Begini Cara Berdagang Rasulullah, Ternyata Ini Rahasianya

Begini Cara Berdagang Rasulullah, Ternyata Ini Rahasianya

PeciHitam.org – Nabi Muhammad terkenal dengan kepiawaiannya dalam berdagang, sehingga beliau mendapat julukan al-Amin atau yang dapat dipercaya oleh sebuah komunitas dagang pada masa itu. Lalu sebenarnya bagaimana sih cara berdagang Rasulullah dan siapa yang mengajari beliau?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebelum masuk kedalam hal tersebut, kita harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana roda perekonomian yang berjalan pada masa Nabi Muhammad melakukan perdagangan.

Perekonomian yang dijalankan oleh bangsa Arab sebelum Islam amat sangat sederhana dan terbatas. Mayoritas aktivitas ekonomi penduduk Arab adalah menggembala dan berternak binatang. Mereka yang bekerja dalam dunia pertanian atau perdagangan juga tidak bisa lepas dari peternakan. Hal ini disebabkan para petani membutuhkan hewanhewan untuk mendukung aktivitasnya di pertanian.

Demikian juga pedagang membutuhkan binatang untuk mengangkut dagangannya. Wajar jika persengketaan antara warga berkutat pada masalah peternakan. K. Hitti sebagaimana dikutip oleh Abdul Karim bahwa konflik antara penduduk Arab seputar pada persengkataan hewan ternak, padang rumput dan mata air.

Aktivitas ekonomi bangsa Arab meliputi tiga bidang, yaitu perdagangan, pertanian dan industri. Perdagangan dilakukan oleh orang-orang yang tinggal daerah perkotaan. Aktivitas ini dijalankan terutama di Makkah sebagai kawasan yang tandus.

Makkah adalah pusat kota dimana orang sering berziarah dan berkumpul di Ka’bah. Di daerah ini juga sering ada pasar musiman sebagai tempat perdagangan. Letak Makkah sangat strategis karena ia meng hubungkan lalulintas perekonomian, yaitu Syam (Yordania, Palestina, Libya), Yaman dan Habasyah (Ethiopia).

Baca Juga:  Ini Keistimewaan Bagi Istri yang Patuh Kepada Suami, Pasanganmu Harus Baca!

Aktivitas pertanian dilakukan bangsa Arab di daerah-daerah yang subur seperti Yaman, Thaif, daerah utara dan sebagian lahan pertanian di Hijaz. Pada umumnya kegiatan pertanian ini di desa daerah-daerah tersebut. Madinah adalah salah satu kota yang memiliki kesuburan tanah dan irigasi bagus, sehingga daerah ini merupakan penghasil kurma, gandum dan buah-buahan.

Sedangkan kegiatan industri hanya dilakukan sebagain kecil bangsa Arab. Profesi ini dilakukan oleh para budak dan orang Yahudi. Profesi yang cukup menonjol adalah tukang besi, tukang kayu, pembuatan senjata, dan pertenunan.

Nabi Muhammad dikenal sebagai pedagang yang sukses. Mental pekerja keras Nabi Muhammad dibentuk sejak masa kecil sewaktu diasuh Halimah Assa’diyah hingga dewasa. Bersama anak-anak Halimah, Muhammad yang saat itu berusia 4 tahun menggembala kambing. Pengalaman ini yang kemudian ia jadikan sebagai pekerjaan penggembala kambing-kambing milik penduduk Makkah.

Pengalaman Nabi Muhammad merupakan hasil terpaan pergulatannya dengan kehidupan masyarakat Jahiliyyah. Sejak usia 12 tahun Muhammad memiliki kecenderungan berbisnis. Ketika Abu Thalib bersiap-siap untuk berangkat berniaga ke Syam, Muhammad yang saat itu berusia 12 tahun menyusulnya agar diperkenankan ikut bersama kafilah dagang.

Semula Muhammad akan ditinggal di rumah karena Abu Thalib khawatir atas keselamatan dan kesehatan Muhammad untuk menempuh perjalanan jauh. Karena kasih sayangnya, keinginan Muhammad dikabulkan oleh pamannya. Kepergian Nabi Muhammad ke Syam untuk yang pertama kali ini terjadi pada tahun 583 M.

Baca Juga:  Ilmu Tajwid dalam Islam, Siapakah Penggagasnya? Ini Sejarahnya!

Pengalaman bisnisnya ia peroleh dari realitas sosial, ketika ia mengunjungi beberapa pasar dan festival perdagangan, serta kunjungan ke negara Syam, sebuah negara yang menjadi sentral perdagangan dunia pada saat itu. Ia pernah melakukan perjalanan ke Syam bersama pamannya, Abu Thalib. Ia juga mengunjungi pasar-pasar dan festival perdagangan, seperti di pasar Ukaz, Majinna, Dzul Majaz dan tempat lainnya. Pengalaman inilah yang nantinya membentuk cara berdagang Rasulullah saw.

Jika memerhatikan sejarah keberhasilan Nabi Muhammad dalam mengelola bisnis maka kuncinya adalah akhlak mulia (seperti tutur kata yang baik, jujur dan amanah). Siapakah yang membimbingnya, sementara ia belum menjadi Nabi yang selalu menerima wahyu dan membimbingnya?
Sementara al-Qur’an sebagai wahyu yang selalu membimbing Muhammad baru turun ketika ia berusia 40 tahun. Artinya selama 39 tahun, Muhammad belajar dari keluarga dan lingkungannya.

Abu Thalib merupakan salah satu keluarga yang selalu mendorong Muhammad untuk menjadi pebisnis. Ketika Abu Thalib sudah tua, ia memanggil Muhammad dan berkata: “Hai anak saudaraku, sebagaimana telah kamu ketahui bahwa pamanmu ini sudah tidak punya kekayaan lagi, padahal keadaan sudah sangat mendesak, maka alangkah baiknya jika kamu mulai berniaga dan sedikit demi sedikit hasilnya dapat kamu pergunakan untuk kepentinganmu sehari-hari”. Muhammad mengikuti nasihat pamannya, dan profesi pebisnis ini yang kemudian ia tekuni hingga ia menjadi seorang nabi.

Baca Juga:  5 Cara Berdagang Rasulullah Yang Bisa Kita Tiru

Baru pada usia 25 tahun Muhammad menikah dengan Khadijah (40 tahun). Ia berasal dari kalangan bangsawan dan keluarga kaya. Ia tercatat sebagai wanita terkaya di Makkah. Meskipun sebagai wanita ia dikenal pemberani, disamping sikap lainnya yang toleran dan memiliki kepekaan sosial atas lingkungan sekitarnya. Ia sebagai pengusaha yang memiliki kemampuan manajerial baik. Ia mempercayakan barang dagangannya kepada anak buahnya.

Begitulah cara berdagang Rasulullah yang lebih mengedepankan Akhlak dan kejujuran sehingga membuat beliau menjadi pedagang yang disegani dan dipercaya pada waktu itu.

Mohammad Mufid Muwaffaq

Leave a Reply

Your email address will not be published.