Surah Al-Isra Ayat 110-111; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Isra' Ayat 110-111

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Isra Ayat 110-111 ini, Allah swt menjelaskan tentang keesaan Zat-Nya dengan nama-nama yang baik. Nama-nama yang baik itu hanyalah menggambarkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, bukan wujud Allah yang berdiri sendiri sebagai-mana anggapan kaum musyrikin.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Nabi diajari cara memuji Allah swt yang memiliki sifat-sifat kemahaesaan, kesempurnaan, dan keagungan. Oleh karena itu, hanya Allah yang berhak menerima segala macam pujian-pujian dan rasa syukur dari hamba dan makhluk-Nya atas segala nikmat yang diberikan kepada mereka.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Isra Ayat 110-111

Surah Al-Isra’ Ayat 110
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا

Terjemahan: “Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”.

Tafsir Jalalain: Disebutkan bahwa Nabi saw. sering mengucapkan kalimat ya Allah, ya Rahman; artinya wahai Allah, wahai Yang Maha Pemurah. Maka orang-orang musyrik mengatakan,

“Dia melarang kita untuk menyembah dua tuhan sedangkan dia sendiri menyeru tuhan lain di samping-Nya,” maka turunlah ayat berikut ini, yaitu: قُلِ (Katakanlah) kepada mereka

ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ (“Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman) artinya namailah Dia dengan mana saja di antara kedua nama itu; atau serulah Dia seumpamanya kamu mengatakan, ‘Ya Allah, ya Rahman,’ artinya wahai Allah, wahai Yang Maha Pemurah

أَيًّا مَّا (nama yang mana saja”) huruf ayyan di sini bermakna syarath sedangkan huruf maa adalah zaidah; artinya mana saja di antara kedua nama itu تَدْعُوا (kamu seru) maka ia adalah baik; makna ini dijelaskan oleh ayat selanjutnya, yaitu:

فَلَهُ (Dia mempunyai) Dzat yang mempunyai kedua nama tersebut الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى (asmaul husna) yaitu nama-nama yang terbaik, dan kedua nama tersebut, yaitu lafal Allah dan lafal Ar-Rahman adalah sebagian daripadanya.

Sesungguhnya asmaul husna itu sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis ialah seperti berikut ini, yaitu: Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Penyayang, Raja di dunia dan akhirat, Yang Maha Suci,

Yang Maha Sejahtera, Yang Maha Memberi keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Mulia, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Memiliki segala keagungan, Yang Maha Menciptakan, Yang Maha Mengadakan, Yang Maha Memberi rupa, Yang Maha Penerima tobat, Yang Maha Mengalahkan, Yang Maha Memberi, Yang Maha Pemberi rezeki, Yang Maha Membuka, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Menyempitkan rezeki,

Yang Maha Melapangkan rezeki, Yang Maha Merendahkan, Yang Maha Mengangkat, Yang Maha Memuliakan, Yang Maha Menghinakan, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Melihat, Yang Maha Memberi keputusan, Yang Maha Adil, Yang Maha Lembut, Yang Maha Waspada, Yang Maha Penyantun, Yang Maha Agung, Yang Maha Pengampun,

Yang Maha Mensyukuri, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Besar, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Memberi azab, Yang Maha Penghisab, Yang Maha Besar, Yang Maha Dermawan, Yang Maha Mengawasi, Yang Maha Memperkenankan, Yang Maha Luas, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Mulia, Yang Maha Membangkitkan, Yang Maha Menyaksikan, Yang Maha Hak, Yang Maha Menolong, Yang Maha Kuat, Yang Maha Teguh, Yang Maha Menguasai,

Yang Maha Terpuji, Yang Maha Menghitung, Yang Maha Memulai, Yang Maha Mengembalikan, Yang Maha Menghidupkan, Yang Maha Mematikan, Yang Maha Hidup, Yang Maha Memelihara makhluk-Nya, Yang Maha Mengadakan, Yang Maha Mengagungkan, Yang Maha Satu, Yang Maha Esa, Yang Maha Melindungi, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Berkuasa,

Yang Maha Mendahulukan, Yang Maha Mengakhirkan, Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir, Yang Maha Lahir, Yang Maha Batin, Yang Maha Menguasai, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Melimpahkan kebaikan, Yang Maha Memberi tobat, Yang Maha Membalas, Yang Maha Memaafkan, Yang Maha Penyayang, Raja Diraja, Yang Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan, Yang Maha Adil,

Yang Maha Mengumpulkan, Yang Maha Kaya, Yang Maha Memberi Kekayaan, Yang Maha Mencegah, Yang Maha Memberi kemudaratan, Yang Maha Memberi kemanfaatan, Yang Maha Memiliki cahaya, Yang Maha Memberi petunjuk, Yang Maha Menciptakan keindahan, Yang Maha Kekal, Yang Maha Mewarisi, Yang Maha Membimbing, Yang Maha Penyabar, Yang Maha. Demikianlah menurut hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi.

Selanjutnya Allah swt. berfirman: وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ (Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu) dengan mengeraskan bacaanmu dalam salatmu, maka orang-orang musyrik akan mendengar bacaanmu itu jika kamu mengerasi suaramu karena itu mereka akan mencacimu dan mencaci Alquran serta mencaci pula Allah yang telah menurunkannya

Baca Juga:  Surah An-Nur Ayat 22; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَلَا تُخَافِتْ بِهَا (dan janganlah pula merendahkan) melirihkan (bacaannya) supaya para sahabatmu dapat mengambil manfaat darinya وَابْتَغِ (dan carilah) bersengajalah بَيْنَ ذَلِكَ (di antara kedua itu) yakni di antara suara keras dan suara pelan سَبِيلًا (jalan tengah) yaitu cara yang pertengahan.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman, katakanlah hai Muhammad kepada orang-orang musyrik yang mengingkari sifat rahmat bagi Allah, dan yang menolak menamakan-Nya ar-Rahman terhadap-Nya: ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى (“Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asmaa’ al-Husnaa [nama-nama yang terbaik].”)

Maksudnya, tidak ada perbedaan antara penyebutan kalian dengan sebutan Allah atau ar-Rahman, karena Dia mempunyai Asmaa’ al-Husnaa. Telah diriwayatkan oleh Mak-hul, bahwasanya ada seseorang dari kaum musyrik yang mendengar Nabi dalam sujudnya mengucapkan:

“Ya Rahmaan, ya Rahiim (wahai yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang).” Lalu orang itu beranggapan bahwa beliau telah menyeru satu orang dengan dua nama, lalu Allah Ta’ala menurunkan ayat ini. Demikianlah yang diriwayatkan dari Ibnu `Abbas, keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Firman-Nya: وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ (“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu.”) (IbnuAbbas) mengatakan, jika Rasulullah mengerjakan shalat bersama para sahabatnya, maka beliau membaca ayat al-Qur’an dengan suara keras. Dan ketika mendengar bacaan itu, orang-orang musyrik mencela al-Qur’an dan mencela Rabb yang menurunkan serta orang yang membawanya.

Lebih lanjut, Ibnu Abbas menuturkan, maka Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad saw: “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu,” yakni dalam bacaanmu, sehingga akan didengar oleh orang-orang musyrik, lalu mereka akan mencela al-Qur’an.

وَلَا تُخَافِتْ بِهَا (“Dan janganlah pula merendahkannya.”) Yakni dari para sahabatmu, sehingga engkau tidak dapat memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada mereka yang akhirnya mereka tidak dapat mengambilnya darimu. وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا (“Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.”)

Demikianlah hadits yang ditakhrij oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab ash-Shahihain.

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ (“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu,”) sehingga akan bercerai berai darimu. وَلَا تُخَافِتْ بِهَا (“Dan jangan pula merendahkannya) sehingga orang yang bermaksud mendengarnya tidak dapat mendengar, siapa tahu mereka akan mengambil pelajaran dari sebagian yang didengarnya, sehingga dengannya ia dapat mengambil manfaat.

وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا (“Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.”) Hal yang sama juga dikemukakan oleh `Ikrimah, al-Hasan al-Bashri dan Qatadah: “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan bacaan al-Qur’an dalam shalat.”

Syu’bah menuturkan dari Ibnu Masud, “Dan jangan pula merendahkannya,” dari orang yang telah memasang kedua telinganya guna mendengarnya.

Ketika turun ayat, “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara keduanya itu,” dikatakan kepada Abu Bakar: “Angkat suaramu sedikit.” Dan kepada `Umar dikatakan: “Rendahkanlah suaramu sedikit lagi.”

Tafsir Kemenag: Sabab nuzul ayat ini, menurut riwayat Ibnu Jarir ath-thabari dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasul saw pada suatu hari salat di Mekah, lalu beliau berdoa. Dalam doanya itu, beliau mengucapkan kata-kata, “Ya Allah Ya Rahman.”

Orang-orang musyrik yang mendengar ucapan Nabi itu berkata, “Perhatikanlah orang yang telah keluar dari agamanya ini, dilarangnya kita berdoa kepada dua Tuhan sedangkan dia sendiri berdoa kepada dua Tuhan. Maka turunlah ayat ini.

Menurut riwayat Adh-ahhak, sebab turun ayat ini ialah bahwa orang Yahudi bertanya kepada Rasul mengapa kata ar-Rahman sedikit beliau sebutkan, padahal di dalam Taurat, Allah banyak menyebutnya.” Maka turunlah ayat ini.

Bilamana latar belakang turun ayat ini menurut riwayat yang pertama, maka Allah menjelaskan kepada kaum musyrikin bahwa kedua lafal itu (Allah dan ar-Rahman) walaupun berbeda namun sama-sama mengungkap-kan Zat Yang Maha Esa, Tuhan satu-satunya yang disembah. Pemahaman yang demikian sesuai dengan keterangan ayat 111.

Bila latar belakang turunnya ayat ini adalah riwayat yang kedua, maka Allah menjelaskan kepada orang Yahudi bahwa lafal itu sama-sama baik untuk mengutarakan apa yang dimaksud.

Orang Yahudi memandang kata ar-Rahman lebih baik, karena sifat itu yang paling disukai Allah, sehingga banyak disebut dalam Taurat. Ar-Rahman banyak sekali disebut dalam Taurat karena Nabi Musa a.s. berwatak keras dan pemarah. Oleh karena itu, Allah banyak menyebutkan kata-kata ar- Rahman agar beliau bergaul dengan umatnya dengan kasih sayang, dan beliau sebagai seorang nabi tentulah mencontoh sifat-sifat Allah.

Baca Juga:  Surah Al-Isra' Ayat 82; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Pada ayat ini, Allah swt menjelaskan tentang keesaan Zat-Nya dengan nama-nama yang baik. Nama-nama yang baik itu hanyalah menggambarkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, bukan wujud Allah yang berdiri sendiri sebagai-mana anggapan kaum musyrikin.

Sesudah menyatakan kesamaan kedua kata itu, Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa kedua lafal itu baik digunakan untuk berdoa, karena Tuhan mempunyai al-asma’ul husna (nama-nama yang paling baik). Tuhan memberikan keterangan dengan al-husna (paling baik) untuk nama-nama-Nya, karena mengandung pengertian yang mencakup segala sifat-sifat kesempurnaan, kemuliaan, dan keindahan yang tidak satu makhluk pun yang menyerupai.

Orang-orang Yahudi sesungguhnya tidaklah memungkiri nama-nama Allah yang baik itu. Hanya saja mereka memandang ar-Rahman nama yang terbaik di antara nama-nama Tuhan lainnya. Inilah yang tidak dibenarkan dalam ayat ini karena kedua nama tersebut termasuk al-asma’ul husna.

Pendapat seperti di atas juga dianut oleh kaum Muslimin, dimana menurut mereka, ada nama yang lebih tinggi di antara al-asma’ul husna. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw mendengar seorang laki-laki membaca doa:

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, supaya aku benar-benar bersaksi bahwasanya Engkau Allah yang tiada tuhan melainkan Engkau, Yang Esa lagi tempat bergantung segala makhluk. Yang tiada beranak dan tiada dilahirkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. (Riwayat at-Tirmidzi dari Abdullah bin Buraidah al-Aslami dari ayahnya)

Setelah mendengar doa itu Nabi saw bersabda:

Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, benar-benar laki-laki itu berdoa dengan nama Tuhan Yang Agung (al-asma’ al-A’dham), yang bila Allah diseru dengan (menyebut) nama itu niscaya Dia menyempurnakannya, dan bila Allah diminta dengan (menyebut) nama itu niscaya Dia memberi. (Riwayat Ibnu Jarir ath-thabari dari Sa’ad)

Diriwayatkan pula oleh Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Abi Hatim dari Asma’ binti Yazid bahwa Nabi saw bersabda:

Nama Allah Ta’ala Yang Maha Agung terletak pada dua ayat ini, yaitu: Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (al-Baqarah/2: 163)

Dan ayat yang kedua ialah pada pembukaan Surah ali ‘Imran: Alif Lam Mim. Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus-mengurus (makhluk-Nya). (ali ‘Imran/3: 1-2)

Kemudian pada akhir ayat ini, Allah memerintahkan kepada Rasul agar di waktu salat jangan membaca ayat dengan suara keras dan jangan pula dengan suara yang rendah, tetapi di antara keduanya. Yang dimaksud dengan membaca ayat ini mencakup membaca basmalah dan ayat lainnya.

Jika Rasul membaca dengan suara yang keras, tentu didengar oleh orang-orang musyrik dan mereka lalu mengejek, mengecam, dan mencaci-maki Al-Qur’an, Nabi, dan sahabat-sahabatnya. Namun jangan pula membaca dengan suara yang terlalu rendah sehingga para sahabat tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Larangan ini turun ketika Rasul masih berada di Mekah berdasarkan riwayat Ibnu ‘Abbas.

Menurut riwayat Ibnu ‘Abbas, ketika Rasul berada di Mekah disuruh membaca ayat dengan suara yang tidak terlalu keras, tetapi juga tidak terlalu rendah, dilarang membaca dengan suara yang pelan dan rendah sehingga tidak terdengar. Tetapi sesudah hijrah ke Medinah, persoalan itu tidak dibahas lagi kecuali membaca ayat dalam salat dengan suara yang keras di luar batas tetap tidak dibenarkan.

Surah Al-Isra Ayat 111
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

Terjemahan:”Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya”.

Tafsir Jalalain: وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ (Dan katakanlah, “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan tidak mempunyai penolong) untuk menjaga-Nya (dari) sebab الذُّلِّ (kehinaan) artinya Dia tidak dapat dihina karenanya Dia tidak membutuhkan penolong

وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا (dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya) artinya besarkanlah Dia dengan pengagungan yang sempurna daripada sifat memiliki anak, mempunyai sekutu, hina dan hal-hal lain yang tidak layak bagi keagungan dan kebesaran-Nya.

Urutan pujian dalam bentuk demikian untuk menunjukkan bahwa Dialah yang berhak untuk mendapatkan semua pujian mengingat kesempurnaan Zat-Nya dan kesendirian-Nya di dalam sifat-sifat-Nya. Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya meriwayatkan sebuah hadis melalui Muaz Al-Juhani dari Rasulullah saw. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, “Tanda kemuliaan ialah (kalimat): Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya,” sampai dengan akhir surat. Wallahu a`lam.

Baca Juga:  Surah Al-Isra' ayat 90-93; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا (“Dan katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak.’”) Sebagaimana Allah telah menetapkan bagi diri-Nya al-Asmaa’ al-Husnaa (nama-nama yang baik), Dia juga mensucikan diri-Nya dari berbagai macam kekurangan. Di mana Dia telah berfirman:

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ (“Dankatakanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya.”) Melainkan Dia adalah Rabb yang Mahaesa, yang menjadi tempat bergantung, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang sebanding dengan-Nya.

وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ (“Dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong.”) Maksudnya, Dia bukanlah seorang yang hina, sehingga membutuhkan penolong atau pembantu atau penasihat, tetapi Dia adalah Rabb yang Mahatinggi, Pencipta segala sesuatu, sendiri, tanpa membutuhkan sekutu.

Dia juga yang mengatur dan menentukan sesuai dengan kehendak-Nya semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Mengenai firman-Nya ini, Mujahid berkata: “Dia tidak pernah menyalahi seseorang dan tidak pula mengharap bantuan seseorang.”

وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا (“Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.”) Maksudnya, agungkan dan tinggikanlah Dia setinggi-tingginya dari apa yang dikatakan oleh orang-orang dhalim yang melampaui batas, Dia Mahatinggi lagi Mahabesar. WallaHu a’lam.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan tiga sifat bagi Allah swt:

Pertama: Bahwa sesungguhnya Allah tidak memiliki anak, karena siapa yang memiliki anak tentu tidak menikmati segala nikmat yang dia miliki, tetapi sebagian nikmat itu dipersiapkan untuk anaknya yang ditinggalkannya bilamana dia sudah meninggal dunia. Mahasuci Allah swt dari sifat demikian.

Orang yang punya anak terhalang untuk menikmati seluruh haknya dalam segala keadaan. Oleh sebab itu, manusia tidak patut menerima pujian dari segala makhluk. Dengan ayat ini, Allah swt menjelaskan dan membantah pandangan orang Yahudi yang mengatakan ‘Uzair putra Tuhan, juga pendapat orang Nasrani yang mengatakan bahwa Al-Masih putra Tuhan, atau anggapan orang-orang musyrikin bahwa malaikat-malaikat adalah putri-putri Tuhan.

Kedua: Bahwa sesungguhnya Allah swt tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya. Jika sekutu-Nya ada, tentu sulit untuk menentukan mana di antara keduanya yang berhak menerima pujian, rasa syukur, dan pengabdian para makhluk. Salah satu di antara dua tuhan tadi tentu memerlukan pertolongan dari yang lainnya dan akhirnya tidak ada satupun tuhan yang berdiri sendiri dan berdaulat secara mutlak di atas alam ini.

Ketiga: Bahwa sesungguhnya tak seorang pun di antara orang-orang yang hina diberi Allah kekuasaan yang akan melindunginya dari musuh yang mengancamnya.

Demikianlah Allah swt suci dari segala sifat-sifat yang mengurangi kesempurnaan-Nya, agar para hamba-Nya tidak ragu memanjatkan doa, syukur, dan pujian kepada-Nya. Kemudian Nabi saw diperintahkan untuk mengagungkan-Nya, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Mengagungkan dan mensucikan Allah itu adalah sebagai berikut:

Pertama: Mengagungkan Allah swt pada Zat-Nya dengan meyakini bahwa Allah itu wajib ada-Nya karena Zat-Nya sendiri tidak membutuhkan sesuatu yang lain. Dia tidak memerlukan sesuatu dari wujud ini.

Kedua: Mengagungkan Allah swt pada sifat-Nya, dengan meyakini bahwa hanya Dialah yang memiliki segala sifat-sifat kesempurnaan dan jauh dari sifat-sifat kekurangan.

Ketiga: Mengagungkan Allah swt pada af’al-Nya (perbuatan-Nya) dengan meyakini bahwa tidak ada suatu pun yang terjadi dalam alam ini, melainkan sesuai dengan hikmah dan kehendak-Nya.

Keempat: Mengagungkan Allah swt pada hukum-hukum-Nya, dengan meyakini bahwa hanya Dialah yang menjadi Penguasa yang ditaati di alam semesta ini, dimana perintah dan larangan bersumber darinya. Tidak ada seorang pun yang dapat membatasi dan membatalkan segala ketentuan-Nya atas sesuatu. Dialah yang memuliakan dan Dia pula yang menghinakan orang-orang yang Dia kehendaki.

Kelima: Mengagungkan nama-nama-Nya, yaitu menyeru dan menyebut Allah dengan nama-nama yang baik (al-asma’ul husna). Tidak menyifati Tuhan melainkan dengan sifat-sifat kesucian dan kesempurnaan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al- Isra’ ayat 110-111 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S