Surah Al-Hujurat Ayat 1-3; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Hujurat Ayat 1-3

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Hujurat Ayat 1-3 ini, sebelum membahas kandungan ayat terlebih dahulu kita memahami isi surah.  Surah ini dimulai dengan larangan kepada orang-orang Mukmin untuk menilai sesuatu sebelum datang perintah Allah dan Rasul-Nya, larangan mengangkat suara lebih tinggi di atas suara Rasul saw., pujian terhadap orang-orang yang merendahkan suaranya di hadapan Rasul, dan celaan terhadap orang-orang yang tidak beradab dan memanggil Rasul dari luar kamarnya. 

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kemudian dalam akhir surah ini dijelaskan larangan terhadap orang-orang yang menganggap bahwa mereka telah memberi nikmat kepada Rasulullah dengan masuknya mereka ke dalam agama Islam. 

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hujurat Ayat 1-3

Surah Al-Hujurat Ayat 1
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Terjemahan: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Tafsir Jalalain: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُقَدِّمُواْ (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului) berasal dari lafal Qadima yang maknanya sama dengan lafal Taqaddama artinya, janganlah kalian mendahului baik melalui perkataan atau perbuatan kalian بَيۡنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ (di hadapan Allah dan Rasul-Nya) yang menyampaikan wahyu dari-Nya, makna yang dimaksud ialah janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya tanpa izin dari keduanya

وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ (dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar) semua perkataan kalian عَلِيمٌ (lagi Maha Mengetahui) semua perbuatan kalian. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan perdebatan antara Abu Bakar r.a., dan sahabat Umar r.a.

Mereka berdua melakukan perdebatan di hadapan Nabi saw. mengenai pengangkatan Aqra’ bin Habis atau Qa’qa’ bin Ma’bad. Ayat selanjutnya diturunkan berkenaan dengan orang yang mengangkat suaranya keras-keras di hadapan Nabi saw. yaitu firman-Nya:.

Tafsir Ibnu Katsir: Melalui ayat-ayat ini Allah membimbing hamba-hamba-Nya yang beriman tentang cara bergaul dan berhubungan dengan Rasulullah saw., dari cara menghargai, menghormati, memuliakan dan mengagungkan beliau. Dimana Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.”) maksudnya, janganlah kalian tergesa-gesa melakukan segala sesuatu sebelum Rasulullah saw, tetapi jadilah kalian semua sebagai pengikutnya dalam segala hal.

Sehingga masuk ke dalam keumuman adab syar’i ini, sebuah hadits Mu’adz, dimana Nabi saw. pernah berkata kepadanya ketia ia diutus ke Yaman: “Dengan apa engkau akan memutuskan hukum?” ia menjawab: “Dengan kitab Allah Ta’ala.” Jika engkau tidak mendapatkannya?” tanya Rasulullah lebih lanjut. Ia menjawab:

“Dengan sunnah Rasulullah saw.” “Dan jika tidak mendapatkannya juga?” tanya beliau lagi. Ia menjawab: “Aku akan berijtihad dengan pendapatku.” Lalu beliau menepuk dadanya seraya berucap: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufiq kepada utusan Rasulullah saw. atas apa yang telah diridlai oleh Rasulullah saw.”

hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Dan yang dimaksud oleh Mu’adz adalah, ia mengakhirkan pendapat, pandangan, dan ijtihadnya setelah al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.. Seandainya ia mendahulukan ijtihad sebelum mencarinya di dalam al-Qur’an dan al-Hadits, maka yang demikian itu termasuk salah satu sikap mendahului Allah dan Rasul-Nya.

Mengenai firman-Nya: لَا تُقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ (“janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.”) ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Janganlah kalian mengucapkan hal-hal yang bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits.” Mujahid mengatakan:

“Janganlah kalian mendahului Rasulullah saw. dalam suatu [hal], sehingga Allah Ta’ala menetapkan [nya] melalui lisan beliau.” Sufyan ats-Tsauri berkata: لَا تُقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ (“janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.”) dalam bentuk ucapan dan juga perbuatan.”

وَٱتَّقُواْ (“Dan bertaqwalah kepada Allah”) yaitu setiap apa yang Dia perintahkan kepada kalian. إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ (“Sesungguhnya Allah Mahamendengar”) ucapan-ucapan kalian, عَلِيمٌ (“Lagi Mahamengetahui”) apa yang menjadi niat kalian.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah mengajarkan kesopanan kepada kaum Muslimin ketika berhadapan dengan Rasulullah saw dalam hal perbuatan dan percakapan. Allah memperingatkan kaum Mukminin supaya jangan mendahului Allah dan rasul-Nya dalam menentukan suatu hukum atau pendapat.

Mereka dilarang memutuskan suatu perkara sebelum membahas dan meneliti lebih dahulu hukum Allah dan (atau) ketentuan dari rasul-Nya terhadap masalah itu. Hal ini bertujuan agar keputusan mereka tidak menyalahi apalagi bertentangan dengan syariat Islam, sehingga dapat menimbulkan kemurkaan Allah.

Yang demikian ini sejalan dengan yang dialami oleh sahabat Nabi Muhammad yaitu Mu’adh bin Jabal ketika akan diutus ke negeri Yaman. Rasulullah saw bertanya, “Kamu akan memberi keputusan dengan apa?” Dijawab oleh Mu’adh, “Dengan kitab Allah.” Nabi bertanya lagi, “Jika tidak kamu jumpai dalam kitab Allah, bagaimana?” Mu’adh menjawab,

“Dengan Sunah Rasulullah.” Nabi Muhammad bertanya lagi, “Jika dalam Sunah Rasulullah tidak kamu jumpai, bagaimana?” Mu’adh menjawab, “Aku akan ijtihad dengan pikiranku.” Lalu Nabi Muhammad saw menepuk dada Mu’adh seraya berkata,

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusan rasul-Nya tentang apa yang diridai Allah dan rasul-Nya.” (Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidhi dan Ibnu Majah dari Mu’adh bin Jabal).

Baca Juga:  Surah Al-Isra Ayat 16; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada kaum Mukminin supaya melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak tergesa-gesa melakukan perbuatan atau mengemukakan pendapat dengan mendahului Al-Qur’an dan hadis Nabi yang ada hubungannya dengan sebab turunnya ayat ini.

Tersebut dalam kitab al-Iklil bahwa mereka dilarang menyembelih kurban pada hari Raya Idul Adha sebelum nabi menyembelih, dan dilarang berpuasa pada hari yang diragukan, seperti apakah telah datang awal Ramadan atau belum, sebelum jelas hasil ijtihad untuk penetapannya.

Kemudian Allah memerintahkan supaya mereka tetap bertakwa kepada-Nya karena Allah Maha Mendengar segala percakapan dan Maha Mengetahui segala yang terkandung dalam hati hamba-hamba-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Surah ini dimulai dengan larangan kepada orang-orang Mukmin untuk menilai sesuatu sebelum datang perintah Allah dan Rasul-Nya, larangan mengangkat suara lebih tinggi di atas suara Rasul saw., pujian terhadap orang-orang yang merendahkan suaranya di hadapan Rasul, dan celaan terhadap orang-orang yang tidak beradab dan memanggil Rasul dari luar kamarnya.

Kemudian dijelaskan perintah kepada orang-orang Mukmin untuk selalu bersikap selektif dan teliti dalam menerima suatu berita dari orang-orang fasik dan lemah imannya, perintah yang harus dilakukan oleh para pemimpin dalam menghadapi dua kelompok orang-orang Mukmin yang sedang berperang, larangan bagi orang-orang Mukmin untuk saling mengolok-olok dan mencela sesamanya, larangan berburuk sangka dan memata-matai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Selain itu, surah ini juga menjelaskan larangan bagi orang-orang Arab Badui untuk mengaku bahwa mereka telah beriman sebelum iman itu menetap dalam hati mereka dan keterangan tentang siapakah orang-orang Mukmin yang sebenarnya.

Kemudian dalam akhir surah ini dijelaskan larangan terhadap orang-orang yang menganggap bahwa mereka telah memberi nikmat kepada Rasulullah dengan masuknya mereka ke dalam agama Islam. Namun sesungguhnya nikmat itu hanyalah milik Allah yang dianugerahkan kepada mereka dengan memberi petunjuk mereka kepada keimanan jika mereka termasuk orang-orang yang benar.]]

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan hukum masalah keagamaan dan keduniaan. Jagalah diri kalian dari azab Allah dengan jalan menaati perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua yang kalian katakan dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Surah Al-Hujurat Ayat 2
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَرۡفَعُوٓاْ أَصۡوَٰتَكُمۡ فَوۡقَ صَوۡتِ ٱلنَّبِىِّ وَلَا تَجۡهَرُواْ لَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ كَجَهۡرِ بَعۡضِكُمۡ لِبَعۡضٍ أَن تَحۡبَطَ أَعۡمَٰلُكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تَشۡعُرُونَ

Terjemahan: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.

Tafsir Jalalain: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَرۡفَعُوٓاْ أَصۡوَٰتَكُمۡ (“Hai orang-orang beriman janganlah kalian meninggikan suara kalian) bila kalian berbicara فَوۡقَ صَوۡتِ ٱلنَّبِىِّ (lebih dari suara Nabi) bila ia berbicara وَلَا تَجۡهَرُواْ لَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ (dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras) bila kalian berbicara dengannya,

كَجَهۡرِ بَعۡضِكُمۡ لِبَعۡضٍ (sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian terhadap sebagian yang lain) tetapi rendahkanlah suara kalian di bawah suaranya demi untuk menghormati dan mengagungkannya أَن تَحۡبَطَ أَعۡمَٰلُكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تَشۡعُرُونَ (supaya tidak dihapus pahala amal kalian sedangkan kalian tidak menyadarinya”) maksudnya, takutlah kalian akan hal tersebut disebabkan suara kalian yang tinggi dan keras di hadapannya. Ayat berikutnya diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang merendahkan suaranya di hadapan Nabi saw.

Tafsir Ibnu Katsir: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَرۡفَعُوٓاْ أَصۡوَٰتَكُمۡ فَوۡقَ صَوۡتِ ٱلنَّبِىِّ (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi.”) inilah etika kedua yang dengannya Allah swt. membimbing hamba-hamba-Nya yang beriman, yaitu agar mereka tidak mengeraskan suara di hadapan Nabi saw. melebihi suara beliau. Telah diriwayatkan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan dua orang, yaitu Abu Bakr dan ‘Umar.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Mulaikah, ia bercerita: “Hampir saja dua orang terbaik, Abu Bakr dan ‘Umar celaka ketika keduanya mengangkat suara di hadapan Nabi saw. pada saat datang rombongan Bani Tamim. Lalu salah seorang dari keduanya [Abu Bakr atau ‘Umar] meminta pendapat kepada al-Aqra’ bin Habis, saudara Bani Mujasyi’.

Kemudian seorang yang lain meminta pendapat kepada orang lain. Nafi’ berkata: ‘Aku tidak hafal nama-nama orang yang dimintai pendapat itu.’ Kemudian Abu Bakr berkata kepada ‘Umar: ‘Engkau tidak bermaksud melainkan untuk menyelisihiku.’

‘Umar menjawab: ‘Aku tidak bermaksud menyelisihimu.’ Sehingga suara mereka berdua terdengar sangat tinggi tentang masalah tersebut [dalam mengusulkan siapa yang akan menjadi pimpinan Bani Tamim], sehingga Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.”

Ibnuz Zubair berkata: “Dan ‘Umar tidak mendengar Rasulullah saw. setelah turunnya ayat ini, sehingga beliau menanyakannya kepada beliau. Dan hadits ini tidak disebutkan dari ayahnya, yakni Abu Bakr. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari.”

Kemudian Imam al-Bukhari meriwayatkan, Hasan bin Muhammad memberitahu kami, Hajjaj memberitahu kami, dari Ibnu Juraij, Ibnu Abi Mulaikah memberitahuku bahwa ‘Abdullah bin az-Zubair telah memberitahunya, bahwasannya telah datang rombongan Bani Tamim menghadap Nabi saw. maka Abu Bakr berkata:

Baca Juga:  Surah Al Alaq; Tafsir, Terjemahan dan Asbabun Nuzulnya

“Jadikanlah al-Qa’qa’ bin Ma’bad sebagai amir.” Lalu ‘Umar mengatakan: “Angkat saja al-Aqra’ bin Habis sebagai amir.” Maka Abu Bakr berkata: “Engkau tidak menghendaki kecuali menyelisihiku.” Maka ‘Umar berkata: “Aku sama sekali tidak bermaksud menyelisihimu.” Maka keduanya saling beradu mulut sehingga suara mereka meninggi. Lalu turunlah ayat yang berkenaan dengan hal tersebut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ (“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.”) sampai ayat: وَلَوۡ أَنَّهُمۡ صَبَرُواْ حَتَّىٰ تَخۡرُجَ إِلَيۡهِمۡ (“Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai engkau keluar menemui mereka.”) dan ayat seterusnya (al-Hujuraat: 5). Demikian hadits yang diriwayatkan sendiri oleh Imam al-Bukhari. wallaaHu a’lam.

Imam al-Bukhari juga meriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Nabi saw. pernah mencari Tsabit bin Qais, lalu ada seseorang yang berkata: “Ya Rasulallah, aku akan beritahukan keberadaannya kepadamu.” Kemudian orang itu mendatangi rumahnya [Tsabit bin Qais], lalu ia mendapatinya dalam keadaan menundukkan kepalanya.

Maka iapun bertanya: “Apa yang terjadi pada dirimu?” Tsabit menjawab: “Benar-benar celaka.” Ia telah meninggikan suaranya di atas suara Nabi saw. maka amalnyapun telah terhapus dan ia termasuk penghuni neraka. Orang itu datang kepada Nabi saw. dan memberitahukan kepada beliau bahwa Tsabit bin Qais telah mengatakan begini dan begitu. Musa berkata:

“Kemudian ia kembali lagi ke Tsabit bin Qais di waktu yang lain dengan membawa berita gembira yang menakjubkan, beliau bersabda: ‘Pergilah ke tempatnya dan katakan padanya: Engkau bukan penghuni neraka, tetapi engkau termasuk penghuni surga.’” Imam Al-Bukhari meriwayatkannya sendiri dari jalan ini.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia bercerita: “Pada peristiwa Yamamah, di antara kami ada yang mengalami kekalahan, lalu Tsabit bin Qais bin Syams datang dalam keadaan membalsam diri dan mengenakan kain kafan seraya berkata: ‘Sungguh buruk kalian menjenguk teman-teman kalian. Maka iapun memerangi [musuh] mereka.’ Sehingga iapun terbunuh.’”

Telah diriwayatkan dari ‘Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab, bahwasannya ia pernah mendengar suara dua orang dalam masjid Nabawi, dimana suara mereka berdua benar-benar tinggi. Kemudian ‘Umar bin al-Khaththab dating dan berkata:

“Apakah kalian berdua tahu sedang berada dimana kalian sekarang?” lebih lanjut ‘Umar bertanya: “Dari mana kalian ini?” keduanya menjawab: “Kami berasal dari penduduk Thaif.” Lalu ia berkata: “Seandainya kalian termasuk penduduk Madinah, niscaya aku akan menyakiti kalian dengan pukulan.”

Para ulama mengatakan: “Dimakruhkan mengangkat suara di sisi makam Rasulullah saw. sebagaimana dimakruhkan meninggikan suara saat beliau masih hidup, karena beliau adalah seorang yang sangat terhormat, baik ketika beliau masih hidup maupun saat beliau sudah wafat.” Dan setelah itu dilarang meninggikan suara pada saat berbicara kepada orang lain selain beliau, tetapi hendaklah berbicara dengan penuh kelembutan dan suara rendah serta penuh penghormatan.

Oleh karena itu, Allah berfirman: wa laa tajHaruulaHuu bilqauli bainakum kadu’aa-i ba’dlikum ba’dlaa (“Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras, sebagaimana kerasnya [suara] sebagian kemu terhadap sebagian [yang lain].”) (an-Nuur: 63)

Dan firman-Nya: أَن تَحۡبَطَ أَعۡمَٰلُكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تَشۡعُرُونَ (“Supaya tidak hapus [pahala] amalanmu, sedang kamu tidak menyadari.”) maksdunya, Kami [Allah] melarang kalian mengangkat suara di dekat Rasulullah saw. karena ditakutkan beliau [Rasulullah] akan marah, sehingga kemarahannya itu menjadikan-Ku marah, dan hal itu menjadikan amal perbuatan kalian terhapuskan, sedang ia tidak menyadari.

Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits shahih berikut: “Sesungguhnya, seseorang berbicara dengan kata-kata yang diridlai Allah Ta’ala yang ia tidak ingat lagi, maka dituliskan surga untuknya. Dan sesungguhnya, seseorang akan mengucapkan kata-kata yang dimurkai Allah, lalu kata-kata itu tidak ia ingat lagi, maka Allah akan mencampakkannya ke dalam neraka yang lebih jauh dari jarak langit dan bumi.”

Tafsir Kemenag: Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Ibnu Abi Mulaikah bahwa ‘Abdullah bin Zubair memberitahukan kepadanya bahwa telah datang satu rombongan dari Kabilah Bani Tamim kepada Rasulullah saw. Abu Bakar berkata, “Rombongan ini hendaknya diketuai oleh al-Qa’qa’ bin Ma’bad.” ‘Umar bin al-Khaththab berkata,

“Hendaknya diketuai oleh al-Aqra’ bin habis.” Abu Bakar membantah, “Kamu tidak bermaksud lain kecuali menentang aku.” ‘Umar menjawab, “Saya tidak bermaksud menentangmu.” Maka timbullah perbedaan pendapat antara Abu Bakar dan ‘Umar sehingga suara mereka kedengarannya bertambah keras, maka turunlah ayat ini.

Sejak itu, Abu Bakar bila berkata-kata kepada Nabi Muhammad, suaranya direndahkan sekali seperti bisikan saja demikian pula ‘Umar. Oleh karena sangat halus suaranya hampir-hampir tak terdengar sehingga sering ditanyakan lagi apa yang diucapkannya itu.

Mereka sama-sama memahami bahwa ayat-ayat tersebut sengaja diturunkan untuk memelihara kehormatan Nabi Muhammad. Setelah ayat ini turun, maka sabit bin Qais tidak pernah datang lagi menghadiri majelis Rasulullah saw. Ketika ditanya oleh Nabi tentang sebabnya, sabit menjawab,

“Ya Rasulullah, telah diturunkan ayat ini dan saya adalah seorang yang selalu berbicara keras dan nyaring. Saya merasa khawatir kalau-kalau pahala saya akan dihapus sebagai akibat kebiasaan saya itu.” Nabi Muhammad menjawab, “Engkau lain sekali, engkau hidup dalam kebaikan dan insya Allah akan mati dalam kebaikan pula, engkau termasuk ahli surga.”

Baca Juga:  Surah Al-Hujurat Ayat 13; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Sabit menjawab, “Aku sangat senang karena berita yang menggembirakan itu, dan saya tidak akan mengeraskan suara saya terhadap Nabi untuk selama-lama-nya.” (Riwayat al-Bukhari dari Ibnu Abi Mulaikah). Maka turunlah ayat berikutnya yaitu ayat ke 3 dari Surah al-hujurat.

Dari paparan di atas, dapat dipahami bagaimana Allah mengajarkan kepada kaum Mukminin kesopanan dalam percakapan ketika berhadapan dengan Nabi Muhammad. Allah melarang kaum Mukminin meninggikan suara mereka lebih dari suara Nabi.

Mereka dilarang untuk berkata-kata kepada Nabi dengan suara keras karena perbuatan seperti itu tidak layak menurut kesopanan dan dapat menyinggung perasaan Nabi. Terutama jika dalam ucapan-ucapan yang tidak sopan itu tersimpan unsur-unsur cemoohan atau penghinaan yang menyakitkan hati Nabi dan dapat menyeret serta menjerumuskan orangnya kepada kekafiran, sehingga mengakibatkan hilang dan gugurnya segala pahala kebaikan mereka itu di masa lampau, padahal semuanya itu terjadi tanpa disadarinya.

Tafsir Quraish Shihab: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengangkat suara lebih tinggi dari suara Nabi, apabila ia dan kalian sedang berbicara. Jangan pula menyamakan suara kalian dengan suaranya, seperti kalian berbicara antarsesama, supaya pahala amal perbuatan kalian tidak hilang tanpa kalian sadari.

Surah Al-Hujurat Ayat 3
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصۡوَٰتَهُمۡ عِندَ رَسُولِ ٱللَّهِ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱمۡتَحَنَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡ لِلتَّقۡوَىٰ لَهُم مَّغۡفِرَةٌ وَأَجۡرٌ عَظِيمٌ

Terjemahan: Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.

Tafsir Jalalain: إِنَّ ٱلَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصۡوَٰتَهُمۡ عِندَ رَسُولِ ٱللَّهِ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱمۡتَحَنَ (“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji) dicoba ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡ لِلتَّقۡوَىٰ (hati mereka oleh Allah untuk bertakwa) artinya, ujian untuk menampakkan ketakwaan mereka.

لَهُم مَّغۡفِرَةٌ وَأَجۡرٌ عَظِيمٌ (Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar”) yakni surga. Ayat berikutnya diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang datang di waktu tengah hari kepada Nabi saw. sedangkan Nabi saw. pada saat itu berada di dalam rumahnya, lalu mereka memanggil-manggilnya, yaitu firman-Nya:.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah menganjurkan agar merendahkan suara di dekat Rasulullah saw, bahkan Dia memerintahkan dan memberikan bimbingan ke arah tersebut, dengan firman-Nya yang artinya: (“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa.”) yakni mengikhlashkan dan menjadikannya sebagai tempat ketakwaan. لَهُم مَّغۡفِرَةٌ وَأَجۡرٌ عَظِيمٌ (“Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”)

Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab az-Zuhud, ‘Abdurrahman memberitahu kami, Sufyan memberitahu kami, dari Manshur, dari Mujahid, ia bercerita: “Telah dituliskan sebuah surat kepada Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab yang berisi:

‘Manakah yang lebih baik, seseorang yang tidak ingin berbuat kemaksiatan, tetapi ia tidak melakukannya ataukah seseorang yang sangat ingin melakukan kemaksiatan, tetapi ia tidak mengerjakannya?’ maka ‘Umar membalas surat tersebut seraya mengatakan:

‘Sesungguhnya orang-orang yang ingin mengerjakan kemaksiatan tetapi tidak mengerjakannya, أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱمۡتَحَنَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡ لِلتَّقۡوَىٰ لَهُم مَّغۡفِرَةٌ وَأَجۡرٌ عَظِيمٌ (“Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”)

Tafsir Kemenag: Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah saw setelah melatih diri dengan berbagai latihan yang ketat lagi berat, mereka itulah orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa. Mereka telah berhasil menyucikan diri mereka dengan berbagai usaha dan kesadaran serta bagi mereka ampunan dan pahala yang sangat besar.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Mujahid bahwa ada sebuah pertanyaan tertulis yang disampaikan kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, ada seorang laki-laki yang tidak suka akan kemaksiatan dan tidak mengerjakannya, dan seorang laki-laki lagi yang hatinya cenderung kepada kemaksiatan, tetapi ia tidak mengerjakannya. Manakah di antara kedua orang itu yang paling baik?”

Umar menjawab dengan tulisan pula, “Sesungguhnya orang ya-ng hatinya cenderung kepada kemaksiatan, akan tetapi tidak mengerjakannya, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di dalam majlis Rasulullah demi penghormatan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang hatinya telah dibersihkan oleh Allah hanya untuk bertakwa. Maka bagi mereka ampunan yang luas atas dosa-dosa mereka dan pahala yang amat besar.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Hujurat Ayat 1-3 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S