Surah Al-Mu’min Ayat 66-68; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Mu'min Ayat 66-68

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Mu’min Ayat 66-68 ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar mengatakan kepada orang-orang musyrik dan orang-orang kafir bahwa Allah melarangnya menyembah tuhan yang mereka sembah, selain dari Allah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pengertian menyembah tuhan-tuhan selain Allah itu ialah menghambakan diri kepada sesuatu, menganggapnya mempunyai kekuatan gaib seperti kekuatan Allah, memohon pertolongan, dan meminta sesuatu kepadanya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’min Ayat 66-68

Surah Al-Mu’min Ayat 66
قُلۡ إِنِّى نُهِيتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَمَّا جَآءَنِىَ ٱلۡبَيِّنَٰتُ مِن رَّبِّى وَأُمِرۡتُ أَنۡ أُسۡلِمَ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Terjemahan: “Katakanlah (ya Muhammad): “Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Tuhanku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.

Tafsir Jalalain: قُلۡ إِنِّى نُهِيتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ (Katakanlah, “Sesungguhnya aku dilarang menyembah sesembahan yang kalian seru) yang kalian sembah مِن دُونِ ٱللَّهِ لَمَّا جَآءَنِىَ ٱلۡبَيِّنَٰتُ (selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan) yakni bukti-bukti tauhid مِن رَّبِّى وَأُمِرۡتُ أَنۡ أُسۡلِمَ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ (dari Rabbku, dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: “Katakanlah hai Muhammad kepada orang-orang musyrik itu bahwa Allah melarang seseorang beribadah kepada selain-Nya, berupa berhala-berhala, tandingan-tandingan dan patung-patung.

Tafsir Kemenag: Pada ayat-ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar mengatakan kepada orang-orang musyrik dan orang-orang kafir bahwa Allah melarangnya menyembah tuhan yang mereka sembah, selain dari Allah.

Pengertian menyembah tuhan-tuhan selain Allah itu ialah menghambakan diri kepada sesuatu, menganggapnya mempunyai kekuatan gaib seperti kekuatan Allah, memohon pertolongan, dan meminta sesuatu kepadanya.

Dalam ayat ini disebutkan bahwa tuhan-tuhan itu berupa patung-patung. Akan tetapi, pengertian ini mencakup segala macam benda atau makhluk yang disembah dan dimohon pertolongan kepadanya, seperti sungai-sungai, batu-batu keramat, kuburan yang dianggap keramat, dan sebagainya.

Selanjutnya Rasulullah diperintahkan untuk menyatakan bahwa Allah melarangnya menyembah selain Allah, dan mengemukakan bukti-bukti dan dalil-dalil berupa ayat-ayat Al-Qur’an, maupun berupa perintah agar memperhatikan kejadian alam ini. Dengan merenungkan kejadian alam dan ayat-ayat Al-Qur’an, maka orang akan sampai kepada kesimpulan bahwa yang berhak disembah itu hanyalah Allah semata.

Pada akhir ayat ini, Allah memerintahkan agar tunduk dan patuh kepada-Nya, memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya, karena Dialah Tuhan Pemilik semesta alam.

Tafsir Quraish Shihab: Katakan, wahai Rasul, “Aku benar-benar dilarang untuk menyembah tuhan-tuhan yang kalian sembah selain Allah, saat bukti-bukti dari Tuhanku telah datang. Aku juga diperintahkan untuk menyerahkan semua urusanku kepada Allah, Tuhan alam semesta.”

Surah Al-Mu’min Ayat 67
هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٍ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلًا ثُمَّ لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّكُمۡ ثُمَّ لِتَكُونُواْ شُيُوخًا وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبۡلُ وَلِتَبۡلُغُوٓاْ أَجَلًا مُّسَمًّى وَلَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ

Terjemahan: “Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).

Baca Juga:  Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 188 dan Terjemahannya

Tafsir Jalalain: هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ (Dialah Yang menciptakan kalian dari tanah) yang menciptakan bapak moyang kalian yaitu Nabi Adam dari tanah liat ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٍ (kemudian dari setetes nuthfah) yakni air mani ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٍ (sesudah itu dari segumpal darah) yakni dari kental ثُمَّ يُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلًا (kemudian dikeluarkan-Nya kalian sebagai seorang anak) lafal Thiflan sekalipun bentuknya mufrad atau tunggal, bermakna jamak.

ثُمَّ (kemudian) dibiarkan-Nya kalian hidup لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّكُمۡ (supaya kalian sampai kepada masa dewasa) masa sempurnanya kekuatan kalian, yaitu di antara umur tiga puluh sampai dengan empat puluh tahun ثُمَّ لِتَكُونُواْ شُيُوخًا (kemudian -dibiarkan-Nya kalian hidup- sampai tua) dapat dibaca Syuyuukhan atau Syiyuukhan وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبۡلُ (di antara kalian ada yang diwafatkan sebelum itu) sebelum dewasa dan sebelum mencapai usia tua. Dia melakukan hal tersebut kepada kalian supaya kalian hidup,

وَلِتَبۡلُغُوٓاْ أَجَلًا مُّسَمًّى (dan supaya kalian sampai pada ajal yang ditentukan) yakni waktu yang telah dibataskan bagi hidup kalian وَلَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ (dan supaya kalian memahami) bukti-bukti yang menunjukkan keesaan-Nya, kemudian kalian beriman kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dia Tabaaraka wa Ta’ala pun telah menjelaskan, bahwa tidak ada satu pun selain-Nya yang berhak diibadahi dalam firman-Nya Yang Mahaagung kebesarannya: “Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua.” Yaitu Dialah yang merubah-rubah kalian dalam semua tahab/fase tersebut, Mahaesa yang tidak ada sekutu bagi-Nya berdasarkan perintah, aturan dan ketentuan-Nya.

وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبۡلُ (“dan di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu.”) yaitu sebelum ada dan keluar ke alam dunia ini, bahkan ibunya telah menggugurkannya. Ada pula di antara mereka yang diwafatkan di waktu kecil, di waktu muda dan di waktu tua. Seperti firman Allah: (“Agar kami jelaskan kepadamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.”)(al-Hajj: 5)

Sedangkan di dalam ayat ini Allah berfirman: وَلِتَبۡلُغُوٓاْ أَجَلًا مُّسَمًّى وَلَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ (“Dan [Kami berbuat demikian] supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami[nya].”) Ibnu Juraij berkata: “Supaya kalian mengingat hari kebangkitan.”

Tafsir Kemenag: Dialah yang menjadikan manusia dari tanah, menjadi setetes mani, dari setetes mani menjadi sesuatu yang melekat, dan segumpal darah menjadi segumpal daging, kemudian dilahirkan ke dunia dalam bentuk manusia.

Jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Allah menciptakan manusia dari tanah ialah bapak manusia yaitu Adam yang diciptakan Allah dari tanah. Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa yang dimaksudkan dengan Allah menjadikan manusia dari tanah ialah Allah menjadikan manusia dari sari pati yang berasal dari tanah.

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 74-76; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Seorang bapak dan seorang ibu memakan makanan yang berasal dari tanah, dari binatang ternak, dan tumbuh-tumbuhan. Binatang ternak memakan tumbuh-tumbuhan dan berkembang dengan menggunakan zat-zat yang berasal dari tanah. Makanan yang dimakan ibu atau bapak itu merupakan sumber utama untuk membentuk sel telur atau sperma.

Sel telur ibu bertemu dengan sperma bapak dalam rahim ibu, sehingga menjadi segumpal darah dan seterusnya. Allah lalu menerangkan bahwa manusia yang diciptakan-Nya dari tanah itu mengalami hidup dalam tiga masa; yaitu:

1. Masa kanak-kanak. 2. Masa dewasa. 3. Masa tua. Di antara manusia ada yang diwafatkan Allah pada masa kanak-kanak, ada pula pada masa dewasa, dan ada yang diwafatkan setelah berusia lanjut. Ketentuan kapan seorang manusia meninggal itu berada di tangan Allah semata.

Proses kejadian manusia itu diterangkan dalam ayat ini agar dapat menjadi bahan renungan dan pemikiran bagi orang-orang yang berakal, sehingga mereka beriman kepada Allah Pencipta seluruh makhluk.

Tafsir Quraish Shihab: Allahlah yang menciptakan kalian, wahai anak Adam, dari tanah. Dari tanah itu Dia menciptakan nutfah yang kemudian Dia ubah juga menjadi ‘alaqah. Setelah itu Dia mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam bentuk bayi. Selanjutnya, adakalanya Dia memanjangkan umur kalian, hingga mencapai kesempurnaan fisik dan daya pikir, atau memanjangkannya lagi hingga mencapai usia lanjut, dan adakalanya kalian dimatikan sebelum mencapai usia muda, atau tua.

Allah menciptakan kalian dengan cara seperti itu agar kalian sampai pada suatu waktu tertentu, yaitu hari kebangkitan, dan agar kalian memikirkan hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari penciptaan kalian melalui fase-fase seperti itu(1).

(1) Pengertian nuthfah, ‘alaqah dan mudlghah yang terdapat dalam surat al-Sajdah: 7, 8 dan 9; al-Mu’minûn: 12, 13 dan 14; Ghâfir: 67; dan al-Hajj: 5, adalah sebagai berikut. Kata nuthfah mengandung beberapa arti, di antaranya adalah ‘sperma’. Bahkan, dalam ayat 37 surat al-Qiyâmah, pengertian kata nuthfah lebih sempit lagi: ‘bagian dari sperma’.

Ilmu pengetahuan modern membuktikan bahwa bagian dimaksud adalah spermatozoa yang terdapat di dalam sperma laki-laki. Spermatozoa itulah yang membuahi sel telur. Kata ‘alaqah, dari segi etimologi, mengandung arti ‘darah kental’ atau ‘darah encer yang berwarna sangat merah’. Tetapi, kalau dilihat dari perspektif ilmu pengetahuan, kata ‘alaqah berarti ‘sel-sel janin yang menempel pada dinding rahim setelah terjadi pembuahan spermatozoa terhadap ovum’.

Sel-sel itu pada mulanya adalah satu, kemudian terpecah menjadi beberapa sel yang semakin lama semakin bertambah banyak, kemudian bergerak ke arah dinding rahim dan tenggelam, untuk selanjutnya menimbulkan pendarahan di sekitarnya. Sedangkan kata mudlghah berarti janin yang telah melewati fase ‘alaqah, yaitu setelah sel-sel janin itu menempel dan menyebar pada dinding rahim secara acak dan diselimuti selaput.

Baca Juga:  Surah An-Nisa Ayat 160-162; Seri Tadabbur Al Qur'an

Fase mudlghah ini berlangsung beberapa pekan untuk selanjutnya memasuki fase ‘izham. Mudlghah itu sendiri, secara garis besar, terdiri atas sel-sel berbentuk manusia yang kelak menjadi janin, dan sel-sel yang tidak berbentuk manusia yang melapisi sel-sel pertama tadi.

Sel-sel kedua ini bertugas melindungi bakal janin dan memberi suplai makanan. Terakhir, kata ‘izhâm berarti ‘tulang’. Akhir-akhir ini, dunia geneologi membuktikan bahwa pusat pembentukan tulang terdapat di lapisan tengah sel mudlghah, yaitu fase sebelum ‘izhâm. Dengan demikian, sel tulang mempunyai pusat pembentukan tersendiri yang terpisah dari sel-sel pembentukan otot.

Surah Al-Mu’min Ayat 68
هُوَ ٱلَّذِى يُحۡىِۦ وَيُمِيتُ فَإِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ

Terjemahan: “Dialah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya bekata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.

Tafsir Jalalain: هُوَ ٱلَّذِى يُحۡىِۦ وَيُمِيتُ فَإِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرًا (Dialah yang menghidupkan dan yang mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan) artinya, Dia berkehendak mewujudkan sesuatu فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ (Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ maka jadilah ia.”) lafal فَيَكُونُ dapat pula dibaca فَيَكُونُ akan tetapi dengan memperkirakan adanya huruf An sebelumnya. Yakni, sesuatu yang dikehendaki itu langsung ada sesudah ada kehendak-Nya, sebagaimana yang telah digambarkan oleh makna firman yang tadi itu.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah berfirman: هُوَ ٱلَّذِى يُحۡىِۦ وَيُمِيتُ (“Dialah yang menghidupkan dan mematikan.”) yaitu Dialah yang Mahaesa dalam semua itu dan tidak ada salah satu pun selain-Nya yang kuasa melakukannya.

فَإِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ (“Maka apabila Dia menetapkan suatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah.’ Maka jadilah ia.”) yaitu tidak ada yang menentang dan tidak ada yang mencegah. Bahkan apa saja yang dikehendaki-Nya, pasti terjadi dan tidak ada yang mustahil.

Tafsir Kemenag: Allah memerintahkan agar Rasulullah menyampaikan kepada orang-orang musyrik bahwa Allah yang wajib disembah itu adalah Tuhan Yang menghidupkan manusia dari tidak ada kepada ada, menghidupkan kembali sesudah matinya, dan mematikan seluruh makhluk pada waktu-waktu yang telah ditentukan-Nya. Dia adalah Tuhan Yang Mahakuasa dan Maha Pencipta. Jika berkehendak menciptakan sesuatu, Allah cukup mengatakan, “Jadilah,” maka jadilah sesuatu itu.

Tafsir Quraish Shihab: Allahlah yang menghidupkan dan mematikan. Maka, jika berkehendak mewujudkan sesuatu, Dia hanya akan mengatakan, “Jadilah!” Sesuatu yang dikehendaki itu pun jadilah.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Mu’min Ayat 66-68 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S