Surah Az-Zukhruf Ayat 1-8; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Az-Zukhruf Ayat 1-8

Pecihitam.org – Kandungan Surah Az-Zukhruf Ayat 1-8 ini, sebelum membahas kandungan ayat terlebih dahulu kita memahami isi surah ini. Surah ini diawali dengan dua huruf eja seperti gaya al-Qur’ân dalam mengawali beberapa surat lainnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Disebutkan setelah itu, mengenai al-Qur’ân dan kedudukanya di sisi Allah, dan keterangan mengenai sikap orang-orang yang mencemoohkan misi yang dibawa oleh para rasul, yang kemudian diikuti dengan pemaparan beberapa bukti yang mengharuskan kita beriman hanya kepada Allah. Tetapi, kendati bukti-bukti itu demikian banyak dan jelas, mereka tetap saja mengakui adanya tuhan-tuhan lain yang, tentu saja palsu selain Allah.

Pada bagian lain, surah ini berbicara tentang kisah Nabi Ibrâhîm a. s. yang kemudian dilanjutkan dengan anggapan orang-orang kafir Mekah bahwa al-Qur’ân terlalu besar untuk diturunkan kepada seorang Muhammad. Semestinya, menurut mereka, al-Qur’ân hanya pantas diturunkan kepada salah seorang pembesar Mekah atau Thaif.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf Ayat 1-8

Surah Az-Zukhruf Ayat 1
حمٓ

Terjemahan: Haa Miim.

Tafsir Jalalain: حمٓ (Ha Mim) hanya Allah sajalah yang mengetahui arti dan maksudnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya.

golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

Tafsir Kemenag: Permulaan ayat ini terdiri dari huruf-huruf hijaiah, sebagaimana terdapat pada permulaan beberapa surah lainnya. Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud huruf-huruf itu. Selanjutnya silakan menelaah masalah ini pada “Al-Qur’an dan Tafsirnya” jilid I yaitu tafsir ayat pertama Surah al-Baqarah.”.

Tafsir Quraish Shihab: Surat ini diawali dengan dua huruf eja seperti gaya al-Qur’ân dalam mengawali beberapa surat lainnya. Disebutkan, setelah itu, mengenai al-Qur’ân dan kedudukanya di sisi Allah, dan keterangan mengenai sikap orang-orang yang mencemoohkan misi yang dibawa oleh para rasul, yang kemudian diikuti dengan pemaparan beberapa bukti yang mengharuskan kita beriman hanya kepada Allah.

Tetapi, kendati bukti-bukti itu demikian banyak dan jelas, mereka tetap saja mengakui adanya tuhan-tuhan lain–yang, tentu saja, palsu–selain Allah. Mereka beranggapan bahwa Allah memiliki anak-anak perempuan sedang mereka memiliki anak laki-laki. Dan ketika mereka tak lagi menemukan alasan yang membenarkan anggapan itu, mereka berdalih bahwa hal itu adalah tradisi leluhur yang harus dipegang teguh.

Pada bagian lain, surat ini berbicara tentang kisah Nabi Ibrâhîm a. s. yang kemudian dilanjutkan dengan anggapan orang-orang kafir Mekah bahwa al-Qur’ân terlalu besar untuk diturunkan kepada seorang Muhammad. Semestinya, menurut mereka, al-Qur’ân hanya pantas diturunkan kepada salah seorang pembesar Mekah atau Thaif. Dengan begitu, mereka seolah-olah membagi-bagikan karunia Allah sekehendak mereka. Padahal Allah sendiri telah membagi-bagikan rezeki-Nya untuk penghidupan mereka di dunia karena mereka memang tidak mampu melakukan itu.

Surah ini kemudian menyatakan bahwa andai bukan karena Tuhan tidak ingin kalau semua manusia menjadi kafir, tentu orang-orang kafir telah diberi seluruh kenikmatan dan kemewahan dunia. Dijelaskan pula, kemudian, bahwa siapa saja yang menentang kebenaran maka Allah akan menjadikan setan menguasai dirinya lalu membawanya ke lembah kehancuran.

Selanjutnya, surah ini juga mengetengahkan kisah Nabi Mûsâ bersama Fir’aun dan kaumnya yang sangat sombong dan arogan dengan kekuasaannya. Suatu sikap yang kemudian justru mendatangkan balasan Allah kepada mereka.

Kisah tentang Mûsâ ini kemudian dilanjutkan dengan penjelasan tentang ‘Isâ putra Maryam yang merupakan seorang hamba yang mendapat karunia dari Allah dan menyeru kepada jalan yang lurus.

Setelah dipaparkan peringatan bagi orang-orang zalim berupa siksaan, dan kabar gembira bagi orang-orang Mukmin berupa surga kelak pada hari kiamat, surat ini ditutup dengan penjelasan betapa luasnya kerajaan Allah dan betapa tidak mampunya tuhan-tuhan palsu yang mereka persekutukan dengan- Nya.

Dalam hal ini, Nabi Muhammad saw. diperintahkan untuk mengucapkan “salam perpisahan” kepada mereka, agar mereka mengetahui.]] Hâ, mîm. Surah ini dibuka dengan menyebut dua huruf fonemis yang merupakan gaya al-Qur’ân dalam mengawali beberapa suratnya.

Surah Az-Zukhruf Ayat 2
وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡمُبِينِ

Terjemahan: Demi Kitab (Al Quran) yang menerangkan.

Tafsir Jalalain: وَٱلۡكِتَٰبِ (Demi Alkitab) demi Alquran ٱلۡمُبِينِ (yang menerangkan) yang menonjolkan jalan petunjuk beserta dengan sarana yang diperlukannya yaitu berupa syariat.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman: وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡمُبِينِ (“Demi Kitab [al-Qur’an] yang menerangkan.”) yaitu yang jelas, tegas dan lugas makna-makna dan lafazhnya. Karena al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang merupakan bahasa interaktif manusia yang paling fasih.

Baca Juga:  Surah Az-Zukhruf Ayat 36-45; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Allah bersumpah, demi Kitab Suci Al-Qur’an yang menerangkan petunjuk dan hidayah, dan penjelasan hal-hal yang diperlukan manusia di dunia dan di akhirat untuk mencapai kebahagiaan. Barang siapa mengikuti petunjuk-petunjuk yang telah digariskan di dalam Al-Qur’an, dia akan beruntung dan selamat, dan barang siapa yang menyimpang daripadanya, maka dia akan merugi dan sesat dari jalan yang benar.

Tafsir Quraish Shihab: Allah bersumpah demi al-Qur’ân yang dengan jelas menerangkan kandungan isinya, baik berupa ajaran akidah maupun hukum.

Surah Az-Zukhruf Ayat 3
إِنَّا جَعَلۡنَٰهُ قُرۡءَٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ

Terjemahan: Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).

Tafsir Jalalain: إِنَّا جَعَلۡنَٰهُ قُرۡءَٰنًا (Sesungguhnya Kami menjadikan Alquran) maksudnya, Kami adakan Alkitab ini عَرَبِيًّا (bacaan yang berbahasa Arab) atau memakai bahasa Arab لَّعَلَّكُمۡ (supaya kalian) hai penduduk Mekah تَعۡقِلُونَ (memahaminya) memahami makna-maknanya.

Tafsir Ibnu Katsir: Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: إِنَّا جَعَلۡنَٰهُ قُرۡءَٰنًا (“Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur’an”) yang Kami turunkan; عَرَبِيًّا (“Dalam bahasa Arab”) yaitu dengan bahasa Arab yang fasih dan jelas. لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ (“Supaya kamu memahaminya”) yaitu supaya kalian memahami dan merenungkannya, sebagaimana firman Allah: بِلِسَانٍ عَرَبِىٍّ مُّبِينٍ (“Dengan bahasa Arab yang jelas”)(asy-Syu’araa’: 195)

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan bahwa Dia telah menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab bukan dalam bahasa ‘Ajam (bahasa-bahasa asing) karena yang akan diberi peringatan pertama kali adalah orang-orang Arab agar mereka mudah memahami pelajaran dan nasihat-nasihat yang terkandung di dalamnya, dan dengan mudah mereka dapat memikirkan arti dan maknanya.

Dia tidak menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa ‘Ajam agar tidak ada alasan bagi mereka untuk mengatakan bagaimana mereka dapat memahami isi Al-Qur’an karena bahasanya bukan bahasa Arab, bahasa kami, sebagaimana firman Allah:

Dan sekiranya Al-Qur’an Kami jadikan sebagai bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab niscaya mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah patut (Al-Qur’an) dalam bahasa selain bahasa Arab sedang (rasul), orang Arab? Katakanlah, “Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. (Fussilat/41: 44).

Tafsir Quraish Shihab: Kami sungguh-sungguh menjadikan kitab suci itu menggunakan bahasa Arab agar kalian dapat mengetahui kemukjizatannya dan dapat merenungi maknanya.

Surah Az-Zukhruf Ayat 4
وَإِنَّهُۥ فِىٓ أُمِّ ٱلۡكِتَٰبِ لَدَيۡنَا لَعَلِىٌّ حَكِيمٌ

Terjemahan: Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.

Tafsir Jalalain: وَإِنَّهُۥ (Dan sesungguhnya Alquran itu) telah ditetapkan فِىٓ أُمِّ ٱلۡكِتَٰبِ (dalam induk Alkitab) asal Kitab, yaitu Lohmahfuz لَدَيۡنَا (di sisi Kami) lafal ayat ini menjadi Badal dari lafal ‘Indana لَعَلِىٌّ (adalah benar-benar tinggi) yang jauh lebih tinggi daripada Kitab-kitab sebelumnya حَكِيمٌ (dan amat banyak mengandung hikmah) artinya sangat padat dengan hikmah-hikmah.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَإِنَّهُۥ فِىٓ أُمِّ ٱلۡكِتَٰبِ لَدَيۡنَا لَعَلِىٌّ حَكِيمٌ (“Dan sesungguhnya al-Qur’an itu dalam induk al-Kitab [Lauhul Mahfudh] di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi [nilainya] dan amat banyak mengandung hikmah.”) yaitu, Dia menjelaskan kemuliaannya di alam atas, agar dimuliakan, diagungkan dan ditaati oleh penghuni bumi. Maka Allah berfirman:

وَإِنَّهُۥ (“Dan sesungguhnya dia”) yaitu al-Qur’an, فِىٓ أُمِّ ٱلۡكِتَٰبِ (“Dalam induk al-Kitab”) yaitu di Lauhul Mahfudh. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas dan Mujahid. لَدَيۡنَا yaitu di sisi Kami, itulah yang dikatakan oleh Qatadah dan lain-lain. لَعَلِىٌّ (“Adalah yang benar-benar tinggi [nilainya]”) yaitu, memiliki kedudukan yang agung, mulia dan utama. Itulah yang dikatakan Qatadah. حَكِيمٌ (“Amat banyak mengandung hikmah”) yaitu dipenuhi hikmah dan bebas dari kerancuan dan penyimpangan. Semua ini merupakan peringatan tentang kemuliaan dan keutamaanya. Sebagaimana firman Allah:

إِنَّهُۥ لَقُرۡءَانٌ كَرِيمٌ. فِى كِتَٰبٍ مَّكۡنُونٍ لَّا يَمَسُّهُۥٓ إِلَّا ٱلۡمُطَهَّرُونَ تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ (“Sesungguhnya al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara [Lauhul mahfudh], tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Rabb semesta alam.”)(al-Waaqi’ah: 77-80)

Dan firman Allah yang artinya: “Sekali-sekali jangan [demikian]! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam Kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis [malaikat], yang mulia lagi berbakti.” (‘Abasa: 11-16)

Untuk itu, para ulama mengambil istinbath dari dua ayat ini, bahwa orang yang berhadats tidak boleh menyentuh mushaf, karena para malaikat sangat mengagungkan mushaf yang di dalamnya tercakup al-Qur’an di alam atas, maka para penghuni bumi tentu saja lebih tepat untuk mengagungkannya, karena al-Qur’an turun kepada mereka dan pembicaraannya diarahkan untuk mereka, sehingga mereka lebih berhak mensikapinya dengan penuh penghormatan dan pengagungan serta ketundukkan dan penyerahan diri. Berdasarkan firman Allah:

Baca Juga:  Surah Al-Hajj Ayat 3-4; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

“Dan sesungguhnya al-Qur’an itu dalam induk al-Kitab [Lauhul mahfudh] di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi [nilainya] dan amat banyak mengandung hikmah.” Dan firman Allah: “Maka, apakah Kami akan berhenti menurunkan al-Qur’an kepadamu, karena kamu adalah kaum yang melampaui batas?”

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maknanya. Satu pendapat mengatakan bahwa maknanya adalah, apakah kalian mengira bahwa Kami akan memaafkan kalian, sehingga Kami tidak akan mengadzab kalian dan kalian semaunya saja tidak mau melaksanakan perintah yang terkandung di dalamnya. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Abu Shalih, Mujahid, as-Suddi dan dipilih oleh Ibnu Jarir.

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan kedudukan Al-Qur’an di Lauh Mahfudz bahwa ia telah ada dalam ilmu-Nya yang azali, amat tinggi nilainya karena dia mengandung rahasia-rahasia dan hikmah-hikmah yang menerangkan kebahagiaan manusia, dan petunjuk-petunjuk yang membawa mereka ke jalan yang benar. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

Dan (ini) sesungguhnya Al-Qur’an yang sangat mulia, dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfudz), tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan seluruh alam. (al-Waqi’ah/56: 77-80).

Tafsir Quraish Shihab: Al-Qur’ân yang berada di al-Lawh al-Mahfûzh ini mempunyai kedudukan sangat tinggi, dengan redaksi dan komposisinya yang amat tepat. Balaghahnya menempati peringkat teratas.

Surah Az-Zukhruf Ayat 5
أَفَنَضۡرِبُ عَنكُمُ ٱلذِّكۡرَ صَفۡحًا أَن كُنتُمۡ قَوۡمًا مُّسۡرِفِينَ

Terjemahan: Maka apakah Kami akan berhenti menurunkan Al Quran kepadamu, karena kamu adalah kaum yang melampaui batas?

Tafsir Jalalain: أَفَنَضۡرِبُ (Maka apakah Kami akan berhenti) akan menahan عَنكُمُ ٱلذِّكۡرَ (menurunkan Adz-Dzikr kepada kalian) yakni Alquran صَفۡحًا (dengan sebenar-benarnya) maksudnya Kami benar-benar menahan Alquran dan tidak menurunkannya kepada kalian, karena itu kalian tidak lagi terkena amar makruf dan nahi mungkar, demikian itu hanya أَن كُنتُمۡ قَوۡمًا مُّسۡرِفِينَ (karena kalian adalah kaum yang melampaui batas?) kaum yang musyrik tentu tidak.

Tafsir Ibnu Katsir: Qatadah berkata tentang firman Allah: أَفَنَضۡرِبُ عَنكُمُ ٱلذِّكۡرَ صَفۡحًا (“Maka apakah Kami akan berhenti menurunkan al-Qur’an kepadamu?”) yaitu demi Allah, seandainya al-Qur’an itu diangkat ketika para pendahulu ummat ini menolaknya, niscaya mereka akan binasa.

Akan tetapi Allah berkenan mengembalikannya dengan kekuasaan dan rahmat-Nya. Dia mengulangnya kepada mereka dan menyerukan mereka selama 20 tahun, atau sesuai kehendak Allah. Pendapat Qatadah ini mempunyai makna sangat dalam yang kesimpulannya bahwa karena kelembutan dan kasih sayang Allah kepada para makhluk-Nya, tidak ditinggalkan-Nya mengajak mereka kepada kebaikan dan kepada adz-Dzikrul Hakim, yaitu al-Qur’an, sekalipun mereka termasuk orang-orang yang melampaui batas dan berpaling darinya. Bahkan Dia tetap memerintahkan mereka agar orang yang ditakdirkan mendapatkan hidayah dapat meraih hidayahnya dan dapat tegaknya hujjah bagi orang yang ditentukan kesengsaraannya.

Tafsir Kemenag: Allah mencela kaum musyrik Mekah dengan mengatakan: Apakah Kami akan berhenti memperingatkan kamu dengan Al-Qur’an karena kamu sudah begitu mendalam dalam kekafiranmu, selalu meninggalkan perintah Kami dan melakukan larangan Kami? Tidak! Kami sekali-sekali tidak akan berbuat demikian, karena rahmat dan kasih sayang Kami kepadamu, meskipun kamu seharusnya dibinasakan, atau dibiarkan sesat sampai mati, karena perbuatanmu sudah keterlaluan dan melampaui batas.

Qatadah berkata, “Sekiranya Al-Qur’an itu telah diangkat atau ditiadakan ketika ia ditolak orang-orang pertama dari umat terdahulu, maka pasti mereka binasa, tetapi Allah selalu memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada mereka dan Muhammad saw senantiasa menyeru mereka selama duapuluh tahun lebih menurut izin dan kehendak Allah.”.

Tafsir Quraish Shihab: Apakah Kami mengabaikan kalian sehingga Kami berhenti menurunkan al-Qur’ân, sebagai sikap memalingkan diri dari kalian akibat perlaku kalian yang terlalu berlebihan dalam kekafiran? Tidak, karena ketentuan hukum Kami menuntut kalian memberikan alasan.

Surah Az-Zukhruf Ayat 6
وَكَمۡ أَرۡسَلۡنَا مِن نَّبِىٍّ فِى ٱلۡأَوَّلِينَ

Terjemahan: Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu.

Tafsir Jalalain: وَكَمۡ أَرۡسَلۡنَا مِن نَّبِىٍّ فِى ٱلۡأَوَّلِينَ (Berapa banyak nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu.).

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman memberikan hiburan kepada Nabi-Nya saw. dari pendustaan kaumnya yang mendustakan dan memerintahkannya untuk tetap sabar terhadap mereka. وَكَمۡ أَرۡسَلۡنَا مِن نَّبِىٍّ فِى ٱلۡأَوَّلِينَ (“Berapa banyaknya Nabi-Nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat terdahulu.”) yaitu umat-umat yang terdahulu.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menghibur Rasul-Nya Muhammad saw yang sedang duka, karena ia didustakan oleh kaumnya, dan Allah memerintahkan kepadanya supaya dia bersabar. Tidak sedikit rasul yang telah diutus oleh Allah sejak dahulu diingkari dan diejek oleh kaumnya sebagaimana ia diingkari dan diejek pula.

Demikianlah Sunatullah yang merupakan satu ketentuan dari Allah yang tidak dapat diubah lagi, sebagaimana firman Allah: Sebagai sunah Allah yang (berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. (al-Ahzab/33: 62).

Tafsir Quraish Shihab: Kami telah mengutus banyak nabi kepada bangsa-bangsa terdahulu. Maka, jika kini Kami mengutus lagi seorang rasul kepada kalian, hal itu bukanlah sesuatu yang mengherankan.

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 104-106; Seri Tadabbur Al-Qur'an

Surah Az-Zukhruf Ayat 7
وَمَا يَأۡتِيهِم مِّن نَّبِىٍّ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ

Terjemahan: Dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.

Tafsir Jalalain: وَمَا (Dan tiada) يَأۡتِيهِم (yang datang kepada mereka) atau tiba kepada mereka مِّن نَّبِىٍّ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ (seorang nabi pun melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya) sebagaimana kaummu memperolok-olokkan kamu, ayat ini merupakan penghibur bagi Nabi saw.

Tafsir Ibnu Katsir: وَمَا يَأۡتِيهِم مِّن نَّبِىٍّ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ (“Dan tidak ada seorang Nabi pun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokannya.”) yaitu mendustakan dan mengejeknya.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menghibur Rasul-Nya Muhammad saw yang sedang duka, karena ia didustakan oleh kaumnya, dan Allah memerintahkan kepadanya supaya dia bersabar. Tidak sedikit rasul yang telah diutus oleh Allah sejak dahulu diingkari dan diejek oleh kaumnya sebagaimana ia diingkari dan diejek pula.

Demikianlah Sunatullah yang merupakan satu ketentuan dari Allah yang tidak dapat diubah lagi, sebagaimana firman Allah: Sebagai sunah Allah yang (berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. (al-Ahzab/33: 62).

Tafsir Quraish Shihab: Setiap kali seorang rasul mengingatkan kebenaran kepada mereka, mereka selalu mengejeknya.

Surah Az-Zukhruf Ayat 8
فَأَهۡلَكۡنَآ أَشَدَّ مِنۡهُم بَطۡشًا وَمَضَىٰ مَثَلُ ٱلۡأَوَّلِينَ

Terjemahan: Maka telah Kami binasakan orang-orang yang lebih besar kekuatannya dari mereka itu (musyrikin Mekah) dan telah terdahulu (tersebut dalam Al Quran) perumpamaan umat-umat masa dahulu.

Tafsir Jalalain: فَأَهۡلَكۡنَآ أَشَدَّ مِنۡهُم (Maka telah Kami binasakan orang-orang yang lebih hebat daripada mereka) daripada kaummu بَطۡشًا (kekuatannya) maksudnya daya dan kekuatan mereka lebih kuat daripada kaummu وَمَضَىٰ (dan telah terdahulu) telah disebutkan di dalam ayat-ayat yang lain مَثَلُ ٱلۡأَوَّلِينَ (perumpamaan umat-umat yang terdahulu) yaitu mengenai dibinasakannya mereka, maka akibat yang akan dialami oleh kaummu sama saja.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَأَهۡلَكۡنَآ أَشَدَّ مِنۡهُم بَطۡشًا (“Maka telah Kami binasakan orang-orang yang lebih besar kekuatannya dari mereka itu.”) yaitu Kami telah binasakan orang-orang yang mendustakan para Rasul, sekalipun mereka lebih hebat kekuatannya daripada orang-orang yang mendustakanmu itu, wahai Muhammad.

Firman Allah: وَمَضَىٰ مَثَلُ ٱلۡأَوَّلِينَ (“Dan telah terdahulu perumpamaan-perumpamaan umat-umat masa dahulu”) Mujahid berkata: “Yaitu, sunnah [perjalanan hidup] mereka.” Qatadah berkata: “Yaitu hukuman mereka.” Ulama selain keduanya berkata:

“Yaitu, pelajaran mereka, maknanya: Kami jadikan mereka sebagai pelajaran bagi orang-orang yang mendustakan [para Rasul] sesudah mereka tentang apa yang akan menimpa mereka. Seperti firman Allah di akhir surah ini: فَجَعَلۡنَٰهُمۡ سَلَفًا وَمَثَلًا لِّلۡءَاخِرِينَ (“Dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.”)

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan bahwa Dia menghancurkan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul dan mereka tak dapat mengelak dan menghindar apabila bencana itu datang, padahal mereka jauh lebih kuat dan perkasa dibandingkan dengan kaum Nabi Muhammad saw. Yang demikian itu hendaknya menjadi perhatian umat Muhammad. Firman Allah:

Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi, lalu mereka memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu lebih banyak dan lebih hebat kekuatannya serta (lebih banyak) peninggalan-peninggalan peradabannya di bumi. (Gafir/40: 82)

Ayat ini ditutup dengan satu peringatan kepada umat Muhammad bahwa ketentuan Allah yang berlaku pada umat yang mendustakan rasul, kiranya menjadi pelajaran bagi mereka karena tidak mustahil mereka itu juga akan ditimpa bencana sebagaimana halnya umat yang terdahulu itu. Firman Allah:

Maka Kami jadikan mereka sebagai (kaum) terdahulu dan pelajaran bagi orang-orang yang kemudian. (az-Zukhruf/43: 56)

Allah juga berfirman: Itulah (ketentuan) Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. (Gafir/40: 85)

Tafsir Quraish Shihab: Kami pun, kemudian, memusnahkan para pendusta terdahulu, padahal mereka adalah orang-orang yang lebih kuat dan kikir daripada orang-orang kafir Mekah. Maka kalian, orang-orang kafir Mekah, jangan merasa angkuh dan sombong dengan kekuatan yang kalian miliki.

Di dalam al-Qur’ân ini terdapat banyak kisah menarik tentang orang-orang terdahulu yang sepatutnya dapat menjadi pelajaran bagi orang lain. Oleh karena itu, wahai para pendusta, ambillah pelajaran dari kisah-kisah itu.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Az-Zukhruf Ayat 1-8 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S