Surah As-Saff Ayat 5-6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah As-Saff Ayat 5-6

Pecihitam.org – Kandungan Surah As-Saff Ayat 5-6 ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw agar menyampaikan kepada kaum Muslimin dan Ahli Kitab tentang Nabi Musa yang menyesali kaumnya, mengapa mereka menentang dan menyakitinya. Padahal mereka tahu bahwa ia adalah seorang rasul yang diutus Allah kepada mereka.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah As-Saff Ayat 5-6

Surah As-Saff Ayat 5
وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِۦ يَٰقَوۡمِ لِمَ تُؤۡذُونَنِى وَقَد تَّعۡلَمُونَ أَنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ

Terjemahan: Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.

Tafsir Jalalain: (Dan) ingatlah وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِۦ يَٰقَوۡمِ لِمَ تُؤۡذُونَنِى (ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku! Mengapa kalian menyakitiku?) mereka mengatakan bahwa Nabi Musa itu orang yang besar buah pelirnya atau berpenyakit burut, padahal kenyataannya tidaklah demikian, dan mereka pun mendustakannya وَقَد (padahal sesungguhnya) lafal qad di sini menunjukkan makna tahqiq تَّعۡلَمُونَ أَنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ (kalian mengetahui, bahwa aku adalah utusan Allah kepada kalian.”)

Kalimat wa qad ta`lamuuna dan seterusnya berkedudukan menjadi hal atau kata keterangan keadaan. Dan seorang yang menjadi rasul itu seharusnya kalian hormati.

فَلَمَّا زَاغُوٓاْ (Maka tatkala mereka berpaling) maksudnya menyimpang dari kebenaran, karena mereka telah menyakitinya أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡ (Allah memalingkan hati mereka) dari jalan petunjuk, sesuai dengan apa yang telah ditetapkan-Nya di zaman azali وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ (dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik) yakni orang-orang yang kafir, menurut ilmu dan pengetahuan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah swt. berfirman, memberitahukan tentang hamba, Rasul dan Kalim-Nya [yang diajak bicara], Musa bin ‘Imran. Musa berkata kepada kaumnya:

لِمَ تُؤۡذُونَنِى وَقَد تَّعۡلَمُونَ أَنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ (“Mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu.”) maksudnya mengapa kamu selalu menyakitiku padahal kalian tahu bahwa aku telah berkata jujur tentang risalah yang aku bawa kepada kalian. Ini merupakan hiburan bagi Rasulullah, Muhammad saw. atas apa yang menimpa dirinya dari orang-orang kafir di antara kaumnya ataupun yang lainnya.

Dalam ayat ini juga terdapat perintah kepada Rasulullah saw. untuk bersabar dan larangan bagi orang-orang beriman untuk menyakiti Nabi mereka, sebagaimana difirmankan oleh Allah yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa. Maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (al-Ahzab: 69)

Firman Allah Ta’ala selanjutnya: فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡ (“Maka tatkala mereka berpaling, dari mengikuti kebenaran padahal mereka mengetahuinya, maka Allah memalingkan hati mereka dari petunjuk dan menanamkan dalam hati mereka keraguan, kebingungan, dan kehinaan. Oleh karena itu Allah berfirman: وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ (“Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”)

Tafsir Kemenag: Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw agar menyampaikan kepada kaum Muslimin dan Ahli Kitab tentang Nabi Musa yang menyesali kaumnya, mengapa mereka menentang dan menyakitinya. Padahal mereka tahu bahwa ia adalah seorang rasul yang diutus Allah kepada mereka.

Dalam ayat yang lain diterangkan bahwa Musa memerintahkan kaumnya berperang agar mereka bisa memasuki kota Baitulmakdis, tetapi kaumnya mengingkari. Allah berfirman:

Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang yang rugi. Mereka berkata, “Wahai Musa! Sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam, kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar dari sana, niscaya kami akan masuk.” (al-Ma’idah/5: 21-22)

Ayat ini merupakan penawar hati Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin agar selalu bersabar menghadapi sikap orang-orang munafik, yang mengaku dirinya muslim, tetapi di belakang Rasulullah mereka mengingkarinya. Sehubungan dengan itu, Rasulullah pernah bersabda, “Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Musa yang disakiti kaumnya lebih berat daripada yang terjadi pada diriku ini, tetapi ia tetap sabar.”

Allah melarang kaum Muslimin menyakiti hati Rasulullah Muhammad saw, seperti yang telah dialami oleh Nabi Musa. Dia berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan. Dan dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah. (al-Ahzab/33: 69)

Setelah orang-orang yang durhaka dan menyakiti hati Nabi Muhammad itu berpaling dan mengingkari kebenaran, sedangkan mereka mengetahui kebenaran itu, Allah pun memalingkan hati mereka dari petunjuk-Nya. Dengan demikian, mereka tidak mungkin lagi mendapat petunjuk. Allah berfirman:

Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an), dan Kami biarkan mereka bingung dalam kesesatan. (al-An’am/6: 110)

Maksud perkataan Allah “memalingkan hati orang-orang kafir” dalam ayat ini ialah membiarkan mereka dalam keadaan sesat. Semakin banyak kesesatan dan kemaksiatan yang mereka perbuat, semakin jauh pula mereka dari petunjuk Allah, sehingga sulit bagi mereka kembali ke jalan yang benar.

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan pernyataan-Nya di atas bahwa orang yang telah jauh dari jalan yang benar tidak mungkin lagi memperoleh taufik dan hidayah dari-Nya. Mereka adalah orang-orang yang fasik, sedangkan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Baca Juga:  Surah At-Taubah Ayat 123; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Wahai Muhammad, ingatlah ketika Nabi Mûsâ berkata kepada kaumnya, “Wahai kaum, mengapa kalian meyakitiku padahal kalian tahu bahwa aku adalah utusan Allah kepada kalian?” Maka tatkala mereka terus menyeleweng dari kebenaran, Allah memalingkan hati mereka dari petunjuk. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang tidak taat kepada-Nya.

Surah As-Saff Ayat 6
وَإِذۡ قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ يَٰبَنِىٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيۡنَ يَدَىَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَمُبَشِّرًۢا بِرَسُولٍ يَأۡتِى مِنۢ بَعۡدِى ٱسۡمُهُۥٓ أَحۡمَدُ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ قَالُواْ هَٰذَا سِحۡرٌ مُّبِينٌ

Terjemahan: Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.

Tafsir Jalalain: (Dan) ingatlah وَإِذۡ قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ يَٰبَنِىٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ (ketika Isa putra Maryam berkata, “Hai Bani Israel!) di sini Nabi Isa tidak mengatakan hai kaumku, karena sesungguhnya dia tidak mempunyai kerabat di kalangan mereka إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيۡنَ يَدَىَّ (Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab sebelumku) kitab yang diturunkan sebelumku مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَمُبَشِّرًۢا بِرَسُولٍ يَأۡتِى مِنۢ بَعۡدِى ٱسۡمُهُۥٓ أَحۡمَدُ (yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan datangnya seorang rasul yang akan datang sesudahku, namanya Ahmad.”) Allah berfirman:

فَلَمَّا جَآءَهُم (Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka) yakni Ahmad alias Muhammad kepada orang-orang kafir بِٱلۡبَيِّنَٰتِ (dengan membawa bukti-bukti yang nyata) yakni ayat-ayat dan tanda-tanda قَالُواْ هَٰذَا (mereka berkata, “Ini) maksudnya, apa yang didatangkannya itu سِحۡرٌ (adalah sihir) menurut suatu qiraat lafal sihrun dibaca saahirun artinya orang yang datang ini adalah penyihir مُّبِينٌ (yang nyata”) yang jelas.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَإِذۡ قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ يَٰبَنِىٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيۡنَ يَدَىَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَمُبَشِّرًۢا بِرَسُولٍ يَأۡتِى مِنۢ بَعۡدِى ٱسۡمُهُۥٓ أَحۡمَدُ (“Dan [ingatlah] ketika ‘Isa putera Maryam berkata: ‘Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab [yang turun] sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan [datangnya] seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad [Muhammad].’”) yaitu Taurat, telah menyampaikan kabar gembira tentang diriku, dan aku adalah saksi yang membenarkan apa yang disampaikannya. Sedang aku menyampaikan kabar gembira tentang kedatangan orang sesudahku, yakni seorang Rasul sekaligus Nabi yang ummi dari Arab Makkah bernama Ahmad [Muhammad].

Dengan demikian, ‘Isa putera Maryam adalah penutup Nabi-nabi Bani Israil. Dia telah bermukim di kalangan Bani Israil untuk menyampaikan kabar gembira tentang kedatangan Muhammad saw. yaitu Ahmad sebagai penutup semua Nabi dan Rasul yang tidak ada risalah dan kenabian lagi setelahnya.

Betapa baiknya sebuah hadits yang telah diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari: Abul Yaman memberitahu kami, Syu’aib memberitahu kami, dari az-Zuhri, ia berkata, Muhammad bin Jubair bin Muth’im telah memberitahuku, dari ayahnya, ia menuturkan, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya aku mempunyai beberapa nama. Aku adalah Muhammad, aku juga Ahmad dan aku adalah al-Maahi [penghapus] yang dengannya Allah menghapuskan kekufuran, dan aku adalah Haasyir [pengumpul] dimana umat manusia akan dikumpulkan di hadapan kedua kakiku, dan aku adalah al-Aaqib [penutup].”

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Muslim dari az-Zuhri.
Abu Dawud ath-Thayalisi meriwayatkkan dari Abu Musa, bahwasannya Rasulullah saw. pernah menyebutkan beberapa nama untuk dirinya kepada kami, ada sebagian yang kami hafal, beliau bersabda:

“Aku adalah Muhammad, Ahmad, al-Haasyir [pengumpul], al-Muqaffa [penutup para Nabi], Nabiyyurrahmah wat taubah wa Mahmah [Nabi pembawa rahmat, taubat dan peperangan].” Hadits ini diriwayatkan pula oleh Muslim dari al-A’masy, dari ‘Amr bin Murrah.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “[yaitu] orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang [namanya] mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka…” (al-A’raaf: 157)

Dan Dia juga berfirman yang artinya: “81. dan (ingatlah), ketika Allah mengambil Perjanjian dari Para nabi: “Sungguh, apa saja yang aku berikan kepadamu berupa kitab dan Hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”.

Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai Para Nabi) dan aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (Ali ‘Imraan: 81)

Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan Dia mengambil perjanjian bahwa jika Muhammad diutus-Nya nanti sedang dia masih hidup, maka hendaklah ia mengikutinya. Dan juga mengambil perjanjian darinya agar dia mengambil perjanjian dari umatnya bahwa jika Muhammad diutus nanti sedang mereka masih hidup, maka mereka harus mengikuti dan menolongnya.”

Muhammad bin Ishaq menuturkan, ats-Tsauri bin Yazid memberitahuku dari Khalid bin Ma’dan dari para Shahabat Rasulullah saw. bahwasannya mereka berkata: “Ya Rasulallah, beritahukan kepada kami tentang dirimu.” Beliau menjawab:

“Doa bapakku Ibrahim, kabar gembira oleh ‘Isa, dan ibuku bermimpi ketika tengah mengandung diriku bahwa beliau melihat seolah-olah keluar darinya cahaya yang karenanya bersinar gemerlap istana-istana Bashra dari bumi Syam.” Isnad hadits ini jayyid, mempunyai beberapa syahid dari jalur yang lain.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menuturkan: “Rasulullah saw. pernah mengutus kami kepada raja Najassy, sedang kami berjumlah sekitar delapan puluh orang. Diantaranya adalah ‘Abdullah bin Mas’ud, Ja’far, ‘Abdullah bin Rawahah, ‘Utsman bin Mazh’un, dan Abu Musa. Mereka pun mendatangi raja Najasyi sedang kaum Quraisy mengutus ‘Amr bin al-‘Ash dan ‘Imarah bin al-Walid dengan membawa hadiah.

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 74-76; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Ketika memasuki Najasyi, keduanya bersujud kepadanya, lalu mendatanginya dari sebelah kanan dan kirinya. Setelah itu keduanya berkata kepadanya:

“Sesungguhnya ada beberapa orang dari Bani paman kami bertempat tinggal di wilayahmu, mereka tidak suka kepada kami dan juga agama kami.” Najasyi bertanya: “Lalu dimanakah mereka itu?” keduanya menjawab: “Mereka berada di wilayahmu. Oleh karena itu kirimkanlah utusan kepada mereka.” Lalu diapun mengirimkan utusan kepada mereka.Ja’far berkata:

“Akulah juru bicara kalian pada hari ini.” Maka mereka pun mengikutinya. Tatkala memberi salam kepadanya. Tatkala memberi salam kepadanya dia tidak bersujud. Maka mereka berkata kepadanya: “Mengapa engkau tidak bersujud kepada sang raja?” Dia menjawab:

“Sesungguhnya kami tidak bersujud kecuali kepada Allah yang Mahaperkasa lagi Mahamulia.” Najasyi pun bertanya: “Lalu apa itu?” Dia menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengutus Rasul-Nya kepada kita semua. Dia memerintahkan kita semua untuk tidak bersujud kecuali hanya kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia. Dia juga menyuruh kita mengerjakan shalat dan menunaikan zakat.”

‘Amr bin al-‘Ash berkata: “Sesungguhnya mereka berbeda denganmu dalam masalah ‘Isa putera Maryam.” Najasyi bertanya: “Bagaimana pendapat kalian tentang ‘Isa putera Maryam dan ibunya?” Dia menjawab:

“Kami berpendapat seperti yang difirmankan oleh Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia: ‘Isa adalah kalimat dan ruh Allah yang dimasukkan ke dalam diri seorang wanita perawan yang tidak pernah disentuh oleh seorang laki-laki manapun dan belum pernah melahirkan anak.’”

Kemudian dia mengangkat sebatang kayu dari tanah dan selanjutnya berkata: “Wahai sekalian bangsa Habasyah [Ethiopia], para pendeta dan rahib. Demi Allah, mereka tidak berlebihan terhadap yang kita anut, ini benar-benar sama. Selamat datang kepada kalian dan juga kepada orang yang mengutus kalian. Aku bersaksi bahwa dia adalah rasul Allah dan dialah yang kita dapatkan dalam Injil, dan dia pula yang pernah disampaikan oleh ‘Isa putera Maryam kepada kita. Tinggallah dimana saja kalian suka. Demi Allah, seandainya aku tidak sedang mengurus kerajaan, niscaya aku akan mendatanginya sehingga aku bisa membawakan kedua sendal beliau, dan menyiapkan air wudlu beliau.”

Maka dia pun memerintahkan supaya hadiah kedua orang tersebut dikembalikan. Kemudian ‘Abdullah bin Mas’ud segera kembali, sehingga ia termasuk orang yang ikut serta dalam perang Badar.”

Maksudnya para Nabi tetap selalu menyebutkan sifat-sifatnya di dalam kitab-kitab mereka yang diturunkan kepada umatnya masing-masing. Serta mereka memerintahkan untuk mentaatinya, menolong dan mendukungnya bila telah diutus. Dan perkara ini menjadi masyhur di kalangan penduduk bumi melalui lisan Nabi Ibrahim, bapak para nabi sesudahnya, ketika dia berdialog bagi penduduk Makkah, semoga Allah Ta’ala mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri. Demikian juga yang disampaikan melalui lisan ‘Isa putera Maryam.

Dan firman Allah: فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ قَالُواْ هَٰذَا سِحۡرٌ مُّبِينٌ (“Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata.’”) Ibnu Juraij dan Ibnu Jarir berkata mengenai firman-Nya:

فَلَمَّا جَآءَهُم (Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka.) yaitu Ahmad, yakni Rasul yang telah diberitakan dan disebutkan kedatangannya pada kurun dan masa-masa terdahulu. Setelah beliau hadir dan datang dengan membawa keterangan yang nyata, maka para penentang dan orang-orang kafir itu mengatakan: هَٰذَا سِحۡرٌ مُّبِينٌ (“Ini adalah sihir yang nyata.”)

Tafsir Kemenag: Allah memerintahkan Nabi Muhammad menyampaikan kepada kaum Muslimin dan Ahli Kitab, kisah keingkaran kaum Isa ketika ia mengatakan kepada kaumnya bahwa ia adalah rasul Allah yang diutus kepada mereka.

Ia juga membenarkan kitab Taurat yang dibawa Nabi Musa, demikian pula kitab-kitab Allah yang telah diturunkan kepada para nabi sebelumnya. Ia menyeru kaumnya agar beriman pula kepada rasul yang datang kemudian yang bernama Ahmad (Muhammad saw).

Dalam ayat yang lain ditegaskan pula bahwa berita tentang kedatangan Muhammad sebagai nabi dan rasul Allah terakhir terdapat pula dalam Kitab Taurat dan Injil. Allah berfirman:

(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. (al-A’raf/7: 157)

Dalam sebuah hadis, Nabi saw bersabda: Sesungguhnya aku adalah hamba Allah sebagai penutup para nabi. Sesungguhnya Nabi Adam bagaikan batu permata. Aku akan mengabarkan kepadamu tentang penakwilan ayat tersebut, yaitu doa bapakku Nabi Ibrahim dan kabar gembira dari Nabi Isa mengenai kedatanganku, dan mimpi yang dilihat oleh ibuku dan sekalian ibu para nabi. (Riwayat Ahmad dari ‘Irbadh bin Sariyah)

Dalam kitab Taurat banyak disebutkan isyarat-isyarat kedatangan Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir, seperti Kitab Kejadian 21: 13. “Maka anak sahayamu itu pun akan terjadikan suatu bangsa, karena itu ia dari benihmu.”

Maksudnya ialah keturunan Hajar, ibu dari Ismail yang kemudian menjadi orang-orang Arab yang mendiami Semenanjung Arabia. Waktu Nabi Ibrahim pergi ke Mesir bersama istrinya, Sarah, beliau dianugerahi oleh Raja Mesir seorang hamba sahaya perempuan, yang bernama Hajar, yang kemudian dijadikannya sebagai istri. Sewaktu Hajar telah melahirkan putranya Ismail, ia diantarkan Ibrahim ke Mekah atas perintah Allah. Di Mekahlah Ismail menjadi besar dan berketurunan. Di antara keturunannya itu bernama Muhammad yang kemudian menjadi nabi dan rasul terakhir.

Kitab Kejadian 21: 18 memerintahkan agar Bani Israil mengikuti dan menyokong Nabi Muhammad, yang akan datang kemudian. “Bangunlah engkau, angkatlah budak itu, sokonglah dia, karena Aku hendak menjadikan dia suatu bangsa yang besar.”

Baca Juga:  Surah Al-Maidah Ayat 6-7; Seri Tadabbur Al Qur'an

Demikian pula dengan Kitab Kejadian 17: 20 menyebutkan: “Maka akan hal Ismail itu pun telah Kululuskan permintaanmu, bahwa sesungguhnya Aku telah memberkati akan dia dan memberikan dia dan memperbanyak dia amat sangat dua belas orang raja-raja akan berpencar daripadanya dan Aku akan menjadikan dia suatu bangsa yang besar.”

Kitab Habakuk 3: 3 menyebutkan: “Bahwa Allah datang dari teman dan Yang Mahasuci dari pegunungan Paran-Selah. Maka kemuliaan-Nya menudungilah segala langit dan bumi pun adalah penuh dengan pujinya.”

Di sini diterangkan tentang teman dan orang-orang suci dari pegunungan Paran. Yang dimaksud dengan teman di sini adalah Nabi Muhammad, dan Paran adalah Mekah.

Demikian pula Nabi Musa dalam Kitab Ulangan 18: 17-22 telah menyatakan kedatangan Nabi Muhammad saw itu:

“Maka pada masa itu berfirmanlah Tuhan kepadaku (Musa), “Benarlah kata mereka itu (Bani Israil).” Bahwa Aku (Allah) akan menjadikan bagi mereka itu seorang nabi dari antara segala saudaranya (yaitu Nabi dan Bani Israil) yang seperti engkau (Nabi Musa) dan aku akan memberi segala firmanku dalam mulutnya dan dia pun akan mengatakan kepadanya segala yang kusuruh akan dia.

Bahwa sesungguhnya barang siapa yang tiada mau dengar segala firman-Ku yang akan dikatakan olehnya dengan nama-Ku, niscaya Aku menuntutnya kelak pada orang itu. Tetapi adanya Nabi yang melakukan dirinya dengan sombong dan mengatakan firman dengan nama-Ku, yang tiada Ku-suruh katakan, atau yang berkata dengan nama dewa-dewa, niscaya orang Nabi itu akan mati dibunuh hukumnya.

Maka jikalau kiranya kamu berkata dalam hatimu demikian, “Dengan apakah boleh kami ketahui akan perkataan itu bukannya firman Tuhan adanya?”

Bahwa jikalau Nabi itu berkata demi nama Tuhan, lalu barang yang dikatakannya tidak jadi atau tidak datang, yaitu perkataan yang bukan firman Tuhan adanya, maka Nabi itu pun berkata dengan sembarangan, janganlah kamu takut akan dia.”

Dalam ayat-ayat Taurat di atas terdapat petunjuk-petunjuk nubuwwah Nabi Muhammad saw sebagai berikut, “Seorang Nabi di antara segala saudaranya.” Hal ini menunjukkan bahwa yang akan menjadi nabi itu akan muncul dari saudara-saudara Bani Israil, tetapi bukan dari Bani Israil sendiri, karena Bani Israil itu keturunan Yakub dan ia adalah anak Ishak. Sedangkan Ishak adalah saudara Ismail. Saudara-saudara Bani Israil itu ialah Bani Ismail, dan Nabi Muhammad sudah jelas adalah keturunan Bani Ismail.

Kemudian kalimat “yang seperti engkau” memberi pengertian bahwa nabi yang akan datang itu haruslah seperti Nabi Musa, maksudnya nabi yang membawa agama seperti yang dibawa Nabi Musa. Seperti dituliskan bahwa Nabi Muhammad itulah satu-satunya nabi yang membawa syariat yang berlaku juga bagi Bani Israil.

Kemudian dikatakan bahwa Nabi itu “tidak sombong”, “dan tidak akan mati dibunuh.” Muhammad saw seperti dimaklumi bukanlah orang yang sombong, baik sebelum menjadi nabi apalagi setelah menjadi nabi. Sebelum menjadi nabi, ternyata beliau telah disenangi oleh khalayak umum, dan dipercaya oleh orang-orang Quraisy. Hal ini terbukti dengan panggilan beliau al-Amin (kepercayaan). Kalau beliau sombong, tentulah beliau tidak diberi gelar yang sangat terpuji itu dan Nabi Muhammad tidak mati di bunuh.

Umat Nasrani menerapkan kenabian itu kepada Isa, padahal mereka percaya bahwa Isa mati disalib. Hal ini jelas bertentangan dengan ayat kenabian itu sendiri. Sebab nabi itu haruslah tidak mati dibunuh (disalib dan sebagainya).

Banyak lagi petunjuk di dalam Taurat yang menerangkan kenabian Muhammad saw seperti yang diberikan Nabi Yesaya 42: 1-2; Nabi Yermin 31: 31-32, Nabi Daniel 2: 38-45; dan masih banyak lagi yang tidak perlu disebutkan di sini. Demikian pula dalam kitab Injil di mana tentang Muhammad banyak disebut dalam kitab Yahya.

Kemudian diterangkan bahwa nabi dan rasul yang bernama Ahmad itu lahir dengan membawa dalil-dalil yang kuat serta mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah. Akan tetapi, mereka pun mengingkarinya dan mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang tukang sihir. Tentang Nabi Muhammad itu disampaikan oleh semua nabi, dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu lalu datang kepada kamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.”

Allah berfirman, “Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?” Mereka menjawab, “Kami setuju.” Allah berfirman, “Kalau begitu bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu.” (Ali ‘Imran/3: 81).

Tafsir Quraish Shihab: Ingatlah ketika ‘Isâ putra Maryam berkata, “Wahai Bânû Isrâ’îl, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan Tawrât yang telah diturunkan sebelum aku, memberi kabar gembira berupa kedatangan seorang rasul sesudahku yang bernama Ahmad.” Tatkala rasul yang dikabarkannya tadi datang dengan membawa ayat-ayat yang jelas, mereka berkata, “Yang kamu bawa kepada kami ini adalah sihir yang nyata.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah As-Saff Ayat 5-6 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S