Surah Asy-Syu’ara Ayat 78-82; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Asy-Syu'ara Ayat 78-82

Pecihitam.org – Kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 78-82 ini, Nabi Ibrahim menjelaskan sebagian dari dalil-dalil keesaan Tuhan, yang merupakan sebagian dari sifat-sifat Allah Rabbul ‘alamin. Allah adalah pencipta manusia, dengan ciptaan yang sebaik-baiknya. Dia pula yang memberi petunjuk (hidayah).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah memberi manusia makan dan minum. Makan dan minum itu merupakan rezeki dari Allah. Caranya Allah memberi rezeki itu dengan jalan memudahkan bagi manusia untuk memperolehnya. Semuanya itu bergantung kepada kecakapan dan pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing manusia.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’ara Ayat 78-82

Surah Asy-Syu’ara Ayat 78
الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ

Terjemahan: (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku,

Tafsir Jalalain: الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (Yaitu Tuhan yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang menunjuki aku) kepada agama yang benar.

Tafsir Ibnu Katsir: Yakni, aku tidak beribadah kecuali kepada Rabb yang dapat melakukan semua ini, الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (“Yaitu Rabb Yang telah menciptakanku, maka Dialah yang menunjuki aku.”) yakni Mahapencipta yang telah menetapkan takdir dan menunjuki seluruh makhluk kepada-Nya. Dia lah Yang Memberi hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat-ayat berikut ini, Nabi Ibrahim menjelaskan sebagian dari dalil-dalil keesaan Tuhan, yang merupakan sebagian dari sifat-sifat Allah Rabbul ‘alamin. Allah adalah pencipta manusia, dengan ciptaan yang sebaik-baiknya. Dia pula yang memberi petunjuk (hidayah).

Seperti diketahui, hidayah itu bermacam-macam. Ada hidayah yang disebut dengan hidayah pancaindra, hidayah akal (pikiran), hidayah insting (kepandaian yang dibawa sejak lahir), dan hidayah agama (ad-din). Akal adalah hidayah Tuhan yang sangat berharga, sebab dengan akal manusia sanggup membedakan yang buruk dengan yang baik. Akal pula yang membedakan manusia dengan hewan.

Namun demikian, akal saja belum merupakan jaminan bagi keselamatan manusia. Oleh sebab itu, Allah melengkapi nikmatnya dengan memberikan kepada mereka agama. Hidayah agama itu hanya Tuhan sajalah yang memberinya. Bila seseorang dikehendaki Allah memperoleh hidayah (agama), tidak seorang pun yang dapat menghalanginya. Sebaliknya jika Allah belum menghendaki yang demikian, tidak ada yang bisa memberikan petunjuk.

Bahkan nabi dan rasul sendiri pun yang ditugaskan membawa hidayah itu juga tidak punya wewenang untuk memberi hidayah seperti terlihat dalam kisah Nabi Ibrahim pada ayat yang lain (Surah al-An’am/6: 74-88) yang menceritakan dialog antara beliau dengan bapaknya (azar) dan kaumnya. Ibrahim berusaha mengislamkan bapaknya, tetapi Allah tidak memberi hidayah, sehingga dia tetap dalam kemusyrikan.

Baca Juga:  Surah Al-Maidah Ayat 59-63; Seri Tadabbur Al Qur'an

Demikian juga halnya paman Nabi Muhammad, Abu thalib, yang sudah banyak berjasa dalam mengembangkan dakwah Nabi di Mekah. Nabi sangat menginginkan pamannya masuk Islam, tetapi Allah belum memberi hidayah sehingga ia tetap musyrik sampai akhir hayatnya. Allah berfirman:

Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (al-Qasas/28: 56).

Tafsir Quraish Shihab: Dialah yang telah menciptakan aku dari ketiadaan dalam bentuk yang sempurna. Dia juga memberi petunjuk kepadaku agar dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 79
وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ

Terjemahan: dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku,

Tafsir Jalalain: وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (Dan Tuhanku, yang memberi makan dan minum kepadaku).

Tafsir Ibnu Katsir: وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (“Dan Rabb-ku, Dia Yang Memberi makan dan minum kepadaku.”) Dia adalah Pencipta dan memberiku rizky dengan apa yang telah diatur dan dimudahkan-Nya dengan sebab-sebab langit [takdir] dan sebab-sebab bumi [sunnatullah].

Dia telah membelah awan, diturunkan-Nya air, dihidupkan-Nya tanah dengan air tersebut dan dikeluarkan-Nya seluruh buah-buahan sebagai rizky bagi hamba-hamba-Nya. Dia turunkan air tawar yang sejuk, yang diminum oleh binatang-binatang ternak dan banyak manusia.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa Allah memberi manusia makan dan minum. Makan dan minum itu merupakan rezeki dari Allah. Caranya Allah memberi rezeki itu dengan jalan memudahkan bagi manusia untuk memperolehnya. Semuanya itu bergantung kepada kecakapan dan pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing manusia.

Allah menurunkan hujan dari langit sebagai minuman bagi manusia, binatang, dan hewan ternak. Dengan air hujan itu, bumi menjadi subur dan menghasilkan beraneka ragam tumbuh-tumbuhan untuk dapat dinikmati. Begitu juga Allah menyediakan seribu macam benda-benda berharga dalam perut bumi seperti besi, minyak, emas, aluminium, dan sebagainya. Semuanya dengan maksud agar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman:

(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (al-Baqarah/2: 22).

Tafsir Quraish Shihab: Dan Dialah yang mengaruniakan makanan dan minuman kepadaku sehingga aku dapat memperoleh dan memanfaatkannya untuk kelangsungan hidupku.

Baca Juga:  Surah Ar-rahman Ayat 1-13; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Asy-Syu’ara Ayat 80
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

Terjemahan: dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,

Tafsir Jalalain: وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (Dan apabila aku sakit. Dialah yang menyembuhkan aku).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (“Dan apabila aku sakit, Dia lah yang menyembuhkanku.”) disandarkan penyakit pada dirinya, sekalipun hal itu merupakan qadar, qadla dan ciptaan Allah. Akan tetapi disandarkannya penyakit itu pada dirinya sebagai sikap beradab.

Makna hal itu bahwa, jika aku menderita sakit, maka tidak ada seorang pun yang kuasa menyembuhkannya kecuali Allah sesuai takdirnya yang dikarenakan sebab yang menyampaikannya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa Allah yang menyembuhkan manusia apabila ia sakit. Allah berkuasa menyembuhkan penyakit apa saja yang diderita oleh seseorang. Meskipun begitu, manusia juga harus mencari tahu cara untuk memperoleh kesembuhan itu.

Imam Jamaluddin al-Qasimi dalam tafsirnya menguraikan bahwa ayat ini menggambarkan tata susila seorang hamba Allah kepada Khaliknya. Sebab penyakit itu kadang-kadang akibat dari perbuatan manusia sendiri, umpamanya disebabkan oleh pelanggaran terhadap norma-norma kesehatan, atau pola hidup sehari-hari, maka serangan penyakit terhadap tubuh tidak dapat dielakkan. Sebaliknya yang berhak menyembuhkan penyakit adalah Allah semata.

Bila orang sakit merasakan yang demikian waktu ia menderita sakit, maka ia akan menghayati benar nikmat-nikmat Allah setelah ia sembuh dari penyakit tersebut. Kenyataan memang membuktikan, kebanyakan manusia terserang penyakit disebabkan kurang memperhatikan norma-norma kesehatan yang berlaku.

Tafsir Quraish Shihab: Bila aku menderita sakit, Dialah yang menyembuhkan aku dengan mempermudah pengobatan sambil berserah diri kepada-Nya.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 81
وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ

Terjemahan: dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali),

Tafsir Jalalain: وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ (Dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku kembali).

Tafsir Ibnu Katsir: وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ (“Dan Yang mematikanku, kemudian akan menghidupkanku [kembali],”) yakni Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dimana tidak ada seorang pun yang kuasa terhadap semua itu. Karena Dialah Yang memulai penciptaan dan mengulanginya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menegaskan bahwa Allah yang mematikan manusia, kemudian Dia pula yang menghidupkan dan membangkitkan kembali. Tidak seorang pun yang berhak dan sanggup berbuat itu, kecuali Dia sendiri. Dimaksudkan dengan menghidupkan dalam ayat ini adalah membangkitkan kembali sesudah mati. Antara datangnya kematian dan kehidupan baru ditandai dengan waktu yang lama dan tidak bisa diketahui oleh manusia ketentuan datangnya.

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 95-97; Seri Tadabbur Al Qur'an

Kalau dipersoalkan, mati juga kadang-kadang akibat perbuatan manusia itu sendiri, sedang dalam ayat ini Allah menegaskan Dia sendirilah yang mematikan manusia, maka bagaimana kita membedakan mati yang dinisbahkan kepada Allah dan sakit yang disebabkan oleh manusia?

Mati adalah suatu ketetapan yang pasti berlaku bagi semua orang tanpa kecuali, sedangkan sakit khusus menimpa seseorang. Artinya belum tentu semua orang menderita suatu macam penyakit, masing-masing mereka menderita penyakit yang berbeda pula. Sering pula orang mati secara mendadak, tanpa didahului oleh sakit. Jelaslah mati itu umum sifatnya, sebaliknya sakit khusus menimpa diri seseorang.

Tafsir Quraish Shihab: Dialah yang mewafatkan aku jika ajal telah tiba, dan kemudian menghidupkan aku kembali untuk memperoleh perhitungan dan balasan.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 82
وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

Terjemahan: dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”.

Tafsir Jalalain: وَالَّذِي أَطْمَعُ (Dan Yang amat kuinginkan) amat kuharapkan أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ (akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”) yaitu hari pembalasan.

Tafsir Ibnu Katsir: وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ (“Dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.”) yaitu tidak ada yang kuasa mengampuni berbagai dosa di dunia dan di akhirat kecuali Dia. dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Allah Yang melakukan segala apa yang dikehendaki-Nya.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini ditegaskan bahwa hanya Allah semata yang mengampuni dosa seseorang di hari akhirat (lihat pula Surah ali ‘Imran/3: 135). Tidak ada seorang pun yang dapat menanggung dosa orang lain, tetapi masing-masing bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri. Allah berfirman: Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. (al-An’am/6: 164).

Tafsir Quraish Shihab: Dialah yang ampunan-Nya amat kuinginkan, agar–saat perhitungan nanti–segala kealpaan dan kekhilafanku di dunia terhapus.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 78-82 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S