Surah Al-Mu’minun Ayat 76-83; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Mu'minun Ayat 76-83

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Mu’minun Ayat 76-83 ini, menjelaskan bagaimana orang-orang kafir itu menghina dan memperolok-olokkan Muhammad dengan mengatakan bahwa mereka sudah diberi janji yang tidak ada kebenarannya sama sekali sebagaimana kepada nenek moyang mereka yang telah dijanjikan seperti janji-janji Muhammad ini, tetapi tak ada satu pun janji-janji para rasul yang terdahulu itu yang telah terbukti.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Bagaimana mereka akan percaya dan menerima saja ucapan-ucapan Muhammad yang telah gila itu yang tak ada buktinya sama sekali dan mungkin ucapan-ucapannya itu hanya dongengan orang dahulu kala.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minun Ayat 76-83

Surah Al-Mu’minun Ayat 76
وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُم بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ

Terjemahan: Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.

Tafsir Jalalain: وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُم بِالْعَذَابِ (Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka) kelaparan itu فَمَا اسْتَكَانُوا (tetapi mereka masih tidak tunduk) masih tidak mau merendahkan diri لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ (kepada Rabb mereka, dan juga mereka tidak mau ber-tadharru’ kepada-Nya) maksudnya mereka tidak mau juga meminta kepada Allah dengan berdoa kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman: وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُم بِالْعَذَابِ (“Dan sesungguhnya Kami pernah menimpakan adzab kepada mereka,”) yakni, Kami menguji mereka dengan berbagai musibah dan kesulitan. فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ (“Maka mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka, dan [juga] tidak memohon [kepada-Nya] dengan merendahkan diri.”) Maksudnya, hal itu tidak mencegah mereka dari kekufuran dan penentangan yang ada pada mereka, tetapi justru mereka terus pada penyimpangan dan kesesatan mereka, dan mereka tidak tunduk atau khusyu’.

Tafsir Kemenag: Allah telah menimpakan azab kepada mereka pada Perang Badar sehingga banyak pemimpin dan pembesar mereka yang mati terbunuh tetapi mereka tak pernah tunduk kepada Allah dan tak pernah patuh mengikuti ajaran dan perintah-Nya.

Mereka tidak pernah mau berendah hati kepada-Nya, bahkan tetap sombong dan takabur dan tidak pernah berhenti melakukan kezaliman dan perbuatan dosa. Mereka bertambah sesat dan bertambah giat memerangi agama Allah sehingga mereka menyiapkan tentara dan alat-alat perang yang lebih banyak dan lebih besar lagi untuk memerangi Rasulullah. Allah berfirman:

Tetapi mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati ketika siksaan Kami datang menimpa mereka? Bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan. (al-Anam/6:43).

Tafsir Quraish Shihab: Mereka telah Kami siksa dengan suatu siksaan berupa, antara lain, kematian dan kelaparan. Tetapi setelah itu mereka tidak juga tunduk kepada Tuhannya. Mereka malah terus bersikap arogan dan sombong, segera setelah siksaan itu lenyap.

Surah Al-Mu’minun Ayat 77
حَتَّى إِذَا فَتَحْنَا عَلَيْهِم بَابًا ذَا عَذَابٍ شَدِيدٍ إِذَا هُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ

Terjemahan: Hingga apabila Kami bukakan untuk mereka suatu pintu tempat azab yang amat sangat (di waktu itulah) tiba-tiba mereka menjadi putus asa.

Tafsir Jalalain: حَتَّى (Hingga) lafal Hattaa menunjukkan makna Ibtida atau permulaan إِذَا فَتَحْنَا عَلَيْهِم بَابًا ذَا (apabila Kami bukakan untuk mereka suatu pintu yang di dalamnya ada) terdapat عَذَابٍ شَدِيدٍ (azab yang keras) yaitu perang Badar tempat mereka terbunuh إِذَا هُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ (tiba-tiba mereka menjadi berputus asa) putus harapan dari semua kebaikan.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Ta’ala: حَتَّى إِذَا فَتَحْنَا عَلَيْهِم بَابًا ذَا عَذَابٍ شَدِيدٍ إِذَا هُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ (“Hingga apabila Kami bukakan untuk mereka suatu pintu yang ada adzab yang amat sangat [di waktu itulah] tiba-tiba mereka menjadi putus asa.”) Maksudnya, sehingga apabila ketetapan Allah sampai kepada mereka dan hari Kiamat pun telah datang kepada mereka secara tiba-tiba, lalu Dia menimpakan kepada mereka adzab yang tiada pernah mereka sangka-sangka, maka pada saat itu mereka merasa putus asa dari segala bentuk kelepasan dan hilangnya harapan mereka.

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan beberapa nikmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya, di mana Dia telah memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati, yaitu akal dan pemahaman yang dengan-nya mereka mengingat berbagai hal serta mengambil pelajaran dari alam berupa tanda-tanda yang menunjukkan keesaan Allah, dan bahwasanya Dia Maha berbuat dan memilih apa saja yang Dia kehendaki

Tafsir Kemenag: Sebenarnya mereka yang telah jauh tersesat dari jalan yang benar itu tidak akan sadar dan insaf kecuali bila datang hari Kiamat, dan dibukakan untuk mereka pintu siksaan yang berat. Pada waktu itulah baru mereka menyesal dan mengharapkan ampunan dari Allah, tetapi saat itu bukanlah saat untuk bertobat.

Penyesalan mereka tak ada gunanya lagi dan tobat mereka pun tidak akan diterima. Mereka pasti dijerumuskan ke dalam neraka sebagai balasan atas keingkaran dan kedurhakaan mereka di dunia sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di bumi (tanpa) mengindahkan kebenaran dan karena kamu selalu bersuka ria (dalam kemaksiatan). (Dikatakan kepada mereka), “Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahanam, dan kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong.” (al-Mu`min/40: 75-76).

Tafsir Quraish Shihab: Mereka akan tetap pada sikap membangkang, sehingga ketika Kami menyiksa mereka lagi dengan siksaan yang pedih seperti kelaparan dan kematian di dunia, mereka menjadi bingung dan putus asa dari segala kebaikan, dan tidak menemukan jalan keluar.

Surah Al-Mu’minun Ayat 78
وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

Terjemahan: Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.

Tafsir Jalalain: وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَ (Dan Dialah Yang menciptakan) yang menjadikan لَكُمُ السَّمْعَ (bagi kamu sekalian pendengaran) lafal As Sam’u maknanya Al Asmaa’, dalam bentuk jamak وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ (penglihatan dan kalbu) hati. قَلِيلً (Amat sedikitlah) lafal Maa mengukuhkan makna yang terkandung dalam lafal Qaliilan مَّا تَشْكُرُونَ (kalian bersyukur).

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan beberapa nikmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya, di mana Dia telah memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati, yaitu akal dan pemahaman yang dengan-nya mereka mengingat berbagai hal serta mengambil pelajaran dari alam berupa tanda-tanda yang menunjukkan keesaan Allah, dan bahwasanya Dia Mahaberbuat dan memilih apa saja yang Dia kehendaki.

Firman-Nya: قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ (“Amat sedikit kamu bersyukur.”) Maksudnya, sangat sedikit sekali rasa syukur kalian kepada Allah Ta’ala atas segala nikmat yang telah dilimpahkan kepada kalian.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah mengaruniakan kepada manusia pendengaran, pengelihatan dan hati nurani. Sekiranya manusia mau memperhatikan dan memikirkan karunia Allah tersebut, niscaya dia akan mengakui betapa besarnya nikmat Allah yang amat ajaib itu, betapa teliti dan halusnya ciptaan-Nya.

Telinga yang tampak amat sederhana bentuknya dapat menangkap berbagai macam suara yang berbeda-beda. Suara binatang, burung-burung, suara yang terjadi pada alam sekitar seperti suara angin yang menderu, suara petir yang mengguntur dan beraneka ragam suara yang ditimbulkan oleh peradaban manusia seperti suara kendaraan dan mesin-mesin, suara musik yang mengalun, dan suara yang merdu.

Telinga dapat membedakan suara itu satu per satu sehingga manusia dapat menentukan sikap terhadap apa yang didengarnya. Mata dapat menangkap cahaya dan bentuk sesuatu, dapat membedakan berbagai macam warna, dapat melihat keindahan alam, dapat menyelidiki mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya.

Baca Juga:  Surah Al-Qalam Ayat 8-16; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Kemudian hati yang dapat merasakan dan menghAyati berbagai macam perasaan, meneliti setiap kejadian, dan mengambil kesimpulan darinya untuk menentukan sikap terhadapnya. Kalau manusia benar-benar mempergunakan ketiga nikmat itu sebaik-baiknya tentulah dia akan mendapat manfaat yang banyak sekali dan akhirnya mereka sampai kepada kesimpulan bahwa pemberi nikmat dan karunia itu adalah Mahaluas ilmu-Nya.

Mahakuasa atas segala sesuatu, Dia patut dipuji dan disyukuri atas segala anugerah-Nya itu. Tetapi ternyata sedikit sekali manusia yang sampai kepada derajat itu. Seperti yang difirmankan Allah:

Dan sungguh, Kami telah meneguhkan kedudukan mereka (dengan kemakmuran dan kekuatan) yang belum pernah Kami berikan kepada kamu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka, karena mereka (selalu) mengingkari Ayat-Ayat Allah dan (ancaman) azab yang dahulu mereka perolok-olokkan telah mengepung mereka. (al-Ahqaf/46: 26)

Allah menjelaskan kepada Nabi Muhammad sikap kebanyakan manusia yang tidak mau bersyukur kepada-Nya, seperti tersebut dalam firman-Nya: Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau sangat menginginkannya. (Yusuf/12:103).

Tafsir Quraish Shihab: Bagaimana kalian dapat mengingkari Allah padahal Dialah yang menciptakan pendengaran agar kalian dapat mendengar kebenaran, menciptakan penglihatan agar kalian dapat memperhatikan dan mengamati alam raya dengan segala isinya,

dan menciptakan pikiran agar kalian dapat mengetahui kemahaagungan- Nya, sehingga kalian beriman? Kalian benar-benar tidak mensyukuri Sang Penciptanya dengan beriman dan taat kepada-Nya, kecuali sangat sedikit.

Surah Al-Mu’minun Ayat 79
وَهُوَ الَّذِي ذَرَأَكُمْ فِي الْأَرْضِ وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Terjemahan: Dan Dialah yang menciptakan serta mengembang biakkan kamu di bumi ini dan kepada-Nya-lah kamu akan dihimpunkan.

Tafsir Jalalain: وَهُوَ الَّذِي ذَرَأَكُمْ (Dan Dialah yang mengembangbiakkan kalian) menciptakan kalian فِي الْأَرْضِ وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (di bumi ini, dan hanya kepada-Nyalah kalian akan dihimpunkan) akan dibangkitkan menjadi hidup kembali kemudian menghadap kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala memberitahukan tentang kemampuan-Nya yang agung dan kekuasaan-Nya yang tangguh dalam menciptakan makhluk dan mengembang-biakkannya di seluruh belahan bumi ini dengan berbagai macam jenis dan aneka ragam bahasa dan sifat mereka.

Kemudian pada hari Kiamat kelak, mereka akan dikumpulkan dari yang paling awal di antara mereka sampai yang paling akhir pada waktu yang telah ditentukan. Tidak ada satu orang pun yang ditinggalkan, baik kecil maupun besar, laki-laki maupun perempuan, mulia maupun hina, melainkan Dia mengembalikan hidup (mereka) secara keseluruhan sebagaimana Dia telah menciptakan pertama kali.

Tafsir Kemenag: Di antara karunia Allah kepada manusia ialah menciptakan manusia dengan sempurna, dibekali dengan pendengaran, penglihatan dan mata hati dan potensi lainnya sehingga dia dapat memanfaatkan semua yang diciptakan Allah di bumi dan di langit yang memang diciptakan oleh Allah untuk manusia sebagai tersebut dalam firman-Nya:

Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu. (al- Baqarah/2: 29). Dan firman-Nya: Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. (Luqman/31: 20)

Dia menciptakan manusia lengkap dengan indera, potensi dan kecenderungan serta hati nurani agar dia benar-benar bisa menjadi khalifah di bumi. Tak ada makhluk di bumi ini yang lebih sempurna penciptaannya daripada manusia seperti tersebut dalam firman-Nya:

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, (at-Tin/95: 4)

Dengan keistimewaan itu manusia harus bersyukur kepada Penciptanya dengan memanfaatkan karunianya itu dengan sebaik-baiknya, beramal dan bekerja untuk kemaslahatan dunia dan akhiratnya. Karena nanti Allah akan mengumpulkan manusia seluruhnya di padang Mahsyar untuk menerima perhitungan amal perbuatannya selama hidup di dunia.

Tafsir Quraish Shihab: Dialah yang menciptakan kalian di bumi, dan hanya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan untuk menerima pembalasan di hari kiamat.

Surah Al-Mu’minun Ayat 80
أوَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Terjemahan: Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?

Tafsir Jalalain: وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي (Dan Dialah yang menghidupkan) dengan meniupkan roh ke dalam Mudhghah atau janin وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ (dan mematikan, dan Dialah yang mengatur pertukaran malam dan siang) malam gelap, dan siang menjadi terang, serta menambah panjang dan mengurangi waktu salah satu di antara keduanya.

أَفَلَا تَعْقِلُونَ (Maka apakah kalian tidak memahaminya?) maksudnya memahami ciptaan Allah swt., kemudian kalian mengambil pelajaran daripadanya.

Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu, Dia berfirman: وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ (“Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan,”) yakni, menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur berantakan dan mematikan umat-umat yang hidup.

وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ (“Dan Dialah yang [mengatur pertukaran malam dan siang.”) Yakni, dan kuasa-Nya juga untuk mengendalikan malam dengan siang, masing-masing menuntut untuk saling silih berganti, tidak hilang dan tidak pula digantikan oleh masa yang lain selain keduanya.

Firman-Nya: أَفَلَا تَعْقِلُونَ (“Maka apakah kamu tidak memahaminya?”) Maksudnya, apakah kalian tidak memiliki akal yang menunjukkan keberadaan Yang Mahamulia lagi Maha-mengetahui yang telah mengalahkan segala sesuatu, menundukkan segala sesuatu kepada-Nya?

Tafsir Kemenag: Di antara karunia Allah ialah menghidupkan dan mematikan, manusia tidak akan dapat menikmati kehidupan dunia kalau Allah tidak mengaruniakan roh kepadanya. Dengan adanya roh di dalam jasadnya barulah manusia dapat berusaha, berikhtiar dan berpikir untuk mencapai apa yang diinginkan dan dicita-citakannya.

Tidak ada yang mengetahui rahasia hidup mati ini kecuali Allah. Telah berabad-abad bahkan beribu tahun manusia berusaha untuk mengetahui rahasia roh ini agar dia dapat hidup selamanya, tetapi sampai sekarang tidak ada seorang ilmuwan pun yang sanggup mengungkap rahasia itu. Karena soal roh itu adalah rahasia yang gaib yang tidak diketahui kecuali oleh Allah sebagai tersebut dalam firman-Nya:

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” (al-Isra’/17: 85)

Selanjutnya Dialah yang menjadikan pergantian antara malam dan siang. Malam dijadikan waktu untuk istirahat dan siang dijadikan waktu untuk berusaha dan bekerja. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya dunia ini kalau yang ada hanya siang saja, demikian pula sebaliknya.

Mungkin dunia ini dan segala makhluk yang ada di atasnya akan mati terbakar karena selalu ditimpa terik matahari yang amat panas atau mungkin dunia ini akan mati dengan segala isinya kalau yang ada hanya malam saja sepanjang waktu, karena tidak ada matahari yang menjadi sumber energi dan menjadi sebab hidupnya makhluk di dunia ini.

Allah menegur sikap dan tindakan manusia yang tidak mau mengingat betapa besar karunia-Nya kepada mereka. Mengapa mereka tidak memikirkan dan memperhatikannya, agar mereka bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya atas segala nikmat dan karunia-Nya itu?.

Tafsir Quraish Shihab: Dia pula yang menghidupkan dan mematikan sesuatu. Atas perintah dan ketentuan hukum-Nya, siang dan malam datang silih berganti dengan jarak jurasi yang berbeda-beda. Tidakkah kalian memikirkan bukti kemahakuasaan-Nya dan memahami kewajiban beriman kepada-Nya dan kepada hari kebangkitan?[1].

[1] Dalam Alquran banyak ditemukan Ayat-Ayat yang berbicara mengenai gejala siang dan malam. Hal itu menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan umat manusia akan begitu dalamnya arti yang dikandung dalam siang dan malam sebagai gejala alam, dan mendorong para cendekiawan untuk berpikir dan mengadakan penelitian.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 63-65; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Perbedaan siang dan malam ini menimbulkan dua hal: perbedaan waktu panjang pendeknya (jurasi), dan perbedaan dalam beberapa gejala alam yang dapat dilihat. Pertama, perbedaan jurasi. Siang adalah suatu masa yang dimulai dengan menyingsingnya fajar sampai terbenamnya matahari di ufuk barat, hingga seolah menyentuh permukaan bumi, seperti yang kita saksikan sehari-hari, padahal sebenarnya pinggir atas matahari tidak berada di ufuk.

Itu terjadi karena sinar yang terpancar itu melengkung pada saat refraksi ketika sinar sedang berjalan pada lapisan-lapisan udara sampai tiba kepada penglihatan kita.

Dengan demikian, ia tampak seolah-olah berada di ufuk. Tepian itu sebenarnya bearada di bawah ufuk sekitar 35 menit lengkung. Sedangkan malam, adalah suatu masa yang merupakan kelanjutan siang. Jumlah masa siang dan malam sama dengan satu masa rotasi bumi pada porosnya dari barat sampai ke timur. Antara siang dan malam terdapat dua masa, yaitu masa remang barat dan masa remang timur.

Panjang jurasi siang berbeda dari satu tempat ke tempat lain dan tergantung pada musim. Begitu juga bahwa jurasi malam, waktu-waktu salat dan puasa ditentukan berdasarkan posisi bola matahari terhadap ufuk.

Kedua, perbedaan dalam beberapa gejala alam. Gejala-gejala itu bermacam-macam bentuknya yang muncul akibat interaksi antara sinar matahari–dengan kandungan sinar positif, visibel dan takvisibel–dengan partikel-partikel yang mengalirkan listrik, atmosfer, permukaan laut dan sahara, dan seterusnya.

Selain itu, gejala itu dapat pula berbentuk gerhana matahari, gerhana bulan, bintang, bintang berekor, planet dan meteor yang pada siang hari tidak tampak karena tertutup oleh sinar matahari yang sangat terang.

Letak perbedaan paling menonjol antara siang dan malam adalah adanya cahaya pada siang hari yang disebabkan oleh pancaran sinar langsung matahari yang jatuh pada atmosfer yang terdiri atas molekul-molekul dan mengandung atom-atom debu.

Sinar itu kemudian terefleksi dan terpancar ke seluruh penjuru.
Pada saat udara cerah, atom-atom debu sangat kecil dan posisi bola matahari sangat tinggi di atas ufuk, yang akan terpancar dan tampak oleh mata adalah warna biru. Langit pun akan tampak biru. Tetapi, pada saat matahari terbit atau terbenam, ufuk akan tampak berwarna oranye dan perlahan-lahan menjadi merah.

Cahaya biru yang terpancar hanya tampak sedikit sekali. Oleh karena itu, langit pun berwarna biru kegelapan. Pada saat matahari terbenam di ufuk [barat], kita dapat menyaksikan warna hijau di lapisan atasnya selama satu detik atau kurang. Gejala ini disebut “kilauan hijau” yang mudah dilihat di atas permukaan laut, di balik puncak gunung atau di balik dinding rumah.

Gejala ini timbul akibat inklinasi cahaya matahari yang menyebabkan larutnya visi matahari menjadi beberapa warna, termasuk warna hijau ini.
Singkatnya, sinar matahari mengandung beberapa warna, visibel dan takvisibel, yang masing-masing berbeda panjang gelombangnya.

Gelombang-gelombang itu sendiri memiliki beberapa ciri seperti refraksi, refleksi, separasi, interpenetrasi, polarisasi dan inklinasi. Apabila tanda-tanda itu berinteraksi dengan atmosfer pada kondisi tertentu, kita akan melihat, sebagai akibatnya, gejala siang, fatamorgana, pelangi, korona matahari dan gejala-gejala lainnya.

Pada saat matahari tenggelam di balik ufuk, langit akan tampak beraneka warna, sesuai dengan tingkat separasi sinar matahari di dalam lapisan atas udara. Dan ketika bola matahari semakin menurun, lembayung di ufuk barat akan menghilang secara perlahan. Warnanya pun akan sirna.
Lalu apabila turunnya bola matahari itu mencapai kelengkungan 18,5 derajat, langit akan berwarna gelap.

Para ahli falak (miqatiyyun: penentu waktu) menamakan gejala timbulnya beraneka warna pada saat itu sebagai masa petang, sebagai tanda masuknya waktu salat Isya. Pada saat petang itu muncul sinar cornetist (kornetis) yang berbentuk kerucut dengan alasnya yang berada di ufuk barat.

Pada musim dingin, sinar kornetis itu akan bertambah panjang, hingga puncak kerucut itu dapat mencapai azimut. Pada tengah malam, sinar itu muncul pada waktu syuruk mula-mula seperti kepala puncak kerucut yang semakin lama semakin tinggi. Alas kerucut itu pun semakin melebar. Setelah itu, ketika matahari berada pada posisi 18,5 derajat di bawah ufuk timur, mulai masuk waktu salat Subuh.

Pada saat itu mulai muncul lembayung timur secara perlahan-lahan dan berlawanan dengan munculnya lembayung barat. Apa yang diistilahkan dengan fajar sidik tidak lain merupakan sinar kornetis yang mencapai tingkat tertingginya ketika matahari berada pada posisi 18,5 derajat lebih di bawah ufuk timur.

Belakangan ini ditemukan bahwa matahari mempunyai lapisan luar yang sangat tipis dan melebar sangat jauh sampai hampir menyentuh atmosfer. Lapisan itulah yang menghasilkan beraneka warna sinar kornetis. Gejala-gejala yang disebutkan sebagai contoh tadi akan tampak jelas pada saat langit tidak berawan dan tidak berangin yang mengandung debu.

Apabila langit berawan, yang akan muncul adalah warna gelap. Dan apabila awan itu mengandung rintik hujan–yang dihasilkan dari perkawinan proton dan neotron–ia akan berinteraksi dengan sinar matahari. Pada gilirannya akan muncul gejala pelangi dengan aneka warnanya yang indah.

Apabila awan itu merupakan selaput yang mengandung biji-biji kecil berbentuk kristal segi enam yang terbuat dari air beku, biji-biji kristal itu akan berinteraksi dengan sinar matahari sehingga menimbulkan refraksi sinar dari permukaan menuju ke dalam untuk kemudian terefleksi di lapisan dalam, kemudian teretraksi kembali ke luar.

Pada kondisi-kondisi tertentu, kita akan dapat menyaksikan korona yang berbentuk lingkaran besar dan berwarna di sekitar matahari. Di tengah kegelapan malam, akan muncul bintang-bintang berkelap-kelip di kubah langit yang tampak seolah-olah berjarak tidak jauh dari kita. P

ada kenyataannya, bintang-bintang itu berada pada kejauhan bertahun-tahun sinar dari kita. Saat itu, di kubah langit akan terlihat pula planet-planet, meteor dan bintang berekor, yang juga tampak seolah-olah dekat. Bahkan kita hampir tidak merasakan perbedaan jaraknya. Fenomena ini mengingatkan kita akan makna firman Allah Swt. yang berarti “Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terjaga, sedangkan mereka berpaling dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat di dalamnya” (Q., s. al-Anbiyâ’: 32).

Dan, seperti telah diterangkan sebelumnya, bahwa selain sinar yang muncul dari matahari terdapat juga sinar yang muncul dari partikel-partikel yang terpancar dari kawasan matahari sangat aktif dan membawa aliran listrik dan sinar tajam ultraviolet. Partikel-partikel itu kemudian berinteraksi dengan lapisan atas udara dengan terpengaruh oleh magnet di sekitar bumi, yang pada gilirannya akan mempengaruhi sinar utara dan selatan hingga tampak berwarna gelap di utara bagaikan tabir warna hijau kemerah-merahan yang sangat indah.

Gejala ini dapat berlangsung beberapa jam di langit utara dan dapat disaksikan pada beberapa malam di saat matahari berada pada titik kulminasi aktifitasnya. Tabir hijau kemerah-merahan itu tidak saja dapat disaksikan di belahan utara langit, tetapi juga di bagian tengah di atas daerah katulistiwa.

Pada awan dan udara terdapat aliran listrik yang menghasilkan kilat dan sinar pada beberapa awan yang tinggi. Beraneka fenomena dan gejala alam itu membuat kita menangkap makna firman Allah Swt. yang artinya berbunyi “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi dan perbedaan siang dan malam benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum cerdik cendekiawan.”

Dari situ tampak jelas bahwa perbedaan- perbedaan yang terdapat pada berbagai gejala alam adalah sesuatu yang timbul akibat faktor yang tidak mungkin dicampurtangani oleh manusia. Hanya Allahlah yang menguasai perberbedaan siang dan malam.

Baca Juga:  Surah An-Naml Ayat 63; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Manusia tidak memiliki kemampuan apa-apa untuk mengendalikannya. Allah, dengan ukuran yang tepat dan ketentuan yang pasti, mempergilirkan siang dan malam yang panjang dan pendeknya pun bervariasi sepanjang tahun.

Surah Al-Mu’minun Ayat 81
بَلْ قَالُوا مِثْلَ مَا قَالَ الْأَوَّلُونَ

Terjemahan: Sebenarnya mereka mengucapkan perkataan yang serupa dengan perkataan yang diucapkan oleh orang-orang dahulu kala.

Tafsir Jalalain: بَلْ قَالُوا مِثْلَ مَا قَالَ الْأَوَّلُونَ (Sebenarnya mereka mengucapkan perkataan yang serupa dengan perkataan yang diucapkan oleh orang-orang dahulu kala)

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah Ta’ala berfirman seraya menceritakan tentang orang-orang yang mengingkari adanya kebangkitan, yang mereka menyerupai pendahulu mereka dari kalangan kaum pendusta: بَلْ قَالُوا مِثْلَ مَا قَالَ الْأَوَّلُونَ

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah menerangkan keingkaran orang-orang kafir Mekah itu sehingga mereka mengulang kembali apa yang diucapkan oleh orang-orang kafir dahulu seakan-akan mata mereka telah buta, telinga mereka telah tuli dan hati mereka telah terkunci mati untuk memperhatikan dan memikirkan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Nabi Muhammad saw, yang tidak dapat mereka bantah lagi.

Mereka mengatakan bahwa hari kebangkitan itu hanyalah omong kosong belaka yang selalu diada-adakan oleh Nabi Muhammad dan para rasul sebelumnya. Semenjak dahulu kala telah ada nabi-nabi dan rasul-rasul yang mengucapkan kata-kata seperti yang diucapkan Muhammad, tetapi nyatanya sampai sekarang telah berlalu masa yang demikian panjang hari Kiamat dan hari kebangkitan itu belum juga datang.

Allah menggambarkan ucapan nenek moyang mereka tentang hari kebangkitan dengan firman-Nya: Sungguh, yang demikian ini sudah dijanjikan kepada kami dan kepada nenek moyang kami dahulu, ini hanyalah dongeng orang-orang terdahulu!” (al-Mu’minun/23: 83.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka tidak melakukan itu, tetapi malah mengikuti pendusta-pendusta terdahulu dan mengatakan seperti apa yang mereka katakan.

Surah Al-Mu’minun Ayat 82
قَالُوا أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ

Terjemahan: Mereka berkata: “Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?

Tafsir Jalalain: قَالُوا (Mereka berkata) orang-orang dahulu itu, أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ (“Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan hidup kembali?) memang kalian akan dibangkitkan kembali oleh-Nya.

Kedua huruf Hamzah pada dua tempat ini dapat dibaca Tahqiq, sehingga bacaannya menjadi A-innaa. Sebagaimana huruf Hamzah yang keduanya dapat pula dibaca Tas-hil, sehingga bacaannya menjadi Ayinnaa. Sehubungan dengan bacaan ini ada dua pendapat, yaitu men-tahqiq-kan kedua Hamzahnya dan men-tashil-kan Hamzah yang kedua.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالُوا أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ (“Sebenarnya mereka mengucapkan perkataan yang serupa dengan perkataan yang diucapkan oleh orang-orang dahulu kala. Mereka berkata: ‘Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?’”) Yakni, mereka menjauhi terjadinya kebangkitan tersebut setelah mereka menjadi hancur berantakan.

Tafsir Kemenag: Dalam Ayat ini Allah menjelaskan bagaimana mereka mengulang-ulang ucapan nenek moyang mereka dahulu. Jika mereka sudah mati dan tulang belulang hancur luluh menjadi tanah, apakah mereka akan dibangkitkan kembali? Menurut mereka, ini adalah suatu hal yang mustahil dan tak mungkin terjadi, karena sampai sekarang belum ada seorang pun nenek moyang mereka yang telah mati dan menjadi tanah itu dapat hidup kembali. Ucapan mereka ini sangat keliru.

Tafsir Quraish Shihab: Dengan maksud mengingkari hari kebangkitan, mereka berkata, “Apakah kita akan dibangkitkan kembali setelah kita mati, menjadi debu dan tulang belulang?”

Surah Al-Mu’minun Ayat 83
لَقَدْ وُعِدْنَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا هَذَا مِن قَبْلُ إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

Terjemahan: Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!”.

Tafsir Jalalain: لَقَدْ وُعِدْنَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا هَذَا (Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman dengan ini) yaitu dengan masalah akan dibangkitkan menjadi hidup kembali sesudah mati مِن قَبْلُ إِنْ هَذَا (dahulu, tiada lain) tidak lain إِلَّا أَسَاطِيرُ (ia hanyalah dongengan-dongengan) kebohongan-kebohongan الْأَوَّلِينَ (orang-orang dahulu kala”) wazan lafal Asaathiir sama dengan lafal Al Adhaahiik dan Al-A`aajiib, adalah bentuk jamak dari lafal Usthuurah artinya dongengan atau fiksi.

Tafsir Ibnu Katsir: لَقَدْ وُعِدْنَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا هَذَا مِن قَبْلُ إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ (“Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman [dengan] ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala.”) Yang mereka maksudkan, kebangkitan manusia itu merupakan suatu hal yang mustahil, sesungguhnya hal itu hanya diberitahukan oleh orang yang memperolehnya dari buku-buku orang-orang terdahulu dan peninggalan mereka.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bagaimana orang-orang kafir itu menghina dan memperolok-olokkan Muhammad dengan mengatakan bahwa mereka sudah diberi janji yang tidak ada kebenarannya sama sekali sebagaimana kepada nenek moyang mereka yang telah dijanjikan seperti janji-janji Muhammad ini, tetapi tak ada satu pun janji-janji para rasul yang terdahulu itu yang telah terbukti.

Bagaimana mereka akan percaya dan menerima saja ucapan-ucapan Muhammad yang telah gila itu yang tak ada buktinya sama sekali dan mungkin ucapan-ucapannya itu hanya dongengan orang dahulu kala. Pada Ayat-Ayat lain terdapat penjelasan mengenai ucapan-ucapan mereka beserta bantahan dan penolakan terhadap ucapan-ucapan itu seperti firman Allah:

(Orang-orang kafir) berkata, “Apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kita telah menjadi tulang belulang yang hancur?” Mereka berkata, “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.” Maka pengembalian itu hanyalah dengan sekali tiupan saja. Maka seketika itu mereka hidup kembali di bumi (yang baru). (an-Nazi’at/79: 10-14)

Dan firman-Nya: Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah (Muhammad), “Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. (Yasin/36: 78-79)

Dan firman-Nya: Adakah dia menjanjikan kepada kamu, bahwa apabila kamu telah mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, sesungguhnya kamu akan dikeluarkan (dari kuburmu)? Jauh! Jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu,

(kehidupan itu) tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, (di sanalah) kita mati dan hidup dan tidak akan dibangkitkan (lagi), Dia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan kita tidak akan mempercayainya. (al-Mu`minun/23: 35-38).

Tafsir Quraish Shihab: “Kami dan nenek moyang kami,” kata mereka melanjutkan, “dijanjikan dengan janji yang sama. Padahal janji itu hanyalah mitos dan dongeng orang terdahulu belaka.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Mu’minun Ayat 76-83 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S