Surah Ar-Rahman Ayat 37-45; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Ar-Rahman Ayat 37-45

Pecihitam.org – Kandungan Surah Ar-Rahman Ayat 37-45 ini, menerangkan bahwa orang-orang yang berdosa dapat dikenal dari tanda-tanda yang membedakan mereka dengan orang yang lain yaitu: wajahnya hitam pekat, matanya membelalak karena takut.

Pada hari hisab tidak akan didengar alasan-alasan dan keterangan yang mereka kemukakan. Ubun-ubun dan kaki mereka dipegang sebagai penghinaan, lalu diseret, dimasukkan ke dalam api neraka Jahanam.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Rahman Ayat 37-45

Surah Ar-Rahman Ayat 37
فَإِذَا ٱنشَقَّتِ ٱلسَّمَآءُ فَكَانَتۡ وَرۡدَةً كَٱلدِّهَانِ

Terjemahan: “Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.

Tafsir Jalalain: فَإِذَا ٱنشَقَّتِ (Maka apabila langit telah terbelah) artinya, terbuka pintu-pintunya karena turunnya malaikat-malaikat ٱلسَّمَآءُ فَكَانَتۡ وَرۡدَةً (dan menjadi merah mawar) memerah seperti warna bunga mawar كَٱلدِّهَانِ (seakan-akan kilapan minyak) bagaikan minyak yang berwarna merah berbeda keadaannya dengan yang biasa. Di dalam ungkapan ayat ini terkandung jawabannya, yakni apabila saat itu datang, betapa dahsyatnya kengerian dan ketakutan melihatnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: فَإِذَا ٱنشَقَّتِ ٱلسَّمَآءُ “Maka apabila langit telah terbelah.” Pada hari kiamat kelak. Sebagaimana yang ditunjukkan ayat iim penafsiran tersebut juga ditunjukkkan oleh ayat-ayat yang semakna dengannya.

Dan firman-Nya: فَكَانَتۡ وَرۡدَةً كَٱلدِّهَانِ “Dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.” Maksudnya, akan melebur seperti meleburnya perak di tempat peleburan, dan berwarna dengan aneka warna kain celup yang diminyaki. Kadang-kadang berwarna merah, kadang juga berwarna kuning, biru dan hijau. Perbedaan warna ini disebabkan oleh keadaan yang sangat hebat dan menakutkannya hari kiamat yang sangat dahsyat.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa apabila datang hari Kiamat, terbelahlah langit dan warnanya menjadi merah mawar seperti kilapan minyak. Maka rusaklah peraturan-peraturan alam dan bertebaranlah bintang-bintang serta segala apa-apa yang ada di langit, pindah dari tempatnya karena dahsyatnya hari itu.

Dalam ayat-ayat lain Allah berfirman: Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan. (al-Infithar/82: 1-2) Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh. (al-Insyiqaq/84: 1-2). Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh. (al-haqqah/69: 16) Ayat di atas berbicara mengenai alam semesta.

Alam semesta diperkirakan berumur antara 15 sampai 18 miliar tahun. Batuan tertua yang pernah ditemukan di bumi berumur sekitar 4,6 miliar tahun. Kehidupan tertua di bumi ditemukan berumur 3,8 juta tahun yang lalu. Sedangkan manusia mulai menghuni bumi baru sekitar 100.000 tahun yang lalu.

Apapun yang mengakibatkan terbentuknya alam semesta, yang pasti, ia sangat besar dan hebat, dan tidak mungkin tercipta secara kebetulan. Apa yang diungkap oleh Al-Qur’an tersebut, nampaknya mustahil dikemukakan oleh seseorang yang hidup 1400 tahun yang lalu. Teori mengenai “lahirnya” alam semesta ini, hanya dapat dijelaskan oleh seseorang yang paham sekali dengan ilmu “fisika nuklir” (nuclear physics).

Suatu bidang keilmuan yang baru berkembang dalam beberapa dekade terakhir. Bagaimana mungkin seorang Muhammad pada saat itu dapat menyatakan bahwa asal bumi dan seluruh isi langit dari materi “asap” yang sama. Sangat mustahil. Ayat 37 Surah ar-Rahman di atas menggambarkan ledakan sebuah bintang.

Gambaran mengenai ledakan bintang tersebut dikonfirmasi oleh ilmu pengetahuan modern. Ledakan bintang yang demikian ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Fenomena alam ini juga tidak dapat ditangkap dengan menggunakan teropong bintang biasa.

Diperlukan teropong bintang super canggih sekaliber “Huble Space Super Telescope” yang dimiliki oleh NASA, suatu lembaga antariksa Amerika Serikat. Namun hal ini sudah digambarkan dalam Al-Quran secara sangat jelas pada 1400 tahun yang lalu.

Dengan kemajuan teknologi, ternyata apa yang diuraikan dalam Al-Qur’an, terbukti secara detail. Ledakan yang terjadi memang sangat mirip dengan bunga mawar merah yang sedang berkembang. Ledakan bintang atau disebut dengan istilah supernova, adalah sebuah bintang raksasa yang “menghancurkan diri sendiri” dalam ledakan dahsyat. Materi intinya akan bertebaran ke seluruh penjuru. Cahaya yang dihasilkan dalam peristiwa ini ribuan kali lebih terang daripada keadaan normal.

Para ilmuwan masa kini menganggap bahwa supernova memainkan peran penting dalam penciptaan alam semesta. Ledakan ini menyebabkan unsur atau materi yang berbeda-benda berpencar dan berpindah ke bagian lain alam semesta. Diasumsikan bahwa materi yang dilontarkan ledakan ini kemudian bergabung untuk membentuk galaksi atau bintang baru di bagian lain alam semesta.

Baca Juga:  Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 240-242 Beserta Artinya

Menurut hipotesis ini, tata surya kita, matahari dan planetnya termasuk bumi, merupakan produk supernova yang terjadi dahulu kala. Meskipun supernova tampak seperti ledakan biasa, pada kenyataannya, ledakan tersebut sangat terstruktur dalam setiap detailnya.

Jarak antar supernova, dan bahkan antar semua bintang, sangat penting untuk alasan yang lain. Jarak antar bintang dalam galaksi kita adalah sekitar 30 juta tahun cahaya. Jika jarak ini lebih dekat, orbit planet-planet akan tidak stabil. Jika lebih jauh, maka debu hasil supernova akan tersebar begitu acak sehingga sistem planet seperti tata surya kita tidak mungkin pernah terbentuk. Jika alam semesta menjadi rumah bagi kehidupan, maka kedipan supernova harus terjadi pada laju yang sangat tepat dan jarak ratarata di antaranya harus sangat dekat dengan jarak yang teramati sekarang.

Perbandingan antara supernova dan jarak antar bintang hanyalah dua rincian yang sangat selaras pada alam semesta yang penuh keajaiban. Mengamati lebih teliti alam semesta, maka pengaturannya akan terlihat begitu indah, baik dalam rancangan maupun susunannya.

Tafsir Quraish Shihab: Apabila langit terbelah, ia akan berwarna merah tua seperti minyak yang terbakar.

Surah Ar-Rahman Ayat 38
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah menceritakan tentan penciptaan manusia dari tanah kering seperti tembika فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (maka nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan?)

Tafsir Kemenag: Ayat ini Allah menantang jin dan manusia apakah mereka masih mendustakan nikmat-Nya. Allah mengabarkan segala sesuatu yang dapat mengakibatkan manusia menghindari segala kejahatan, sehingga akhirnya ia selamat dari ancaman, itulah nikmat Tuhan.

Tafsir Quraish Shihab: Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 39
فَيَوۡمَئِذٍ لَّا يُسۡـَٔلُ عَن ذَنۢبِهِۦٓ إِنسٌ وَلَا جَآنٌّ

Terjemahan: “Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.

Tafsir Jalalain: فَيَوۡمَئِذٍ لَّا يُسۡـَٔلُ عَن ذَنۢبِهِۦٓ إِنسٌ وَلَا جَآنٌّۦٓ (Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya) tetapi mereka akan ditanya mengenai dosanya di lain waktu, karena ini merupakan suatu janji sebagaimana yang diungkapkan di dalam firman lainnya, yaitu, “Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua.” (Q.S. Al Hijr, 92) Lafal Al Jaan di sini sebagaimana yang akan dijelaskan nanti adalah bermakna jin, dan lafal Al Insu artinya manusia.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah Ta’ala: فَيَوۡمَئِذٍ لَّا يُسۡـَٔلُ عَن ذَنۢبِهِۦٓ إِنسٌ وَلَا جَآنٌّ (“Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.”). Hal itu dalam satu keadaan, dan di sana ada keadaan lain di mana makhluk akan ditanya tentang semua amal perbuatan mereka. Allah Ta’ala berfirman: (“Maka demi Rabb-mu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.”) (al-Hijr: 92-93).

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa pada saat hari kebangkitan mereka tidak ditanyai tentang dosa, sebab mereka yang berdosa dapat terlihat besar kecil dosanya oleh ciri tertentu, tatkala keluar dari kuburnya dan digiring ke Padang Mahsyar.

Firman Allah: Inilah hari, saat mereka tidak dapat berbicara, dan tidak diizinkan kepada mereka mengemukakan alasan agar mereka dimaafkan. (alMursalat/77: 35- 36) Kemudian mereka akan ditanyai tentang perbuatan-perbuatan mereka dengan firman-Nya: Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. (al-hijr/15: 92-9.

Tafsir Quraish Shihab: Pada hari ketika langit terbelah, manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.

Surah Ar-Rahman Ayat 40
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Baca Juga:  Surah Hud Ayat 17; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Tafsir Jalalain: (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa pada saat itu Allah bertanya tentang nikmat mana lagi yang kamu dustakan, terutama nikmat yang telah Allah berikan pada hari ini. Allah juga mengingatkan tentang kabar derita dan peringatan pedih yang telah disampaikanNya, yaitu agar manusia meninggalkan dan menjauhi perbuatan dosa.

Tafsir Quraish Shihab: Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 41
يُعۡرَفُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ بِسِيمَٰهُمۡ فَيُؤۡخَذُ بِٱلنَّوَٰصِى وَٱلۡأَقۡدَامِ

Terjemahan: “Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandannya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka.

Tafsir Jalalain: يُعۡرَفُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ بِسِيمَٰهُمۡ (Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya) yakni, mukanya berwarna hitam dan matanya berwarna biru فَيُؤۡخَذُ بِٱلنَّوَٰصِى وَٱلۡأَقۡدَامِ (lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka).

Tafsir Ibnu Katsir: Dan saat itu mereka sudah tidak ditanya tentang dosa-dosa mereka, tetapi mereka digiring menuju neraka dan kemudian dilemparkan ke dalamnya, sebagaimana yang difirmankan-Nya: يُعۡرَفُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ بِسِيمَٰهُمۡ (“Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya.” Yaitu dengan alamat-alamat yang tampak pada mereka.”

Al-Hasan dan Qatadah mengatakan: “Mereka dikenal dengan hitamnya wajah mereka dan birunya warna mata mereka.” Berkenaan dengan hal ini, aku (Ibnu Katsir) katakan: “Yang demikian itu sama seperti orang-orang Mukmin, mereka akan dikenal dengan wajahnya yang putih cemerlang (yang tampak) pada bekas wudlu.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang berdosa dapat dikenal dari tanda-tanda yang membedakan mereka dengan orang yang lain yaitu: wajahnya hitam pekat, matanya membelalak karena takut. Pada hari hisab tidak akan didengar alasan-alasan dan keterangan yang mereka kemukakan. Ubun-ubun dan kaki mereka dipegang sebagai penghinaan, lalu diseret, dimasukkan ke dalam api neraka Jahanam.

Tafsir Quraish Shihab: Manusia dan jin yang berdosa dikenali dari tanda-tandanya. Ubun-ubun dan kaki mereka kemudian diangkat lalu mereka dilemparkan ke neraka jahanam.

Surah Ar-Rahman Ayat 42
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa pada saat itu Allah bertanya mengenai nikmat mana lagi yang kamu dustakan, terutama nikmat yang telah Allah berikan pada hari ini. Allah juga mengingatkan tentang kabar derita dan peringatan pedih yang telah disampaikanNya, yaitu agar manusia meninggalkan dan menjauhi perbuatan dosa.

Tafsir Quraish Shihab: Lalu, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 43
هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِى يُكَذِّبُ بِهَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ

Terjemahan: “Inilah neraka Jahannam yang didustakan oleh orang-orang berdosa.

Tafsir Jalalain: هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِى يُكَذِّبُ بِهَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ (“Inilah neraka Jahanam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa”).

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah Ta’ala: هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِى يُكَذِّبُ بِهَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ (“Inilah neraka jahanam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa.”) maksudnya, inilah neraka yang dulu kalian dustakan keberadaannya. Sekarang ia sudah hadir dan kalian menyaksikannya sendiri secara langsung. Yang demikian itu dikatakan kepada mereka sebagai penghinaan, celaan, sekaligus merendahkan mereka.

Tafsir Kemenag: Allah membuktikan janji-janji-Nya kepada mereka yang berbuat jahat bahwa sekarang telah mereka saksikan dan telah mereka lihat dengan mata mereka sendiri azab Tuhan yang mereka tunggu-tunggu; supaya mereka merasakan siksaan api neraka Jahanam dan meminum air yang mendidih, yang dapat menghancurkan usus dan isi perut siapa yang meminumnya.

Mereka berkeliling di antara api dan air mendidih yang sangat panas. Tegasnya, apabila mereka minta tolong supaya dikeluarkan dari api neraka, maka mereka dipindahkan ke suatu tempat minuman air yang lebih tinggi suhu panasnya. Seperti diungkapkan dalam firman Allah sebagai berikut: Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api (Gafir/40: 71-72).

Baca Juga:  Surah Ar-Rahman Ayat 26-30; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Dikatakan kepada mereka, dengan nada mengecam, “Inilah neraka jahanam yang didustakan oleh para pelaku kejahatan di antara kalian.” Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air yang mendidih yang sangat panas.

Surah Ar-Rahman Ayat 44
يَطُوفُونَ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَ حَمِيمٍ ءَانٍ

Terjemehan: “Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air mendidih yang memuncak panasnya.

Tafsir Jalalain: يَطُوفُونَ (Mereka berkeliling) yakni berjalan dengan cepat (di antaranya dan di antara air yang mendidih yaitu air panas حَمِيمٍ ءَانٍ (yang memuncak panasnya) panasnya tak terperikan, lalu mereka diberi minum air panas tersebut apabila mereka meminta tolong karena panasnya api neraka; lafal Anin termasuk Isim Manqush, sama halnya dengan lafal Qaadhin.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman-Nya lebih lanjut: يَطُوفُونَ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَ حَمِيمٍ ءَانٍ (“Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air mendidih yang memuncak panasnya.”) maksudnya, terkadang mereka diazab di Neraka Jahim dan terkadang mereka disiram dengan air mendidih. Yang dimaksud dengan “al-hamiim” adalah minuman yang berwujud seperti tembaga cair yang dapat memutuskan pencernaan dan usus.

Firman-Nya: حَمِيمٍ ءَانٍ (“air yang mendidih yang memuncak panasnya”) yakni yang sangat panas sekali, yang tingkat kepanasannya sudah berada pada puncaknya yang tidak mungkin disentuh karena panas itu. Dan mengenai firman Allah Ta’ala:

يَطُوفُونَ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَ حَمِيمٍ ءَانٍ (“Mereka berkeliling di antara keduanya dan di antara air yang mendidih yang memuncak panasnya.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Maksdunya, panasnya telah memuncak mencapai puncak titik didih.” Demikian juga yang dikatakan oleh Mujahid, Sa’id bin Jubair, adl-Dlahhak, al-Hasan, ats-Tsauri, dan as-Suddi. Sedangkan dari al-Qurthubi terdapat riwayat lain: hamiimin aan (“Air mendidih yang memuncak panasnya”) yakni hadir.

Tafsir Kemenag: Allah membuktikan janji-janji-Nya kepada mereka yang berbuat jahat bahwa sekarang telah mereka saksikan dan telah mereka lihat dengan mata mereka sendiri azab Tuhan yang mereka tunggu-tunggu; supaya mereka merasakan siksaan api neraka Jahanam dan meminum air yang mendidih, yang dapat menghancurkan usus dan isi perut siapa yang meminumnya.

Mereka berkeliling di antara api dan air mendidih yang sangat panas. Tegasnya, apabila mereka minta tolong supaya dikeluarkan dari api neraka, maka mereka dipindahkan ke suatu tempat minuman air yang lebih tinggi suhu panasnya.

Seperti diungkapkan dalam firman Allah sebagai berikut: Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api (Gafir/40: 71-72).

Tafsir Quraish Shihab: Dikatakan kepada mereka, dengan nada mengecam, “Inilah neraka jahanam yang didustakan oleh para pelaku kejahatan di antara kalian.” Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air yang mendidih yang sangat panas.

Surah Ar-Rahman Ayat 45
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa pada saat itu Allah bertanya mengenai nikmat mana lagi yang kamu dustakan, terutama nikmat yang telah Allah berikan pada hari ini. Allah juga mengingatkan tentang kabar derita dan peringatan pedih yang telah disampaikanNya, yaitu agar manusia meninggalkan dan menjauhi perbuatan dosa.

Tafsir Quraish Shihab: Lalu, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Ar-Rahman Ayat 37-45 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG