Surah Muhammad Ayat 20-23; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Muhammad Ayat 20-23

Pecihitam.org – Kandungan Surah Muhammad Ayat 20-23 ini, menjelaskan Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan setulus hati pasti bersedia mengorbankan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka menunggu-nunggu turunnya wahyu Allah, terutama wahyu yang berhubungan dengan perintah jihad.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Akan tetapi, perintah perang itu pada dasarnya bukan untuk menyerang, melainkan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, seperti yang terjadi dengan Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandak, dan lain-lain.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Muhammad Ayat 20-23

Surah Muhammad Ayat 20
وَيَقُولُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَوۡلَا نُزِّلَتۡ سُورَةٌ فَإِذَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٌ مُّحۡكَمَةٌ وَذُكِرَ فِيهَا ٱلۡقِتَالُ رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ نَظَرَ ٱلۡمَغۡشِىِّ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِ فَأَوۡلَىٰ لَهُمۡ

Terjemahan: Dan orang-orang yang beriman berkata: “Mengapa tiada diturunkan suatu surat?” Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka.

Tafsir Jalalain: وَيَقُولُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ (Dan orang-orang yang beriman berkata) dalam rangka meminta berjihad, لَوۡلَا (“Mengapa tidak) atau kenapa tidak نُزِّلَتۡ سُورَةٌ (diturunkan suatu surah?”) yang di dalamnya disebutkan masalah jihad.

فَإِذَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٌ مُّحۡكَمَةٌ (Maka apabila diturunkan suatu surah yang muhkam) tiada suatu ayat pun darinya yang dimansukh وَذُكِرَ فِيهَا ٱلۡقِتَالُ (dan disebutkan di dalamnya perintah perang) anjuran untuk berperang bagi kalian رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ (kalian lihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit) berupa keragu-raguan dalam memeluk agamamu, mereka adalah orang-orang munafik

يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ نَظَرَ ٱلۡمَغۡشِىِّ (melihat kepadamu dengan pandangan seperti orang yang pingsan) tidak sadarkan diri عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِ (karena takut mati) khawatir akan mati dan benci kepadanya; maksudnya mereka takut menghadapi peperangan dan sangat benci kepadanya. فَأَوۡلَىٰ لَهُمۡ (Maka hal yang lebih utama bagi mereka) lafal ayat ini berkedudukan menjadi Mubtada, sedangkan Khabarnya ialah:.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman seraya memberitahukan tentang orang-orang Mukmin, bahwa mereka mendambakan pensyariatan jihad. Dan setelah Allah mewajibkan jihad itu dan memerintahkan mereka melakukannya, maka banyak orang-orang yang menolaknya. Disini Allah berfirman yang artinya:

(“Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas Maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu Lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati,”) yakni karena rasa kaget dan takut mereka serta sikap pengecut mereka untuk bertemu dengan musuh.

Tafsir Kemenag: Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan setulus hati pasti bersedia mengorbankan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka menunggu-nunggu turunnya wahyu Allah, terutama wahyu yang berhubungan dengan perintah jihad.

Akan tetapi, perintah perang itu pada dasarnya bukan untuk menyerang, melainkan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, seperti yang terjadi dengan Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandak, dan lain-lain. Mereka berkata,

“Mengapa Allah tidak menurunkan kepada kita ayat-ayat yang tegas dan jelas maksudnya yang di dalamnya disebutkan bahwa berperang membela agama Allah itu adalah suatu perintah wajib yang harus dilaksanakan oleh setiap orang beriman.”

Sebaliknya orang-orang munafik bersikap lain. Bila diturunkan ayat yang tegas dan jelas maknanya yang berisi perintah jihad, melihat kepada Nabi dengan pandangan keingkaran dan ketakutan. Hati mereka kecut, tubuh mereka gemetar mendengarnya, dan mereka bungkam, seperti orang yang sedang menghadapi saat kematian.

Dalam ayat lain, Allah berfirman: Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, “Tahanlah tanganmu (dari berperang), laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat!” Ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba sebagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut (dari itu).

Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tunda (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?” Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa (mendapat pahala turut berperang) dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.” (an-Nisa’/4: 77)

Dari jawaban dan sikap orang munafik, tergambar apa yang tersirat dalam hati mereka. Orang yang demikian lebih baik mati daripada hidup mengekang diri dari perintah-perintah agama. Seseorang hidup untuk menjadi hamba Allah yang taat kepada-Nya, ingin mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Baca Juga:  Surah Al-Ankabut Ayat 19-23; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Orang munafik tidak melaksanakan ketaatan itu. Mereka seakan-akan tidak memikirkan kebahagiaan hidup sesudah mati. Oleh karena itu, tidak ada arti hidup bagi mereka selain untuk melipat-gandakan perbuatan dosa yang menyebabkan mereka di azab di akhirat. Jika mereka mati waktu itu juga, azab mereka tidak akan bertambah di akhirat nanti.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang Mukmin berkata, “Mengapa tidak turun surat yang mengajak kami untuk berperang?” Tetapi, ketika turun surat yang memerintahkan perang, kamu akan melihat orang yang di dalam hatinya terdapat sifat munafik memandangmu seperti pandangan orang pingsan karena benci dan takut mati.

Dari itu, taat kepada Allah dan mengatakan apa yang dibenarkan agama adalah lebih baik bagi mereka jika diwajibkan kepada mereka berjihad. Dan seandainya mereka beriman dan taat kepada Allah, hal itu tentu lebih baik bagi mereka daripada bersikap munafik. Maka apakah ada di antara kalian, wahai orang-orang munafik, jika kalian berkuasa kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan dengan kerabat kalian?

Surah Muhammad Ayat 21
طَاعَةٌ وَقَوۡلٌ مَّعۡرُوفٌ فَإِذَا عَزَمَ ٱلۡأَمۡرُ فَلَوۡ صَدَقُواْ ٱللَّهَ لَكَانَ خَيۡرًا لَّهُمۡ

Terjemahan: Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.

Tafsir Jalalain: طَاعَةٌ وَقَوۡلٌ مَّعۡرُوفٌ (Adalah taat dan mengucapkan perkataan yang baik) artinya bersikap baik terhadapmu. فَإِذَا عَزَمَ ٱلۡأَمۡرُ (Apabila telah tetap perintah) maksudnya, perang telah difardukan. فَلَوۡ صَدَقُواْ ٱللَّهَ (Maka jika mereka menepati kepada Allah) dalam beriman dan taat kepada-Nya لَكَانَ خَيۡرًا لَّهُمۡ (niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka) Jumlah yang jatuh sesudah Lau merupakan Jawab dari lafal Idzaa.

Tafsir Ibnu Katsir: طَاعَةٌ وَقَوۡلٌ مَّعۡرُوفٌ (“Ketaatan dan ucapan yang baik.”) maksudnya, yang terbaik bagi mereka adalah mendengarkan dan menaati, yakni dalam waktu tersebut. فَإِذَا عَزَمَ ٱلۡأَمۡرُ (“Apabila telah tetap perintah perang.”) yakni dalam keadaan serius, dan peperangan telah tiba.

فَلَوۡ صَدَقُواْ ٱللَّهَ (“Tetapi jikalau mereka benar [imannya] terhadap Allah.”) maksudnya, benar-benar mengikhlashkan niat kepada-Nya, لَكَانَ خَيۡرًا لَّهُمۡ (“Niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.”)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan sikap yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang munafik adalah taat kepada Allah, mengucapkan perkataan yang makruf, daripada takut, dan gentar menghadapi musuh. Akan tetapi, mereka tidak demikian. Hal itu karena kesenangan hidup di dunia telah membuat mereka terpesona dan lupa diri.

Mereka takut kehilangan kesenangan. Padahal jika mereka mengetahui bahwa kesenangan hidup di dunia adalah kesenangan yang semu dan sementara, sedangkan kesenangan hidup di akhirat adalah kesenangan yang sebenarnya, tentu mereka akan mengubah sikap.

Selanjutnya diterangkan bahwa kaum munafik itu apabila datang perintah berperang, timbullah kebencian dalam hati mereka sehingga mereka enggan ikut berperang. Seandainya mereka mempunyai iman yang kuat di dalam dada mereka, benar-benar taat kepada Allah dan mengikuti Rasul, pasti mereka ikut berperang bersama Rasul. Hal itu lebih baik bagi mereka karena dengan demikian mereka dekat kepada Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang Mukmin berkata, “Mengapa tidak turun surat yang mengajak kami untuk berperang?” Tetapi, ketika turun surat yang memerintahkan perang, kamu akan melihat orang yang di dalam hatinya terdapat sifat munafik memandangmu seperti pandangan orang pingsan karena benci dan takut mati.

Dari itu, taat kepada Allah dan mengatakan apa yang dibenarkan agama adalah lebih baik bagi mereka jika diwajibkan kepada mereka berjihad. Dan seandainya mereka beriman dan taat kepada Allah, hal itu tentu lebih baik bagi mereka daripada bersikap munafik. Maka apakah ada di antara kalian, wahai orang-orang munafik, jika kalian berkuasa kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan dengan kerabat kalian?

Surah Muhammad Ayat 22
فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِن تَوَلَّيۡتُمۡ أَن تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوٓاْ أَرۡحَامَكُمۡ

Terjemahan: Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?

Tafsir Jalalain: فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ (Maka apakah sekiranya) dapat dibaca Asaitum atau Asiitum, di dalam ungkapan ini terkandung ungkapan Iltifat dari Ghaibah kepada Mukhathab; maksudnya barangkali kalian إِن تَوَلَّيۡتُمۡ (jika kalian berpaling) memalingkan diri dari iman أَن تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوٓاْ أَرۡحَامَكُمۡ (kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan) maksudnya, kalian akan kembali kepada akhlak jahiliyah, yaitu gemar mengadakan kerusakan dan peperangan.

Baca Juga:  Surah Al-Mu'minun Ayat 105-107; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِن تَوَلَّيۡتُمۡ (“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa.”) melakukan jihad, lalu kalian berpaling darinya. أَن تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوٓاْ أَرۡحَامَكُمۡ (“kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”) maksudnya, kalian akan kembali lagi kepada keadaan semula, yaitu keadaan Jahiliyyah, dimana kalian saling menumpahkan darah dan memutuskan hubungan tali silaturahim.

Tafsir Kemenag: Ayat ini mencela sikap kaum munafik yang selalu mengejar kesenangan hidup di dunia, dengan mengatakan, “Hai orang munafik, karena kamu selalu mengejar kesenangan hidup di dunia dan kemewahannya, maka seandainya kamu berkuasa, pastilah kamu mempunyai sifat-sifat ingin mementingkan diri sendiri dengan memperlihatkan kekuasaan kepada rakyat jelata, suka mengambil dan memperkosa hak orang lain, dan memutuskan hubungan silaturrahim yang sangat dianjurkan untuk disambungkan.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang Mukmin berkata, “Mengapa tidak turun surat yang mengajak kami untuk berperang?” Tetapi, ketika turun surat yang memerintahkan perang, kamu akan melihat orang yang di dalam hatinya terdapat sifat munafik memandangmu seperti pandangan orang pingsan karena benci dan takut mati.

Dari itu, taat kepada Allah dan mengatakan apa yang dibenarkan agama adalah lebih baik bagi mereka jika diwajibkan kepada mereka berjihad. Dan seandainya mereka beriman dan taat kepada Allah, hal itu tentu lebih baik bagi mereka daripada bersikap munafik. Maka apakah ada di antara kalian, wahai orang-orang munafik, jika kalian berkuasa kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan dengan kerabat kalian?

Surah Muhammad Ayat 23
أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فَأَصَمَّهُمۡ وَأَعۡمَىٰٓ أَبۡصَٰرَهُمۡ

Terjemahan: Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.

Tafsir Jalalain: أُوْلَٰٓئِكَ (Mereka itulah) yakni orang-orang yang merusak itu ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فَأَصَمَّهُمۡ (orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka) dari mendengarkan perkara yang hak وَأَعۡمَىٰٓ أَبۡصَٰرَهُمۡ (dan dibutakan-Nya mata mereka) dari jalan petunjuk.

Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu Dia berfirman: أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فَأَصَمَّهُمۡ وَأَعۡمَىٰٓ أَبۡصَٰرَهُمۡ (“Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah dan ditulikan-Nya pendengaran mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”) itu merupakan larangan membuat kerusakan di muka bumi sercara umum dan larangan memutuskan hubungan silaturahim secara khusus.

Tetapi Allah telah memerintahkan supaya melakukan perbaikan di muka bumi dan menyambung tali silaturahim, yakni berbuat baik kepada sanak keluarga, baik melalui ucapan maupun perbuatan, serta memberikan harta kekayaan.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Allah Ta’ala menciptakan makhluk, sehingga ketika selesai menciptakan mereka, rahimpun berdiri, lalu mengambil tempat di sisi pinggang Rabb Yang Mahapemurah, maka Dia berfirman kepada-Nya: ‘Tahanlah.’ Kemudia ia berkata:

‘Ini adalah tempat orang yang berlindung kepada-Mu dari pemutusan silaturahim.’ Maka Allah berfirman: ‘Apakah kamu rela jika Aku menyambungkan tali orang yang menyambungmu dan memutuskan tali orang yang memutuskan hubungan denganmu?’ ia menjawab: ‘Mau, yaa Rabb-ku.’ Dia berfirman: ‘Yang demikian itu untukmu.’

Abu Hurairah berkata: “Jika kalian mau, bacalah ayat: فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِن تَوَلَّيۡتُمۡ أَن تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوٓاْ أَرۡحَامَكُمۡ (“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”) Kemudian hal itu juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari dua jalan lainnya, dari Mu’awiyah bin Abi Mazrad, ia bercerita: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Bacalah jika kalian menghendaki:

فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِن تَوَلَّيۡتُمۡ أَن تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوٓاْ أَرۡحَامَكُمۡ (“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”) juga diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Mu’awiyah bin Abi Mazrad.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Bakrah, ia bercerita: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada satu dosapun yang lebih pantas disegerakan siksaannya di dunia disamping siksa yang disiapkan untuknya di akhirat kelak daripada tindakan kedzaliman dan pemutusan silaturahim.” Hadits tersebut diriwayatkan oleh Tsauban, dari Rasulullah saw. beliau bersabda:

Baca Juga:  Surah Muhammad Ayat 24-28; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

“Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umur dan ditambahkan rizki, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.” Hadist ini diriwayatkan sendiri oleh Ahmad, dan ia mempunyai syahid yang shahih.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia bercerita bahwa ada seseorang yang datang kepada Rasulullah saw. lalu ia berkata: “Yaa Rasulallah, sesunggguhnya aku mempunyai beberapa kerabat, aku telah menyambung tali silaturahim tetapi mereka memutuskannya, aku memberi maaf tetapi mereka berbuat dzalim, dan aku berbuat baik tetapi mereka malah berbuat jahat, apakah aku boleh membalasnya?” Beliau menjawab:

“Tidak, karena kalau begitu kalian semua akan ditinggalkan oleh Allah. Tetapi berlaku baiklah dan sambunglah tali silaturahim dengan mereka, karena sesungguhnya pertolongan dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia akan terus bersamamu selama kamu masih melakukan hal itu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad saja dari sisi ini, dan ia mempunyai syahid dari sisi yang lain.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia bercerita bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Sesungguhnya rahim itu bergantung di ‘Arsy. Yang disebut orang yang menyambung tali silaturahim itu bukan yang membalas hubungan silaturahim, tetapi yang disebut sebagai orang yang menyambung silaturahim adalah orang yang jika hubungan silaturahimnya diputuskan, ia menyambungnya.” (HR al-Bukhari)

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, yang disampaikan kepada Nabi saw, beliau bersabda: “Orang-orang yang penuh kasih sayang akan disayang oleh Rabb Yang Mahapenyayang. Sayangilah penduduk bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh penghuni langit.

Ar-Rahim [kekerabatan] adalah jalan dari Rabb Yang Mahapemurah, barangsiapa yang menyambungnya, maka Aku akan menyambungnya, dan barangsiapa yang memutuskannya, maka aku akan memutuskannya selamanya.” Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadist tersebut hasan Shahih.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibrahim bin ‘Abdillah bin Faridh, ayahnya pernah memberitahunya, bahwa ia pernah masuk menemui ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang ketika itu tengah sakit. Maka ‘Abdurrahman berkata kepadanya: “Engkau telah disambung hubungan oleh ar-rahim, sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda:

‘Allah swt. telah berfirman: ‘Aku adalah Rabb yang Mahapenyayang, Aku telah menciptakan rahim dan aku telah ambilkan baginya sebuah nama dari Nama-Ku. Barangsiapa menyambungnya, niscaya Aku akan menyambungnya. Dan barangsiapa memutuskannya, maka aku akan memutuskan hubungan dengannya.’”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad saja dari sisi ini. Dan ia juga meriwayatkannya dari hadits az-Zuhri. Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari riwayat Abu Salamah, dari ayahnya. Hadits-hadits yang membahas masalah ini banyak sekali.

Imam ath-Thabarani menceritakan dari Abu ‘Umar al-Bashri, dari Sulaiman, ia bercerita: Rasulullah bersabda: “Arwah-arwah itu merupakan bala tentara yang dipersiapkan. Yang saling mengenal akan bersatu, sedang yang tidak saling mengenal akan berpisah.’”

Berkenaan dengan hal itu pula Rasulullah bersabda: “Jika perkataan telah mendominasi, dan amalan telah tersembunyi, lalu lidah saling bersatu, hati saling membenci, dan setiap orang telah memutuskan silaturahimnya, maka pada saat itu Allah melaknat dan menulikan [pendengaran] mereka serta membutakan pandangan mereka.”

Tafsir Kemenag: Orang-orang munafik yang bersikap seperti yang disebutkan di atas telah dijauhkan Allah dari rahmat-Nya. Oleh karena itu, Allah menghilangkan pendengaran mereka sehingga tidak dapat mengambil pelajaran dari apa yang dapat mereka dengar, dan Allah membutakan mereka sehingga mereka tidak dapat mengambil manfaat dari apa yang mereka lihat.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka adalah orang-orang yang dijauhkan Allah dari rahmat-Nya, ditulikan telinganya sehingga tidak dapat mendengarkan kebenaran dan dibutakan penglihatannya sehingga tidak melihat jalan petunjuk.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Muhammad Ayat 20-23 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S