Tafsir Surat al Qadr: Asbabun Nuzul dan Makna 1000 Bulan

surat al qadr

Pecihitam.org – Surat Al Qadr adalah surah yang diturunkan di Kota Mekah, maka surat ini tergolong kedalam surat Makiyah, yang mana menjelaskan mengenai malam yang penuh kemuliaan yang biasa disebut Lailatul Qadar. Dimana pada malam tersebut turunlah para malaikat kelangit dunia untuk membawa berkah dan rahmat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tak terasa kita sudah mulai memasuki sepuluh hari paruh ke 2 bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Sebagai umat yang mengharapkan kebaikan dan kemuliaan, lebih-lebih mengharapkan utuk bertemu dengan Lailatul qadar.

Untuk itu marilah kita bersama-sama mengiatkan diri dalam beribadah dan melakukan kebaikan. Semoga saat kita sedang beribadah, saat kita sedang berbuat kebaikan saat itu pula menepati dengan datangnya Lailatul qadar, amin

Asbabun Nuzul Surat al Qadr

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah Saw. pernah menyebut-nyebut Bani Israil yang berjuang fisabililah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Kaum muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut.

Maka Allah menurunkan ayat ini ( Qs. 97 al-Qadar 1-3 ) yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadar lebih bai dari pada perjuangan Bani israil  selama seribu bulan tersebut. ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Wahidi yang bersumber dari Mujahid ).

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa dikalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada pagi harinya. Perbuatan itu dilakukan selama seribu bulan.

Baca Juga:  Surah Hud Ayat 28; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Maka Allah menurunkan ayat ini ( Qs. 97 al-Qadar 1-3 ) yang menegaskan bahwa satu malam  lailatul qadar lebih baik dari pada amalan seribu bulan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dari bani Israil tersebut. ( Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid ).

Tafsir Baidawi :

( Sesungguhnya kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan). Damir di sini setuju pada Al-Qur’an. Allah mengagungkan Al Qur’an dengan cara menyatakan dhamirnya saja, tanpa menyebutkannya, sebagai kesaksian akan kemashuran al Qur’an yang tidak perlu disebutkan secara terang terangan.

Demikian pula, Dia mengagungkan nya dengan cara menisbatkan penurunannya kepada diri-Nya dan dengan mengagunggkan waktu dimana ia diturunkan, dengan firman-Nya.

( Dan tahukah kamu, apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan). Sedang penurunan Al Qur’an pada malam itu, yang dimaksud ialah bahwa ala Qur’an mulai diturunkan secara keseluruhan dari Lauh Mahfuzh ke langit yang rendah, oleh para malikat. Kemudian Jibril as. Menurunkanya kepada Nabi Saw. secara berangsur-angsur dalam masa duapuluh tiga tahun.

Baca Juga:  Surah Al-Qashash Ayat 74-75; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dan ada pula yang mengatakan, arti diturunkanya Al Qur’an: Kami menurunkan Al Qur’an pada malam yang utama, yaitu pada malam-malam ganjil diantara sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Adapun yang menyebabkan dirahasiakanya malam itu adalah agar orang yang menginginkanya, menghidupkan banyak malam-malam lainya.

Sedang malam itu disebut demikian karena kemuliaanya, atau untuk menghargai urusan-urusan yang ada dimalam itu. Sebab Allah Swt berfirman : ( Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh nikmat).

Dan kata-kata ‘seribu’ boleh jadi artinya: banyak, atau dikarenakan adanya sebuah hadis yang diriwayatkan dari Nabi Saw. bahwa beliau pernah menceritakan seoran Israil yang mengenakan senjata dan berperang dijalan Allah selama seribu bulan.

Maka orang-orang mu’min terheran-heran, dan merasa terlalu kecil amal perbuatan mereka. Lalu mereka diberi suatu malam yang lebih baik dari pada masa yang ditempuh oleh pahlawan tadi.

( turun para malikat dan malaikat Jibril di kala itu ) maksudnya, pada malam kemuliaan itu  ( dengan izin tuhan mereka ), adalah keteangan tentang apa yang menyebabkan malam itu lebih baiuk dari pada seribu bulan, dan tentang turunya para malaikat kebumi, atau kelangit yang terendah, atau tentang mendekatnya mereka kepada orang-orang mukmin.

Baca Juga:  Surah Al-Hajj Ayat 75-76; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

( Untuk segala Urusan) maksudnya, untuk mengatur segala urusan yang berupa kebaikan dan kebrkahan, yang ditakdirkan untuk tahun itu sampai tahun berikutnya. Dan dibaca juga “ Min kulli imri’in”, yang artinya untuk mengurus setiap orang.

( Sejahteralah), Khabar yang didahulukan. (ia) , Maksudnya, malam kemuliaan, yang berfungsi sebagai mubtada’ yang diakhirkan. Maksudnya : malam kemuliaan itu tak lain adalah kesejahteraan.

Artinya Allah tidak menakdirkan pada malam itu selain kesejahteraan, sedang pada malam-malam selainya, Allah memutuskan kesejahteraan dan bencana. Atau malam itu taklain adalah kesejahteraan, dikarenakan banyaknya mereka yang mengucapkan salam pada malam itu kepada orang-orang mukmin.

( Sampai terbit fajar). Maksudnya, saat terbitnya, yakni nampaknya. Dan kata-kata ini dibaca juga dengan kasrah, seperti halnya kata-kata “ Al-Marji “, atau sebagai isim zaman yang tidak berdasarkan qiyas seperti kata-kata “ Al- Masyriq.”