Surah Luqman Ayat 16-19; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Luqman Ayat 16-19

Pecihitam.org – Kandungan Surah Luqman Ayat 16-19 ini, menerangkan Lukman berwasiat kepada anaknya agar beramal dengan baik karena apa yang dilakukan manusia, dari yang besar sampai yang sekecil-kecilnya, yang tampak dan yang tidak tampak, yang terlihat dan yang tersembunyi, baik di langit maupun di bumi, pasti diketahui Allah. Lukman berwasiat kepada anaknya, yaitu agar anaknya berbudi pekerti yang baik, dengan cara

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Luqman Ayat 16-19

Surah Luqman Ayat 16
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

Terjemahan: “(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Tafsir Jalalain: يَا بُنَيَّ إِنَّهَا (“Hai anakku, sesungguhnya) perbuatan yang buruk-buruk itu إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ (jika ada sekalipun hanya sebesar biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi) atau di suatu tempat yang paling tersembunyi pada tempat-tempat tersebut يَأْتِ بِهَا اللَّهُ (niscaya Allah akan mendatangkannya) maksudnya Dia kelak akan menghisabnya. إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ (Sesungguhnya Allah Maha Halus) untuk mengeluarkannya خَبِيرٌ (lagi Maha Waspada) tentang tempatnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Ini adalah wasiat-wasiat bermanfaat dari Luqman al-Hakim yang diceritakan oleh Allah agar manusia menjunjung tinggi dan menteladaninya. Dia berkata: يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ (“Hai anakku, sesungguhnya jika ada [suatu perbuatan] seberat sawi pun.”) yaitu kedhaliman dan kesalahan, sekalipun seberat biji sawi.

Sedangkan sebagian ulama menyatakan bahwa dlamir pada firman-Nya إِنَّهَا adalah dlamir sya-n dan kisah [yang tidak mempunyai arti]. Serta atas dasar ini, “mitsqaala” dijadikan “rafa’” dan pendapat pertama lebih utama.

Firman Allah: يَأْتِ بِهَا اللَّهُ (“Niscaya Allah akan mendatangkannya [balasannya].”) Allah akan menghadirkannya pada hari kiamat ketika Dia mendirikan timbangan keadilan serta membalasnya. Jika kebaikan maka dia akan dibalas dengan timbangan kebaikan.

Dan jika keburukan, dia akan dibalas dengan keburukan. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikitpun.” (al-Anbiyaa’: 47).

Sekalipun biji sawi itu terlindungi dan terhalang di dalam batu besar hitam atau di tempat terasing jauh di ujung langit dan bumi. Sesungguhnya Allah akan menghadirkannya, karena tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dan tidak ada satu biji dzarrahpun yang ada di langit dan di bumi yang terluput dari-Nya.

Untuk itu Allah berfirman: إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (“Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Mahamengetahui.”) yaitu Mahaluas ilmu-Nya, hingga tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Nya, sekalipun kecil, halus dan lembut.

Tafsir Kemenag: Lukman berwasiat kepada anaknya agar beramal dengan baik karena apa yang dilakukan manusia, dari yang besar sampai yang sekecil-kecilnya, yang tampak dan yang tidak tampak, yang terlihat dan yang tersembunyi, baik di langit maupun di bumi, pasti diketahui Allah.

Oleh karena itu, Allah pasti akan memberikan balasan yang setimpal dengan perbuatan manusia itu. Perbuatan baik akan dibalas dengan surga, sedang perbuatan jahat dan dosa akan dibalas dengan neraka.

Pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu dan tidak ada yang luput sedikit pun dari pengetahuan-Nya. Allah kemudian melukiskan dalam firman-Nya tentang penimbangan perbuatan manusia: Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit. (al-Anbiya’/21: 47)

Tafsir Quraish Shihab: Wahai anakku, sesungguhnya kebaikan dan keburukan manusia, meskipun sekecil biji sawi dan berada pada tempat yang paling tersembunyi–seperti di balik karang, di langit, ataupun di bumi–Allah pasti akan menampakkan dan memperhitungkannya. Sesungguhnya Allah Mahahalus, tak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya; Mahatahu yang mengetahui hakikat segala hal.

Surah Luqman Ayat 17
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Baca Juga:  Surah Luqman Ayat 1-5; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Terjemahan: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Tafsir Jalalain: يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ (Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu) disebabkan amar makruf dan nahi mungkarmu itu.

إِنَّ ذَلِكَ (Sesungguhnya yang demikian itu) hal yang telah disebutkan itu مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (termasuk hal-hal yang ditekankan untuk diamalkan) karena mengingat hal-hal tersebut merupakan hal-hal yang wajib.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian dia berkata: يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ (“Hai anakku, dirikanlah shalat.”) yaitu dengan menegakkan batas-batasnya, melakukan fardlu-fardlunya dan menepatkan waktu-waktunya. وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ (“Dan suruhlah [manusia] mengerjakan yang baik dan cegahlah [mereka] dari perbuatan yang munkar.”) sesuai dengan kemampuan dan kesungguhanmu.

وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ (“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.”) dia mengetahui bahwa orang yang melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar pasti akan mendapatkan gangguan dari manusia, maka dia memerintahkannya untuk bersabar.

Firman-Nya: إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (“Sesungguhnay yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan [oleh Allah].”) yaitu kesabaran atas siksaan manusia merupakan perkara-perkara yang wajib.

Tafsir Kemenag: Wahai anakku! Laksanakanlah salat secara sempurna dan konsisten, jangan sekali pun engkau meninggalkannya, dan suruhlah manusia berbuat yang makruf, yakni sesuatu yang dinilai baik oleh masyarakat dan tidak bertentangan dengan syariat, dan cegahlah mereka dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu sebab hal itu tidak lepas dari kehendak-Nya dan bisa jadi menaikkan derajat keimananmu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting dan tidak boleh diabaikan. 18.

Dan janganlah kamu sombong. Janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia secara congkak dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Bersikaplah tawaduk dan rendah hati kepada siapa pun. Sungguh, Allah tidak menyukai dan tidak pula melimpahkan kasih sayang-Nya kepada orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Tafsir Quraish Shihab: Wahai anakku, jagalah salat, perintahlah manusia untuk melakukan segala kebaikan dan laranglah untuk melakukan segala kejahatan. Bersabarlah atas kesulitan yang menimpamu. Sesungguhnya apa yang telah diwasiatkan oleh Allah adalah hal-hal yang harus selalu dilakukan dan dijaga.

Surah Luqman Ayat 18
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Terjemahan: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Tafsir Jalalain: وَلَا تُصَعِّرْ (Dan janganlah kamu memalingkan) menurut qiraat yang lain dibaca wa laa tushaa’ir خَدَّكَ لِلنَّاسِ (mukamu dari manusia) janganlah kamu memalingkannya dari mereka dengan rasa takabur وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا (dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh) dengan rasa sombong.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ (Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong) yakni orang-orang yang sombong di dalam berjalan فَخُورٍ (lagi membanggakan diri) atas manusia.

Tafsir Ibnu Katsir: وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ (“dan janganlah memalingkan muka dari manusia [karena sombong].”) dia berkata: “Janganlah engkau palingkan wajahmu dari manusia, jika engkau berkomunikasi dengan mereka atau mereka berkomunikasi denganmu karena merendahkan mereka atau karena kesombongan. Akan tetapi, merendahlah dan manislah wajahmu terhadap mereka.”

Ibnu Jarir berkata: “Asal kata ash-sha’-‘ir adalah penyakit yang menimpa unta pada punuk dan kepalanya, hingga punuknya tertekuk dengan kepalanya. Lalu hal itu dipersamakan dengan laki-laki sombong. Di antaranya ialah perkataan ‘Amr bin Hayy at-Taghlabi: “Dahulu jika orang-orang sombong menekuk mukanya, maka kami akan luruskan kemiringannya, hingga dia tegak.”

Firman-Nya: وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا (“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.”) yaitu sombong, takabbur, otoriter dan [menjadi] pembangkang. Janganlah engkau lakukan itu, jika engkau lakukan Allah pasti akan memurkaimu. Untuk itu dia berkata:

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 49-52; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”) yaitu sombong dan bangga diri serta fakhuur, yaitu sombong kepada orang lain.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan lanjutan wasiat Lukman kepada anaknya, yaitu agar anaknya berbudi pekerti yang baik, dengan cara: 1. Jangan sekali-kali bersifat angkuh dan sombong, membanggakan diri dan memandang rendah orang lain.

Tanda-tanda seseorang yang bersifat angkuh dan sombong itu ialah: – Bila berjalan dan bertemu dengan orang lain, ia memalingkan mukanya, tidak mau menegur atau memperlihatkan sikap ramah. – Berjalan dengan sikap angkuh, seakan-akan ia yang berkuasa dan yang paling terhormat.

Firman Allah: Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung. (al-Isra’/17: 37) Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda: Janganlah kamu saling membenci, janganlah kamu saling membelakangi dan janganlah kamu saling mendengki, dan jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara.

Tidak boleh bagi seorang muslim memencilkan (tidak berbaik) dengan temannya lebih dari tiga hari. (RiwAyat Malik dari Anas bin Malik) 2. Hendaklah berjalan secara wajar, tidak dibuat-buat dan kelihatan angkuh atau sombong, dan lemah lembut dalam berbicara, sehingga orang yang melihat dan mendengarnya merasa senang dan tenteram hatinya.

Berbicara dengan sikap keras, angkuh, dan sombong dilarang Allah karena gaya bicara yang semacam itu tidak enak didengar, menyakitkan hati dan telinga. Hal itu diibaratkan Allah dengan suara keledai yang tidak nyaman didengar.

Yahya bin Jabir ath-tha’i meriwAyatkan dari Gudhaif bin haris, ia berkata, “Aku duduk dekat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘ash, maka aku mendengar ia berkata, ‘Sesungguhnya kubur itu akan berbicara dengan orang yang dikuburkan di dalamnya, ia berkata, ‘Hai anak Adam apakah yang telah memperdayakan engkau, sehingga engkau masuk ke dalam liangku?

Tidakkah engkau mengetahui bahwa aku rumah tempat engkau berada sendirian? Tidakkah engkau mengetahui bahwa aku tempat yang gelap? Tidakkah engkau mengetahui bahwa aku rumah kebenaran? Apakah yang memperdayakan engkau sehingga engkau masuk ke dalam liangku? Sesungguhnya engkau waktu hidup menyombongkan diri.”

Sederhana atau wajar dalam berjalan dan berbicara bukan berarti berjalan dengan menundukkan kepala dan berbicara dengan lunak. Akan tetapi, maksudnya ialah berjalan dan berbicara dengan sopan dan lemah lembut, sehingga orang merasa senang melihatnya.

Adapun berjalan dengan sikap gagah dan wajar, serta berkata dengan tegas yang menunjukkan suatu pendirian yang kuat, tidak dilarang oleh agama. Menurut suatu riwAyat dari ‘Aisyah r.a. bahwa beliau melihat seorang laki-laki berjalan menunduk lemah, seakan-akan telah kehilangan kekuatan tubuhnya, maka beliau pun bertanya, “Mengapa orang itu berjalan terlalu lemah dan lambat?” Seseorang menjawab, “Dia adalah seorang fuqaha yang sangat alim.”

Mendengar jawaban itu ‘Aisyah berkata, “Umar adalah penghulu fuqaha, tetapi apabila berjalan, ia berjalan dengan sikap yang gagah, apabila berkata, ia bersuara sedikit keras, dan apabila memukul, maka pukulannya sangat keras.”.

Tafsir Quraish Shihab: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia dengan sikap sombong serta jangan pula berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong yang selalu membangga-banggakan perbuatan baiknya.

Surah Luqman Ayat 19
وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Terjemahan: “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Tafsir Jalalain: (Dan sederhanalah kamu dalam berjalan) ambillah sikap pertengahan dalam berjalan, yaitu antara pelan-pelan dan berjalan cepat, kamu harus tenang dan anggun (dan lunakkanlah) rendahkanlah (suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara) suara yang paling jelek itu (ialah suara keledai.”) Yakni pada permulaannya adalah ringkikan kemudian disusul oleh lengkingan-lengkingan yang sangat tidak enak didengar.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan perkataannya: waqshid fii masy-yika (“Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan.”) yaitu berjalanlah secara sederhana, tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat, akan tetapi adil dan pertengahan.

Baca Juga:  Surah Luqman Ayat 22-24; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Perkataannya: وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ (“dan lunakkanlah suaramu.”) yaitu janganlah engkau berlebihan dalam berbicara dan jangan mengeraskan suara pada sesuatu yang tidak bermanfaat. Untuk itu, Dia berkata: inna ankaral ash-waati lashautul hamiir (“sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.”)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan lanjutan wasiat Lukman kepada anaknya, yaitu agar anaknya berbudi pekerti yang baik, dengan cara: 1. Jangan sekali-kali bersifat angkuh dan sombong, membanggakan diri dan memandang rendah orang lain.

Tanda-tanda seseorang yang bersifat angkuh dan sombong itu ialah: – Bila berjalan dan bertemu dengan orang lain, ia memalingkan mukanya, tidak mau menegur atau memperlihatkan sikap ramah. – Berjalan dengan sikap angkuh, seakan-akan ia yang berkuasa dan yang paling terhormat.

Firman Allah: Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung. (al-Isra’/17: 37) Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda: Janganlah kamu saling membenci, janganlah kamu saling membelakangi dan janganlah kamu saling mendengki, dan jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara.

Tidak boleh bagi seorang muslim memencilkan (tidak berbaik) dengan temannya lebih dari tiga hari. (RiwAyat Malik dari Anas bin Malik) 2. Hendaklah berjalan secara wajar, tidak dibuat-buat dan kelihatan angkuh atau sombong, dan lemah lembut dalam berbicara, sehingga orang yang melihat dan mendengarnya merasa senang dan tenteram hatinya.

Berbicara dengan sikap keras, angkuh, dan sombong dilarang Allah karena gaya bicara yang semacam itu tidak enak didengar, menyakitkan hati dan telinga. Hal itu diibaratkan Allah dengan suara keledai yang tidak nyaman didengar.

Yahya bin Jabir ath-tha’i meriwAyatkan dari Gudhaif bin haris, ia berkata, “Aku duduk dekat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘ash, maka aku mendengar ia berkata, ‘Sesungguhnya kubur itu akan berbicara dengan orang yang dikuburkan di dalamnya, ia berkata, ‘Hai anak Adam apakah yang telah memperdayakan engkau, sehingga engkau masuk ke dalam liangku?

Tidakkah engkau mengetahui bahwa aku rumah tempat engkau berada sendirian? Tidakkah engkau mengetahui bahwa aku tempat yang gelap? Tidakkah engkau mengetahui bahwa aku rumah kebenaran? Apakah yang memperdayakan engkau sehingga engkau masuk ke dalam liangku? Sesungguhnya engkau waktu hidup menyombongkan diri.”

Sederhana atau wajar dalam berjalan dan berbicara bukan berarti berjalan dengan menundukkan kepala dan berbicara dengan lunak. Akan tetapi, maksudnya ialah berjalan dan berbicara dengan sopan dan lemah lembut, sehingga orang merasa senang melihatnya. Adapun berjalan dengan sikap gagah dan wajar, serta berkata dengan tegas yang menunjukkan suatu pendirian yang kuat, tidak dilarang oleh agama.

Menurut suatu riwayat dari ‘Aisyah r.a. bahwa beliau melihat seorang laki-laki berjalan menunduk lemah, seakan-akan telah kehilangan kekuatan tubuhnya, maka beliau pun bertanya, “Mengapa orang itu berjalan terlalu lemah dan lambat?” Seseorang menjawab, “Dia adalah seorang fuqaha yang sangat alim.”

Mendengar jawaban itu ‘Aisyah berkata, “Umar adalah penghulu fuqaha, tetapi apabila berjalan, ia berjalan dengan sikap yang gagah, apabila berkata, ia bersuara sedikit keras, dan apabila memukul, maka pukulannya sangat keras.”.

Tafsir Quraish Shihab: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia dengan sikap sombong serta jangan pula berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong yang selalu membangga-banggakan perbuatan baiknya.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama
kandungan Surah Luqman Ayat 16-19 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S