ketika mereka beristirahat dan mendirikan perkemahan para sahabat saling membagi tugas. Beliau SAW juga ikut membaur dengan para sahabat.

Baca Juga:  Inilah Alasan Kenapa Anda Tidak Boleh Belajar Islam Lewat Google

Sampai ketika para sahabat ada yang kebagian tugas untuk mencari kayu bakar, Rasulullah ikut membantu hingga para sahabat tidak enak hati dan tidak membiarkan Rasulullah mencari kayu bakar.

Menurut Syeih Khumais, sikap tawadhu atau rendah hati itulah yang membuat orang tidak sombong terhadap saudara dan lingkungannya dan tidak menganggap remeh orang lain.

Jejak kerendahan hati Rasulullah SAW juga terlihat ketika beliau memimmpin majelis yang disesaki kaum muslim.

Kala itu, Jabir bin Abdillah Bajali duduk di bibir pintu, lalu nabi melihatnya dan beliau mengambil kain baju yang beliau miliki kemudian melipatnya. Dengan ramah beliau memberikan lipatan kain tersebut kepada Jabir sambil memintanya untuk duduk dengan menjadikan lipatan baju tersebut sebagai alas.

Jabirpun menerimanya, namun Jabir tidak mempergiunakan kain tersebut untuk alas duduk namun Jabir mengusapkannya ke wajah sebagai tanda hormat kepada Rasulullah SAW.

Dengan mata berkaca-kaca Jabir mengembalikannya dengan mengucapkan, “Semoga engkau selalu dimuliakan Allah sebagaimna engkau memuliakan aku.”

Baca Juga:  Sunnah Sebelum Tidur, Ini Amalan Rasulullah

Tidak hanya itu, ketika ditengah kesibukan beliau sebagai pemimpin negara, beliau menyempatkan hadir memenuhi undangan sahabatnya. Beliau mendatangi jamuan yang digelar. Dan ditengah jamuan tersebut beliau tidak membedakan diri dari orang lain, justru beliau berbaur dengan tamu yang lain.

Beliau berbaur dengan segala lapisan masyarakat tanpa terkecuali, bahkan sifat rendah hati Rasulullah SAW juga merambat pada keluarganya, Aisyah ra. Kehidupan rumah tangganya Rasulullah SAW berlaku seperti yang lainnya, beliau menjahit baju sendiri hingga memperbaiki sendalnya yang rusak. Walaupun beliau adalah manusia pilihan, manusia paling mulia, namun sifat kehidupan sehari-hari beliau SAW sama dengan kehidupan umatnya.

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG