Abu Nawas; “Celakalah Orang-orang yang Shalat!”

celakalah orang-orang yang shalat

Pecihitam.org – Siapa yang tak tahu tokoh terkenal bernama Abu Nawas. Ia dikenal sebagai pujangga Arab dan dianggap penyair terbesar sastra Arab klasik yang hidup pada era khalifah Abbasiyah. Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami atau Abu Nawas dilahirkan pada 145 Hijriyah (747 Masehi) di kota Ahvaz, Persia (Iran).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ayahnya berdarah Arab dan ibu Persia. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota pasukan militer Marwan II. Sedang ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol.

Abu Nawas selain jenaka juga dikenal sebagai pernyair yang sering bermain dengan kata-kata. Ia sangat terkenal dan disegani di kalangan para penyair, baik mereka yang sezaman maupun sesudahnya. Kecerdikan dan kecerdasannya diakui. Ibn Khalikan meriwayat, dengan mengutip komentar Ismail bin Naubakht, bahwa “aku tidak menemukan sosok yang lebih luas cakrawala pengetahuannya selain Abu Nawas. Bahkan lebih cerdas darinya.”

Layaknya seorang penyair, ribuan bait syair telah ditorehkan Abu Nawas. Syair-syairnya begitu indah dan memikat orang-orang yang mendengarkannya. Kepiawiannya dalam bersyair menjadikan sosok Abu Nawas sangat dekat dengan para penguasa ketika itu.

Ia juga dikenal sebagai syu’ara’ al-khamriyat (bapak penyair khamer). Dalam sebuah riwayat diceritakan, bahwa suatu ketika khalifah Harun al-Rasyid secara tidak sengaja masuk pada sebuah tempat yang di dalamnya dihuni oleh budak-budak cantik.

Baca Juga:  Siasat dan Kecerdikan Abu Nawas Menjuarai Lomba Berburu

Sang khalifah mendapati perempuan-perempuan itu sedang membersihkan diri. Lekuk tubuh mereka tidak tampak jelas karena tertutup oleh rambut panjang yang sedang disisir. Sang khalifah sangat takjub dengan kecantikan mereka.

Sang khalifah lantas kembali ke sebuah majlis dan bertanya: “siapa yang pandai bersyair?” Yang lain menjawab: “Basysyar dan Abu Nawas.”

Khalifah pun memangil Abu Nawas ke istana, lalu menceritakan kejadian yang dialaminya. Dan meminta Abu Nawas untuk membuat untaian syair dari peristiwa itu. Kemudian Abu Nawas pun bersenandung:

Kemejanya basah tertuang air
Pipinya mengembang menyimpan malu
Udara membalutnya dalam telanjang
Lebih tipis dari udara
Bau wangi mengalir seperti air
Ke dalam air yang menular di sebuah wadah
Setelah selesai, dia terbang penuh riang
Segera mengambil jubahnya
Dia melihat seseorang sedang mengamati dan mendekat
Bayangan itu telah menggelapkan cahaya
Fajar subuh menghilang, bersembunyi di bawah malam
Air mengalir di atas air
Maha suci bagi Tuhan, dan Dia telah membebaskannya
Sebagai yang terbaik pada wanita

Mendengar senandung syair tersebut, khalifah Harun al-rasyid kemudian memberikan hadiah kepada Abu Nawas 4.000 dirham. Dan sang khalifah pun memuji kepiawiannya.

Dalam diri Abu Nawas sendiri ternyata menyimpan sosok yang ambigu. Meskipun dikenal dekat para penguasa, di sisi lain, Abu Nawas juga tak segan-segan mengkritik penguasa. Melalui syair-syair khamernya, Abu Nawas telah menyoroti penguasa dan gaya hidup hedon yang ada di sekitarnya.

Baca Juga:  Kisah Nabi Danial yang Jarang Orang Islam Ketahui

Di tangannya, khomer yang merupakan minuman yang sudah dikenal masyarakat Arab jauh sebelum Islam datang, diubah dan diolah menjadi untaian syair yang mampu menyedot perhatian penguasa.

Khamer tidak saja sebagai minuman biasa, tetapi dijadikan senjata untuk menyerang perilaku penguasa yang pada saat itu cenderung hedonis dan meruginakan rakyat. Abu Nawas melalui syair khamernya menyatakan:

Jauhkan masjid untuk hamba-hamba, yang engkau diami
Mari dengan kami mengelilingi para peminum khamer, untuk minum bersama-sama
Tuhan-mu tidak mengatakan “celakalah bagi orang-orang yang mabuk”
Namun, Tuhan berfirman: “celakalah orang-orang yang shalat diantara kita”

Melalui syair tersebut, secara tersirat Abu Nawas mengkritik perilaku orang-orang yang secara agama taat. Namun perilaku mereka tidak mencerminkan nilai-nilai dan ajaran agama Islam. Inilah cara cerdas Abu Nawas bermain kata-kata dan logika keagamaan dengan menarasikan khamer yang diharamkan dalam agama.

Orang-orang yang mabuk karena minum khamer dimata Abu Nawas, tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang menjalankan salat lima waktu, namun perilakunya sama sekali tidak mencerminkan nilai agama.

Itulah mengapa lebih berat orang yang shalat ancamannya daripada para pemabuk khomer. Sebab Tuhan tidak pernah mengatakan “celakalah orang-orang yang mabuk”. Tetapi “celakalah orang-orang yang shalat”.

Baca Juga:  Kisah Tsumamah bin Utsal Diikat di Tiang Masjid Nabawi

Cara berfikir dengan membolak-balik logika ini yang menjadikan Abu Nawas terkadang disebut-sebut sebagai sosok zindiq (ateis).

Namun begitu, dalam diri Abu Nawas terdapat sosok ketawadukan yang tinggi. Hal itu terlihat dalam syairnya al-I’tiraf (sebuah pengakuan).

“Ilahi lastu lil Firdausi ahla” (Tuhan, aku bukanlah orang yang pantas menghuni surga Firdaus).

Namun uniknya ia tetap saja seakan-akan ingin mengajak Tuhan berdiplomasi dengan lanjutan syairnya:

“wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi” (tapi aku tidak kuat dalam api neraka Jahim).

Itulah Abu Nawas terkadang kita seperti dibuat pusing dengan cara berfikir dan tingkahnya. Namun sosok dan karyanya tak pernah lekang oleh zaman serta selalu eksis dalam khazanah sejarah dan keilmuan Islam.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.