Surah Al-Anbiya Ayat 98-103; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Anbiya Ayat 98-103

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 98-103 ini, menegaskan kepada orang-orang musyrik Mekah bahwa mereka beserta apa yang mereka sembah selain Allah, selama mereka hidup di dunia, seperti patung, binatang, benda-benda mati, pohon atau tempat keramat dan sebagainya akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kemudian Allah menerangkan keadaan penyembah berhala- berhala itu beserta sembahan-sembahan mereka di dalam neraka. Pada ayat ini diterangkan keadaan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta orang-orang yang telah diberi Allah taufik untuk taat kepada-Nya, bahwa mereka tidak dimasukkan ke dalam neraka bahkan mereka sedikit pun tidak didekatkan kepadanya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiya Ayat 98-103

Surah Al-Anbiya Ayat 98
إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنتُمْ لَهَا وَارِدُونَ

Terjemahan: Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.

Tafsir Jalalain: إِنَّكُمْ (Sesungguhnya kalian) hai penduduk Mekah وَمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ (dan apa yang kalian sembah selain Allah) yaitu berhala-berhala حَصَبُ جَهَنَّمَ (adalah makanan Jahanam) maksudnya sebagai bahan bakar أَنتُمْ لَهَا وَارِدُونَ (kalian pasti masuk ke dalamnya) pasti memasukinya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman mengajak dialoq penduduk Makkah yang termasuk orang musyrik Quraisy serta para pengabdi berhala dan patung-patung yang mengikuti agama mereka. إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ (“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan jahanam.”)

Ibnu ‘Abbas berkata: “Yaitu bahan bakarnya. Seperti firman-Nya: وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ (“Yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”) (al-Baqarah: 24)
Ibnu ‘Abbas berkata pula: “حَصَبُ جَهَنَّمَ; adalah pohon-pohon jaHannam.” Di suatu riwayat ia berkata: “Yaitu kayu-kayu neraka Jahannam yang hitam legam.”

Firman-Nya: أَنتُمْ لَهَا وَارِدُونَ (“Kamu pasti masuk ke dalamnya,”) yaitu memasukinya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menegaskan kepada orang-orang musyrik Mekah bahwa mereka beserta apa yang mereka sembah selain Allah, selama mereka hidup di dunia, seperti patung, binatang, benda-benda mati, pohon atau tempat keramat dan sebagainya akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. Hal ini merupakan janji Allah kepada mereka, yang pasti ditepati-Nya.

Dalam ayat ini disebutkan bahwa orang-orang musyrik beserta sembahan-sembahan mereka akan dimasukkan ke dalam neraka, padahal yang berdosa dan memperserikatkan Tuhan dalam hal ini ialah penyembah-penyembahnya. Adapun sembahan-sembahan itu mereka tidak tahu menahu apa yang diperbuat oleh penyembah-penyembahnya.

Hikmah menyertakan sembahan-sembahan itu beserta penyembah-penyembahnya ialah untuk memperlihatkan kepada mereka bahwa kepercayaan mereka terhadap sembahan-sembahan itu sewaktu di dunia adalah tidak benar.

Mereka waktu di dunia dahulu mempercayai bahwa patung-patung dan segala apa yang mereka sembah itu akan memberi syafaat kepada mereka di hari Kiamat, sehingga mereka terhindar dari azab Allah. Dengan perantara sembahan-sembahan itu mereka akan dimasukkan ke dalam surga.

Setelah hari Kiamat datang dan setelah mereka masuk ke dalam neraka bersama-sama dengan sembahan-sembahan yang mereka sembah itu, ternyata sembahan-sembahan itu tidak dapat berbuat sesuatu pun terhadap mereka. Dengan demikian terbuktilah kesalahan kepercayaan yang mereka anut dan kebenaran risalah yang pernah disampaikan Muhammad kepada mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Dikatakan kepada mereka, “Kalian dan tuhan-tuhan selain Allah yang kalian sembah benar-benar akan menjadi bahan bakar neraka jahanam. Kalian akan masuk dan disiksa di dalamnya.”

Surah Al-Anbiya Ayat 99
لَوْ كَانَ هَؤُلَاءِ آلِهَةً مَّا وَرَدُوهَا وَكُلٌّ فِيهَا خَالِدُونَ

Terjemahan: Andaikata berhala-berhala itu Tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya.

Tafsir Jalalain: لَوْ كَانَ هَؤُلَاءِ (Andaikata mereka itu) yakni berhala-berhala itu آلِهَةً (adalah tuhan-tuhan) sebagaimana sangkaan kalian مَّا وَرَدُوهَا (tentulah mereka tidak masuk neraka) mereka tidak akan memasukinya. وَكُلٌّ (Dan semuanya) yakni orang-orang yang menyembah berhala bersama berhala-berhala sesembahan mereka فِيهَا خَالِدُونَ (akal kekal di dalamnya).

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 8-9; Seri Tadabbur Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: لَوْ كَانَ هَؤُلَاءِ آلِهَةً مَّا وَرَدُوهَا (“Andaikata berhala-berhala itu ilah-ilah, tentulah mereka tidak masuk neraka,”) yaitu seandainya berhala-berhala dan tandingan-tandingan yang kalian jadikan sebagai ilah selain Allah itu benar, niscaya mereka tidak akan datang memasuki neraka.

وَكُلٌّ فِيهَا خَالِدُونَ (“Dan semuanya akan kekal di dalamnya,”) yaitu seluruh penyembah dan yang disembah akan kekal di dalamnya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan seandainya sembahan-sembahan yang disembah orang-orang musyrik itu benar tuhan di samping Allah sebagaimana kepercayaan mereka, tentulah sembahan itu akan selamat bersama-sama mereka, karena jika ia tuhan tentulah ia mahakuasa dan perkasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyiksanya, bahkan ia sendirilah yang akan menyiksa orang-orang yang durhaka padanya. Akan tetapi yang terjadi ialah bahwa semuanya itu baik penyembah-penyembah berhala, maupun sembahan-sembahan yang disembah akan kekal di dalam neraka.

Tafsir Quraish Shihab: Jikalau yang kalian sembah selain Allah itu benar-benar tuhan yang pantas disembah, pasti mereka tidak akan masuk ke dalam neraka bersama kalian. Baik penyembah maupun yang disembah, semuanya akan kekal di dalam neraka.

Surah Al-Anbiya Ayat 100
لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَهُمْ فِيهَا لَا يَسْمَعُونَ

Terjemahan: Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar.

Tafsir Jalalain: لَهُمْ (Mereka) yakni keadaan para penyembah berhala itu فِيهَا زَفِيرٌ وَهُمْ فِيهَا لَا يَسْمَعُونَ (merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak dapat mendengar) sesuatu pun karena gemuruhnya api Jahanam yang sangat kuat.

Ayat ini diturunkan sewaktu Ibnu Zaba’ri mengatakan, bahwa penyembah Uzair, Al Masih dan para Malaikat, mereka semuanya dimasukkan ke dalam neraka, sebagaimana kisah yang telah disebutkan tadi.

Tafsir Ibnu Katsir: لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ (“Mereka merintih di dalam api,”) sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ (“Di dalamnya mereka zafiir dan syahiiq,”) (QS. Huud: 106)

Zafiir adalah keluarnya nafas-nafas mereka, sedangkan syahiiq adala hmasuknya nafas-nafas mereka. وَهُمْ فِيهَا لَا يَسْمَعُونَ (“Dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar.”)

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah menerangkan keadaan penyembah berhala- berhala itu beserta sembahan-sembahan mereka di dalam neraka, yaitu: 1. Mereka di dalam neraka mengeluh dan merintih dan nafas mereka menjadi sesak menanggung azab yang tiada terperikan dahsyatnya.

Maka adapun orang-orang yang sengsara, maka (tempatnya) di dalam neraka, di sana mereka mengeluarkan dan menarik nafas dengan merintih. (Hud/11:106)

  1. Penyembah-penyembah berhala yang sedang diazab itu tidak dapat mengetahui keadaan temannya yang lain yang juga diazab, karena mereka tidak sempat memikirkannya, masing-masing mereka sibuk menghadapi azab yang selalu menimpa mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Di dalamnya mereka mengeluarkan napas dari dada dengan suara seperti tercekik akibat kesesakan yang mereka alami. Mereka juga tidak akan mendengarkan sesuatu yang menyenangkan mereka.

Surah Al-Anbiya Ayat 101
إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُم مِّنَّا الْحُسْنَى أُولَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ

Terjemahan: Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka,

Tafsir Jalalain: إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُم مِّنَّا (Sesungguhnya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan dari Kami) yakni kedudukan الْحُسْنَى (yang baik) antara lain adalah para nabi yang telah disebutkan tadi أُولَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ (mereka itu dijauhkan dari neraka Jahanam).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُم مِّنَّا الْحُسْنَى (“Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami.”) ‘Ikrimah berkata: “Yaitu rahmat.” Sedangkan yang lainnya berkata: “Yaitu kebahagiaan.”

أُولَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ (“Mereka itu dijauhkan dari neraka,”) ketika Allah Ta’ala menyebutkan penghuni neraka dan siksaannya disebabkan kesyirikan mereka kepada Allah, Dia mengiringinya dengan menyebutkan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yang berbahagia.

Baca Juga:  Surah Al Baqarah Ayat 166-171; Tafsir dan Terjemahannya

Mereka adalah orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan kebahagiaan dari Allah serta telah mendahulukan amal-amal shalih di dunia. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Bagi orang orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik,” (QS. Yunus: 26). Maka, sebagaimana mereka berbuat amal baik di dunia, maka Allah pun memperbaiki tempat kembali dan pahala mereka serta menyelamatkan mereka dari siksaan dan memberikan mereka pahala yang melimpah. Maka Dia berfirman: أُولَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini diterangkan keadaan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta orang-orang yang telah diberi Allah taufik untuk taat kepada-Nya, bahwa mereka tidak dimasukkan ke dalam neraka bahkan mereka sedikit pun tidak didekatkan kepadanya.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Ibnu Abbas, bahwa waktu ayat 98 diturunkan, orang-orang musyrik Quraisy merasa terpukul karenanya. Mereka berkata, “Muhammad telah memaki-maki tuhan-tuhan kita. Lalu mereka pergi kepada Ibnu az-Ziba ra dan menceritakan tentang ayat yang diturunkan itu, dia menjawab, “Kalau saya berhadapan dengan Muhammad tentulah saya dapat membantahnya.” Orang-orang musyrik Quraisy itu berkata, “Apakah yang kamu katakan.”

Dia menjawab, “Aku mengatakan kepadanya, “Al- Masih disembah orang-orang Nasrani, ‘Uzair disembah orang Yahudi, apakah Al-Masih dan ‘Uzair itu akan menjadi bahan bakar api neraka? Orang-orang Quraisy tertarik hatinya mendengar ucapan Ibnu az-Ziba ra dan merasa telah dapat mengalahkan Muhammad. Maka turunlah ayat 99 sampai 101 Surah ini, yang menegaskan ayat 98 di atas.

Dengan turunnya ayat-ayat ini Ibnu az-Ziba`ra bungkam dan bimbanglah kembali hati orang-orang musyrik. Tetapi karena kedengkian mereka kepada Nabi Muhammad dan kaum Muslimin, maka mereka tetap dalam kemusyrikan mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka yang Kami bimbing untuk mengikuti kebenaran dan melakukan perbuatan baik, serta Kami janjikan untuk mendapat nasib akhir yang baik, akan terjauhkan dari siksa neraka jahannam.

Surah Al-Anbiya Ayat 102
لَا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا وَهُمْ فِي مَا اشْتَهَتْ أَنفُسُهُمْ خَالِدُونَ

Terjemahan: mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka.

Tafsir Jalalain: لَا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا وَهُمْ (Mereka tidak mendengar sedikit pun suaranya) yakni suara gemuruh api neraka itu وَهُمْ فِي مَا اشْتَهَتْ أَنفُسُهُمْ (dan mereka dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka) yakni berupa nikmat surga خَالِدُونَ (hidup kekal).

Tafsir Ibnu Katsir: لَا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا (“Mereka itu dijauhkan dari neraka, mereka tidak mendengar sedikit pun suara api neraka,”) yaitu daya bakarnya terhadap jasad-jasad.

Firman-Nya: وَهُمْ فِي مَا اشْتَهَتْ أَنفُسُهُمْ خَالِدُونَ (“Dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diinginkan oleh mereka,”) Dia menyelamatkan mereka dari kecelakaan dan bahaya serta memberikan kepada mereka sesuatu yang diminta dan disukai. ‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya:

“Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka, “mereka adalah para wali Allah yang melintasi shirath dengan kecepatan yang lebih dahsyat daripada kilat, tinggallah orang-orang kafir di dalamnya sebagai bangkai, sesuai yang telah kami ceritakan.

Sedangkan yang lain berkata, bahkan ayat ini turun sebagai pengecualian dari orang-orang yang disembah. Serta dikeluarkan dari mereka ‘Uzair dan al-Masih, sebagaimana yang dikatakan oleh Hajjaj bin Muhammad al-A’war dari Ibnu Juraij dan ‘Utsman, dari ‘Atha, dari Ibnu ‘Abbas:

إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنتُمْ لَهَا وَارِدُونَ (“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan jahanam. Kalian pasti masuk ke dalamnya.”) kemudian dikecualikan dengan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُم مِّنَّا الْحُسْنَى (“Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami.”) dikatakan, mereka adalah para Malaikat, Isa dan orang-orang yang disembah selain Allah yang serupa dengan mereka. Demikian yang dikatakan oleh ‘Ikrimah, al-Hasan dan Ibnu Juraij.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 24-25; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: . Allah menerangkan keadaan penduduk surga, yaitu:

  1. Mereka tidak mendengar suara api neraka yang ditimbulkan oleh gejolak apinya dan bunyi menghanguskan barang-barang yang sedang dibakar.
  2. Mereka berada dalam kesenangan dan kegembiraan yang tidak putusputusnya, menikmati segala yang mereka inginkan, mendengar segala yang menyenangkan hati dan melihat apa yang disenangi mata mereka.
  3. Mereka tidak dirisaukan oleh bunyi sangkakala yang terakhir, yaitu bunyi sangkakala yang menandakan kebangkitan manusia dari kubur untuk dihisab, Allah berfirman:

Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah). (az-Zumar/39: 68)

  1. Mereka disambut para malaikat dengan menyampaikan kabar gembira atas kemenangan mereka. Seakan-akan malaikat menyampaikan kepada mereka, “Inilah hari yang pernah dijanjikan Allah kepadamu hai orang-orang yang beriman sewaktu di dunia dahulu, pada saat ini Allah melimpahkan pahala yang besar dan kesenangan yang abadi sebagai balasan atas keimanan, ketaatan, dan kesucian dirimu dari perbuatan dosa dengan mengerjakan amal-amal saleh dan dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang-Nya.”

Tafsir Quraish Shihab: Mereka tidak akan mendengar desisan apinya, dan akan kekal dalam kesenangan yang mereka rasakan.

Surah Al-Anbiya Ayat 103
لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Terjemahan: Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata): “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu”.

Tafsir Jalalain: لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ (Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar) yaitu perintah yang menyuruh hamba Allah dimasukkan ke dalam neraka وَتَتَلَقَّاهُمُ (dan mereka disambut) dijemput الْمَلَائِكَةُ (oleh para Malaikat) sewaktu mereka keluar dari kuburannya masing-masing, seraya berkata kepada mereka, هَذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ (“Inilah hari kalian yang telah dijanjikan kepada kalian”) sewaktu kalian hidup di dunia.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ (“Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar,”) yang dimaksud adalah kematian. Pendapat ini di-riwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq, dari Yahya bin Rabi’ah, dari ‘Atha.

Dikatakan pula bahwa yang dimaksud dengan kedahsyatan yang besar adalah tiupan sangkakala. Pendapat ini dikatakan oleh al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas dan Abu Sinan, Sa’id bin Sinan asy-Syaibani serta dipilih oleh Ibnu Jarir dalam tafsimya.

Firman-Nya: وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ (“Dan mereka disambut oleh para Malaikat: ‘Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu,’”) yaitu para Malaikat berkata kepada mereka dalam rangka memberikan kabar gembira pada hari kembalinya mereka jika mereka keluar dari kubur-kubur mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka tidak gentar melihat bencana besar yang membuat takut orang-orang kafir itu. Sebaliknya, mereka akan disambut oleh para malaikat dengan ucapan selamat, seraya berkata, “Ini adalah hari penuh nikmat yang pernah dijanjikan Tuhan kepada kalian.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 98-103 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S