Pondok Pesantren Ihya Ulumaddin; Pesantren Tertua dan Terbesar di Cilacap

Pondok Pesantren Ihya Ulumaddin; Pesantren Tertua dan Terbesar di Cilacap

PeciHitam.org – Menggali khazanah pesantren merupakan upaya untuk menyebarkan semangat mempelajari ilmu agama. Lewat pesantrenlah ilmu agama dikaji secara mendalam hingga menghasilkan para ulama. Hal ini penting kita galakkan demi membendung arus radikalisasi agama yang tersebar melalui ustad-ustad gadungan.

Salah satu pesantren yang mampu membentengi Kabupaten Cilacap dari derasnya arus tersebut ialah Pondok Pesantren Ihya Ulumaddin. Didirikan pertama kali oleh KH Badawi Hanafi pada tanggal 24 November 1925 M/1344 H. Pesantren ini terletak di Desa Kesugihan, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap.

Menurut beberapa sumber, KH Badawi Hanafi dilahir di kampung Brengkelan, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah sekitar tahun 1885 M. Beliau dilahirkan dari pasangan KH Fadhil dan Nyai H Shofiyah binti KH Abdul Syukur.

Pada hari Senin Wage pukul 14.00 siang, bulan Rajab tahun 1927 Nyai H. Fadhil (Shofiyah binti KH. Abdul Syukur) wafat. Sepuluh tahuh berselang, hari Senin Wage tepatnya pada bulan Rajab tahun 1937, pukul 06.00 pagi, KH Fadlil juga wafat.

Seperti kisah pesantren dahulu pada umumnya, Pondok Pesantren Ihya Ulumaddin ini awalnya merupakan sebuah langgar (mushala) peninggalan KH Fadhil, ayahanda KH Badawi Hanafi. Langgar tersebut bernama Langgar Duwur.

Baca Juga:  Tips Memilih Pesantren yang Baik untuk Anak, Orang Tua Wajib Tahu!

KH Fadlil berasal dari Purworejo, kemudian hijrah ke Kesugihan pada tahun 1910 dan menetap di dusun Salakan, Kesugihan. Pada tahun 1914, kemudian KH Fadhil pindah ke dusun Platar.

Di tempat inilah awalnya cikal bakal berdirinya Pondok Kesugihan. KH Badawi Hanafi menyampaikan ilmunya di sebuah langgar kepada para santri, baik anak-anak, orang tua maupun masyarakat sekitar.

Lambat laun, semakin banyak santri yang ingin mengaji di tempatnya tersebut. Ada santri yang menetap tinggal berasal dari jauh. Ada juga santri kalong atau santri yang hanya datang untuk mengaji, setelah mengaji lalu pulang.

Oleh karena itu, dengan semakin banyaknya santri tersebut akhirnya dibuatlah bangunan pondok pesantren yang tersusun atas beberapa kamar dengan ruangan tengah yang cukup lebar. Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Pondok Kesugihan. Kepemimpinan pondok pesantren ini dilanjutkan oleh kedua putra beliau yang bernama KH Ahmad Mustholih dan KH Chasbulloh Badawi.

Pada tahun 1961, nama pesantren ini diganti menjadi Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam (PPAI). Barulah ketika kepemimpinan di tangan KH Ahmad Mustholih, pesantren ini diberi nama sebagai Pondok Pesantren Ihya Ulumaddin, tepatnya pada tahun 1983. Hal ini dalam rangka untuk mengenang ayah beliau, yang sangat mengagumi karya monumental al-Ghazali yaitu Kitab Ihya Ulumuddin.

Baca Juga:  Pondok Pesantren Al-Iman; Pesantren Tertua di Purworejo

Di tangan beliau pula, pesantren ini bertumbuh pesat dan mampu membangun Lembaga Pendidikan mulai dari TK hingga Madrasah Aliyah. Pada tahun 1999, KH Ahmad Mustholih wafat. Selanjutnya kepemimpinan pesantren tersebut diteruskan oleh KH Chasbullah Badawi. Beliau dilahirkan pada tanggal 12 Desember sekitar tahun 1938. Beliau terkenal sebagai seorang ulama yang sangat alim.

Hal ini juga senantiasa tercermin dari akhlak beliau yang amat halus dan santun dalam kesehariannya. Tidak hanya itu, pemikiran beliau juga begitu luas dan memiliki visi yang jauh ke depan.

Di tangan beliaulah, akhirnya dirintis Yayasan YA-BAKII yang sampai sekarang ini sudah menaungi 53 lembaga Pendidikan mulai dari TK hingga perguruan tinggi (Institut Agama Islam Al-Ghazali/IAIIG) atau Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghazali (UNUGHA).

Didirikannya Yayasan YA-BAKII merupakan ikhtiar beliau dalam dunia Pendidikan agar para santrinya mampu bersaing dengan yang lain. Beliau menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 11 Ramadan 1438 H/ 06 Juni 2017.

Baca Juga:  Pondok Pesantren Langitan Tuban; Masih Eksis Hingga Generasi ke Tujuh

Hari ini, pesantren ini berdiri di atas lahan seluas lima hektar. Dengan jumlah santri mencapai 1.500 orang, yang terdiri dari sekitar 800 santri putra dan 700 santri putri. Pondok Kesugihan ini juga masih setia mempertahankan budaya pesantren yaitu ngaji bandungan dan sorogan. Meliputi beberapa bidang keilmuan seperti fiqih, akhlak, tasawuf, nahwu maupun sharaf.

Bersamaan dengan itu, tradisi salaf dikolaborasikan dengan khalaf (modern) guna menyiapkan santri agar mampu bersaing dengan yang lainnya. Jadi meskipun para santri masih mengkaji kitab-kitab kuning terdahulu, namun juga memiliki wawasan keilmuan mutakhir.

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG