Surah Asy-Syu’ara Ayat 221-227; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Asy-Syu'ara Ayat 221-227

Pecihitam.org – Kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 221-227 ini, Allah menerangkan kebiasaan dan kepercayaan bangsa Arab Jahiliah dengan bentuk pertanyaan kepada manusia sehingga mereka dapat menilai dengan membedakan antara kebenaran wahyu dan kedustaan tukang-tukang ramal.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’ara Ayat 221-227

Surah Asy-Syu’ara Ayat 221
هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَن تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ

Terjemahan: Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun?

Tafsir Jalalain: هَلْ أُنَبِّئُكُمْ (Apakah akan Aku beritakan kepada kalian) hai orang-orang kafir Mekah عَلَى مَن تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ (kepada siapa setan-setan itu turun?) Tanazzalu pada asalnya dibaca Tatanazzalu kemudian salah satu huruf Ta dibuang sehingga menjadi Tanazzalu.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman berdialog dengan orang-orang musyrik yang mengira bahwa risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw. tidak benar dan merupakan sesuatu yang dibuat-buat oleh dirinya sendiri atau hasil yang diperoleh dari pemberian jin.

Maka Allah swt. mensucikan diri Rasulullah saw. dari berbagai komentar dan tuduhan mereka serta mengingatkan bahwa risalah yang dibawanya adalah benar-benar berasal dari sisi Allah swt. Untuk itu Allah berfirman: هَلْ أُنَبِّئُكُمْ (“Apakah akan Aku beritakan kepadamu.”) maukah Aku beritakan kepada kalian: عَلَى مَن تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan kebiasaan dan kepercayaan bangsa Arab Jahiliah dengan bentuk pertanyaan kepada manusia sehingga mereka dapat menilai dengan membedakan antara kebenaran wahyu dan kedustaan tukang-tukang ramal.

Pertanyaan itu ialah: Wahai manusia, apakah akan Aku nyatakan kepada kamu sekalian suatu berita yang bila kamu ketahui akan bermanfaat bagimu dan memurnikan ketaatan dan ketundukanmu kepada Allah, dalam menyelesaikan masalah-masalah dunia, dalam membedakan dan menilai kebenaran wali-wali Allah dan kawan-kawan setan dan kepada siapa setan itu pulang balik berusaha mencari-cari dan mendengarkan seruan suatu berita.

Kemudian Allah sendiri menjawab pertanyaan itu dengan menyatakan bagaimana setan-setan menyampaikan bisikan-bisikan kepada tukang ramal dan bagaimana tukang ramal menyampaikan bisikan itu kepada manusia yang datang kepadanya, yaitu:

  1. Setan-setan itu datang berulang-ulang kepada orang-orang yang suka berdusta, berbohong, banyak melakukan perbuatan dosa, dan mengaku sebagai tukang ramal. Kepada mereka, setan membisikkan pikiran-pikiran yang tidak ada artinya dan khayalan-khayalan yang pada umumnya tidak sesuai dengan kenyataan.
  2. Setan juga membisikkan kepada para peramal itu informasi yang dicarinya, kemudian mereka menyampaikan kepada orang-orang yang datang kepada mereka sebagai hasil ramalannya. Hasil ramalan itu diyakini sebagai suatu kebenaran oleh orang-orang yang percaya kepadanya.

Ayat-ayat ini seakan-akan menyuruh manusia membandingkan sendiri proses penyampaian wahyu kepada Nabi Muhammad dan isinya dengan proses penyampaian bisikan setan kepada tukang ramal, yang kemudian mereka sampaikan pula kepada orang-orang yang percaya kepada ramalan itu. Dengan membandingkan antara wahyu dan ramalan, mereka akan melihat dengan jelas perbedaannya.

Wahyu bukan sekadar bisikan-bisikan yang tidak ada maknanya, tetapi merupakan petunjuk bagi manusia yang ingin hidup bahagia di dunia dan akhirat. Wahyu dapat dibuktikan kebenarannya, baik dari sisi logika, budi pekerti yang mulia, maupun dari sisi adat kebiasaan, sedangkan ramalan tidak demikian.

Ramalan tidak sama dengan akal pikiran yang benar, apalagi bila ditinjau dari sisi budi pekerti yang mulia dan adat kebiasaan yang baik. Yang menyampaikan wahyu Allah adalah Malaikat Jibril, dan penerimanya ialah Nabi Muhammad, orang yang dapat dipercaya dan dikenal berbudi pekerti yang baik.

Adapun tukang-tukang ramal kebanyakan pendusta dan pembohong, tidak bermoral baik, dan tidak disukai masyarakat, mengaku dirinya sebagai tukang ramal setelah mendapatkan bisikan-bisikan setan.

Ayat ini menolak dakwaan orang-orang musyrik Mekah yang menuduh bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad bukanlah sesuatu yang benar, tetapi berasal dari bisikan-bisikan setan.

Allah membersihkan nama baik Rasul-Nya dari berbagai tuduhan yang mereka ada-adakan itu, dengan menyatakan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad adalah wahyu Allah yang disampaikan kepadanya dengan perantaraan malaikat Jibril, bukan dari setan.

Mendatangi para peramal termasuk adat kebiasaan dan kepercayaan orang-orang Arab Jahiliah. Biasanya mereka mendatangi para peramal untuk menanyakan sesuatu yang belum mereka ketahui, seperti tentang nasib di masa depan, jodoh putri mereka, perkiraan hasil usaha yang akan mereka usahakan, dan sebagainya. Di samping itu, para peramal kadang-kadang berfungsi sebagai seorang tabib yang mengobati segala macam penyakit.

Apa yang diramalkan para peramal itu biasanya tidak benar. Apabila yang diramalkan itu benar-benar terjadi, itu hanyalah suatu kebetulan saja. Rasulullah telah mengingatkan bahwa mendatangi peramal merupakan perbuatan dosa, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah hadis:

Barang siapa mendatangi peramal dan menanyakan sesuatu, maka salatnya empat puluh malam tidak akan diterima (Riwayat Ahmad dan Muslim dari safiyyah).

Barang siapa mendatangi peramal atau dukun, dan dia mempercayai terhadap apa yang dikatakan, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. (Riwayat Ahmad dan al-hakim dari Abu Hurairah).

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang musyrik berkata, “Sungguh telah datang sekelompok setan yang meggoda Muhammad.” Alquran membantah tuduhan mereka dengan menyatakan, “Maukah kalian Kami beritahu siapakah orang yang telah didatangi dan digoda oleh setan?”

Surah Asy-Syu’ara Ayat 222
تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ

Terjemahan: Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa,

Tafsir Jalalain: تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ (Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta) yakni orang yang banyak berdusta أَثِيمٍ (lagi yang banyak dosa) durhaka, seperti Musailamah dan lain-lainnya dari kalangan orang-orang ahli peramal.

Tafsir Ibnu Katsir: تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (“Kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap affaakin atsiim.”) affaaak; yaitu para pendusta dalam perkataannya, atsiim; yaitu orang yang durjana dalam perbuatannya. Inilah orang-orang yang kepadanya setan-setan itu turun, yaitu para dukun dan para pendusta fasik yang sejenis dengan mereka. karena setan-setan itu pun adalah pendusta yang fasik.

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah sendiri menjawab pertanyaan itu dengan menyatakan bagaimana setan-setan menyampaikan bisikan-bisikan kepada tukang ramal dan bagaimana tukang ramal menyampaikan bisikan itu kepada manusia yang datang kepadanya, yaitu:

Setan-setan itu datang berulang-ulang kepada orang-orang yang suka berdusta, berbohong, banyak melakukan perbuatan dosa, dan mengaku sebagai tukang ramal. Kepada mereka, setan membisikkan pikiran-pikiran yang tidak ada artinya dan khayalan-khayalan yang pada umumnya tidak sesuai dengan kenyataan.

Tafsir Quraish Shihab: Setan akan menghampiri setiap orang yang membuat kebohongan paling buruk dan melakukan dosa amat keji. Mereka adalah para pendeta jahat yang memiliki perangai menyerupai setan.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 223
يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ

Terjemahan: mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.

Tafsir Jalalain: يُلْقُونَ (Mereka menghadapkan) yakni setan-setan itu السَّمْعَ (pendengaran) apa yang telah mereka curi dengar dari para malaikat, kemudian mereka menyampaikannya kepada para ahli ramal وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ (dan kebanyakan mereka itu adalah orang-orang pendusta) mereka menambahi kedustaan kepada apa yang telah mereka dengar itu dengan kedustaan yang banyak; hal ini berlangsung sebelum setan-setan itu dihalangi untuk mencapai langit.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 61-62; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: يُلْقُونَ السَّمْعَ (“Mereka menghadapkan pendengaran.”) yaitu mencuri pendengaran dari langit, hingga mereka mendengar kalimat dari ilmu ghaib, lalu ditambahkannya dengan 100 kedustaan. Kemudian, hal itu disampaikan kepada manusia yang menjadi wali-wali mereka. lalu diceritakannya hal itu dan dibenarkan oleh manusia setiap apa yang mereka katakan, dengan sebab kejujuran mereka terhadap kalimat yang didengarnya dari langit itu sebagaimana yang telah shahih dalam hadits mengenai hal itu.

Al-Bukhari meriwayatkan dari hadits az-Zuhri, telah mengabarkan kepadaku Yahya bin ‘Urwah bin az-Zubair, bahwa ia mendengar ‘Urwah bin az-Zubair berkata: ‘Aisyah ra. berkata: “Para shahabat bertanya kepada Nabi saw. tentang para dukun. Lalu beliau saw. bersabda: “Mereka bukan apa-apa.” Mereka bertanya kembali: “Ya Rasulullah, mereka mengatakan sesuatu yang terkadang benar.” Maka Nabi bersabda: “Kalimat itu adalah bagian kebenaran yang dicuri oleh jin, kemudian dibisikkan ke telinga walinya seperti kokokan ayam. Maka, mereka mencampurnya dengan lebih dari 100 kedustaan.”

Al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Para malaikat bercerita di atas langit tentang urusan yang terjadi di muka bumi, lalu setan-setan itu mendengar kalimat tersebut yang kemudian diperdengarkan kepada telinga para dukun sebagaimana botol bergerincing. Maka, mereka menambahkan bersamanya dengan 100 kedustaan.”

Tafsir Kemenag: Ayat-ayat ini seakan-akan menyuruh manusia membandingkan sendiri proses penyampaian wahyu kepada Nabi Muhammad dan isinya dengan proses penyampaian bisikan setan kepada tukang ramal, yang kemudian mereka sampaikan pula kepada orang-orang yang percaya kepada ramalan itu. Dengan membandingkan antara wahyu dan ramalan, mereka akan melihat dengan jelas perbedaannya.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka menyimak kata-kata setan yang memperdengarkan dugaan-dugaan yang menjadikan mereka sebagai pendusta.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 224
وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ

Terjemahan: Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.

Tafsir Jalalain: وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ (Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat) di dalam syair-syair mereka, lalu mereka mengatakannya dan meriwayatkannya dari orang-orang yang sesat itu, maka mereka adalah orang-orang yang tercela.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ (“Dan penyair-penyair yang diikuti oleh orang-orang yang sesat.”) ‘Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas: “Orang-orang kafir itu diikuti oleh manusia dan jin yang sesat.”) demikianlah yang dikatakan oleh Mujahid ra. ‘Abdrurrahman bin Zaid bin Aslam dan selain keudanya.

‘Ikrimah ra. berkata: “Ada dua orang ahli syair yang saling bersaing. Satu ahli syair didukung oleh sebagian kelompok manusia dan yang satu ahli yang lain didukung pula oleh bagian kelompok manusia yang lain.” Maka Allah Ta’ala menurunkan: wasy-syu’araa-u yattabi’uHumul ghaawuun (“Dan penyair-penyair yang diikuti oleh orang-orang yang sesat.”) Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abu Sa’id berakata: “Di saat kami berjalan bersama Rasulullah saw. di tangga, tiba-tiba seorang ahli syair bersenandung, maka Nabi saw. bersabda: “Tahanlah setan oleh kalian. Karena penuhnya tenggorokan seseorang dengan nanah lebih baik daripada dipenuhi oleh syair.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa para penyair pada waktu itu sering diikuti orang-orang yang sesat dan menyimpang dari jalan yang lurus serta cenderung kepada perbuatan yang merusak. Sedangkan pengikut-pengikut Nabi Muhammad bukanlah demikian. Mereka banyak beribadah terutama salat dan selalu bersikap zuhud.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang kafir berkata, “Alquran itu hanyalah puisi karangan seorang penyair bernama Muhammad.” Allah memperlihatkan kepalsuan tuduhan mereka dengan memberikan penjelasan bahwa Alquran itu penuh dengan kata-kata bijak (hikam) dan aturan-aturan hukum (ahkam).

Gaya bahasa Alquran itu sangat berlainan dengan gaya bahasa kebanyakan para penyair di masa itu yang sarat dengan kepalsuan dan kebohongan.
Dan watak Muhammad sendiri pun berbeda dengan watak para penyair kebanyakan yang selalu berkata bohong.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 225
أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ

Terjemahan: Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah,

Tafsir Jalalain: أَلَمْ تَرَ (Tidakkah kamu melihat) apakah kamu tidak memperhatikan أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ (bahwasanya mereka di tiap-tiap lembah) yaitu di majelis-majelis pembicaraan dan sastra-sastranya, yakni majelis kesusasteraan يَهِيمُونَ (mengembara) yakni mereka mendatanginya, kemudian mereka melampaui batas di dalam pujian dan hinaan mereka melalui syair-syairnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ (“Tidakkah kamu melihat bahwasannya mereka mengembara di tiap-tiap lembah.”) ‘Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas: “Di dalam setiap permainan, mereka geluti.” Adh-Dhahhak berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Di dalam setiap seni bahasa.”

Demikian yang dikatakan oleh Mujahid dan lain-lain. Al-Hasan al-Bahsri berkata: “Sesungguhnya –demi Allah- kami melihat tempat-tempat mereka bergelut, sesekali mencela si fulan dan sesekali mereka memuji seseorang.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan jalan-jalan sesat yang telah ditempuh oleh para penyair dalam menyusun syairnya, yaitu:

  1. Para penyair itu membuat syair tanpa tujuan yang jelas. Kadang-kadang mereka memuji sesuatu yang pernah mereka cela, mengagungkan sesuatu yang pernah mereka hina, dan mengakui sesuatu yang pernah mereka ingkari kebenarannya. Hal ini membuktikan bahwa tujuan mereka membuat syair bukan untuk mencari kebenaran atau menyatakan sesuatu yang benar. Dalam menyusun syair-syair itu, mereka hanya berpegang pada khayalan. Semakin banyak khayalan dan angan-angan mereka, semakin baik pula syair yang mereka buat. Kesesatan ahli syair itu hanya diikuti oleh orang-orang yang sesat pula, tidak akan diikuti oleh orang-orang yang suka mencari kebenaran.
  2. Para ahli syair itu sering mengatakan apa yang tidak mereka lakukan. Mereka menganjurkan agar manusia pemurah dan suka memberi, tetapi mereka sendiri bakhil dan kikir. Mereka sering mengarang syair untuk menyinggung kehormatan orang lain, seperti mencela, mencaci-maki, dan sebagainya, karena sesuatu sebab yang kecil saja. Sebaliknya, mereka sering pula mengagungkan dan memuji-muji seseorang karena sebab yang kecil pula.

Demikianlah ciri-ciri penyair yang dicela oleh Allah. Akan tetapi, ada pula penyair yang baik budi pekertinya, dan cukup luas ilmu pengetahuannya. Syairnya mendorong semangat orang lain untuk berbuat baik, dan mengandung butir-butir hikmah, nasihat, dan pelajaran. Di antaranya adalah syair Umayyah bin Abi as-salt, sebagaimana sebagai berikut ini:

Dari ‘Amr bin asy-Syirid, dari bapaknya, bahwa ia berkata, “Pada suatu hari aku memboncengkan Rasulullah, maka beliau menanyakan kepadaku, ‘Apakah engkau menghafal beberapa bait syair Umayyah bin Abi as-salt? Aku menjawab, ‘Ada. Rasulullah berkata, ‘Bacalah segera. Maka aku membacakan satu bait. Rasulullah berkata, ‘Bacalah segera. Maka aku membacakannya satu bait lagi. Rasulullah berkata, ‘Lanjutkanlah. Aku melanjutkannya hingga seratus bait.” (Riwayat Muslim)

Sikap Rasulullah terhadap syair Umayyah bin Abi as-salt ini menunjukkan bahwa beliau menyukai syair dan para penyair, asalkan penyair itu orang yang berakhlak, bercita-cita luhur, dan syair-syairnya banyak mengandung butir-butir hikmah. Tidak seperti para penyair dan syair-syair yang sifat-sifatnya disebutkan pada ayat-ayat yang lalu (ayat 221-226). Para penyair dan syair-syair seperti itulah yang dicela dan dilarang oleh Rasulullah.

Baca Juga:  Surah At-Thur Ayat 29-34; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Tidakkah kalian mengetahui bagaimana para penyair itu mempermainkan kata-kata yang menutupi jalan kebenaran?

Surah Asy-Syu’ara Ayat 226
وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ

Terjemahan: dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?

Tafsir Jalalain: وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ (Dan bahwasanya mereka suka mengatakan) kami telah mengerjakan مَا لَا يَفْعَلُونَ (apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya) artinya, mereka suka berdusta.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Ta’ala: وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ (“Dan bahwasannya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan[nya].”) al-‘Aufi berkata, dari ‘Ibnu ‘Abbas: “Ada dua orang di masa Rasulullah saw. salah satunya dari kalangan Anshar dan yang kedua dari kalangan yang lain. Keduanya saling bersaing. Maka setiap orang di antara keduanya memiliki pendukung dari kaumnya, yaitu para sufaha [orang-orang yang bodoh],

maka Allah Ta’ala berfirman: وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ (“Dan penyair-penyair yang diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasannya mereka mengembara di tiap-tiap lembah. Dan bahwasannya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan[nya].”)

‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Kebanyakan kata-kata mereka adalah kedustaan.” Apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas ini adalah kenyataan yang terjadi sebenarnya. Karena para tukang syair berbangga-bangga dengan perkataan dan perbuatan yang tidak muncul dari diri mereka sendiri, bukan pula karena mereka, maka banyaklah sesuatu yang tidak ada sangkut-pautnya dengan mereka.

untuk itu para ‘ulama berbeda pendapat tentang hal dimana apabila tukang syair mengakui dalam syairnya terdapat sesuatu yang menyebabkan ia terkena hukuman had, apakah akan dikenakan hukuman had sebab pengakuan tersebut atau tidak, karena mereka mengucapkan apa-apa yang tidak mereka kerjakan? Dalam hal ini ada dua pendapat.

Muhammad bin Ishaq dan Muhammad bin Sa’ad dalam ath-Thabaqaat, serta az-Zubair bin Bikar dalam al-Fakahah menceritakan bahwa Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab ra. mengangkat an-Nu’man bin ‘Adi bin Nadh-lah sebagai pegawai di Maysan, tanah Bashrah. Dia mengucapkan syair yang menceritakan dirinya mabuk khamr dan mendengarkan lantunan seorang biduan.

Ketika berita tersebut sampai kepada Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab ra. beliau berkata: “Demi Allah, sesungguhnya hal tersebut memberikan penilaian jelekku kepadanya. Barangsiapa yang bertemu dengannya, maka beritahukan bahwa aku telah memecatnya.”

‘Umar menulis surat kepadanya: “Dengan nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang. haamiim. Diturunkan al-Kitab ini dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamengetahui. Mahapengampun dosa, Mahapenerima tobat, Mahakeras siksa-Nya, Yang mempunyai karunia. Tiada Ilah [yang haq] selain Dia. hanya kepada-Nyalah kembali semua makhluk.” (al-Mu’min: 1-3) Amma ba’du,

sesungguhnya perkataanmu telah sampai kepadaku.” Semoga Amirul Mukminin memburukkannya Kami duduk bersama, di istana yang hancur.
Dan demi Allah, sesungguhnya hal tersebut memberikan penilaian jelekku kepadamu dan aku memecatmu.”

Ketika ia menemui ‘Umar, ia menangis karena syair itu, dan berkata: “Demi Allah, ya Amirul Mukminin, aku sama sekali tidak menyadarinya. Syair itu sama sekali tidak keluar kecuali sesuatu yang meluap dari lisanku.” Lalu ‘Umar berkata: “Aku menduga demikian. Akan tetapi, demi Allah, engkau tidak akan menjadi pekerjaku selama-lamanya. Apa yang telah engkau ucapkan, ya sudah, itulah yang engkau ucapkan.”

Dia tidak menyebutkan hukuman had tersebut, sekalipun hal tersebut terkandung dalam syairnya, karena mengucapkan apa yang mereka tidak lakukan. Akan tetapi, ‘Umar ra. mencela, menghina dan memecatnya. Untuk itu, dijelaskan dalam sebuah hadits: “Sesungguhnya penuhnya tenggorokan kalian oleh nanah yang merusaknya lebih baik bagi kalian daripada dipenuhi oleh syair.” (Muttafaq ‘alaiH)

Yang dimaksud dengan hadits di atas adalah bahwa Rasulullah saw. yang al-Qur’an diturunkan kepadanya bukanlah seorang dukun, bukan pula seorang ahli syair. Karena sikap beliau bertentangan dengan sikap mereka dari berbagai sudut yang nyata.

Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya [Muhammad] dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang memberi penerangan.” (Yaasiin: 69)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan jalan-jalan sesat yang telah ditempuh oleh para penyair dalam menyusun syairnya, yaitu:

  1. Para penyair itu membuat syair tanpa tujuan yang jelas. Kadang-kadang mereka memuji sesuatu yang pernah mereka cela, mengagungkan sesuatu yang pernah mereka hina, dan mengakui sesuatu yang pernah mereka ingkari kebenarannya. Hal ini membuktikan bahwa tujuan mereka membuat syair bukan untuk mencari kebenaran atau menyatakan sesuatu yang benar. Dalam menyusun syair-syair itu, mereka hanya berpegang pada khayalan. Semakin banyak khayalan dan angan-angan mereka, semakin baik pula syair yang mereka buat. Kesesatan ahli syair itu hanya diikuti oleh orang-orang yang sesat pula, tidak akan diikuti oleh orang-orang yang suka mencari kebenaran.
  2. Para ahli syair itu sering mengatakan apa yang tidak mereka lakukan. Mereka menganjurkan agar manusia pemurah dan suka memberi, tetapi mereka sendiri bakhil dan kikir. Mereka sering mengarang syair untuk menyinggung kehormatan orang lain, seperti mencela, mencaci-maki, dan sebagainya, karena sesuatu sebab yang kecil saja. Sebaliknya, mereka sering pula mengagungkan dan memuji-muji seseorang karena sebab yang kecil pula.

Demikianlah ciri-ciri penyair yang dicela oleh Allah. Akan tetapi, ada pula penyair yang baik budi pekertinya, dan cukup luas ilmu pengetahuannya. Syairnya mendorong semangat orang lain untuk berbuat baik, dan mengandung butir-butir hikmah, nasihat, dan pelajaran. Di antaranya adalah syair Umayyah bin Abi as-salt, sebagaimana sebagai berikut ini:

Dari ‘Amr bin asy-Syirid, dari bapaknya, bahwa ia berkata, “Pada suatu hari aku memboncengkan Rasulullah, maka beliau menanyakan kepadaku, ‘Apakah engkau menghafal beberapa bait syair Umayyah bin Abi as-salt? Aku menjawab, ‘Ada. Rasulullah berkata, ‘Bacalah segera. Maka aku membacakan satu bait. Rasulullah berkata, ‘Bacalah segera. Maka aku membacakannya satu bait lagi. Rasulullah berkata, ‘Lanjutkanlah. Aku melanjutkannya hingga seratus bait.” (Riwayat Muslim)

Sikap Rasulullah terhadap syair Umayyah bin Abi as-salt ini menunjukkan bahwa beliau menyukai syair dan para penyair, asalkan penyair itu orang yang berakhlak, bercita-cita luhur, dan syair-syairnya banyak mengandung butir-butir hikmah. Tidak seperti para penyair dan syair-syair yang sifat-sifatnya disebutkan pada ayat-ayat yang lalu (ayat 221-226). Para penyair dan syair-syair seperti itulah yang dicela dan dilarang oleh Rasulullah.

Tafsir Quraish Shihab: Dan sungguh mereka seringkali mengatakan sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 227
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُوا وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ

Terjemahan: kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 46-49; Seri Tadabbur Al Qur'an

Tafsir Jalalain: إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ (Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh) dari kalangan para penyair itu وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا (dan banyak menyebut Allah) maksudnya syair tidaklah melupakan mereka untuk berzikir kepada Allah وَانتَصَرُوا (dan mendapat kemenangan) melalui syairnya atas orang-orang kafir مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُوا (sesudah menderita’ kelaliman) artinya sesudah orang-orang kafir menghina mereka melalui syair-syairnya yang ditujukan kepada kaum Mukminin semuanya. Mereka tidak tercela dengan syair mereka itu, karena dalam firman yang lain Allah swt. telah berfirman, “Allah tidak menyukai ucapan buruk yang diucapkan dengan terus terang kecuali orang-orang yang dianiaya.” (Q.S. An Nisa 148).

Allah telah berfirman pula dalam ayat yang lain, yaitu, “Oleh karena itu barang siapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadap kalian.” (Q.S. 2 Al Baqarah, 194)

وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا (“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui) yaitu mereka yang zalim dari kalangan para penyair dan lain-lainnya أَيَّ مُنقَلَبٍ (ke tempat mana) yakni tempat kembali yang mana يَنقَلِبُونَ (mereka akan kembali”) sesudah mereka mati nanti.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ (“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih.”) Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Mujahid, Qatadah, Zaid bin Aslam dan banyak ulama berkata bahwa ini adalah pengecualian terhadap hal yang lalu. Tidak ada keraguan lagi, bahwa hal tersebut memang pengecualian. wallaaHu a’lam.

Di dalamnya termasuk para tukang syair kaum Anshar dan lain-lain serta termasuk pula di dalamnya orang yang bergelut dengan syair jahiliyyah yang mencela Islam dan para penganutnya, kemudian ia bertobat, berserah diri, kembali, mencabut diri, beramal shalih dan banyak mengingat Allah sebagai lawan dari perkataan buruknya yang lalu. Karena berbagai kebaikan akan menghapus berbagai keburukan.

Demikian yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Abu Sufyan, Shakhr bin Harb ketika masuk Islam ia berkata: “Ya Rasulullah, berikan aku [perintah] tiga hal.” Beliau menjawab: “Ya.” Dia berkata: “Mu’awiyah engkau jadikan penulis pendampingmu.” Beliau menjawab: “Ya.” Dia berkata: “Engkau perintahkan aku hingga aku perangi orang-orang kafir seperti dulu aku memerangi orang-orang Muslim.” Beliau menjawab: “Ya.” Dan dia menyebut yang ketiga.

Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman: إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ (“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih.”) dikatakan maknanya adalah mereka banyak menyebut Allah dalam pembicaraan mereka. pendapat lain mengatakan, yaitu di syi’ir-syi’ir mereka. keduanya adalah shahih, yaitu sesuatu yang dapat menghapus hal-hal yang lalu.

Firman Allah: وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُوا (“Dan mendapat kemenangan sesudah menderita kedhaliman.”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Yaitu mereka membalas orang-orang kafir yang menyombongkan diri terhadap orang-orang mukmin.” Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah dan banyak ulama lainnya.

Pendapat ini sebagaimana tercantum dalam hadits shahih, bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Hassan: “Tandingi mereka dan Jibril bersamamu.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik bahwa ayahnya berkata kepada Nabi saw. “Sesungguhnya Allah swt. telah menurunkan ayat untuk para ahli syair.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya orang Mukmin berjuang itu dengan pedang dan lisannya. Demi Allah Rabb yang jiwaku ada di tangan-Nya, seakan-akan kalian melontarkan anak ujung tombak kepada mereka.”

Firman Allah Ta’ala: وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ (“Dan orang-orang yang dhalim itu akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”) di dalam hadits shahih dinyatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jauhkanlah oleh kalian kedhaliman. Karena kedhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”

Qatadah bin Di’amah berkata mengenai firman Allah Ta’ala: وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ (“Dan orang-orang yang dhalim itu akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”) yang benar ayat ini berlaku umum pada setiap orang yang dhalim, sebagaimana ibnu Abi Hatim berkata bahwa ‘Aisyah ra. berkata:

“Ayahku menulis wasiatnya menjadi dua baris: ‘BismillaaHir rahmaanir rahiim. Ini adalah wasiat Abu Bakar bin Abi Qahafah ketika meninggal dunia, di saat orang kafir beriman, orang fajir berhenti dan pendusta menjadi jujur.

Sesungguhnya aku mengangkat ‘Umar binaal-Khaththab sebagai penggantiku. Jika ia berbuat adil, maka itulah dugaanku dan harapanku. Sedangkan jika ia berbuat dhalim dan berubah, maka aku tidak mengetahui yang ghaib. وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ (“Dan orang-orang yang dhalim itu akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa syair dan penyair yang baik dan bermanfaat itu ialah yang mempunyai sifat-sifat di bawah ini:

  1. Beriman kepada Allah.
  2. Beramal saleh.
  3. Menyebut dan mengagungkan nama Allah, sehingga menambah kemantapan imannya kepada kebesaran dan keesaan-Nya.
  4. Mendorong orang-orang yang beriman untuk berjihad, menegakkan agama Allah, melepaskan diri dari penganiayaan orang-orang yang memusuhi mereka dan agama-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-thabari dan Ibnu Abi Syaibah bahwa tatkala ayat di atas turun, datanglah hassan bin sabit, ‘Abdullah bin Rawahah, dan Ka’ab bin Malik menghadap Rasulullah. Mereka dalam keadaan menangis dan menyesali diri karena mereka termasuk para penyair. Maka Rasulullah membacakan ayat ini (asy-Syu’ara’/26: 227) kepada mereka.

Sejak permulaan surah ini, Allah telah menerangkan dalil-dalil akal tentang kekuasaan dan kebesaran-Nya melalui kisah para nabi terdahulu dengan umatnya yang dapat menghibur Rasulullah yang sedang gundah karena sikap kaumnya.

Kisah-kisah itu juga menerangkan bukti-bukti kebenaran para nabi yang diutus-Nya, perbedaan tukang ramal dengan Rasulullah, membandingkan para penyair dan syair yang buruk dengan para penyair dan syair yang terpuji. Surah ini ditutup dengan peringatan keras yang ditujukan kepada orang-orang yang menentang agama Allah bahwa mereka kelak akan tahu tempat kembali mereka, yaitu neraka yang tidak terbayangkan pedih siksaannya.

Tafsir Quraish Shihab: Akan tetapi, kalangan penyair yang mengikuti petunjuk-petunjuk ketuhanan dan berbuat kebajikan sehingga memiliki kepribadian yang luhur, dan selalu mengingat Allah dengan penuh rasa khusyuk hingga timbul rasa takutnya kepada Allah, adalah penyair-penyair yang menjadikan syairnya sebagai pelipur lara dan sebagai sarana untuk membela agama dan mempertahankan kebenaran pada saat kebenaran diinjak- injak.

Orang-orang yang menzalimi diri sendiri dengan berbuat syirik dan mengejek Rasulullah ﷺ. itu kelak akan tahu akibat buruk mana yang menjadi tempat kembali mereka.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 221-227 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S