Kisah Qais bin Sa’d dan Anjingnya; Teguran bagi Jamaah Shalat

Kisah Qais bin Sa’d dan Anjingnya; Teguran bagi Jamaah Shalat

PeciHitam.org – Ada sebuah kisah perbucinan (percintaan) yang amat masyhur di kalangan umat Islam, khususnya di antara para sufi yaitu kisah Qais bin Sa’d yang begitu tergila-gila pada Laila. Kisah tersebut terdapat dalam novel Nizami yang berjudul Laila Majnun.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Qais bin Sa’d yang bernama lengkap Qais bin Mulawwih (Mulawwah) bin Muzahim bin Adas bin Rabi’ah bin Ja’dah bin Ka’b bin Rabi’ah. Ada juga yang berpendapat bahwa nama lengkap Qais bin Sa’d adalah Qais bin Mu’adz yang berasal dari Kabilah Amir. Sedangkan Laila memiliki nama lengkap Laila binti Mahdi bin Sa’d bin Ka’b bin Rabi’ah.

Kisah cinta keduanya merupakan perwujudan dari cinta abadi yang legendaris. Kisah cinta yang penuh dengan bumbu-bumbu perbucinan (percintaan) akut. Menguras air mata namun berakhir tragis.

Kisah tersebut menginspirasi para sastrawan dunia untuk menuliskan kisah cinta yang serupa, salah satunya Romeo and Juliet karya William Shakespeare. Di Indonesia sendiri terdapat kisah Hayati dan Zainuddin dalam buku Tenggelamnya Kapal Vanderwijck karya Buya Hamka.

Kisah cinta keduanya, antara Qais dan Laila ditulis oleh beberapa sastrawan dunia dan sufi besar. Mereka berasal dari berbagai negara, meliputi Arab, Persia, Turki, India dan lain-lain dengan versi yang berbeda-beda.

Baca Juga:  Begini Kisah Perjalanan Imam Syafi’i dalam Mencari Ilmu

Tokoh-tokoh penulis kisah cinta tersebut antara lain Al-Ashmu’I (w. 215 H) dari Arab, Nizami Ganjavi, Nizam al-Din, (w. 599 H) dari Persia, Sa’d al-Syirazi (w. 1291 M) dari Persia, Abd al-Rahman al-Jami (w. 1492 M) dari Persia , Amir Khasru al-Dihlawi (w. 1325 M) dari Turki kemudian pindah ke Delhi, Ahmad Syauqi (1932 M) dari  Mesir, dan lain sebagainya.

Salah satu kisah yang masyhur sekaligus dapat menjadi renungan para ahli ibadah ialah kisah Qais yang mengejar anjing kekasihnya. Dikisahkan bahwa suatu ketika Qais mencari seekor anjing yang memiliki kudis kesana kemari.

Anjing tersebut merupakan hadiah dari seseorang yang ia cintai yaitu Laila. Saking seringnya ia mondar-mandir, ia kemudian ditegur oleh seseorang. “Hei, mengapa engkau masih saja mencari anjing yang kudisan itu?”

Sontak saja Qais menjawab, “Bagaimana mungkin aku mau kehilangan sesuatu yang berasal dari seseorang yang aku cintai?” Jawaban Qais tersebut menegaskan bahwa ia sama sekali tidak melihat keburukan yang ada pada anjing tersebut, sebab ia hanya melihat siapa yang memberikannya. Karena cinta, seekor anjing kudisan yang diberikan kekasihnya pun terlihat indah.

Baca Juga:  Kisah Zaid bin San’ah, Pendeta Yahudi Pencari Tanda Kenabian

Qais melanjutkan pencariannya dan bertekat agar harus menemukannya. Singkat cerita, ia melihat seekor anjing yang ia cari. Tanpa pikir panjang ia kemudian mengejarnya. Ia bahkan tidak sadar bahwa ia telah berjalan melewati sekelompok jamah yang sedang shalat.

Reflek saja, orang yang shalat tersebut langsung menyilangkan tangan bertujuan untuk menghalangi Qais agar tidak lewat di depannya. Qais kemudian berhenti dan tak lama, shalat selesai.

Setelah shalat, seorang jamaah bertanya, “Mengapa engkau lewat di depan kami? Apakah engkau tak melihat bahwa kami sedang shalat?”

“Mohon maaf, aku terlalu fokus mencari anjing kekasihku. Aku bahkan sampai tidak memperhatikan kalian shalat. Lalu mengapa kalian memperhatikanku ketika sedang menghadap sang kuasa?”

Jawaban dari Qais tersebut membuat jamaah shalat bungkam seribu bahasa. Sebab ketika seseorang telah menghadap seorang kekasihnya, tentu ia akan terfokus hanya kepadanya.

Ketika Qais mencari anjing kekasihnya pun, ia hanya terfokus pada anjing tersebut. Bagaimana mungkin seseorang yang sedang menghadap Sang Kekasih malah justru memperhatikan yang lain?

Baca Juga:  Kisah Salman al Farisi yang Hampir Dipenggal dan Pemuda yang Menepati Janji

Demikian kisah Qais yang begitu menggelitik nalar kita sebagai seorang muslim. Kisah tersebut dapat dijadikan renungan, apakah shalat kita selama ini sudah benar-benar menghadap kepada Allah atau hanya seremonial belaka.

Jika shalat tersebut dimaknai sebagai waktu untuk menghadap Sang Kekasih, maka tidak akan mungkin kita memikirkan hal lain atau bahkan memperhatikan yang lainnya. Pikiran dan hati kita tentu akan terfokus pada Sang Kekasih, yaitu Allah SWT. Wallahu A’lam.

Mohammad Mufid Muwaffaq