Surah Asy-Syu’ara Ayat 153-159; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Asy-Syu'ara Ayat 153-159

Pecihitam.org – Kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 153-159 ini, menjelaskan Kaum Samud yang tetap tidak percaya pada kerasulan Nabi Saleh karena menurut mereka, dia adalah manusia biasa seperti mereka juga. Seharusnya rasul yang diutus Allah itu bukan manusia biasa, tetapi malaikat atau makhluk yang berbeda dengan mereka.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Utusan harus sanggup melakukan sesuatu yang ajaib dan aneh, di mana manusia tidak sanggup melaksanakannya. Oleh karena itu, mereka meminta Nabi Saleh untuk mendatangkan mukjizat sebagai bukti kerasulannya, atau yang menunjukkan bahwa dia adalah benar-benar nabi yang diutus Allah kepada mereka.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’ara Ayat 153-159

Surah Asy-Syu’ara Ayat 153
قَالُوا إِنَّمَا أَنتَ مِنَ الْمُسَحَّرِينَ

Terjemahan: Mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir;

Tafsir Jalalain: قَالُوا إِنَّمَا أَنتَ مِنَ الْمُسَحَّرِينَ (Mereka berkata, “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir) termasuk orang-orang yang banyak kena sihir, sehingga akalnya tidak waras lagi.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala befirman mengabarkan tentang jawaban kaum Tsamud kepada nabi Shalih as. ketika ia menyeru mereka untuk beribadah kepada Rabb mereka: قَالُوا إِنَّمَا أَنتَ مِنَ الْمُسَحَّرِينَ (“Mereka berkata: ‘Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang terkena sihir.’”) Mujahid dan Qatadah berkata: “Yang mereka maksud dengan al-musahhariin [orang-orang yang terkena sihir], yaitu mereka berkata, apa yang engkau katakan itu hanya ada pada orang yang terkena sihir yang tidak berakal.”

Tafsir Kemenag: Semua yang dikemukakan Nabi Saleh kepada kaumnya, berupa bukti-bukti kebenaran dakwah, tidak dapat mereka bantah. Bahkan hati mereka mengakui kebenaran yang disampaikan kepada mereka, tetapi jiwa mereka yang telah rusak yang menyebabkan mereka ingkar kepada seruan Nabi Saleh.

Oleh karena itu, mereka mengatakan kepada Nabi Saleh, “Hai Saleh, engkau mengemukakan sesuatu kepada kami yang bertujuan agar kami meninggalkan agama nenek moyang kami, dan mengikuti agama yang engkau bawa.

Cara-cara engkau menyampaikan agama itu sangat menarik dan memesona kami, seakan-akan engkau telah menyihir kami. Sebenarnya engkau telah gila dan terkena sihir, karena tuhan kami telah menimpakan penyakit gila kepadamu, maka tiada pantas lagi kami mendengar perkataanmu dan menerima ajakanmu.”.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka berkata, “Kamu tidak lain hanyalah seorang yang terkena pengaruh sihir yang kuat sehingga akalnya tidak berfungsi.” Begitulah, mereka memberikan jawaban yang keras dan menyakitkan.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 154
مَا أَنتَ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا فَأْتِ بِآيَةٍ إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Terjemahan: Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar”.

Tafsir Jalalain: مَا أَنتَ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا فَأْتِ بِآيَةٍ إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (Kamu tidak lain hanyalah seorang manusia seperti kami, maka datangkanlah suatu mukjizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar”) di dalam pengakuanmu sebagai seorang Rasul.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian mereka berkata: maa anta illaa bayarum mitslunaa (“Kamu tidak lain hanyalah seorang manusia seperti kami.”) bagaimana wahyu ini diberikan kepadamu, tidak kepada kami. Kemudian mereka mencari tanda-tanda yang di datangkan kepada mereka untuk megetahui kebenaran yang dibawa dari Rabb mereka.

maka berkumpullah para tokoh dan memintanya untuk mengeluarkan dari batu besar sebuah unta yang hamil 10 bulan –sambil menunjuk kepada batu besar yang ada di sisi mereka- yang memiliki sifat ini dan itu.

Tafsir Kemenag: Kaum Samud tetap tidak percaya pada kerasulan Nabi Saleh karena menurut mereka, dia adalah manusia biasa seperti mereka juga. Seharusnya rasul yang diutus Allah itu bukan manusia biasa, tetapi malaikat atau makhluk yang berbeda dengan mereka.

Utusan harus sanggup melakukan sesuatu yang ajaib dan aneh, di mana manusia tidak sanggup melaksanakannya. Oleh karena itu, mereka meminta Nabi Saleh untuk mendatangkan mukjizat sebagai bukti kerasulannya, atau yang menunjukkan bahwa dia adalah benar-benar nabi yang diutus Allah kepada mereka.

Allah memenuhi keinginan mereka dengan mendatangkan seekor unta betina sebagai mukjizat bagi Nabi Saleh. Mereka dilarang mengganggu unta tersebut, dan membiarkannya makan dan minum sesukanya. Nabi Saleh mengancam mereka dengan mengatakan bahwa mereka akan segera diazab Allah jika mengganggu unta itu.

Aspek-aspek kemukjizatan unta itu menurut para mufasir ialah:

  1. Unta itu keluar dari batu, sedangkan unta-unta yang lain tidak demikian.
  2. Sumber-sumber air minum penduduk dibagi dua antara unta dan penduduk negeri itu. Pada hari unta itu minum, penduduk tidak boleh mengambil air. Untuk memenuhi keperluan air minum, mereka diperbolehkan memerah susu unta itu. Pada waktu giliran penduduk mengambil air, maka unta tidak datang untuk minum air ke tempat itu.
  3. Pada hari unta itu minum, binatang-binatang lain tidak datang ke tempat itu.

Sifat luar biasa dari unta itu merupakan bukti yang nyata bagi kerasulan Saleh. Mereka akan dibinasakan oleh Allah, jika melanggar perintah-Nya tentang unta itu.

Baca Juga:  Surah Al-Anfal Ayat 29; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Larangan Nabi Saleh agar mereka tidak menyentuh dan mengganggu unta itu tidak mereka hiraukan, bahkan mereka ingin membuktikan kebenaran ucapan Nabi Saleh. Oleh sebab itu, mereka ingin membunuhnya dan menantang apa yang telah diancamkan kepada mereka. Nabi Saleh mengatakan bahwa mereka akan dibinasakan oleh Allah setelah berlalu tiga hari karena perbuatan membunuh unta itu.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka melanjutkan lagi, “Kamu pun adalah manusia biasa seperti kami. Jadi, bagaimana mungkin kamu menganggap memiliki keistimewaan sebagai nabi dan rasul? Kalau ajakanmu memang benar, perlihatkanlah kepada kami suatu mukjizat yang dapat membuktikan kebenaran risalahmu.”

Surah Asy-Syu’ara Ayat 155
قَالَ هَذِهِ نَاقَةٌ لَّهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَّعْلُومٍ

Terjemahan: Shaleh menjawab: “Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu.

Tafsir Jalalain: قَالَ هَذِهِ نَاقَةٌ لَّهَا شِرْبٌ (Saleh menjawab, “Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air) maksudnya air minum وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَّعْلُومٍ (dan kalian mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu).

Tafsir Ibnu Katsir: Di saat itulah Nabiyullah Shalih as. membuat perjanjian dengan mereka, yakni jikalau ia mampu memperkenankan apa yang mereka minta, maka mereka harus mengimani dan mengikutinya. Dan mereka pun menerima perjanjian tersebut. Lalu, Nabiyullah Shalih as. melaksanakan shalat dan berdoa kepada Allah untuk memperkenankan permintaan mereka.

Maka terpecahlah batu yang mereka kehendaki tersebut karena keluarnya unta yang hamil 10 bulan itu sesuai dengan sifat yang telah mereka sebutkan. Lalu berimanlah sebagian di antara mereka dan sebagian yang lain tetap mengkufurinya.

قَالَ هَذِهِ نَاقَةٌ لَّهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَّعْلُومٍ (“Shalih menjawab: ‘Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari tertentu.”) yaitu kalian akan mendapatkan air kalian, satu hari untuk minum unta dan satu hari untuk minum kalian.

Tafsir Kemenag: Kaum Samud tetap tidak percaya pada kerasulan Nabi Saleh karena menurut mereka, dia adalah manusia biasa seperti mereka juga. Seharusnya rasul yang diutus Allah itu bukan manusia biasa, tetapi malaikat atau makhluk yang berbeda dengan mereka.

Utusan harus sanggup melakukan sesuatu yang ajaib dan aneh, di mana manusia tidak sanggup melaksanakannya. Oleh karena itu, mereka meminta Nabi Saleh untuk mendatangkan mukjizat sebagai bukti kerasulannya, atau yang menunjukkan bahwa dia adalah benar-benar nabi yang diutus Allah kepada mereka.

Allah memenuhi keinginan mereka dengan mendatangkan seekor unta betina sebagai mukjizat bagi Nabi Saleh. Mereka dilarang mengganggu unta tersebut, dan membiarkannya makan dan minum sesukanya. Nabi Saleh mengancam mereka dengan mengatakan bahwa mereka akan segera diazab Allah jika mengganggu unta itu.

Aspek-aspek kemukjizatan unta itu menurut para mufasir ialah:

  1. Unta itu keluar dari batu, sedangkan unta-unta yang lain tidak demikian.
  2. Sumber-sumber air minum penduduk dibagi dua antara unta dan penduduk negeri itu. Pada hari unta itu minum, penduduk tidak boleh mengambil air. Untuk memenuhi keperluan air minum, mereka diperbolehkan memerah susu unta itu. Pada waktu giliran penduduk mengambil air, maka unta tidak datang untuk minum air ke tempat itu.
  3. Pada hari unta itu minum, binatang-binatang lain tidak datang ke tempat itu.

Sifat luar biasa dari unta itu merupakan bukti yang nyata bagi kerasulan Saleh. Mereka akan dibinasakan oleh Allah, jika melanggar perintah-Nya tentang unta itu.

Larangan Nabi Saleh agar mereka tidak menyentuh dan mengganggu unta itu tidak mereka hiraukan, bahkan mereka ingin membuktikan kebenaran ucapan Nabi Saleh. Oleh sebab itu, mereka ingin membunuhnya dan menantang apa yang telah diancamkan kepada mereka. Nabi Saleh mengatakan bahwa mereka akan dibinasakan oleh Allah setelah berlalu tiga hari karena perbuatan membunuh unta itu.

Tafsir Quraish Shihab: Shalih–yang diberikan Allah mukjizat seekor unta–menanggapi tuntutan mereka, seraya berkata, “Ini adalah seekor unta dari Allah yang Dia jadikan sebagai mukjizat. Unta ini diberi giliran untuk minum pada hari tertentu, dan kalian dilarang minum pada hari itu. Demikian pula kalian mendapat jatah minum di hari lain ketika unta itu tidak boleh diberi minum.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 156
وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Terjemahan: Dan janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar”.

Tafsir Jalalain: وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَظِيمٍ (Dan janganlah kalian sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, yang menyebabkan kalian akan ditimpa azab hari yang besar”) yakni azab yang besar-besar.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 84-88; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَظِيمٍ (“Dan jangan kamu sentuh unta itu dengan suatu kejahatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh adzab [di] hari yang besar.”) Lalu nabi Shalih as. mengancam mereka dengan kemurkaan Allah jika mereka menyentuh unta itu dengan kejahatan.

Maka unta itu diam di lingkungan mereka beberapa lama, minum air, makan dedaunan dan rumput serta mereka dapat mengambil manfaat dengan memerah susunya untuk minuman mereka. setelah waktu berlalu cukup lama, dan telah muncul orang-orang jahat di antara mereka, maka mereka mulai cenderung untuk membunuh dan menyembelih unta tersebut.

Tafsir Kemenag: Kaum Samud tetap tidak percaya pada kerasulan Nabi Saleh karena menurut mereka, dia adalah manusia biasa seperti mereka juga. Seharusnya rasul yang diutus Allah itu bukan manusia biasa, tetapi malaikat atau makhluk yang berbeda dengan mereka.

Utusan harus sanggup melakukan sesuatu yang ajaib dan aneh, di mana manusia tidak sanggup melaksanakannya. Oleh karena itu, mereka meminta Nabi Saleh untuk mendatangkan mukjizat sebagai bukti kerasulannya, atau yang menunjukkan bahwa dia adalah benar-benar nabi yang diutus Allah kepada mereka.

Allah memenuhi keinginan mereka dengan mendatangkan seekor unta betina sebagai mukjizat bagi Nabi Saleh. Mereka dilarang mengganggu unta tersebut, dan membiarkannya makan dan minum sesukanya. Nabi Saleh mengancam mereka dengan mengatakan bahwa mereka akan segera diazab Allah jika mengganggu unta itu.

Aspek-aspek kemukjizatan unta itu menurut para mufasir ialah:

  1. Unta itu keluar dari batu, sedangkan unta-unta yang lain tidak demikian.
  2. Sumber-sumber air minum penduduk dibagi dua antara unta dan penduduk negeri itu. Pada hari unta itu minum, penduduk tidak boleh mengambil air. Untuk memenuhi keperluan air minum, mereka diperbolehkan memerah susu unta itu. Pada waktu giliran penduduk mengambil air, maka unta tidak datang untuk minum air ke tempat itu.
  3. Pada hari unta itu minum, binatang-binatang lain tidak datang ke tempat itu.

Sifat luar biasa dari unta itu merupakan bukti yang nyata bagi kerasulan Saleh. Mereka akan dibinasakan oleh Allah, jika melanggar perintah-Nya tentang unta itu.

Larangan Nabi Saleh agar mereka tidak menyentuh dan mengganggu unta itu tidak mereka hiraukan, bahkan mereka ingin membuktikan kebenaran ucapan Nabi Saleh. Oleh sebab itu, mereka ingin membunuhnya dan menantang apa yang telah diancamkan kepada mereka. Nabi Saleh mengatakan bahwa mereka akan dibinasakan oleh Allah setelah berlalu tiga hari karena perbuatan membunuh unta itu.

Tafsir Quraish Shihab: Janganlah kalian ganggu unta ini, jika kalian tidak ingin dibinasakan oleh azab yang besar.”

Surah Asy-Syu’ara Ayat 157
فَعَقَرُوهَا فَأَصْبَحُوا نَادِمِينَ

Terjemahan: Kemudian mereka membunuhnya, lalu mereka menjadi menyesal,

Tafsir Jalalain: فَعَقَرُوهَا (Kemudian mereka membunuhnya) yakni disembelih oleh sebagian dari mereka dengan persetujuan mereka semua فَأَصْبَحُوا نَادِمِينَ (lalu mereka menjadi menyesal) karena telah membunuhnya.

Tafsir Ibnu Katsir: فَعَقَرُوهَا فَأَصْبَحُوا نَادِمِينَ (“Kemudian mereka membunuhnya, lalu mereka menjadi menyesal.)

Tafsir Kemenag: (157-159) Ayat ini menerangkan bahwa kaum Samud ingin membuktikan kebenaran ucapan Nabi Saleh, lalu mereka membunuh unta tersebut. Akan tetapi, setelah mereka menyembelih unta itu, terutama setelah melihat tanda-tanda azab Allah akan tiba, mereka menyesal. Terlebih ketika bumi mereka diguncang gempa serta dibarengi sambaran petir dan halilintar yang mengakibatkan rumah-rumah mereka rata dengan tanah.

Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menerangkan berbagai azab yang membinasakan mereka. Ada ayat-ayat yang menerangkan bahwa mereka dibinasakan dengan sa?iqah (petir) (Fussilat/41: 17 dan ad-dariyat/51: 44). Sementara ayat lain menyebutkan dengan rajfah (guncangan bumi yang amat keras) (al-A?raf/7: 78).

Pada ayat yang lain disebut dengan saihah (suara yang amat keras dari langit) (Hud/11: 67; al-Hijr/15: 83; dan al-Qamar/54: 31). Ada pula yang menyebutkan bahwa mereka dihancurkan dengan Tagiyah (kejadian yang luar biasa) (al-Haqqah/69: 5).

Ayat-ayat ini tidaklah bertentangan karena mereka dibinasakan dengan petir (Sa?iqah). Adapun guncangan bumi yang amat keras (rajfah), suara keras dari langit (saihah), dan kejadian yang luar biasa (tagiyah) adalah gejala dan sifat dari petir. Demikian hebatnya petir itu sampai mengguncang bumi dan menimbulkan suara yang amat keras. Kesemuanya itu membinasa?kan mereka dan ini adalah suatu kejadian yang luar biasa.

Dalam sekejap mata, mereka telah menjadi tubuh-tubuh yang tiada bergerak, mati dan tersungkur di dalam rumah mereka. Kemudian mereka lenyap dari permukaan bumi, tidak ada yang kelihatan lagi selain tempat tinggal mereka, seakan-akan mereka tidak pernah hidup dan berada di tempat itu. Karena mereka telah dimusnahkan Allah, maka dalam sejarah mereka termasuk salah satu dari bangsa Arab yang telah musnah (al-?Arab al-Ba?idah).

Nabi Saleh dan orang-orang yang beriman diselamatkan Allah dari azab itu. Mereka mengungsi ke Ramallah, salah satu kota di Palestina. Di kota ini terdapat kuburan Nabi Saleh yang masih dikenal sampai sekarang. Akan tetapi, ada pula yang mengatakan bahwa kuburan Nabi Saleh berada di Yaman, dan ada pula yang berpendapat di Yordan. Menurut Ibnu Khald?n, Nabi Saleh menyeru kaumnya kepada agama Allah selama dua puluh tahun dan ia meninggal pada umur lima puluh delapan tahun.

Baca Juga:  Surah An-Naml Ayat 32-35; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Negeri-negeri kaum Samud dan bangunan-bangunan yang mereka dirikan sampai sekarang masih ada bekasnya. Sarjana-sarjana barat telah banyak berkunjung ke tempat ini. Mereka telah menulis bekas-bekas peninggalan kaum Samud dan rumah-rumah kediaman yang mereka pahat dari gunung-gunung batu itu. Di antaranya adalah C.M. Daughty yang menulis buku dengan judul Arabia Desserta.

Ketika Rasulullah melewati kampung-kampung kaum Samud dalam perjalanan ekspedisi, yaitu Tabuk, beliau bersabda kepada para sahabat:

Kamu jangan masuk kampung orang-orang yang telah diazab itu, melainkan dengan menangis, jika tidak dengan menangis, maka janganlah kamu masuk kampung mereka, agar kamu tidak ditimpa azab sebagaimana yang telah menimpa mereka. (Riwayat asy-Syaikhan dari Ibnu ?Umar).

Peninggalan dan bekas-bekas mereka itu diabadikan di dalam Al-Qur’an untuk menjadi pelajaran. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menyuruh orang agar mengadakan perjalanan di bumi, untuk memperhatikan peninggalan-peninggalan dan bekas-bekas kaum yang telah dibinasakan oleh Allah, karena pembangkangan mereka terhadap perintah-Nya, seperti kaum Samud tersebut. Sesungguhnya Allah berbuat kebaikan kepada semua manusia, amat keras azab-Nya dan amat besar rahmat-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Tetapi mereka kemudian membunuh unta itu dan menyalahi kesepakatan mereka dengan Shalih. Karenanya, mereka berhak mendapatkan azab. Lalu mereka pun menyesali perbuatan itu.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 158
فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ

Terjemahan: maka mereka ditimpa azab. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman.

Tafsir Jalalain: فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ (Maka mereka ditimpa azab) yang telah diancamkan itu, sehingga binasalah mereka semuanya إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ (Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman).

Tafsir Ibnu Katsir: فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ (Maka mereka ditimpa adzab.”) dimana bumi mereka diguncang gempa yang dahsyat dan didatangkan kepada mereka teriakan keras yang dapat menggetarkan hati serta didatangkan kepada mereka urusan yang telah mereka perkirakan. Mereka semua mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa kaum Samud ingin membuktikan kebenaran ucapan Nabi Saleh, lalu mereka membunuh unta tersebut. Akan tetapi, setelah mereka menyembelih unta itu, terutama setelah melihat tanda-tanda azab Allah akan tiba, mereka menyesal. Terlebih ketika bumi mereka diguncang gempa serta dibarengi sambaran petir dan halilintar yang mengakibatkan rumah-rumah mereka rata dengan tanah.

Tafsir Quraish Shihab: Sesuai dengan peringatan Shalih, mereka pun kemudian dibinasakan oleh azab Allah. Rasa penyesalan mereka tak berguna lagi untuk menepis siksaan akibat dosa-dosa mereka.

Sesungguhnya dalam kisah mereka ini terdapat bukti kekuasaan Allah yang akan menghancurkan orang-orang kafir dan menyelamatkan orang-orang Mukmin. Tetapi banyak dari kaummu, Muhammad, yang tidak mempercayainya.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 159
وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

Terjemahan: Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Tafsir Jalalain: وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang).

Tafsir Ibnu Katsir: وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (“Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia lah Yang Mahaperkasalagi Mahapenyayang.”)

Tafsir Kemenag: Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menerangkan berbagai azab yang membinasakan mereka. Ada ayat-ayat yang menerangkan bahwa mereka dibinasakan dengan sa?iqah (petir) (Fussilat/41: 17 dan ad-dariyat/51: 44). Sementara ayat lain menyebutkan dengan rajfah (guncangan bumi yang amat keras) (al-A?raf/7: 78).

Pada ayat yang lain disebut dengan saihah (suara yang amat keras dari langit) (Hud/11: 67; al-Hijr/15: 83; dan al-Qamar/54: 31). Ada pula yang menyebutkan bahwa mereka dihancurkan dengan Tagiyah (kejadian yang luar biasa) (al-Haqqah/69: 5).

Tafsir Quraish Shihab: Dan sesungguhnya Penciptamu Mahakuasa untuk membinasakan orang-orang yang membangkang, Maha Pengasih untuk menyelamatkan orang-orang yang bertakwa.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 153-159 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S