Surah Fatir Ayat 3; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Fatir Ayat 3

Pecihitam.org – Kandungan Surah Fatir Ayat 3 ini, Allah menganjurkan supaya manusia memberikan perhatian secara khusus atas nikmat yang telah diberikan kepadanya dan menjaganya agar tidak lenyap dan menghilang. Untuk kepentingan ini, manusia selalu harus merendahkan diri mengakui bahwa semua nikmat itu dari Allah sebagai anugerah kepadanya, yang wajib disyukuri dengan melakukan ibadah kepada-Nya tidak kepada lain-Nya, taat kepada segala perintah-Nya, dan menjauhi semua larangan-Nya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Fatir Ayat 3

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ هَلۡ مِنۡ خَٰلِقٍ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ

Terjemahan: “Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?

Tafsir Jalalain: يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ (Hai manusia!) penduduk Mekah ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ (Ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian) yang telah menempatkan kalian di tanah suci dan yang mencegah serangan-serangan dari luar terhadap kalian. هَلۡ مِنۡ خَٰلِقٍ (Adakah sesuatu pencipta) huruf Min di sini adalah Zaidah atau tambahan, lafal Khaaliqin sebagai Mubtada غَيۡرُ ٱللَّهِ (selain Allah) kalau dibaca Ghairu berarti menjadi Na’at atau sifat secara Mahall dari lafal Khaaliqin, kalau dibaca Ghairi berarti di’athafkan kepada lafal Khaaliqin secara Lafzhan, dan Khabar Mubtadanya adalah يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ (yang dapat memberikan rezeki kepada kalian dari langit) yakni berupa hujan وَ (dan) dari ٱلۡأَرۡ (bumi?) berupa tumbuh-tumbuhan. Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna Taqrir, yakni tidak ada pencipta dan tidak ada pemberi rezeki selain Allah.

Baca Juga:  Surah Ar-Ra'd Ayat 6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ (Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kalian berpaling) dari mentauhidkan-Nya? Padahal kalian telah mengakui, bahwa Dia adalah Yang Maha Pencipta dan Maha Pemberi rezeki.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala mengingatkan hamba-hamba-Nya serta memberikan arahan kepada mereka untuk mencari bukti keesaan-Nya dalam memurnikan peribadatang kepada-Nya. Sebagaimana Dia Mahaesa dalam penciptaan dan pemberian rizki, maka demikian pula Dia Mahaesa dalam peribadatan serta tidak boleh dipersekutukan dengan apa pun baik itu patung, tandingan atau pun berhala.

Untuk itu Allah berfirman: لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ (“Tidak ada ilah [yang berhak diibadahi] selain Dia, maka mengapakah kamu berpaling [dari ketauhidan]?”) yaitu bagaimana kalian berpaling setelah jelasnya hal ini dan tegasnya bukti-bukti. Sedangkan kalian setelah itu tetap menyembah tandingan-tandingan dan berhala-berhala tersebut.

Baca Juga:  Surah Fatir Ayat 19-26; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menganjurkan supaya manusia memberikan perhatian secara khusus atas nikmat yang telah diberikan kepadanya dan menjaganya agar tidak lenyap dan menghilang. Untuk kepentingan ini, manusia selalu harus merendahkan diri mengakui bahwa semua nikmat itu dari Allah sebagai anugerah kepadanya, yang wajib disyukuri dengan melakukan ibadah kepada-Nya tidak kepada lain-Nya, taat kepada segala perintah-Nya, dan menjauhi semua larangan-Nya. Satu-satunya cara untuk memelihara dan menjaga kelestarian nikmat yang ada pada seseorang ialah mensyukuri nikmat itu.

Dengan demikian, Allah akan selalu menambahnya. Sebaliknya, kalau nikmat itu tidak disyukuri, maka Allah akan menimpakan azab yang keras, sebagaimana firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (Ibrahim/14: 7)

Allah satu-satunya pemberi rezeki yang hakiki, baik yang turun dari langit berupa hujan dan sebagainya, maupun yang tumbuh dari bumi berupa keperluan hidup seperti beras, air, pakaian, dan sebagainya. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Kalau manusia mau mengerti dan menyadari semuanya itu, tentunya dia tidak akan berpaling daripada-Nya, tetapi dia akan tetap mengesakan-Nya, menyembah hanya kepada-Nya, tidak kepada yang lain-Nya.

Baca Juga:  Surah Ibrahim Ayat 2-4; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Wahai umat manusia, ingatlah selalu nikmat-nikmat Allah kepada kalian. Bersyukurlah dan penuhilah hak nikmat-nikmat yang kalian peroleh itu. Camkanlah bahwa tak ada Pencipta selain Allah yang dapat memberi rezeki, baik yang tercurah dari langit maupun yang keluar dari bumi, untuk kelangsungan hidup kalian.

Tak ada tuhan yang dapat mencurahkan rezeki kepada para hamba-Nya kecuali Dia. Jika demikian halnya, mengapa kalian masih mengingkari keesaan Sang Pencipta dan Pemberi rezeki dan mempersekutukan-Nya?

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama
kandungan Surah Fatir Ayat 3 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S