Surah Yasin Ayat 63-67; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Yasin Ayat 63-67

Pecihitam.org – Kandungan Surah Yasin Ayat 63-67 ini, menjelaskan bahwa Allah menyatakan kepada orang-orang kafir, “Hai orang-orang kafir, inilah neraka Jahanam yang pernah Aku janjikan kepadamu dan janji itu telah disampaikan oleh rasul yang telah diutus kepadamu semasa hidup di dunia dahulu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Yasin Ayat 63-67

Surah Yasin Ayat 63
هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِى كُنتُمۡ تُوعَدُونَ

Terjemahan: Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya).

Tafsir Jalalain: هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِى كُنتُمۡ تُوعَدُونَ (Inilah Jahanam yang kalian dahulu diancam) dengannya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dikatakan kepada orang-orang kafir di kalangan Bani Adam pada hari kiamat, neraka jahim dipamerkan kepada mereka sebagai celaan dan hinaan, هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِى كُنتُمۡ تُوعَدُونَ (“Inilah jahanam yang dahulu kamu diancam [dengannya].”) yaitu, inilah dahulu yang diperingatkan oleh para Rasul, lalu kalian mendustakan mereka.

Tafsir Kemenag: Allah menyatakan kepada orang-orang kafir, “Hai orang-orang kafir, inilah neraka Jahanam yang pernah Aku janjikan kepadamu dan janji itu telah disampaikan oleh rasul yang telah diutus kepadamu semasa hidup di dunia dahulu. Akan tetapi, kamu tidak mempercayainya, bahkan kamu ingkar dan durhaka kepada-Ku dan menyembah tuhan selain-Ku.”

Al-Qur’an menggunakan kata hadzihi yaitu bentuk isim isyarah untuk sesuatu yang dekat guna menggambarkan bahwa neraka Jahanam sudah berada di hadapan mereka, ini merupakan sebuah gambaran yang mengerikan.

Tafsir Quraish Shihab: Kepada mereka dikatakan, “Inilah neraka jahanam yang telah dijanjikan saat kalian berada di dunia. Ia merupakan balasan atas kekufuran kalian.

Surah Yasin Ayat 64
ٱصۡلَوۡهَا ٱلۡيَوۡمَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ

Terjemahan: Masuklah ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya.

Tafsir Jalalain: ٱصۡلَوۡهَا ٱلۡيَوۡمَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ (Masuklah ke dalamnya pada hari ini disebabkan kalian dahulu mengingkarinya.).

Tafsir Ibnu Katsir: ٱصۡلَوۡهَا ٱلۡيَوۡمَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ (“Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya.”)

Tafsir Kemenag: Selanjutnya, Allah memerintahkan kepada mereka, “Hai orang-orang kafir, masuklah dan rasakanlah pada hari ini panasnya api neraka. Tetaplah di dalamnya sebagai balasan dari keingkaran dan perbuatan dosa yang telah kamu kerjakan dahulu.”

Dari Ayat-Ayat ini dipahami, seakan-akan Allah memperingatkan kepada orang-orang kafir yang sedang diazab itu bahwa mereka tidak perlu lagi menyesal, putus asa dan bersedih hati karena azab yang sedang mereka alami.

Azab yang diberikan kepada mereka merupakan ketetapan Tuhan yang tidak mungkin diubah lagi. Kepada mereka sewaktu hidup di dunia telah disampaikan bermacam-macam peringatan dan bermacam-macam cobaan, tetapi mereka tetap ingkar. Oleh karena itu, rasakanlah dan terimalah azab yang sedang ditimpakan itu.

Tafsir Quraish Shihab: Masuklah kalian ke dalam neraka jahanam ini. Pada hari ini, panas neraka jahanam itu semakin keras dengan kekufuran kalian.”

Surah Yasin Ayat 65
ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيهِمۡ وَتَشۡهَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ

Terjemahan: Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.

Tafsir Jalalain: ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ (Pada hari ini Kami tutup mulut mereka) mulut orang-orang kafir, karena mereka mengatakan, yaitu sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya, “Demi Allah, Rabb kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.” (Q.S. 6 Al An’am, 23)

Baca Juga:  Surah At-Taubah Ayat 28-29; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيهِمۡ وَتَشۡهَدُ أَرۡجُلُهُم (Dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan kaki mereka memberi kesaksian) juga anggota-anggota mereka lainnya بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ (terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan) setiap anggota tubuh mengucapkan apa yang telah diperbuatnya.

Tafsir Ibnu Katsir: ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيهِمۡ وَتَشۡهَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ (“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”

Ini adalah kondisi orang-orang kafir dan orang-orang munafik pada hari kiamat ketika mereka mengingkari perilaku buruk yang mereka lakukan di dunia serta bersumpah dengan apa yang telah mereka lakukan. Lalu Allah menutup lisan-lisan mereka, sedangkan anggota tubuh mereka berbicara tentang apa yang sudah mereka perbuat.

Sufyan bin ‘Uyainah berkata dari Abu Hurairah, bahwa di dalam hadits panjang tentang hari kiamat, Rasulullah saw. bersabda: “Kemudian orang ketiga dihadapkan. Dia bertanya: ‘Siapa engkau?’ orang itu menjawab: ‘Hamba-Mu. Aku beriman kepada-Mu, kepada Nabi-Mu dan kepada kitab-kitab-Mu. Aku berpuasa, aku shalat dan aku bershadaqah.’ Dan ia menceritakan berbagai kebaikan yang ia mampu. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Bukankah telah Kami utus kepadamu saksi Kami?’

orang itu sesaat berfikir: ‘Siapakah yang menjadi saksi baginya, padahal mulutnya dikunci.’ Dikatakan kepada pahanya: ‘Berbicaralah!’ lalu paha, daging dan tulangnya berbicara tentang apa yang dikerjakannya. Itulah dia orang munafik yang memberi alasan pada dirinya sendiri dan itulah orang yang dimurkai Allah Ta’ala.” (HR Muslim dan Abu Dawud dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah secara panjang)

Tafsir Kemenag: Ketika menerima azab di neraka, ada sebagian dari orang-orang kafir yang mengingkari perbuatan-perbuatan jahat mereka di dunia sebagaimana diterangkan dalam firman Allah:

Kemudian tidaklah ada jawaban bohong mereka, kecuali mengatakan, “Demi Allah, ya Tuhan kami, tidaklah kami mempersekutukan Allah.” (al-An’am/6: 23)

Maka pada Ayat 65 ini, Allah mengunci mati mulut-mulut mereka sehingga mereka tidak dapat berbohong maupun mendebat adanya perbuatan mereka. Apalagi tangan-tangan mereka kemudian berbicara dan kaki-kaki mereka menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan, sehingga mereka tidak mungkin lagi mengelak atas adanya perbuatan-perbuatan mereka yang melawan agama. Pada hari akhirat ini, hukum berlaku dengan seadil-adilnya sesuai dengan segala perbuatan mereka di dunia.

Menurut riwAyat Anas bin Malik dikatakan:Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Kami sedang berada di sisi Nabi saw, tiba-tiba beliau tertawa. Kata beliau, “Tahukah kamu mengapa saya tertawa? Kami menjawab, “Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu”.

Beliau berkata,”(Saya tertawa) karena adanya pembicaraan antara seorang hamba dengan Tuhannya”. Hamba berkata, “Wahai Tuhanku, bukankah Engkau telah menyelamatkan aku dari kezaliman? “Ya benar, kamu telah Aku selamatkan”, jawab Tuhannya. Hamba berkata, ” Sesungguhnya aku tidak akan mengizinkan atas diriku kecuali seorang saksi dari padaku”. Tuhannya menjawab, “Cukup, kamu menjadi saksi atas dirimu dan para malaikat pencatat amal juga menjadi saksi”.

Nabi saw lalu berkata, ” Kemudian mulut hamba tadi ditutup, lalu anggota-anggota badan diperintahkan untuk berbicara, “Bicaralah!”. Kata Nabi saw lagi, ” Maka anggota-anggota badan itu berbicara (sesuai perbuatannya). (RiwAyat Imam Abu Ya’la al-Maushuli)

Baca Juga:  Surat Al Lahb; Kutukan Allah kepada Abu Lahb dan Isterinya Karena Sangat Memusuhi Islam

Banyak Ayat-Ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang persaksian anggota tubuh manusia terhadap perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia ini, di antaranya ialah firman Allah:

Pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (an-Nur/24: 24)

Allah menjadikan tangan dan kaki berbicara sebagai saksi karena tanganlah yang mengerjakan perbuatan itu, sedang kaki ikut menyaksikan apa yang dikerjakan oleh tangan itu. Jadi perbuatan tangan merupakan suatu ikrar atau pengakuan, sedangkan perkataan kaki merupakan persaksian.

Jika semua perbuatan buruk seorang manusia dibukakan dan diungkapkan selama hidup di dunia dan diketahui oleh orang banyak maka ia merasa malu dan merasa sukar menyembunyikan muka mereka. Bahkan banyak pula di antara manusia yang membunuh dirinya karena tidak sanggup menahan rasa malu itu. Di akhirat, mereka akan mengalami apa yang mereka tidak sanggup mengalami dan menanggungnya semasa hidup di dunia.

Tafsir Quraish Shihab: Pada hari itu Kami tutup mulut mereka sehingga tidak dapat berkata. Tangan-tangan merekalah yang berbicara kepada Kami. Dan kaki-kaki mereka pun berbicara sebagai saksi atas perbuatan-perbuatan mereka.

Surah Yasin Ayat 66
وَلَوۡ نَشَآءُ لَطَمَسۡنَا عَلَىٰٓ أَعۡيُنِهِمۡ فَٱسۡتَبَقُواْ ٱلصِّرَٰطَ فَأَنَّىٰ يُبۡصِرُونَ

Terjemahan: Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan, Maka betapakah mereka dapat melihat(nya).

Tafsir Jalalain: وَلَوۡ نَشَآءُ لَطَمَسۡنَا عَلَىٰٓ أَعۡيُنِهِمۡ (Dan jika Kami menghendaki pastilah Kami hapuskan penglihatan mereka) Kami jadikan penglihatan mereka buta sama sekali فَٱسۡتَبَقُواْ (lalu mereka berlomba-lomba) bersegera ٱلصِّرَٰطَ (-mencari- jalan) untuk pergi sebagaimana kebiasaan mereka. فَأَنَّىٰ (Maka betapakah) bagaimanakah يُبۡصِرُونَ (mereka dapat melihat) jalan itu, jika mereka dalam keadaan buta? Yakni mereka pasti tidak akan dapat melihat jalan itu.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah: وَلَوۡ نَشَآءُ لَطَمَسۡنَا عَلَىٰٓ أَعۡيُنِهِمۡ فَٱسۡتَبَقُواْ ٱلصِّرَٰطَ فَأَنَّىٰ يُبۡصِرُونَ (“Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba [mencari] jalan. Maka betapakah mereka dapat melihat[nya].”) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dalam menafsirkannya; Dia berfirman, Jikalau Kami menghendaki, niscaya Kami menyesatkan mereka dari petunjuk, maka bagaimana mereka akan mendapat petunjuk.” Murrah berkata: “Kami butakan mereka.”

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia akan menghapuskan mata mereka, sehingga menjadikan mereka buta dan bingung.” As-Suddi berkata: “Dia berkata, jikalau Kami menghendaki, niscaya Kami butakan penglihatan mereka.”

Mujahid, Abu Shalih, Qatadah dan as-Suddi berkata: “Berlomba-lombalah kalian berjalan di shirath, yaitu jalan.” Ibnu Zaid berkata: “Yang dimaksud shirath disini adalah kebenaran, mengapakah mereka tidak melihatnya? Sesungguhnya Kami telah melenyapkan mata mereka.” Al-‘Aufi meriwAyatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: فَأَنَّىٰ يُبۡصِرُونَ yaitu mereka tidak dapat melihat kebenaran.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan kekuasaan Allah terhadap hamba-hamba-Nya, yaitu jika Dia menghendaki dapat saja menghapus penglihatan dan pendengaran orang-orang kafir, sehingga tidak dapat melihat padahal mereka harus banyak beramal dan berbuat baik. Akan tetapi, karena sifat kasih sayang Allah kepada manusia, maka hal itu tidak dilakukan-Nya.

Orang-orang kafir tetap dapat melihat dan berbuat baik di dunia sesuai dengan petunjuk agama. Akan tetapi, hal itu tidak mereka lakukan, bahkan mereka banyak berbuat dosa. Dengan demikian, di samping mereka tidak memiliki amal kebaikan yang perlu diberi pahala, dosa-dosa mereka juga sangat banyak sehingga siksaan Allah di akhirat tentu sangat berat. Mereka tidak dapat mengelak dari semua itu karena adanya kesaksian tangan dan kaki mereka.

Baca Juga:  Surah Yasin Ayat 68-70; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Dan jika Kami menghendaki untuk menghilangkan penglihatan mereka di dunia, niscaya Kami akan butakan mereka. Lalu mereka berlomba-lomba meniti jalan yang harus mereka lalui. Tapi mereka tidak dapat lagi melihat jalan itu. Bagaimana mungkin mereka dapat melihatnya, bukankah Kami telah membuat mereka buta?

Surah Yasin Ayat 67
وَلَوۡ نَشَآءُ لَمَسَخۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمۡ فَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ مُضِيًّا وَلَا يَرۡجِعُونَ

Terjemahan: Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami ubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak (pula) sanggup kembali.

Tafsir Jalalain: وَلَوۡ نَشَآءُ لَمَسَخۡنَٰهُمۡ (Dan jika Kami menghendaki pastilah Kami ubah mereka) diubah menjadi kera, babi atau batu عَلَىٰ مَكَانَتِهِمۡ (di tempat mereka berada) menurut qiraat yang lain lafal Makanatihim dibaca dalam bentuk jamak, yaitu Makaanaatihim, yaitu di tempat-tempat mereka فَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ مُضِيًّا وَلَا يَرۡجِعُونَ (maka mereka tidak sanggup berjalan dan tidak pula sanggup kembali) yakni mereka tidak dapat pergi dan tidak dapat pulang kembali.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَلَوۡ نَشَآءُ لَمَسَخۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمۡ (“Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami rubah mereka di tempat mereka berada.”) al-‘Aufi meriwAyatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Kami binasakan mereka.” As-Suddi berkata: “Sungguh Kami akan merubah ciptaan mereka.”

فَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ مُضِيًّا (“Maka mereka tidak sanggup berjalan lagi”) ke depan. وَلَا يَرۡجِعُونَ (“Dan tidak [pula] sanggup kembali.”) ke belakang. Bahkan mereka tetap berada di satu tempat tersebut, tidak dapat maju dan tidak mundur.

Tafsir Kemenag: Ayat ini juga menerangkan kekuasaan Allah, yaitu jika Allah menghendaki maka Dia dapat mengubah bentuk orang-orang kafir di tempat mereka berada, sehingga tidak sanggup lagi berjalan dan kembali. Akan tetapi, hal itu tidak dilakukan karena Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Meskipun begitu, orang-orang kafir yang memiliki kesempatan untuk beramal saleh sesuai petunjuk agama juga tidak melakukannya, bahkan mereka bertambah ingkar sehingga pantas mendapat siksa yang berat dan menghinakan di akhirat.

Tafsir Quraish Shihab: Dan jikalau Kami menghendaki untuk mengubah bentuk mereka, niscaya Kami akan mengubah mereka ke dalam bentuk yang buruk, menggantikan kekuatan dan kedudukan yang sebelumnya mereka miliki. Maka mereka pun tidak dapat berjalan ke depan atau mundur ke belakang kareka Kami telah menghilangkan kekuatan yang ada pada mereka.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Yasin Ayat 63-67 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S