Surah Luqman Ayat 12; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Luqman Ayat 12

Pecihitam.org – Kandungan Surah Luqman Ayat 12 ini, menerangkan bahwa Allah menganugerahkan kepada Lukman hikmah, yaitu perasaan yang halus, akal pikiran, dan kearifan yang dapat menyampaikannya kepada pengetahuan yang hakiki dan jalan yang benar menuju kebahagiaan abadi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Luqman Ayat 12

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Terjemahan: Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

Tafsir Jalalain: وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ (Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Luqman hikmah) antara lain ilmu, agama dan tepat pembicaraannya, dan kata-kata mutiara yang diucapkannya cukup banyak serta diriwAyatkan secara turun-temurun. Sebelum Nabi Daud diangkat menjadi rasul dia selalu memberikan fatwa, dan dia sempat mengalami zaman kenabian Nabi Daud, lalu ia meninggalkan fatwa dan belajar menimba ilmu dari Nabi Daud.

Sehubungan dengan hal ini Luqman pernah mengatakan, “Aku tidak pernah merasa cukup apabila aku telah dicukupkan.” Pada suatu hari pernah ditanyakan oleh orang kepadanya, “Siapakah manusia yang paling buruk itu?” Luqman menjawab, “Dia adalah orang yang tidak mempedulikan orang lain yang melihatnya sewaktu dia mengerjakan kejahatan.” أَنِ (Yaitu) dan Kami katakan kepadanya, hendaklah اشْكُرْ لِلَّه (bersyukurlah kamu kepada Allah) atas hikmah yang telah dilimpahkan-Nya kepadamu.

وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ (Dan barang siapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri) karena pahala bersyukurnya itu kembali kepada dirinya sendiri وَمَن كَفَرَ (dan barang siapa yang tidak bersyukur) atas nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepadanya فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ (maka sesungguhnya Allah Maha Kaya) tidak membutuhkan makhluk-Nya حَمِيدٌ (lagi Maha Terpuji) Maha Terpuji di dalam ciptaan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Para ulama salaf berbeda pendapat tentang Luqman, apakah dia seorang Nabi atau seorang hamba yang shalih yang bukan Nabi. Dalam hal ini terdapat dua pendapat dua pendapat dan mayoritas berpendapat dengan pendapat kedua.

Ibnu Jarir berkata bahwa Khalid ar-Rib’i berkata: “Luqman adalah hamba Habsyi [Ethiopia] dan tukang kayu. Tuannya berkata kepadanya: “Sembelihlah kambing ini untuk kami.” Lalu dia menyembelihnya.

Tuannya berkata: “Keluarkanlah dua daging yang paling baik.” Lalu dia mengeluarkan lisan dan jantung. Kemudian dia diam sejenak lalu berkata: “Sembelihlah kambing ini untuk kami.” Lalu dia menyembelihnya. Tuannya berkata: “Keluarkanlah dua daging yang lebih buruk.” Lalu dia mengeluarkan lisan dan jantung.

Baca Juga:  Surah Luqman Ayat 16-19; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tuannya berkata: “Aku perintahkan engkau mengeluarkan dua daging yang paling baik, lalu engkau mengeluarkannya dan aku perintahkan engkau untuk mengeluarkan dua daging yang paling buruk, lalu engkau mengeluarkan keduanya juga.” Maka Luqman menjawab: “Karena tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada keduanya jika keduanya baik, dan tidak ada sesuatu yang lebih buruk jika keduanya buruk.” wallaaHu a’lam.”

‘Abdullah bin Wahb berkata: ‘Abdullah bin ‘Iyasy al-Quthbani mengabarkan kepadaku dari ‘Umar maula Ghifrah, bahwa dia berkata: “Seorang laki-laki berdiri di hadapan Luqman al-Hakim, lalu dia berkata: “Engkau Luqman, budak Bani al-Has-has?” Luqman menjawab: “Ya.” Dia bertanya: “Engkau penggembala kambing?” Luqman menjawab: “Ya.” Dia berkata: “Hitam [seperti ini]!” Luqman berkata: “Kehitamanku cukup jelas, lalu apa yang membuatmu takjub?”

Laki-laki itu berkata: “Manusia menggelar hamparannya untukmu, membuka lebar-lebar pintu untukmu dan amat senang dengan perkataanmu, hai anak saudaraku. Jika engkau mau mengungkapkan apa yang aku katakan kepadamu yang membuatmu dapat seperti ini.”

Luqman berkata: “Aku tahan pandanganku, aku jaga lisanku, aku pelihara makananku, aku jaga kemaluanku, aku berkata jujur, aku tunaikan janjiku, aku hormati tamuku, aku perhatikan tetanggaku, dan aku tinggalkan apa yang tidak penting bagiku. Itulah semua yang menyebabkan aku menjadi apa yang engkau lihat.”

Ibnu Abi Hatim berkata: Suatu hari Abud Darda’ berkata dan menceritakan Luqman al-Hakim: “Dia tidak pernah diberikan sesuatu seperti keluarga, harta, kehormatan dan sesuatu hal. Akan tetapi dia adalah seorang yang tangguh, pendiam, pemikir dan berpandangan mendalam.

Dia tidak pernah tidur siang, buang air kecil dan air besar seenaknya dan mandi, menganggur serta tertawa sembarangan. Dia tidak pernah mengulang kata-katanya kecuali dia mengatakan hikmah yang diminta dan seseorang untuk mengulanginya. WallaaHu a’lam.”

Cerita yang diriwAyatkan oleh Sa’id bin Abi ‘Arubah, dari Qatadah tentang firman Allah: وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ (“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Luqman hikmah.”) yaitu pemahaman tentang Islam, padahal ia bukan seorang Nabi dan tidak diberikan wahyu.

Dan firman-Nya: وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ (“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Luqman hikmah.”) yaitu pemahaman, pengetahuan dan ta’bir mimpi. أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ (“yaitu bersyukurlah kepada Allah.”) Kami memerintahkan kepadanya untuk bersyukur kepada Allah atas apa yang diberikan, dianugerahkan dan dihadiahkan oleh-Nya berupa keutamaan yang hanya dikhususkan kepadanya, tidak kepada orang lain yang sejenis di masanya.

Baca Juga:  Surah Ad-Dukhan Ayat 9-16; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ (“dan barangsiapa yang bersyukur [kepada Allah] maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.”) yaitu manfaat dan pahalanya hanya akan kembali kepada orang-orang yang bersyukur itu sendiri, berdasarkan firman Allah: “Dan barangsiapa yang beramal shalih, maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan [tempat yang menyenangkan].”)(ar-Ruum: 44) dan firman-Nya:

وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (“dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji.”) yaitu Mahakaya dari hamba-hamba-Nya, dimana hal itu [ketidakbersyukurannya] tidak dapat membahayakan-Nya, sekalipun seluruh penghuni bumi mengkufuri-Nya. karena sesungguhnya Allah Mahakaya dari selain-Nya. tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] kecuali Allah dan kami tidak beribadah kecuali kepada-Nya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Allah menganugerahkan kepada Lukman hikmah, yaitu perasaan yang halus, akal pikiran, dan kearifan yang dapat menyampaikannya kepada pengetahuan yang hakiki dan jalan yang benar menuju kebahagiaan abadi. Oleh karena itu, ia bersyukur kepada Allah yang telah memberinya nikmat itu.

Hal itu menunjukkan bahwa pengetahuan dan ajaran-ajaran yang disampaikan Lukman itu bukanlah berasal dari wahyu yang diturunkan Allah kepadanya, tetapi semata-mata berdasarkan ilmu dan hikmah yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.

Berdasarkan riwAyat Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Ibnu Abi Dunya, Ibnu Jarir ath-thabari, Ibnu Mundzir, dan Ibnu Abi hatim dari Ibnu ‘Abbas bahwa Lukman adalah seorang hamba/budak dan tukang kayu dari Habasyah. Kebanyakan ulama mengatakan bahwa Lukman adalah seorang yang arif, bijak, dan bukan nabi.

Banyak riwAyat yang menerangkan asal-usul Lukman ini, dan riwAyat-riwAyat itu antara yang satu dengan yang lain tidak ada kesesuaian. Said bin Musayyab mengatakan bahwa Lukman berasal dari Sudan, sebelah selatan Mesir. Zamakhsyari dan Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Lukman termasuk keturunan Bani Israil dan salah seorang cucu Azar, ayah Ibrahim.

Menurut pendapat ini, Lukman hidup sebelum kedatangan Nabi Daud. Sedang menurut al-Waqidi, ia salah seorang qadhi Bani Israil. Ada pula riwAyat yang menerangkan bahwa Lukman hanyalah seorang yang sangat saleh (wali), bukan seorang nabi.

Terlepas dari semua pendapat riwAyat di atas, apakah Lukman itu seorang nabi atau bukan, apakah ia orang Sudan atau keturunan Bani Israil, maka yang jelas dan diyakini ialah Lukman adalah seorang hamba Allah yang telah dianugerahi hikmah, mempunyai akidah yang benar, memahami dasar-dasar agama Allah, dan mengetahui akhlak yang mulia. Namanya disebut dalam Al-Qur’an sebagai salah seorang yang selalu menghambakan diri kepada-Nya.

Baca Juga:  Surah Luqman Ayat 29-30; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Sebagai tanda bahwa Lukman itu seorang hamba Allah yang selalu taat kepada-Nya, merasakan kebesaran dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini adalah sikapnya yang selalu bersyukur kepada Allah. Ia merasa dirinya sangat tergantung kepada nikmat Allah itu dan merasa dia telah mendapat hikmah dari-Nya.

Menurut riwAyat dari Ibnu ‘Umar bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Lukman bukanlah seorang nabi, tetapi ia adalah seorang hamba yang banyak melakukan tafakur, ia mencintai Allah, maka Allah mencintainya pula.”

Pada akhir Ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang yang bersyukur kepada Allah, berarti ia bersyukur untuk kepentingan dirinya sendiri. Sebab, Allah akan menganugerahkan kepadanya pahala yang banyak karena syukurnya itu. Allah berfirman:

Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia. (an-Naml/27: 40)

Sufyan bin Uyainah berkata, “Siapa yang melakukan salat lima waktu berarti ia bersyukur kepada Allah, dan orang yang berdoa untuk kedua orang tuanya setiap usai salat, ia telah bersyukur kepada keduanya.”

Orang-orang yang mengingkari nikmat Allah dan tidak bersyukur kepada-Nya berarti ia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri, karena Allah tidak akan memberinya pahala bahkan menyiksanya dengan siksaan yang pedih.

Allah sendiri tidak memerlukan syukur hamba-Nya karena syukur hamba-Nya itu tidak akan memberikan keuntungan kepada-Nya sedikit pun, dan tidak pula akan menambah kemuliaan-Nya. Dia Mahakuasa lagi Maha Terpuji.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya Kami telah memberikan Luqmân hikmah, ilmu dan kebenaran dalam berkata. Dan Kami katakan kepadanya, “Bersyukurlah kepada Allah atas nikmat yang telah Dia berikan kepadamu. Barangsiapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia mencari kebaikan untuk dirinya sendiri.

Dan barangsiapa yang mengingkari nikmat dan tidak mensyukurinya, maka sesungguhnya Allah tidak membutuhkan rasa syukurnya. Dialah yang berhak dipuji, walau tak ada seorang pun yang memuji-Nya.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Luqman Ayat 12 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S