Tata Urutan Pengurusan Jenazah dalam Agama Islam

pengurusan jenazah

Pecihitam.org – Kematian itu pasti akan dialami oleh setiap mahluk yang Allah ciptakan, termasuk juga yang namanya manusia pasti akan mati. Karena sejak dalam kandungan ketika ruh ditiupkan juga penentuan takdir dari Allah untuk si jabang bayi. Kematian memisahkan dengan dunia juga memisahkan dengan ayah, ibu, saudara dan seluruh keluarga.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam Al-Qur’an QS. Ali Imran Allah berfirman:

كل نفس ذائقة الموت……

“Tiap-tiap jiiwa yang hidup pasti akan mati…..”(QS.Ali Imran; 185)

Dari penggalan ayat diatas dapat kita ketahui bahwa setiap jiwa yang hidup pasti akan mati, sehingga urusan mati itu bukan karena seseorang tersebut sudah tua baru akan mati, namun semua tergantung takdir yang Allah tentukan kepada orang tersebut. Kematian tidak mengenal waktu maupun usia, oleh karenanya perlu kita lakukan yang namanya mengingat kematian, salah satunya yaitu dengan bertakziah.

Pengurusan Jenazah

Takziah disamping sebagai salah satu tiindakan agar kita mengiingat dengan kematian, juga sebagai salah satu hal yang mengajarkan kita tentang kebersamaan serta kepedulian antar sesama, salah satunya yaitu kepedulian dalam mengurusi jenazah. Mulai dari mengumumkan kematiannya kemudian pengurusan jenazah mulai dari memandikan, mengkafani, mensholati dan menguburkannya.

Dalam Islam ada prosedur dan tata caranya pengurusan jenazah. Ketika seseorang telah meninggal dunia, hendaknya anggota keluarga menyegerakan untuk mengurusi jenazahnya, sebelum dimandikan hendaknya dipejamkan matanya dan memohonkan ampun atas segala dosa-dosanya. Kemudian menutup badannya dengan kain, agar tidak terlihat auratnya.

Baca Juga:  Hukum Bersiul Menurut Beberapa Riwayat Ulama

Setelah itu memandikan jenazah. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memandikan jenazah. Yaitu syarat wajib memandikan jenazah yang perlu diperhatikan adalah mahrom yang mempunyai hak untuk memandikan.

Ketika jenazah adalah perempuan maka yang memandikan adalah perempuan dan anggota keluarga yang mahrom dengannya, misalkan anaknya si jenazah walaupun dia laki-laki. Begitupun sebaliknya ketika jenazah adalah laki-laki maka yang memandikan adalah laki-laki atau anggota keluarga yang mahrom bagi jenazah.

Jenazah harius dimandikan ditempat yang tertutup, sehingga yang melihat hanya orang-orang yang memandikan saja. Jenazah ditempatkan pada tmpat yang tinggi, seperti dipan atau meja yang panjang, namun zaman sekarang sudah ada tempat atau dipan yang dikhususkan untuk memandikan jenazah.

Kemudian jenazah ditutupi dengan kain agar tertutup auratnya. Lalu diusap perutnya pelan-pelan agar kotorannya keluar, dan salah satu orang yang memandikan membasuh lubang depan dan belakang dengan tangan kiri.

Lalu membersihkan mulut, hidung, telinga juga membersihkan kotoran pada kuku jenazah. Setelah itu mewudhukannya seperti wudhunya orang yang masih hidup. Membasuh kepala, wajah menggunakan sabun, menyisir rambutnya dan membasuh seluruh tubuh. Setelah itu diwudhukan kembali. Baca tata cara memandikan jenazah lebih lengkapnya disini.

Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, beliau berkata:

بينَا رجلٌ واقفٌ مع النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ بعَرَفَةَ ، إذْ وَقَعَ عن راحلتِهِ فَوَقَصَتْهُ ، أو قال فأَقْعَصَتْهُ ، فقالَ النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : اغْسِلوهُ بماءٍ وسِدْرٍ ، وكَفِّنُوهُ في ثَوْبَيْنِ ، أو قالَ : ثَوْبَيْهِ ، ولا تُحَنِّطُوهُ ، ولا تُخَمِّروا رأسَهُ ، فإنَّ اللهَ يبْعَثُهُ يومَ القيامةِ يُلَبِّي

Baca Juga:  Niat, Keutamaan dan Waktu Pelaksanaan Puasa Dzulhijjah

“Ada seorang lelaki yang sedang wukuf di Arafah bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Tiba-tiba ia terjatuh dari hewan tunggangannya lalu meninggal. Maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara. Dan kafanilah dia dengan dua lapis kain, jangan beri minyak wangi dan jangan tutup kepalanya. Karena Allah akan membangkitkannya di hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyah” (HR. Bukhari no. 1849, Muslim no. 1206)

Setelah selesai dimandikan kemudian dibawa ke tempat yang kering atau tempat yang sudah disediakan kain kafan. Untuk laki-laki sebanyak tiga lapis dan perempuan lima lapis dan sudah termasuk pakaian dalam atau basahan jenazah. Serta diberi wewangian. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

اغْسِلوهُ بماءٍ وسِدْرٍ ، وكَفِّنُوهُ في ثَوْبَيْنِ

“Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara. Dan kafanilah dia dengan dua lapis kain” (HR. Bukhari no. 1849, Muslim no. 1206).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحَسِّنْ كَفَنَهُ

“Apabila salah seorang diantara kalian mengkafani saudaranya, maka hendaklah memperbagus kafannya” (HR. Muslim no. 943)

Tata cara mengkafani jenazah lebih lengkapnya bisa di baca disini

Menshalati dan Menguburkan Jenazah

Setelah selesai kemudian mensholatinya, dimana sholat jenazah tidak ada sujud dan ruku. Sholatnya yaitu ada empat takbir, takbir pertama membaca Al-Fatihah, takbir kedua membaca sholawat atas Nabi Saw, takbir ketiga membaca do’a untuk jenazah, takbir keempat membaca do’a untuk jenazah dan keluarga yang ditinggalkannya dan diakhiri salam. Baca tata cara shalat jenazah lebih lengkapnya disini.

Baca Juga:  Peran Istri dalam Keluarga Menurut Islam, Wanita Modern Harus Baca

Setelah selesai sholat jenazah kemudian dikebumikan atau dikuburkan. Lubang yang dibuat untuk mengubur jenazah yaitu tingginya sama dengan orang yang berdiri dan melambaikan tangan sekitar 2 meter. Lalu diiberi lubang sedikit ditengah, jadi ada lubang yang lebih kecil lagi. Jenazah dimiringkan kekanan menghadap kiblat, dan disunahkann membuka semua ikatan pada jenazah.

Setelah selesai kemudian diadzani lalu di tutup dengan kayu atau bambu ataupun papan, dan di uruk dengan tanah serta diratakan. Setelah selesai menguburkan ada yang namanya talkin biasanya dilakukan oleh ustadz atau kyai dimana yang isinya adalah pelajaran tentang menjawab pertanyaan dalam kubur. Talkin ini adalah salah satu wujud belajar sampai liang lahat. Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik