Surah An-Naba Ayat 17-30; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Naba Ayat 17-30

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Naba Ayat 17-30 ini, menerangkan bahwa hari kebangkitan itu pasti terjadi pada waktu yang telah ditetapkan. Pada hari itu diputuskan siksa yang akan diterima orang yang kafir di dalam neraka dan pahala yang akan diterima orang-orang mukmin di dalam surga, baik orang-orang terdahulu, sekarang, maupun yang kemudian.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dijelaskan di sini bahwa neraka Jahanam itu menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang durhaka dan melampaui batas, yang tidak mau mendengar ajakan para rasul yang membawa petunjuk dan kebenaran.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naba Ayat 17-30

Surah An-Naba Ayat 17
إِنَّ يَوۡمَ ٱلۡفَصۡلِ كَانَ مِيقَٰتًا

Terjemahan: “Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan,

Tafsir Jalalain: إِنَّ يَوۡمَ ٱلۡفَصۡلِ (Sesungguhnya hari keputusan) di antara semua makhluk كَانَ مِيقَٰتًا (adalah suatu waktu yang ditetapkan) waktu yang ditentukan untuk memberi pahala dan menimpakan siksaan.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman seraya memberitahukan tentang hari keputusan, yaitu hari Kiamat, dimana hari itu telah ditentukan waktunya dengan pasti, tidak dapat bertambah dan tidak pula berkurang. Dan tidak juga waktunya diketahui secara pasti kecuali oleh Allah.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa hari kebangkitan itu pasti terjadi pada waktu yang telah ditetapkan. Pada hari itu diputuskan siksa yang akan diterima orang yang kafir di dalam neraka dan pahala yang akan diterima orang-orang mukmin di dalam surga, baik orang-orang terdahulu, sekarang, maupun yang kemudian. Di sana akan sangat jauh beda nasib dan kehidupan mereka sesuai dengan derajat amal perbuatan mereka ketika di dunia.

Allah telah menjadikan hari itu sebagai batas antara dunia dan akhirat, tempat seluruh makhluk akan dihimpun di Padang Mahsyar agar masing-masing dapat melihat dan menyaksikan apa yang telah mereka perbuat selama hidup di dunia, sehingga orang yang berbuat kebajikan akan menerima pahalanya dan orang yang berbuat kejahatan akan menerima siksaan. Kemudian Allah menerangkan tanda-tanda hari itu dan kedahsyatannya dengan firman-Nya dalam ayat berikut ini.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya hari penentuan bagi semua makhluk adalah waktu yang telah ditetapkan untuk kebangkitan.

Surah An-Naba Ayat 18
يَوۡمَ يُنفَخُ فِى ٱلصُّورِ فَتَأۡتُونَ أَفۡوَاجًا

Terjemahan: “yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok,

Tafsir Jalalain: يَوۡمَ يُنفَخُ فِى ٱلصُّورِ (Yaitu hari ditiup sangkakala) menjadi Badal dari lafal Yaumal Fashl; atau merupakan Bayan daripadanya; yang meniupnya adalah malaikat Israfil فَتَأۡتُونَ (lalu kalian datang) dari kuburan kalian menuju ke Mauqif atau tempat penantian أَفۡوَاجًا (berkelompok-kelompok) secara bergelombang yang masing-masing gelombang berbeda dari gelombang yang lainnya.

Tafsir Ibnu Katsir: يَوۡمَ يُنفَخُ فِى ٱلصُّورِ فَتَأۡتُونَ أَفۡوَاجًا (“Yaitu hari [yang pada waktu itu] ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok.”) Mujahid mengatakan: “Berkelompok-kelompok.” Ibnu Jarir mengemukakan: “Yaitu, masing-masing umat datang bersama Rasulnya sendiri-sendiri.”

Tafsir Kemenag: Pada hari Kiamat itu, ditiup sangkakala yang kedua oleh malaikat Israfil yang menyebabkan seluruh makhluk akan dibangkitkan kembali, bangkit dari kuburnya masing-masing dan berkumpul di Padang Mahsyar. Tiap-tiap umat dipimpin oleh rasulnya, sehingga datang berkelompok-kelompok seperti dalam firman Allah. (Ingatlah), pada hari (ketika) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya. (al-Isra’/17: 71).

Tafsir Quraish Shihab: Pada hari ketika sangkakala ditiup sebagai pertanda hari kebangkitan. Ketika itulah kelompok demi kelompok berbondong-berbondong menuju padang mahsyar.

Surah An-Naba Ayat 19
وَفُتِحَتِ ٱلسَّمَآءُ فَكَانَتۡ أَبۡوَٰبًا

Terjemahan: “dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu,

Tafsir Jalalain: وَفُتِحَتِ ٱلسَّمَآءُ (Dan dibukalah langit) dapat dibaca Futtihat dan Futihat, artinya langit terbelah karena para malaikat turun فَكَانَتۡ أَبۡوَٰبًا (maka terdapatlah beberapa pintu) yakni langit itu membentuk beberapa pintu.

Tafsir Ibnu Katsir: وَفُتِحَتِ ٱلسَّمَآءُ فَكَانَتۡ أَبۡوَٰبًا (dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu,

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa pada hari keputusan itu langit terbuka dan mempunyai pintu-pintu yang memisahkan satu bagian dengan bagian yang lain. Maksudnya langit itu terbelah-belah sehingga mempunyai celah-celah seakan-akan terbuka dan mempunyai pintu-pintu. Hal ini dijelaskan oleh firman Allah yang lain: Apabila langit terbelah. (al-Insyiqaq/84: 1)

Hal demikian terjadi karena muncul perubahan besar dalam susunan planet-planet di alam raya, yang menyebabkan perubahan dalam daya tarik dan perjalanan orbitnya. Kejadian itu menjurus ke arah kehancuran alam raya, dan juga kehancuran alam dunia.

Tafsir Quraish Shihab: Langit pun terbelah dari segala arah membentuk pintu-pintu

Surah An-Naba Ayat 20
وَسُيِّرَتِ ٱلۡجِبَالُ فَكَانَتۡ سَرَابًا

Terjemahan: “dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.

Tafsir Jalalain: وَسُيِّرَتِ ٱلۡجِبَالُ (Dan dijalankanlah gunung-gunung) maksudnya, lenyap dari tempat-tempatnya فَكَانَتۡ سَرَابًا (maka menjadi fatamorganalah ia) menjadi debu yang beterbangan, atau dengan kata lain gunung-gunung itu menjadi sangat ringan jalannya bagaikan debu yang diterbangkan.

Tafsir Ibnu Katsir: وَسُيِّرَتِ ٱلۡجِبَالُ فَكَانَتۡ سَرَابًا (“Dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.”) yang demikian itu sama dengan firman Allah: “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan.” (an-Naml: 88).

Baca Juga:  Surah An-Nisa Ayat 105-109; Seri Tadabbur Al Qur'an

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini dijelaskan bawah gunung-gunung pada hari itu tidak lagi seperti sediakala, tetapi akan diguncang sehingga hancur lebur seperti kabut yang dari jauh kelihatan seperti bayangan air. Akan tetapi jika didekati, ternyata tidak ada apa-apa karena bagian-bagiannya telah terpecah belah, dihancurkan, dan beterbangan ke mana-mana. Firman Allah dalam hal ini:

Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan. (al-haqqah/69: 14) Kemudian dalam ayat yang lain Allah berfirman: Dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan. (al-Waqi’ah/56: 5-6) Kemudian gunung-gunung itu akan dihancurleburkan seperti debu yang beterbangan seperti dijelaskan dalam firman Allah:

Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (al-Qari’ah/101: 5) Ayat 17-20 dari Surah an-Naba’/78 di atas tampaknya berbicara mengenai terjadinya kiamat. Pada ayat yang dibahas, ada penggambaran mengenai tiupan sangkakala.

Ada ayat lain yang juga menggunakan kata sangkakala atau trompet dalam menggambarkan kiamat, seperti Surah an-Nazi’at/79: 6-9, “(Sungguh, kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam, (tiupan pertama) itu diiringi dengan tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu merasa sangat takut, pandangannya tunduk.”

Keempat ayat di atas membahas tentang apa yang akan terjadi saat terjadinya hari kiamat. Salah satu kejadian pada hari itu adalah gempa bumi yang sangat dahsyat. Pada ayat 6-9 Surah an-Nazi’at/79, peristiwa gempa, mungkin saja bumi, digambarkan dengan kata “tiupan”.

Apabila kita perhatikan ayat 6 dan 7 dari Surah an-Nazi’at/79 di atas tampak adanya kemiripan dalam gambaran tentang hari kiamat. Namun ada dua pendapat mengenai penggambarannya. Di satu pihak, para ulama menginterpretasikan kata ar-rajifah sebagai bunyi trompet yang pertama, dan ar-radifah adalah tiupan trompet yang kedua. Di pihak lain, ar-rajifah dinyatakan sebagai bumi, dan ar-radifah sebagai saat terjadinya pengadilan. Ada juga yang menginterpretasikan ar-rajifah sebagai kekacauan dari unsur-unsur bumi, sedangkan ar-radifah adalah gempa buminya. Tampaknya pendapat terakhir yang lebih realistis.

Tidak ada beda antara kekacauan unsur-unsur bumi dan gempa bumi. Akan tetapi tampaknya ada pendapat lain yang lebih masuk akal. Mungkin kedua kata yang coba diinterpretasikan oleh banyak ulama sebenarnya menunjukkan adanya gempa utama dan gempa susulan, seperti dapat dilihat pada terjemahan dan tafsir ayat 6 dan 7 Surah an-Nazi’at/79 dalam Tafsir Al-Misbah, “Pada hari ketika berguncang-guncangan yang dahsyat, diikuti oleh yang mengiringi (nya).”

Sebelum terjadinya gempa utama (main shock), beberapa gempa kecil (fore shock) akan mengawalinya. Setelah gempa utama terjadi maka diikuti oleh gempa susulan (after shocks) yang kekuatannya lebih kecil dan jumlahnya banyak sekali. Lambat laun gempa susulan ini menurun baik jumlah maupun kekuatannya.

Perlu diketahui bahwa gempa awal sulit diidentifikasi. Umumnya gempa utama langsung datang, dan memorak-porandakan segalanya tanpa memperlihatkan adanya gempa awal. Sebagai gambaran adalah gempa Aceh yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 dengan magnitudo Mw=9,3 datang tanpa gempa awal.

Gempa yang mematahkan dasar laut sepanjang hampir 1000 km ini menimbulkan tsunami dan menghancurkan wilayah yang berada di sekitar Lautan Hindia. Gempa Aceh ini kemudian memicu gempa Nias dengan kekuatan sangat besar pula, yakni Mw=8,7. Jadi, pada hakikatnya gempa Nias bukan gempa susulan melainkan gempa yang dipicu oleh gempa besar yang pertama. Baik gempa Aceh maupun gempa Nias diikuti gempa susulan masing-masing.

Dengan gambaran tersebut, gempa bumi yang datang pada hari kiamat akan jauh lebih dahsyat dan mampu memicu gempa-gempa yang sama dahsyatnya sehingga bumi hancur lebur.

Tafsir Quraish Shihab: Dan gunung-gunung dijalankan setelah dicabut dan diporak-porandakan dari tempatnya. Kamu melihatnya sebagai gunung padahal ia telah menjadi kumpulan debu, persis seperti fatamorgana yang kamu sangka air padahal bukan.

Surah An-Naba Ayat 21
إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتۡ مِرۡصَادًا

Terjemahan: “Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai,

Tafsir Jalalain: إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتۡ مِرۡصَادًا (Sesungguhnya neraka Jahanam itu padanya ada tempat pengintaian) artinya, selalu mengintai atau ada tempat pengintaian.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتۡ مِرۡصَادًا (“Sesungguhnya Neraka Jahannam itu [padanya] ada tempat pengintai.”)

Tafsir Kemenag: Sesungguhnya tempat pelaksanaan azab Allah yaitu neraka Jahanam, yang selalu dalam posisi menunggu kedatangan orang-orang kafir untuk disiksa di dalamnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Mundhir dari al-hasan al-Basri, “Tidak seorang pun masuk surga kecuali setelah melalui neraka. Apabila dia sudah melewatinya, selamatlah dia dan jika tidak, dia akan tertahan.”.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya neraka jahanam merupakan tempat para penjaga neraka yang mengintai dan mengawasi para penghuninya.

Surah An-Naba Ayat 22
لِّلطَّٰغِينَ مَـَٔابًا

Terjemahan: “lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas,

Tafsir Jalalain: لِّلطَّٰغِينَ (Bagi orang-orang yang melampaui batas) karena itu mereka tidak akan dapat menyelamatkan diri daripadanya مَـَٔابًا (sebagai tempat kembali) bagi mereka, karena mereka akan dimasukkan ke dalamnya.

Baca Juga:  Surah An-Naba Ayat 37-40; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas

Tafsir Kemenag: Dijelaskan di sini bahwa neraka Jahanam itu menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang durhaka dan melampaui batas, yang tidak mau mendengar ajakan para rasul yang membawa petunjuk dan kebenaran.

Tafsir Quraish Shihab: Sebagai tempat kembali dan kediaman orang-orang yang melanggar batas-batas Allah.

Surah An-Naba Ayat 23
لَّٰبِثِينَ فِيهَآ أَحۡقَابًا

Terjemahan: “mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya,

Tafsir Jalalain: لَّٰبِثِينَ (Mereka tinggal) lafal Laabitsiina adalah Haal bagi lafal yang tidak disebutkan, yakni telah dipastikan penempatan mereka فِيهَآ أَحۡقَابًا (di dalamnya berabad-abad) yakni untuk selama-lamanya tanpa ada batasnya; lafal Ahqaaban bentuk jamak dari lafal Huqban.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah: لَّٰبِثِينَ فِيهَآ أَحۡقَابًا (“mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.”) maksudnya, mereka tinggal di neraka itu. Kata “ahqaab” merupakan jamak dari kata “hiqb” yang berarti sesaat dari zaman.

Tafsir Kemenag: Mereka tinggal di dalam neraka dalam waktu yang lama sebagaimana diterangkan pula dalam firman Allah: Mereka ingin keluar dari neraka, tetapi tidak akan dapat keluar dari sana. Dan mereka mendapat azab yang kekal. (al-Ma’idah/5: 37).

Tafsir Quraish Shihab: Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.

Surah An-Naba Ayat 24
لَّا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرۡدًا وَلَا شَرَابًا

Terjemahan:”mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,

Tafsir Jalalain: لَّا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرۡدًا (Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya) mereka tidak pernah merasakan tidur di dalamnya وَلَا شَرَابًا (dan tidak pula mendapat minuman) minuman yang lezat.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: لَّا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرۡدًا وَلَا شَرَابً (“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak [pula mendapatkan] minuman.”) maksudnya, di neraka mereka tidak mendapatkan sesuatu yang dingin bagi hari mereka dan tidak juga mendapatkan minuman segar yang dapat mereka minum.

Tafsir Kemenag: Di dalam neraka Jahanam itu mereka tidak merasakan kesejukan yang dapat mengurangi panas yang sangat menghanguskan dan tidak pula mendapat minuman yang dapat menghilangkan rasa haus.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka tidak merasakan udara segar untuk sekadar bernapas dari sengatan panas neraka. Mereka pun tidak mendapatkan minuman untuk melepaskan dahaga.

Surah An-Naba Ayat 25
إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا

Terjemahan: “selain air yang mendidih dan nanah,

Tafsir Jalalain: إِلَّا (Kecuali) atau selain حَمِيمًا (air yang mendidih) yaitu air yang panasnya tak terperikan وَغَسَّاقًا (dan nanah) dapat dibaca Ghasaaqan dan Ghassaaqan artinya nanah yang keluar dari tubuh penghuni-penghuni neraka; mereka diperbolehkan untuk meminumnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا (“Selain air yang mendidih dan nanah.”) Abu ‘Aliyah mengatakan: “Dikecualikan dari dingin adalah panas dan dari minuman itu nanah.” Demikian pula yang dikemukakan oleh ar-Rabi’ bin Anas. Adapun al-hamiim berarti panas yang mencapai puncaknya.

Sedangkan al-ghassaq berarti nanah, keringat, air mata, dan luka para penghuni neraka yang berkumpul, ia sangat dingin, rasa dinginnya tidak dapat disentuh oleh manusia dan bau busuknya tidak dapat didekati.

Dan pembicaraan tentang al-ghassaaq telah disajikan pada pembahasan surah Shaad, sehingga tidak perlu lagi dilakukan pengulangan –mudah-mudahan Allah memberikan pahala atas semua itu dengan karunia dan kemuliaan-Nya.

Tafsir Kemenag: Selain air yang mendidih yang sampai kepada puncak panas, ada pula nanah yang sangat busuk baunya.

Tafsir Quraish Shihab: Akan tetapi mereka akan merasakan air mendidih yang sangat panas dan nanah-nanah yang mengalir dari kulit penghuni neraka.

Surah An-Naba Ayat 26
جَزَآءً وِفَاقًا

Terjemahan: “sebagai pambalasan yang setimpal.

Tafsir Jalalain: جَزَآءً وِفَاقًا (Sebagai pembalasan yang setimpal) atau sesuai dengan amal perbuatan mereka, karena tiada suatu dosa pun yang lebih besar daripada kekafiran, dan tiada azab yang lebih besar daripada azab neraka.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: جَزَآءً وِفَاقًا (“Sebagi balasan yang setimpal”) yakni semua yang mereka alami yang berupa hukuman, adalah sesuai dengan amal perbuatan mereka yang tidak benar yang mereka kerjakan semasa di dunia. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, Qatadah, dan lain-lain.

Tafsir Kemenag: Neraka Jahanam itu disediakan sebagai balasan dari Allah yang setimpal dengan dosa dan pelanggaran yang mereka lakukan di dunia, karena setiap kejahatan dan keburukan akan dibalas dengan kejahatan dan keburukan yang setimpal. Azab yang setimpal itu diberikan karena dosa yang sangat berat yang telah mereka lakukan yaitu mempersekutukan Allah. Mereka dibakar dalam neraka Jahanam dalam waktu yang lama sekali.

Tafsir Quraish Shihab: Itulah balasan setimpal dari perbuatan-perbuatan buruk mereka.

Surah An-Naba Ayat 27
إِنَّهُمۡ كَانُواْ لَا يَرۡجُونَ حِسَابًا

Terjemhan: “Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab,

Tafsir Jalalain: إِنَّهُمۡ كَانُواْ لَا يَرۡجُونَ (Sesungguhnya mereka tidak mengharapkan) artinya, mereka tidak takut حِسَابًا (kepada hisab) karena mereka ingkar kepada adanya hari berbangkit.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 1; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Selanjutnya Allah berfirman: إِنَّهُمۡ كَانُواْ لَا يَرۡجُونَ حِسَابًا (“Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab.”) maksudnya mereka tidak meyakini bahwa di sana terdapat alam tempat pembalasan dan penghisaban.

Tafsir Kemenag: Setelah menerangkan azab neraka secara garis besar dalam ayat-ayat yang lalu, maka dalam ayat-ayat berikut ini Allah menyebutkan perincian terhadap dosa itu, yaitu terbagi atas dua bagian: pertama, mereka tidak takut kepada hari perhitungan karena mengingkari kedatangannya.

Oleh karena itu, mereka tidak takut melakukan pelanggaran-pelanggaran itu sesuai dengan ajakan hawa nafsunya. Kedua, mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an tentang kewajiban mentauhidkan Allah sesuai dengan seruan para rasul serta mempercayai hari kebangkitan.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya dahulu mereka tidak memperkirakan datangnya saat perhitungan itu, sehingga mereka tidak berusaha menyelamatkan diri dari perhitungan.

Surah An-Naba Ayat 28
وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا كِذَّابًا

Terjemhan: “dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.

Tafsir Jalalain: وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا (Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami) mendustakan Alquran كِذَّابًا (dengan sesungguh-sungguhnya) maksudnya, dengan kedustaan yang sesungguhnya.

Tafsir Ibnu Katsir: وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا كِذَّابًا (“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.”) yakni mereka mendustakan hujjah-hujjah dan bukti-bukti Allah atas makhluk-Nya yang telah diturunkan melalui para Rasul-Nya, tetapi mereka justru menyambutnya dengan pendustaan dan penentangan.

Tafsir Kemenag: Setelah menerangkan azab neraka secara garis besar dalam ayat-ayat yang lalu, maka dalam ayat-ayat berikut ini Allah menyebutkan perincian terhadap dosa itu, yaitu terbagi atas dua bagian: pertama, mereka tidak takut kepada hari perhitungan karena mengingkari kedatangannya.

Oleh karena itu, mereka tidak takut melakukan pelanggaran-pelanggaran itu sesuai dengan ajakan hawa nafsunya. Kedua, mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an tentang kewajiban mentauhidkan Allah sesuai dengan seruan para rasul serta mempercayai hari kebangkitan.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka pun, sungguh, telah mendustakan ayat-ayat Allah yang membuktikan kebenaran hari kebangkitan yang dahsyat.

Surah An-Naba Ayat 29
وَكُلَّ شَىۡءٍ أَحۡصَيۡنَٰهُ كِتَٰبًا

Terjemhan: “Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.

Tafsir Jalalain: وَكُلَّ شَىۡءٍ (Dan segala sesuatu) dari amal-amal perbuatan أَحۡصَيۡنَٰهُ (telah Kami hitung) telah Kami catat كِتَٰبًا (dalam suatu kitab) yaitu dalam catatan-catatan di Lohmahfuz supaya Kami memberikan balasan kepadanya, antara lain karena kedustaan mereka terhadap Alquran.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَكُلَّ شَىۡءٍ أَحۡصَيۡنَٰهُ كِتَٰبًا (“Dan segala sesuatu sudah Kami catat dalam suatu kitab.”) maksudnya, Kami [Allah] telah mengetahui amal perbuatan seluruh hamba, lalu Kami catat bagi mereka untuk selanjutnya Kami akan memberikan balasan atas hal tersebut, jika baik maka akan diberi balasan kebaikan, dan jika buruk maka akan diberikan balasan keburukan juga.

Tafsir Kemenag: Setelah menerangkan amal perbuatan mereka yang buruk dan akidah yang sesat, maka Allah dalam ayat ini menerangkan bahwa segala sesuatu yang mereka kerjakan itu telah dihitung sesuai dengan catatan yang ada pada sisi-Nya. Segala amalan manusia secara keseluruhan telah tercatat dalam catatan-Nya itu, tidak ada yang ketinggalan sedikit pun.

Tafsir Quraish Shihab: Dan segala sesuatu Kami telah catat secara tertulis.

Surah An-Naba Ayat 30
فَذُوقُواْ فَلَن نَّزِيدَكُمۡ إِلَّا عَذَابًا

Terjemhan: “Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.

Tafsir Jalalain: فَذُوقُواْ (Karena itu rasakanlah) artinya, lalu dikatakan kepada mereka sewaktu azab menimpa mereka, “Rasakanlah pembalasan kalian ini.” فَلَن نَّزِيدَكُمۡ إِلَّا عَذَابًا (Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kalian selain daripada azab) di samping azab yang kalian rasakan sekarang.

Tafsir Ibnu Katsir: Sedangkan firman-Nya: فَذُوقُواْ فَلَن نَّزِيدَكُمۡ إِلَّا عَذَابًا (“Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-sekali tidak akan menambah kepadamu selain daripada adzab.”) maksudnya, dikatakan kepada penghuni neraka: “Rasakanlah apa yang kalian rasakan, dan sekali-sekali Kami tidak akan menambah kecuali adzab yang serupa, dan dzab yang lain lagi dalam bentu lain yang berpasang-pasangan.”

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa akibat dari kekafiran dan kedurhakaan itu, mereka akan merasakan siksaan-Nya. Allah tidak akan menambah kecuali dengan azab yang lebih pedih lagi.

Tafsir Quraish Shihab: Maka rasakanlah! Kalian tidak mendapatkan dari Kami kecuali semakin bertambahnya azab yang pedih.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Naba Ayat 17-30 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S